Siapa yang tidak mengenal sosok penyanyi yang satu ini, ratusan karya lagu sudah tercipta ditangannya, susah senang menghibur telinga publik seantero nusantara pernah dialaminya, rezim pemerintah berganti namun seorang Titik Puspa masih tetap kokoh berdiri dan berkarya. Tak ayal lagi ia adalah seorang Entertainer sejati terbesar yang tak tergantikan yang pernah dimiliki oleh bangsa ini.

Melihat sepak terjang yang lebih dari empat dekade, lantas apa yang membuatnya tetap bertahan dan abadi. Seperti yang saya lansir dari buku Musisiku, salah satu jawabannya terletak dari karya-karyanya itu sendiri. Titik puspa dalam berkarya cenderung menampilkan tema apa saja dan disajikan dalam tatanan lagu sewajarnya. Dia tidak pernah terjebak dalam pemakaian larik-larik yang mengawang. Sifatnya sangat membumi dan tidak pernah bersikap menjaga jarak dengan khalayaknya

Karya cipta Titiek Puspa tidak berbicara pada satu tema yang monoton. Melalui tema, seorang pencipta lagu menyampaikan pesan dan amanat lewat karya yang dihasilkan. Dalam suatu lirik terdapat unsur tematik, unsur tematik yang dimaksud disini adalah melalui tema musisi dapat menyampaikan pesan lewat karya musik yang dihasilkannya. Tema disini dimaknai sebagai sesuatu yang telah diuraikan atau sesuatu yang telah ditempatkan.

Tema merupakan gagaan pokok atau subjectmatter yang dikemukakan oleh seniman Pokok persoalan ini begitu mendesak begitu kuat dalam alam pikian seorang seniman dan menjadi landasan utama pencapaiannya. Persoalan yang mendesak ini dapat berupa pembicaraan tentang kemanusiaan, keadilan sosial, ketuhanan, cinta, dan sebagainya. Teks suatu lagu tertentu juga mencerminkan suatu gejala kemasyarakatan tertentu. Gejala kemasyarakatan itu terungkap dalam teks lagu melalui penafsiran pribadi pencipta atau kelompok pencipta. Tidak jarang pada teks lagu mencerminkan gagasan-gagasan atau perasaan pribadi yang senantiasa dikaitkan dengan keadaan sosial yang dialami atau dihadapi.

Secara keseluruhaan tampak ada interaksi yang positif antara karier Titiek sebagai penyanyi dan kemudian sebagai pencipta lagu. Kenyataan bahwa ia adalah seorang komponis otodidak membuat Titiek menjadi mudah menerima bahwa suatu saat hasil karya ciptanya bagus dan pada saat lain dianggap jelek. Inspirasi untuk menggubah lagu biasanya tercetus dari perasaan Titiek setelah melihat, merasakan, merenungkan, dan menanggapi pengalaman serta jalan hidup atau sikap hidup seseorang. Biasanya lagu itu diciptakan setelah di kepala ada suatu cerita dan di hatinya sudah ada sesuatu rasa. Titiek tidak pernah mencari kata-kata yang indah di kamus, di buku atau di manapun. Semuanya itu semata karena intuisinya dalam mencipta lagu.

Secara umum, tema yang dikemukakan dalam lirik lagu Titiek Puspa dapat dibagi menjadi tujuh tema besar dan salah satu tema lirik lagu tersebut mengemukakan adalah tentang kepedulian sosial dan fenomena sosial

Sebagai seorang pencipta lagu, ilham atau inspirasinya untuk membuat lagu dapat dilihat dari lingkungan sekitar. Dalam lagu Mini yang diciptakannya pada tahun 1964 memotret keadaan sosial disaat selera ber-fashion mulai berubah. Pakaian-pakaian dan rok-rok pendek potongannya sedang digemari. Hal tersebut ditengarai terjadi akibat derasnya pengaruh Barat yang masuk melalui musik-musik dan film-film Barat. Banyak diantara kalangan kaum muda mudi meniru gaya berpakaian seperti yang ditampilkan di film-film. Perubahan orientasi ini segera ditangkap oleh Titiek dan dituangkan dalam sebuah lagu yang berjudul Mini.

Di awal lagu Mini dikemukakan pro dan kontra seputar pemakaian rok mini. Dikatakan bahwa tua dan muda menyenangi dan banyak juga yang membenci. Perubahan selera fashion ini menurut Bung Karno seperti yang disampaikan dalam pidato hari kemerdekaan pada 17 Agustus 1959 sangat tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Karena wanita Indonesia memiliki pakaian yang lebih berjiwa nasional dan tampil lebih sopan, yakni kebaya dan bukan rok mini.

Selain Mini, ada juga lagu seperti Minah Gadis Dusun yang diciptakannya pada tahun 1966. Minah adalah gadis gunung yang punya prinsip mencintai tanah kelahirannya, dia tidak akan berurbanisasi ke kota-kota besar, sesekali dia ke kota untuk melihat dan mempelajari kemajuan-kemuajuan teknologi yang mungkin ada hubungannya dengan kampung halamannya. Minah sudah pasti gemar membaca untuk menambah pengetahuan yang buku-bukunya dia dapatkan dari kota. Minah berperasaan bahwa orang gunung atau orang dusun sama derajatnya dengan orang kota. Minah pun gadis yang modern dalam berfikir bukan modern hanya dalam berbusana.

Minah mengatakan “memang indah kotamu kawan, tapi tidak seindah dusunku”. Minah selalu pesan kepada kawan-kawannya di kota, “jagalah kotaku dan kau tunggu sajalah hasil panenku”. Minah pun sebagai orang Indonesia merasa memiliki kota bahkan Negara, seorang Minah tidak akan sudi orang kota merusak dusunnya dan Minah keberatan kalau kota dipenuhi dengan polusi karena kota pun milik orang dusun, juga sebagai sarana panen dan hasil buminya.

Dalam lagu ini, sketsa yang dilukiskan oleh Titiek Puspa masih mengandung relevansi hingga kini. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Titiek Puspa, Minah memang hanya gadis dusun, tetapi dari dusun jugalah berasal banyak bahan kebutuhan pokok yang dikonsumsi oleh orang di kota. Ungkapan kota yang ditandai oleh gedung-gedung nan megah menjulang tinggi dan mobil bagus yang mentereng, sementara orang desa hanya bisa bertani. Lagu ini melukiskan kesenjangan sosial yang masih ada antara kota dan desa.

Masalah sosial lainnya yang mampu ditangkap oleh Titiek Puspa adalah maraknya orang-orang desa yang bermimpi merajut masa depan di kota besar seperti Jakarta, Titiek Puspa juga menciptakan lagu berjudul Bimbi, yang mengkisahkan mengenai perubahan seorang gadis desa yang berubah menjadi gadis kota dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Pada tahun 1973, Titiek Puspa juga menciptakan lagu yang menyinggung masalah sosial lainnya yang berjudul Rambut Gondrong. Apa yang diangkat Titiek Puspa ini adalah gambaran nyata peristiwa yang benar-benar terjadi. Peristiwa itu sendiri cukup mengguncangkan pada masanya. Di Bandung, Jawa Barat bahkan ditandai dengan bentrokan antara aparat dengan mahasiawa. Mahasiswa ITB, waktu itu memprotes perlakuan “bung polisi dan pak tentara” di jalan main gunting paksa rambut dan celana jeans milik kaum muda yang kebanyakan mahasiswa. Para mahasiswa menganggap itu perbuatan yang melanggar Hak Azasi Manusia. Protes itu mengundang salah paham yang kemudian berujung pada terjadinya kerusuhan. Akibatnya buruk, seorang mahasiswa ITB yang bernama Rene Coenrad menjadi martir ditembak di jalan.

Dalam lagu Rambut Gondrong dikatakan bahwa kebiasaan lelaki berambut gondrong memang sudah ada sejak dahulu kala, hal tersebut adalah alamiah dan tidak perlu dipermasalahkan. Namun karena alasan estetis yang menggambarkan bahwa lelaki berambut gondrong memberi kesan seperti bukan lelaki baik-baik atau seperti preman maka terjadi penertiban oleh polisi.

Lagu Rambut Gondrong hanya salah satu dari sekian reaksinya menangkap situasi sosial. Lewat syairnya yang sederhana dan mudah dimengerti setiap orang, uniknya lagu-lagu karya Titiek Puspa tidak pernah bermasalah dengan pemerintah padahal lagu ini muncul pada masa Orde Baru.

Kaum pinggiran pun tak luput dari perhatian Titiek Puspa. Titiek Puspa menciptakan lagu karena rasa empati yang dimilikinya terhadap kaum marjinal, seperti pelacur misalnya. Kemudian dituangkannya dalam sebuah lagu yang berjudul Kupu-Kupu Malam Lagu Kupu-Kupu Malam ini dibuat pada bulan Juli 1977, merupakan kisah nyata dari seorang penggemarnya yang bercerita tentang dirinya. alkisah hal ini berawal dari seorang perempuan yang mendatangi tempat Titiek Puspa dan rombongannya yang menginap pada waktu tengah malam saat Titiek Puspa mengunjungi sebuah kota di Sulawesi untuk melakukan pertunjukan. Perempuan tersebut menumpahkan segala kegetiran hidup yang dialami dan profesi yang dilakoninya. Ia bercerita tentang keinginannya untuk hidup wajar seperti perempuan lainnya, hidup dengan mendapatkan cinta laki-laki yang sejati dan bukan mencintai tubuhnya saja.

Setelah berbincang-bincang dengan perempuan tersebut kemudian muncul inspirasi untuk membuat lagu Kupu-Kupu Malam, yang kemudian dipersembahkan kepada perempuan pelacur tersebut. Lagu ini kemudian dipopulerkan oleh penyanyi Grace Simon. Judul Kupu-Kupu Malam kemudian diganti menjadi Dia ingin Hidup, karena mendapat teguran dari Kementerian Agama agar judulnya menggunakan bahasa yang halus. Walaupun demikian, masyarakat masih menyebutnya lagu Kupu-Kupu Malam.

Pada lagu Kupu-Kupu Malam ini, Titiek Puspa menyampaikan isinya dengan caranya sendiri. Ada simpati yang tidak dibuat-buat, ada semacam pertanyaan yang secara kritis menggugat, seperti dalam bait ketiga lagu tersebut :Dosakah yang dia kerjakan?Sucikah mereka yang datang?Bait lagu tersebut mempertanyakan mengenai kesalahan apa yang dilakukan oleh seorang kupu-kupu malam. Mereka selalu dipersalahkan, tetapi orang-orang yang datang kepada mereka selalu luput dari perhatian. Kehadiran kupu-kupu malam memang suatu dilema tersendiri bagi beberapa orang. Walaupun mereka melakukan hal yang sangat ditentang oleh norma agama dan norma susila tapi itu hanya dilakukan sebatas karena himpitan ekonomi semata. Seperti yang terdapat pada bait terakhir Yang dia tahu hanyalah menyambung nyawa…

Titiek menggambarkan keberadaan kupu-kupu malam di tengah-tengah masyarakat sebagai korban kerasnya perjuangan hidup bila tidak memiliki keahlian apa pun. Unsur kepasrahan yang terasa dalam lagu ini menggambarkan bahwa bagaimana pun kerasnya mereka membela diri tetapi masyarakat akan selalu memandangnya sebelah mata. Tanpa disadari, Titiek Puspa telah masuk ke dalam sesuatu yang kontroversial yakni sebuah pembelaan bagi pelacur yang oleh kaidah moral sangat dikutuk keberadaannya. Pada lagu ini terasa empati dari seorang perempuan kepada penderitaan sesama perempuan lainnya.

Lagu Kupu-Kupu Malam ini dalam memaparkannya dengan kata-kata boleh disebut cukup datar, terkadang seperti hanya rumusan peristiwa, sehingga tidak dengan mudah menyentak orang. Lagu tersebut dinyanyikan tanpa lengking suara. Lagu ini kuat melodi dan suasana, namun kurang tampak pergulatannya untuk menemukan kata-kata dan ungkapan yang lebih bertenaga.

Berbeda dengan lagu Minah Gadis Dusun Lagu Bimbi adalah figur kebalikannya. Bimbi adalah seorang gadis desa yang ambisius sekali ingin hidup di kota, yang menurut penciptanya adalah akibat baca-baca komik roman, majalah-majalah hiburan yang penuh dengan kisah-kisah atau berita-berita gemerlapnya kehidupan wanita-wanita ternama di kota. Bimbi hanya berpendidikan sederhana saja sehingga mudah terpengaruh dengan dengan kehidupan di kota, sedangkan kehidupan sawah dan ladang peninggalan orangtuanya enggan dijamah karena salah tafsir dalam pikiran bahwa mengerjakan sawah dan ladang kuno rasanya.

Lagu ini dibuat sekitar tahun 1980-an karena melihat banyaknya orang-orang desa yang bermimpi untuk mengadu nasib di kota. Lirik yang dikemukakan oleh Titiek Puspa cukup sederhana, tidak banyak kata-kata yang terlalu hiperbolis. Menggambarkan kesuksesan semu seorang gadis desa yang terhanyut dalam gemerlapnya kehidupan kota dan akhirnya menjadi lupa dari mana asalnya. Seiring berjalannya waktu gadis desa itu tidak lagi muda dan cantik sehingga ia tidak dapat bekerja lagi karena selama ini ia bekerja dengan modal fisik.

Tampaknya Titiek Puspa ingin berpesan kepada para perempuan muda agar jangan mudah terbujuk dengan hal-hal yang gemerlap yang ternyata menyesatkan. Satu himbauan bagi kaum perempuan agar tidak mudah terjerumus dalam perdagangan manusia. Satu lagu yang tampaknya masih aktual dengan keadaan sekarang. Lagu Bimbi ini kemudian dipopulerkan oleh Delly Rollies dari The Rollies. (Tulisan dan foto dari berbagai sumber)