Catatan Kata Kelana

Kelly Puspito dan Musik Keroncong di Kota Semarang

Rumahnya yang terletak di dekat pusat oleh-oleh kota semarang ini begitu sederhana dan membumi bagi seorang maestro musik keroncong. Tempat kediamannya tidak jauh berbeda dengan rumah-rumah yang ada disampingnya dan letaknya pun tidak begitu sulit untuk ditemukan karena masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut sudah mengenal sosok beliau apabila kita menanyakan dimana beliau tinggal.

Duduk di depan teras rumahnya dengan hanya berpakaian ala kadarnya, celana pendek berkaos kutang, dan ia pun berkata “silakan masuk nak, saya lupa kalau anda mau datang kesini, sebentar saya masuk dulu untuk ganti baju”, kata-kata itulah kali pertama keluar ketika penulis datang ke rumahnya pada kamis silam

Setelah beberapa menit, ia bergegas keluar dan mempersilahkan penulis untuk duduk, tak lama kemudian perbincangan pun dimulai, “Musik keroncong perkembangannya dari yang asli atau asli Indonesia berawal dari keroncong tugu, musik ini terus masuk dan berkembang di Semarang. Ciri khas musik keroncong gaya semarang ini dapat terdengar dari permainan cellonya, gaya ini berbeda dengan gaya di solo, yogyakarta, atau Surabaya” ujar dia mengawali perbincangan di hari yant telah siang ini.
“Musik keroncong di kota Semarang mempunyai gayanya sendiri berbeda dengan gaya musik keroncong di kota-kota lainnya. Keunikan gaya musik keroncong Semarang salah satunya dikatakan oleh beliau terletak pada ketukan cello-nya, dan gaya semarangan ini lebih semarak apabila dibandingkan dengan gaya keroncong yang berkembang di Solo, Yogyakarta, atau Surabaya.

Memang sedikit sulit, seperti yang diakuinya, untuk membedakan antara gaya yang satu dengan gaya yang lainnya dan kesemuanya gaya tersebut cenderung hampir sama. “Butuh kejelian tersendiri untuk dapat membedakan antara gaya Semarang, Solo, maupun gaya yang lainnya” ungkap pria yang pernah memenangkan sayembara Bintang Radio RRI untuk kategori lagu keroncong pada akhir dasawarsa 1950-an sampai dasawarsa 1960-an.

ia sendiri lebih condong ke gaya semarang karena gaya semarang itu lebih baik dan memang terkadang unsur subjektif sangat melekat disaat kita membicarakan soal gaya, misalnya orang Solo mendengarkan keroncong dari semarang atau Jakarta, maka ia berpendapat bahwa keroncong solo lebih baik dari keroncong yang berasal dari daerah tersebut, dan apabila itu dilihat dari permainan cellonya.

Tidak lama kemudian ia pun bergegas masuk kedalam dan membawa sejumlah kaset keroncong koleksi pribadinya, “saya sudah agak lupa dimana kaset-kaset koleksi saya letakkan, ini adalah sebagian kaset yang saya miliki dan ini merupakan kumpulan lagu-lagu keroncong”, ungkap dia. Tak lama ia menyetel beberapa kaset koleksi pada sebuah radio di ruang tamunya.

Diiringi oleh lagu-lagu keroncong dari kaset koleksi pribadinya yang membahana, Kelly puspito mengatakan bahwa gaya musik keroncong di Semarang sendiri tidak mempunyai bentuk yang baku atau pakem karena masing-masing musisi keroncongnya mempunyai gayanya masing-masing, seperti misalnya gaya keroncong yang saya mainkan mungkin berbeda dengan gaya musisi keroncong semarang lainnya. Kalau yang memang senang dengan musik keroncong pasti senang mendengarnya, tapi kalau ahli atau musisi keroncong pasti berbeda.

Kelly Puspito dilahirkan pada tanggal 27 Agustus1930 di Pati Jawa Tengah sebagai anak sulung dari empat bersaudara. Ayahnya adalah seoarang pegawai negeri sipil yang dulu tergolong sebagai kelas menengah. Walaupun ayah dan ibunya tidak terlalu suka mendengarkan musik, namun mereka sering mendengarkan musik yang baik. Sejak SMP Kelly puspito sudah tertarik dengan musik dan mencoba memainkannya. Musik berirama Hawaii yang ketika itu sedang trend, musik jazz ringan, dan musik keroncong menjadi jenis musik pilihannya dan ini membuatnya semakin banyak memiliki teman ditambah lagi keluarganya sering berpindah tempat tinggal.

Di antara beberapa jenis musik yang sering ia mainkan, namun pilihan akhirnya jatuh ke jenis musik keroncong. Mengetahui bahwa menggeluti profesi sebagai musikus jazz tidak dapat selalu menopang hidupnya, alhasil membuat dia lantas menerima tawaran untuk bekerja di kantor pos sambil terus menjalani kegiatan seni yang biasa lakukannya sampai kemudian dia pun didaulat untuk memimpin orkes keroncong milik Kodam IV Diponegoro pada tahun 1961. Dalam orkes inilah ia menempa kemampuan musikalitasnya dengan mencoba menerapkan berbagai gagasan musik untuk membuat agar musik keroncong selalu disukai oleh masyarakat yang kenyataannya lambat laun musik keroncong mulai ditinggalkan penikmatnya, walaupun sekarang gejala itu sudah mulai mengikis dan musik keroncong kembali mentranformasikan dirinya secara elastis dan mampu menjawab perubahan zaman.

Kelly puspito kali pertamanya menciptakan lagu keroncong pada dekade 1950-an dengan judul cincin tanda setiamu, seperti kebanyakan musikus keroncong lainnya, Kelly puspito mengakui bahwa ia merupakan seorang yang perasa, romantis dan terkadang lebih menghargai rasa cinta terhadap seni dibandingkan terhadap materi. Kecintaannya terhadap seni ini pula sampai hari tuanya ia merasakan tidak mempunyai apa-apa dan terpaksa berpisah dengan istri pertamanya setelah merajut kasih selama sepuluh tahun, walaupun sangat disayangkan baginya karena dia mengenal sosok sang istri melalui musik. Namun kemudian kesendiriannya mulai terobati dengan kehadiran seoarang penyanyi keroncong yang lalu menjadi istri keduanya.Ia merasa istri keduanya lebih siap untuk hidup dengannya sebagai seorang musikus keroncong yang serba kekurangan.

Kesan Kelly Puspito merupakan salah satu “Buaya keroncong” yang gaek seakan-akan begitu melekat karena di dalam lemari kamar tamunya ini tergeletak beberapa botol minuman keras merk Jack Danels, dan sejenisnya. Buaya Keroncong merupakan salah satu ungkapan yang diberikan masyrakat kepada para musisi keroncong pada tempo dulu dan Istilah “buaya” keroncong berasal dari nama sebuah kelompok musik keroncong Indo-Belanda di kampung Kemayoran dengan nama yang lebih dikenal sebagai de Wandelende Keroncong. De Krododilen (buaya-buaya) sangat terkenal pada akhir abad ke-19. Keterampilan mereka memainkan instrumen musik dan menyanyikan lagu-lagu asmara-birahi membuat banyak gadis yang “tergila-gila”.

Keroncong kota semarang
Diungkapkan dalam buku Indonesia Heritage Seni Pertunjukan, kota ini masuk dalam peta persebaran musik keroncong di Indonesia, dan dapat dikatakan kota ini juga termasuk salah satu pusat musik keroncong di pulau Jawa, selain di kota-kota tersebut.

Pada awal abad ke-20musik keroncong menyebar dengan cepat ke masyarakat luas, antara lain melalui concours (festival) yang diadakan di pasar-pasar malam. Sejak saat itu pusat-pusat dunia keroncong berkembang di daerah pulau Jawa pada dasawarsa tahun 1920-an. Lagu-lagu keroncong sudah menyebar luas dan digemari banyak orang, walaupun pada saat itu perbendaharaan lagu-lagu keroncong masih kurang. Di kota Semarang, lagu-lagu keroncong mulai dirintis melalui tema lagu-lagu daerah yang dikeroncongkan. Tempat-tempat penyelenggaraan pertunjukan musik keroncong di kota Semarang antara lain di pasar malam Tuan Manuk, pasar malam Sentiling, dan pasar malam Krido Martoyo.

Memasuki dasawarsa 1930-an, musik keroncong di kota Semarang tidak hanya disukai oleh orang tua saja melainkan juga digemari pula oleh anak-anak kecil. Penyanyi keroncong cilik pada waktu itu diantaranya: Kasran, Darman, Mulyani, bahkan Anny Landouw ketika berusia 11 tahun mulai memberanikan diri untuk mengikuti vaandel concours di kota Solo tahun 1927. Demikian pula pada kurun waktu tahun 1947-1950, orkes keroncong Pelipur Lara mempunyai anggota pemain yang terdiri atas anak-anak yang berusia sekitar sembilan sampai belasan tahun. Anak-anak tersebut sudah berani untuk tampil di panggung dan unjuk kebolehan di stasiun RRI Semarang.

Pada perkembangan selanjutnya, B J Haryanto salah seoarang personil Congrock 17 dari Semarang mengungkapkan bahwa musik keroncong di Semarang sebelum dekade 1980-an dapat dikatakan cukup memprihatinkan dan itu terjadi sampai sekitar tahun 1984. Para pemain musik keroncong yang bermain di RRI semarang dan di tempat komunitas-komunitas keroncong lainnya sering kali pulang tanpa membawa hasil (uang) setelah mereka selesai bermain dari tempat tersebut, terkadang para pemain keroncong tersebut pulang ke rumah dalam keadaan setengah sadar (mabuk), padahal pemain-pemain keroncong tersebut mempunyai skill yang sangat bagus untuk musik keroncong.

Setelah tahun 1984 sampai dengan 1990-an merupakan masa-masa kejayaan musik keroncong di kota Semarang karena hampir semua elemen masyarakat terlibat pada jenis musik yang sudah mempunyai bentuk-bentuk komposisi pakem ini, mulai dari kampung-kampung, kelurahan, dan instansi saling berantusias untuk membentuk orkes-orkes keroncong demi mengharumkan nama komunitasnya masing-masing. Stasiun-stasiun radio milik swasta dan pemerintah (Lusiana Number One, PTDI Kalimasada, dan RRI cabang Semarang) juga turut aktif mendukung dengan menyajikan menu acara musik keroncong lewat lagu-lagu yang diputar melalui kaset maupun menghadirkan langsung kelompok musik keroncong di studio.

Kota Semarang juga dapat dikatakan sebagai salah satu barometer bagi perkembangan musik keroncong di tanah air, disamping memunculkan tokoh-tokoh musik keroncong tingkat nasional seperti Kelly Puspito dan Budiman B.J. Kelly Puspito pernah memenangkan sayembara Bintang Radio Republik Indonesia untuk kategori lagu keroncong pada akhir dasawarsa 1950-an sampai dasawarsa 1960-an Kota Semarang juga sering dijadikan tempat untuk ajang lomba musik keroncong tingkat kota maupun tingkat provinsi, baik berupa kategori orkes maupun Bintang Radio dan Televisi (BRTV).

Salah satu grup musik keroncong yang terkenal di kota semarang ini dan yang masih menunjukkan taringnya dalam pentas pertunjukan musik keroncong adalah Congrock 17. Walaupun Congrock 17 bukanlah grup yang kali pertamanya menunjukkan eksistensinya dalam meramu berbagai jenis musik, baik rock, jazz, bahkan musik dangdut dalam sajian musiknya. Kehadirannya tidak dapat dikesampingkan karena karena kelompok musik ini telah melalang buana dalam jagat permusikan keroncong di tingkat lokal, nasional bahkan internasional selama lebih kurang 25 tahun dan diganjar piagam dari MURI sebagai kelompok musik keroncong yang konsisten dalam bermusiknya. Menurut Marco Manardi salah seorang personil congrock 17 semarang, musik keroncong Semarang itu lebih bebas, artinya keroncong Semarang itu lebih “urakan”, lebih terbuka terhadap pengaruh musik lainnya tetapi masih tetap dalam koridor pakem keroncong tersebut dan Congrock merupakan salahsatu “anak” yang dilahirkan oleh musik keroncong di Semarang.

Kelly Puspito dan Congrock 17
Perihal pembentukan Congrock 17 sendiri tidak terlepas dari peranan Kelly Puspito, “Marco Manardi adalah ketuanya dulu dan pertama kali mereka membuat congrock ya di tempat saya waktu mereka masih mahasiswa. Hari joko yang pemain cello dulu juga murid saya. mareka ingin membuat musik keroncong yang berbeda dengan kelompok musik keroncong”, ungkap pria yang pernah menikah lebih dari satu kali dan telah dikarunia oleh beberapa anak dan cucu dari hasil perkawinannya yang pertama dan kedua.

“Mereka ingin bermain musik keroncong berbeda dengan musik keroncong orang-orang tua, dan biasanya anak-anak muda ingin dirubah atau yang ngerock, nge-jazz, atau yang macam-macam. Apa boleh atau tidak itu tergantung dari musisi tersebut. Perbedaannya itu terlihat dari iringannya, kalau yang biasanya orkes menggunakan alat-alat musik standar keroncong yang biasa, congrock 17 ditambahkan dengan instrumen drum. Congrock memainkan akord-akord yang biasa dan hanya dibuat atau dibunyikan dengan lebih semarak. Alat-alat yang mereka gunakan ada keyboard, biola, kadang-kadang pakai gitar”, sambung dia.

Kehadiran Congrock 17 pada awalnya disinyalir oleh beberapa musikus keroncong telah keluar dari pakem musik keroncong yang ada dan saat dikonfirmasi apakah Congrock 17 menyalahi pakem musik keroncong dia mengatakan” ya seperti inilah dasarnya kan ada bunyi instrumen cuknya, kalau ditanya merusak-atau tidak merusak, grup ini ini tidak merusak karena masing-masing musisi mempunyai kemauan dan selera masing-masing dan masih terdapat bunyi cuk di dalam lagu-lagunya”, ungkap dia

Nuansa musik rock memang seakan-akan melekat pada grup musik Congrock 17, namun Kelly puspito mempunyai pendapatnya sendiri mengenai grup musik ini, ”Sekarang mereka tidak lagi bermain musik rock, hal itu terlihat dari kemarin waktu saya datang dalam acara ulang tahunnya. lainnya Kalau hari ulang tahun congrock pasti akan mengundang saya dan saya diundang sebagai pembicara juga yang bertujuan agar congrock 17 diakui oleh orang-orang/musisi keroncong lainnya. Ada yang bertanya kok rock bisa dikeroncongkan, saya jawab ya bisa saja rock dikeroncongkan, jazz pun bisa dikeroncongkan semua itu bergantung dari musisinya.

Unsur rocknya sudah tidak ada lagi atau hilang dan mereka tidak bisa menjawab ketika saya tanya dimana ada unsur rocknya. Menurut Kelly puspito congrock hanya sekedar nama dan grup musik yang biasa-biasa saja di matanya dan kelebihannya hanya terletak dari kemampuan dari grup ini untuk membuat berbagai jenis musik, rock dikeroncongkan atau musik pop sekarang yang sedang trend dikeroncongkan. “Musik rock menurut saya seperti musik yang Godbless mainkan, ada suara lengkingan gitarnya, Godbless sendiri walaupun banyak musik-musik lembutnya tetapi masih ada unsur rock, terus bagaimana dengan musiknya congrock, apakah ada suara seperti itu”, ujar dia. (berbagai sumber)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 22 October 2012 by in Musik Keroncong, Sejarah Musik Indonesia, Tokoh Kita.
%d bloggers like this: