Catatan Kata Kelana

Bagi Lia Tak ada lagi lagu cinta

Yah sebut saja namanya lia, ia ini merupakan salah satu pekerja seks komersial yang mangkal di sekitaran jatinegara. Umurnya masih muda, 25 tahun, tetapi tak disangka pengalamannya selama menjalani profesi ini tidak selebar daun kelor.

Di jakarta ini ia tinggal di sebuah rumah kontrakan dengan orang tua angkatnya di daerah Buaran yang kebetulan berprofesi sebagai pedagang minuman yang tidak jauh dari tempatnya ia mangkal. Wanita asal lampung in mengatakan ia terjun dalam dunia hitam ini karena terpaka dan tidak mempnyai pilihan lain, berbekal sertifikat yang hanya lulusan smp ini dalam mengarungi kehidupan jakarta yang kejam ini menjadi seoarang pelacur jalanan menjadi jalan hidup yang ditempuhnya dalam mengais rezeki. “ habis mau kerja apa lagi mas, saya cuma lulusan SD karena SMP aja tidak lulus” kata dia.
Orang tuanya di kampung halaman hanya tahu bahwa dia bekerja di jakarta bukan sebagai PSK tetapi sebagai pekerja pabrik konveksi di kawasan industri pulo gadung.” ya gak mungkin banget lah mas saya mengaku saya kerja seperti ini di jakarta” ungkap dia. “ bisa-bisa jantung orang tua saya langsung copot” sambung dia.

Bagaimana awalnya dia menjadi searang PSK jalanan, Alkisah semua ini berawal pada saat ia masih berumur 15 tahun dan bekerja di sebuah kafe di dekat stasiuhn jatinegara. Di kafe ini ia pun bekerja sebagai pelayan tetapi hanya sebatas sebagai teman disaat ada tamu yang datang untuk dilayani. Sial bagi dirinya ketika ada seseoarang yang mengaku anggota kepolisian mengajaknya untuk minum2an alcohol beroktan tinggi. “ dia mabuk-mabukan sampai lupa daratan, uang yang dihabiskannya cukup banyak” kata dia. Kemudian ia mengajaknya untuk cek in di salah satu hotel, lantas ia menolaknya karena tugasnya disini hanya sekedar melayani tamu yang ingin minum2 Tetapi karena ancaman pria yang ditujukannya cukup serius mengingat ia telah menghabiskan cukupo banyak uang di tempat itu, dengan serta merta lia hanya bisa pasrah an harus melayaninya walaupun hatinya itu sebenarnya berontak tidak sudi melayani pria yang sedang mabok berat.

Hotel kelas melati di bilangan jatinegara ini adalah saksi bisu dari kejadianya yang sampai akhir zamannya pun ia tidak akan melupakan. Di salah satu kamar hotel ini ia pertama kali kehilangan keperawanannya. Dengan tangan diborgol di belakang dia mencoba meronta-ronta pada waktu di dalam kamar tetapi itu tidak dapat membendung nafsu gila si pria yang sudah sampai ubun2 kepala. Alhasil kegaduhan yang ditimbulkan membuiat satpam hotel mengetuk pintu kamar dan menanyakan sedang apa di dalam, “Ia buka pintu sambil berkata kepaa satpam jangan campuri urusan pribadi orang kamu tidak melihat saya siapa” kata dia. Satpam itu pun hanya bisa terdiam dan akhirnya pergi dan tak bisa berbuat apa-apa.

Merasa begitu terluka dengan kejadian yang dialaminya, sampai-sampai hampir satu minggu ia tidak dapat melupakan peristiwa pilu itu dan setiap kali mengingatnya tetes air mata pun tak kuasa jatuh di pipinya. “kejadian iu lah membujat saya menjadi seperti ini, sekalian aja dehsaya terjun lebih dalam”kata dia. Saat ditanya apakah sudah selama inikah ia menjanlani profesi ini melihat umurnya sekarang sudah seperempat abad,. “saya pernah berhenti waktu saya masih menjadu istri seoarang” kata dia. Ia pernah menjalin hubungan serius bersama seoarang pria yang umurnya jauh melampaui dirinya, perkawinan pun menjadi bukti keseriusan hubungan. Tetapi seiring berjalannya waktu pernikahannya itu hanya bertahan 4 tahun lamanya.

Lantas apa yang menyebabkan hubungannya itu berakhir di tengah jalan Mungkin dalam benaknya ketika itu suami yang dinikahinya adalah seoarang malaikat penolong yang menuntunnya ke jalan yang lurus dan memang jalan yang lurus “ saya tidak pernah nongkrong lagi di jalan waktu menikah sama dia kerjaan saya seperti ibu rumah tangga saja” kata dia, tetapi yang ia dapatinya akhirnya adalah suami yang tidak pernah mengasihi dan menghormati dirinya. “bagaimana bisa menghargai saya kalau salah sedikit saya dipukul” sambung dia. Suami itu ternyata adalah seoarang pencemburu berat seperti yang dia katakan.

Ia memang menafkahinya tetapi seiring dengan berjalannya waktu, suaminya itu adalah seoarang yang jauh dari apa yang ia perkirakan sebelumnya, kelakuannya yang ringan tangan dan sering memukulina membuatnya kembali berpikir apakah benar dia adalah malaikat penolongnya. Kekerasan dmi kekerasan ia alami, perlakuan semena2 dan bogem mentah sang suaminya ia rasakan hampir kurang dua tahun. Entah apa yang menyebabakan suaminya itu tega terhadap dirinya, ia tidak menjelaskannya lebih lanjut

Mencoba bertahan dengan luka batin yang terus mengangga, namun akhirnya keputusan untuk pergi dari rumah suami menjadi nekat yang bulat yang harus segera diwujudkan dengan segera. Tanpa ada proses perceraian resmi, ia pun mengambil langkah seribu dengan membawa semua baju yang dimemilikinya dan kemudian lekas pergi dari rumah.”suami saya mencari kemana2 tapi saya tidak perduli lagi” ungkap dia. Untuk keluar rumah saja dia harus was-was takut sang suami tahu keberdaannya. “ pokoknya saya gak mau ketemu sama dia lagi, kapok saya” tandasnya lagi. Ia mengatakan apabila ia dulu tahu bahwa sekarang ada undang2 KDRT dan bisa melaporkan perbuatan suaminya ke aparat berwenag, mungkin suaminya sudah mendapatkan ganjaran yang setimpal. Keinginan yang muluk yang sampai detik ini bergulir ia hanya bisa memendam mungkin suatu hari nanti itu pun kalau hari itu ada, ia bisa melaksanakan keinginannya untuk melaporkan

Profesi yang dilakoninya ini memang rentan terhadap tindakan kriminal yang tidak pernah memandang harga diri bahwa dia adalah seoarang wanita yang berdaya.Rasa trauma yang ia derita membuatnya ,menjadi segan dan berpikir ulang apabila ingin melayani pria bermobil. Sudah cukup pengalaman pahit yang dia rasakan. Pernah suatu ketika ia tertipu mentah-mentah dengan pria bermobil yang nyata2 tidak mau membayar harga yang telah dise[pakatinya berdua. Ia menceritakan selepasnya ia berkencan singkat dalam mobilnya, sang tamu itu tidak mau membayar dan meninggalkan begitu saja dirinya di pingiran jalanan. Tidak tanggung-tangguing tamunya itu meninggalkan dirinya sendiri di jalan tol cikampek tandasnya. Dengan langkah tertatih-tatih dan tangisan membasahi mukanaya, ia bejalan menembus kegelapan malam.

Lantas bagaimana dia dapat pulang ke tempat mangkalnya untung bagi dirinya karena dewi fortuna berpihak kepadanya di malam hari buta itu, tanpa dikira ada seoarang pengemudi truk melintas dan menolongnya saat dia melambaikan tangan. “cepat naik saja sebelum ada patroli lewat kata supir itu” ungkap dia. Persaannya saat itu yang penting ia harus segera porgi dari tempat itu takj peduli akan dibawa kemana dia oleh si supir. Tetapi ternyata supir itu memang berniat baik dan mengantarkannya ke daerah pasar induk cipinang. “ia malah memberi saya uang lima puluh ribuan bukannya saya yang harus memberinya uang coba bayangkan kalau tidak ada dia, apa jadinya saya waktu itu.” kata dia

Sudah hal yang umum juga kata razia menjadi semacam momok yang terus melekat pada diri seoarang pelacur jalanan. Pernah suatau ketika ia menglamai hal ini, tanpa disadari pada waktu ia sedang dimangkal sebuah mobil kijang yang penuh dengan aparat kepolisian menghampiri dirinya dan memaksanya untuk segera masuk, ia kena pun razia. Malam itu merupakan sikap banyak malam yang naas bagi dirinya. Selama di panti ini dia diajarkan untuk mandiri dalam mencari uang, belajar memasak, menjahit baju, bercocok tanam,adalah salah satu dari kegiatan positif yang dia dapatkan selama disana. Sempat mendiami panti sosial di wilayah kedoya ini selama hampir kurang dua bulan, ia pun kel;uar dengan satu catatan bahwa dia harus berhenti apabila tidak ingin dirazia lagi.”ya nyari duit yang halal ternyata susah, ya sudah saya mangkal lagi di jalanan” kata dia

Apakah uang yang diterima selama ini ia tabung, ia menjawab “tapi terkadang uang itu tidak cukup untuk ditabung”. Besarnya penghasilan terkadang berbanding terbalik dengan pengeluarannya. Ia pun berkata uang kotor cepat seperti ini cepat habisnya tidak terasa dan rasanya pun sangat tidak etis apabila uang itu di kirimkan kepada orang tuanya di kampung.

Berbicara mengenai harapannya di masa depan ia hanya bisa pasrah dengan kondisi yang ada. ”saya gak mungkin selamanya bekerja seperti ini, masak mau sampai tua” ungkap dia. Ia menambahkan juga mungkin akan bertobat tapi tidak sekarang, bisa juga besok ,ataupun besoknya lagi atau mungkin juga beberapa tahun lagi dan biarlah waktu yang akan menjawabnya kapan ia akan bertobat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 22 October 2012 by in Celotehan Kecil, Humaniora.
%d bloggers like this: