Musik popular Indonesia dengan anak terlarangnya yaitu musik rock pada decade 1970-an dalam catatan sejarah cukup memberikan pengaruh yang krusial bagi perkembangan musik Indonesia di masa yang akan datang sekaligus mengundang ironi disaat kita mempertanyakan mengenai perubahan yang terjadi pada musisinya.

Tak ayal lagi hal itu terbukti dari perbincangan yang tidak akan ada hentinya apabila kita mengulas kembali denyut nadi perkembangan musik rock pada dekade tersebut. Heru Emka sebagai seoarang pengamat musik dari kota atlas semarang, dan penulis buku Grindcore sebagai musik alternatif yang penjualan laris manis bak kacang goreng pada dekade 90-an lalu, yang sampai sekarang pun bukunya itu susah untuk didapatkan mengungkapkan mengenai gegap gempita musik yang tercipta di dekade kedua benih-benih musik popular Indonesia tercipta. Berikut petikan wawancaranya:

Apakah peranan majalah dan radio signifikan bagi perkembangan musik rock di Indonesia pada tahun 70-an
Peranan majalah (terutama majalah pop seperti Aktuil dan pengikutnya (majalah Top) serta keberadaan radio amatir (yang kemudian menjadi radio swasta niaga) di tahun ’70-an sangat menopang perkembangan msuik pop, sebagai media massa yang saling melengkapi. Grup musik yang diberitakan di majalah spt Aktuil dan sebagainya, lagunya diperdengarkan oleh radio. Radio dan majalah / media cetak saling melengkapi sebagai sumbwer informasi bagi musik dalam dan luar negeri pada masa itu, ketika belum ada video klip dan sebagainya. Rasanya lebih asyik, lebih imajinatif, sehingga pecinta musik terdorong untuk menyaksikan konser yang digelar oleh grup musik , bila mereka ingin tahu kebolehan artis/grup musik yang bersangkutan.

Bagaimana dengan perkembangan Musik underground di Indonesia pada tahun 70-an

Ada sih beberapa personil band, yang menyebut grup mereka memainkan musik underground, misalnya Ucok beberapa kali di atas panggung konser di GOR Jawa Tengah (dan sebelumnya di Gedung Basket Wotgandul, di awal tahun ’70-an) menyebut bila band mereka AKA, memainkan musik ‘underground’. Sebenarnya istilah underground pada waktu itu maknanya mirip dengan istilah musik alternatif di jaman sekarang. Konotasinya ada semacam perlawanan terhadap tren. Nah ini yang sejak dulu tak ada dalam lagu-lagu ciptaan AKA. Di atas panggung mereka memainkan lagu yang sesuai dengan tren hard rock pada waktu itu, misalnya lagu King Pin Meh atau Grandfunk Railroad, bahkan lagu Sex Machine yang James Brown yang nge-funk, mereka mainkan. Pokoknya campur aduk lah. Sedangkan album rekaman mereka, selain beberapa lagu berbahasa inggris seperti Suez War, yang sebenarnya komposisinya tak begitu hebat, malah menampilkan lagu-lagu pop Indonesia yang cengeng, misalnya Akhir Kisah Sedih, atau Badai Bulan Desember.Saya waktu itu mengelu-elukan AKA cuma karena gaya panggung Ucok atraktif (misalnya ‘menyetubuhi’ organ, atau tiba-tiba tergeletak kejang. (kemudian saya tahu, gaya mendadak jatuh di atas panggung ini diconteknya dari Jim Morrison – The Door – Haa…haa…haaa. Dulu gaya musik dan gaya panggung rocker kita memang niru semua dik. Coba saja cari album live Rollies di TIM, saat mereka memperingati kematian dramer mereka Iwan , yang tewas karena kecelakaan. Waktu itu mereka tampil dengan Jimmy Manopo sebagai dramer baru. Ternyata repertoar (urutan lagu) serta gaya di atas panggung itu persis suasana album Chicago Live (aku ounya kaset keduanya ) Jadi aliran underground (dalam kontek yang sesungguhnya, perlawanan bawah tanah spt yang dilakukan oleh The Ramones di New York ) tidak pernah ada. Yang ada cuma ‘underground’ aspal saja. ‘Gitu.

Lantas bagaimana dengan gaya aksi panggung musik para musisi rock 70-an yang sebagainnya cenderung sifatnya teatrikal

Soal gaya panggung teaterikal, wah hampir semua grup musik rock kita di tahun ’70-an berlomba-lomba tampil atraktif. Ucok AKA masuk peti mati, lalu Freedom Rhapsodia memainkan lagu Osibisa dengan selingan bacaan shalawat (plus semua lampu dipadamkan, waktu itu aku masih kecil -tapi udah nonton konser rock, sementara teman sebaya masih main gundu – waah aku jadi merinding lho ), untuk grup lokal Semarangan, selain menampilkan rias wajah yang ekspresif, ada juga yang mendadak menampilkan sesuatu yang beda, misalnya band Dragon (kalau tak salah pada event November Rock Concert ) menggaet rombongan pemain orkes RRI Smg untuk ber-jam-session – mungkin idenya boleh juga – mau menampilkan rock orkestra – cuma eksekusinya saja – aransemen dan harmoni musik mereka acak-acakan. Band Trenchem termasuk yang jago dalam hal beginian. Aku terkesan dengan kebolehan mereka mengusung musik blues rock, yang persis banget dengan Zeppelin (Tea for One atau I Can’t Quit You Baby, cuma yang aku lihat, gitarisnya sudah bukan Setiawan Jody). Lucunya, pas mau bergaya atraktif, penyanyi mereka kesetrum

Apakah pernah terjadi kemunduan pada musik rock di Indonesia pada akhir tahun 70-an karena banyak para musisi rock yang kemudian beralih menjadi musisi yang berbeda aliran ketika masuk dalam dunia rekaman, apakah ini ada kaitannya dengan trend yang berlaku pada saat itu?

Aakah terjadi kemunduran pada musik rock di Indonesia pada akhir tahun 70-an ? Kalau jumlah grup musik rock , menurutku justru tahun ’70-an lebih maju.Banyak grup rock. Di kota kecil seperti Semarang saja ada banyak kok yang mainin musik rock. Dari band klab malam seperti Shinta, lalu band perusahaan seperti Dragon, Fannys, dan sebagainya juga berlomba-lomba mainin rock. Lalu ada grup yang lebih muda tapi bisa bagus seperti Spyder (dramer mereka Inisisri – Kantata Taqwa). Ada juga yang tampil dengan nama lucu; Panakawan, tapi juga semangatnya ngerock abis. Pokoknya era ’70-an adalah masa subur grup musik kita.Tapi kupikir ada juga kemunduran, di samping ada juga kemajuan. Begini, waktu itu bisa dibilang era romantik grup musik kita. Ada yang menjaga prinsip, idealisme atau gengsi, bahwa mereka hanya mau bermian di panggung konser saja, sementara lannya yang demi periuk nasi ada yang mau ditanggap di hajatan pesta pengantin dan sebagainya. Dulu penyanyi beken dari Titiek Sandhora-Muchsin hingga grup seperti Trenchem, kadang bermain di pesta perkawinan orang kaya. Sementara Koes Plus, sejak jaman dulu bersikukuh untuk tak mau tampil di hajatan seperti itu. Resikonya, mereka terpaksa harus berjualan rokok untuk mendapatkan uang makan, daripada main musik di hajatan, yang dianggap ‘melacurkan’ musik.
Nah, ketika tren musik berganti, atau para personil band rock ini harus berumah tangga, mereka terpaksa banting stir, kecuali beberapa saja yang tetap bertahan di jalur musik yang digelutinya. Contohnya Ian Antono, Jelly Tobing atau Abadi Soesman. Hal seperti ini yang menyebabkan berbagai grup di tahun ’70-an rontok. Mungkin ini dianggap sebagai kemunduran ? Ya bisa saja, dalam arti grup-grup ini hilang dari peta musik Indonesia. Tapi kan ada grup generasi berikutnya, yang skill bermusiknya lebih baik, wawasannya lebih luas, intelektualitasnya lebih unggul

Bagaimana anda menyimpulkan musik rock indonesia dekade 1970an
Yang jelas era ’70-an dalam bantika musik Indonesia adalah suatu berkah yang menjadi penanda jamannya. Sudah hilang, dan tak bisa diulang. Seperti Woodstock di era ’70-an, dengan Jimi Hendrix dan Janis Joplin. Begitu digelar Woodstock baru (awal 2000-an) semanganya sudah beda. Red Hot Chilli Pepper bagaimanapun tak sama dengan Jefferson Airplane atau The Band. Dulu kita juga punya pesta musik Summer 28, setiap tahun berbagai konser muncul di Gedung Olah Raga Jawa Tengah, atau di Aula STM Pembangunan, atau di Stadiun Diponegoro. gairahnya belum tertandingi nuansa musik di tahun ’80-an ( Fariz RM, Chrisye dan anak elitis, yang jumlah penontonnya lebih terbatas )