Pada masa kependudukan militerisme Jepang selama tiga tahun di Indonesia, musik keroncong seakan-akan mendapatkan “angin segar” dari mereka yang mengemari jenis musik ini, karena kebudayaan Barat yang dibawa oleh orang asing terkikis oleh Jepang dan Jepang memiliki suatu misi yang mereka sebut dengan “perang suci” melawan imprealime Barat.

“Perang suci” itu dilakukan dalam segala sendi kehidupan, termasuk dalam kebudayaan. Melalui lembaga kebudayaannya, Keimin Bunka Shidosho yang berada di bawah badan propaganda Sendenbu, Jepang berusaha menghapus unsur-unsur budaya Barat dalam kesenian asli Indonesia dan secara bersamaan mengembangkan serta memasyarakatkan kesenian asli Indonesia dan Jepang.
Semua itu dilakukan dalam semangat sebagai bagian dari bangsa Asia Raya. Keroncong yang sebelumnya telah memiliki “cap Barat” mendapat perhatian khusus. Jepang melakukan ini sekaligus pula dalam rangka menjalankan misi propagandanya.

Pada tahun 1943, Jepang melalui Keimin Bunka Shidosho melarang keroncong yang bersifat sayang-sayangan yang berkembang di Indonesia. Bukan tanpa sebab Jepang melakukan pelarangan itu karena keroncong bertema sayang-sayangan dan kata-kata merayu dan sebagainya dinilai berbau Barat, sangat duniawi dan melemahkan bangsa Indonesia. Dampak dari keroncong yang tercermin dari perilaku dansa-dansa, mabuk2an, dan sebagainya disebut sebagai gambaran betapa “tak bermoralnya” keroncong. Namun demikian Jepang sendiri tidak pernah menuntut dalam hal perubahan irama, susunan harmonik atau alat-alat musik yang digunakan keroncong, sekalipun itu semua berakar juga pada budaya Barat dan memberi tempat bagi keroncong yang tidak bersifat kebarat-baratan dan tidak bersyair sayang-sayangan.

Para pemusik keroncong yang sebelum zaman jepang sudah terkenal dan terlibat dalam fenomena keroncong yang bercap Barat, pada masa itu hampir merubah penampilannya sesuai dengan kondisi zaman agar tetap bisa berkiprah. Miss Netty, Any Landouw, Miss Rukiah, Abdullah Kusumowijoyo, Ismail Marzuki dan yang lainnya adalah sebagian dari banyak musisi keroncong yang terkenal sebelum zaman Jepang dan tetap eksis pada masa pendudukan ini. Gesang dan kusbini adalah pencipta lagu yang karya-karyanya sangat popular dan disukai oleh Jepang dan masyarakat umum.

Berbagai event atau konkurs diselenggarakan oleh Jepang untuk keroncong sebagai langkah nyata dari kebijakannya walaupun jarang karena suasana perang yang tidak kondusif. Pada bulan Februari di Bandung, dan bulan April di Surabaya, Jepang mengadakan malam keroncong untuk amal yang hasilnya disumbangkan kepada Badan Pembantu Heiho. Di radio Jakarta, setiap hari tetap diperdengarkan lagu keroncong. Pada bulan September, di gedung Tonil Balai Kesenian di jalan Simpang 90, Surabaya, diadakan malam keroncong amal. Tampil dalam acara itu para penyanyi yang sudah terkenal yaitu: Miss Netty, Any Landouw, Miss Rukiah dan Oerip. Pada bulan yang sama di Surabaya, diadakan lomba keroncong. Kusbini, Ismail Marzuki, Tabib Tobroni dan Suma Tjoe Sing bertindak sebagai juri dalam lomba itu.

Di tahun 1944 diadakan konkurs keroncong oleh Solo Hosoyoko di taman Sriwedari Solo. Pesertanya datang dari seluruh daerah di pulau Jawa dan para jurinya terdiri atas ahli2 keroncong pada zamannya. Kota solo pun tumbuh menjadi gudangnya para seniman keroncong. Pada masa itu nampak keadaan politik membawa dan mengakhiri era Indo-Eropa dalam musik keroncong. Selama kurun waktu tiga tahun tersebut, dalam perspektif musikologi, bingkai frame struktural senantiasa memiliki standarisasi dan ketetapan pendirian, maka timbulllah pula bentuk lagu sebagai repertoar musik keroncong yang diwarnai oleh warna musical lokal yang disebut langgam. Akhirnya elemen keroncong dan gaya nyanyian jawa klasik dikombinasikan dalam bentuk lagu langgam jawa yang muncul lima atau enam tahun berikutnya.

Para seniman keroncong giat mengarang aneka jenis lagu Indonesia, khususnya keroncong dan ini menimbulkan jenis lagu hiburan karena diiringi oleh orkes keroncong dan bertema cinta tanah air atau kepahlawanan. Kusbini beserta dengan musisi keroncong lainnya, seperti: Ismail Marzuki, C Simanjuntak, A Pane, Sudjojo masuk ke radio Hoso Kanri Kyohu dan Keimin milik Jepang, kemudian menciptakan lagu-lagu barunya. Lagu-lagu ciptaannya itu meliputi, Rela, Padi Menguning, Lagu ku, Ratapan Ibu, dan kumpulan lagu-lagunya. Orang-orang Jepang pun pada masa itu juga menyukai lagu Bengawan Solo dan mungkin karena orisinalitas puitiknya dari lagu tersebut, walaupun sederhana pengungkapannya yang dipadu dengan melodi namun bagi orang Jepang lagu ini terasa “eksotik”

Keroncong telah merubah wajahnya menjadi musik yang sopan bahkan tanda-tanda “buaya keroncong” yang identik dengan keroncong mulai tampak menghilang, berkarakter ketimuran dan dianggap sebagai musik yang dapat membangkitkan perasaan cinta tanah air dan semangat kebangsaan. Akan tetapi musik keroncong pada masa kependudukan Jepang dari tahun 1942 hingga tahun 1945 tidak banyak memberikan perkembangan baru dalam tradisi musik diatonik di Indonesia, dan hanya meneruskan apa yang sudah ada, misalnya tentang solmisasi dengan beberapa lagu Jepang dan sebuah terjemahan lagu rakyat dari Irlandia yang berjudul Auld Lang Syne ke dalam bahasa Jepang yang kemudian disalin ke dalam bahasa Indonesia sebagai lagu perpisahan. (Dari berbagai sumber)