Salah satu orkes keroncong jang membuat sejarah dan tertua di Indonesia, dengan tidak wasjangka lagi tentu orkes “Lief Java” ….. orkes ini mempunyai nama jang harum, baik di kalangan penjiaran radio maupun dalam pilem dan pertundjukkan2…dia menghasilkan pemain2 dan biduan2 yang sangat terkenal di seluruh Indonesia…..

Cuplikan kalimat diatas adalah artikel singkat yang terbit di tahun 1949 yang mengulas sumbangsih orkes dan personil Lief Java dalam perjalanan seni musik di Indonesia. Diantara orkes-orkes keroncong yang pernah berkibar di Indonesia, mungkin orkes Lief Java saja yang dapat terus bertahan dalam terpaan badai waktu yang terus berjalan. Dari zaman penjajahan Belanda, Jepang hingga zaman Indonesia merdeka, orkes ini masih dapat menunjukan tajinya dalam melantunkan nada-nada keroncong.

Kehadiran Lief Java dalam pusaran dunia musik keroncong mempunyai arti penting dalam perkembangan musik keroncong di Indonesia. Alkisah orkes ini pada awalnya bernama Rukun Agawe Santosa (Bersatu Kita Jaya) yang didirikan pada tahun 1918 oleh musisi yang bernama Suwardi dan Abdullah Kusumowijoyo. Nama Jawa sendiri digunakan karena para anggotanya berasal dari suku bangsa Jawa. Tetapi dalam perkembangannya di tahun 1923 nama orkes ini pun berganti nama menjadi Lief Java karena dalam tubuh orkesnya sendiri telah dimasuki oleh para musisi dan penyanyi keturunan Indo-Belanda.

Lief Java rutin mengadakan latihan di rumah Abdullah Kusumowijoyo yang terletak di daerah Kepu, Senen, Jakarta Pusat. Bertempat di rumah tersebut berkumpul para musisi, antara lain: Hugu Dumas, Dekar Zahirdinj, Memed Soeroso, Poeng Soewarso, Kartolo, Yahya, dan Ismail Marzuki serta sejumlah penyanyi antara lain: Miss Roekiah, Wolly Soetinah, dan sebagainya. Posisi Abdullah Kusumowijoyo sendiri dalam Orkes Lief Java adalah sebagai koordinato, orkes ini dibayar sekitar 40 Gulden untuk sekali tampil. Semua anggota dalam Lief Java berpendidikan baik, seperti MULO, AMS, HBS, KWS, abdullah sendiri merupakan jebolan dari MULO.

Kelompok musik ini memainkan lagu-lagu keroncong dengan kombinasi instrumen biola, flute, gitar, cello dan ditambahkan juga oleh instrumen mandolin dan string bass. Pada tahun 1925, Lief Java berhasil melakukan siaran langsung di radio VORO (Vereniging voor Oosche Radio Omroep) dan BRV (Bataviasche Radiovereeniging).

Tidak hanya di radio swasta saja, tahun 1927 adalah tahun yang spesial bagi kelompok musik ini karena mereka berhasil melakukan siaran langsung di radio pemerintah Belanda, NIROM (Nederlands Indische Radio Omroep Maatschappij) walaupun hanya 30 menit. Dengan waktu siaran yang terbatas itu cukp menutlitkan bagi orkes ini karena penyanyi yang akan tampil begitu banyak dan semuanya ingin suaranya didengar oleh masyrakat luas. Adalah Miss Rukiah Kartolo, Miss Siti Amajah, Miss Djuwita dan yang lainnya akhirnya terpilih untuk mengisi suara di siaran ini. Radio NIROM pada masa setelah Indonesia merdeka berubah namanya menjadi RRI.

NIROM ketika itu membagi siarannya dalam dua kelompok, satu khusus untuk pendengar bangsa Eropa dan satunya lagi untuk pendengar ketimuran dan Lief Java menempati posisinya sebagai pengisi acara ketimuran di radio tersebut. Momen itu menjadi suatu prestasi tersendiri bagi kelompok Lief Java karena mereka dapat melakukan siaran langsung di radio milik pemerintah. Setelah semakin dikenal oleh kalangan masyarakat luas dan banyaknya surat penggemar yang tidak hanya dikirim oleh orang pribumi melainkan juga orang belanda yang masuk ke studio, 30 menit siaran disana dirasa sudah tidak lagi cukup dan berubah jam siarannya menjadi satu jam penuh.

Kemudian dari tahun 1926 sampai tahun 1942, Lief Java selalu hadir dan menjadi pemenang dalam lomba-lomba keroncong yang diadakan di pasar malam Gambir. NIROM berperan penting dalam menyebarluaskan lagu-lagu, termasuk mempopulerkan nama-nama penyanyi dan pemusik Lief Java. Nuansa Barat tampak terlihat dari orkes keroncong ini, hal itu dapat terdengar dalam permainan musik mereka yang terdapat unsur-unsur off-beat dance dan hawaiian serta nama kelompok dan anggota pemain musiknya. Seiring dengan popularitasna para penggemar keroncong yang menganjurkan agar Lief Java membentuk seksi sendiri yang khusus untuk membawakan lagu-lagu Hawaii, jenis musik yang digandrungi oleh masyrakat Hindia-Belanda ketika itu, Lief Java pun menjawabnya dengan membentuk The Sweet Islander yang sebagian besarnya juga merupakan personil Lief Java sendiri. Selain melalui panggung pertunjukan dan siaran radio,Lief Java dan The Sweet Islander mempromosikan eksistensinya lewat iklan di berbagai media cetak.

Dalam perkembangannya, pada zaman Jepang nama Lief Java berubah menjadi Kireina Java yang berarti Jawa yang indah, setelah jaman kemerdekaan namanya menjadi Bunga Mawar sampai tahun 1955, nama baru pun muncul lagi dengan nama “Pusaka”. Walaupun nama orkesnya terus berganti-ganti namun anggota nya masih tetap sama walaupun ada perubahan, dan Abdullah Kusumawijojo masih dipercaya sebagai orang yang memimpin orkes keroncong yang didirikannya puluhan tahun silam.

Lief Java memang salah satu orkes keroncong yang telah lama hadir di Indonesia dan senantiasa memainkan berbagai macam lagu dan irama, baik karya cipta sendiri maupun karya cipta orang lain. Walaupun kebanyakan pemainnya awalnya “amatiran”, namun bukan berarti asing sama sekali dengan idiom-idiom musik keroncong. Mereka tekun bekerja dan mengader tenaga-tenaga muda yang sangat ingin dan bercita-cita memajukan seni suara Indonesia sehingga berkembang seantero Indonesia.(dari berbagai sumber)