Berbicara mengenai musik keroncong terlintas dalam kepala pastilah musik kroncong tugu arau kemayoran di Jakarta atau keroncong di surakarta dan jarang menyinggung kota Semarang dalam perkembangan musik keroncong di Indonesia. Tetapi ternyata usut punya usut kota atlas ini mempunyai sejarahnya sendiri mengenai musik keroncong.

Musik keroncong yang tumbuh, hidup dan berkembang di bumi nusantara ini semakin nampak jelas terutama di Jawa yang merupakan pusat pengembangan utama dalam abad 20. Diungkapkan dalam buku Indonesia Heritage Seni Pertunjukan, kota Semarang masuk dalam peta persebaran musik keroncong di Indonesia, dan dapat dikatakan kota ini juga termasuk salah satu pusat musik keroncong di pulau Jawa, selain di kota Jakarta dan Surakarta.

Pada awal abad ke-20 musik keroncong menyebar dengan cepat ke masyarakat luas, antara lain melalui concours (festival) yang diadakan di pasar-pasar malam. Sejak saat itu pusat-pusat dunia keroncong berkembang di daerah pulau Jawa pada dasawarsa tahun 1920-an.

Lagu-lagu keroncong sudah menyebar luas dan digemari banyak orang, walaupun pada saat itu perbendaharaan lagu-lagu keroncong masih kurang. Di kota Semarang, lagu-lagu keroncong mulai dirintis melalui tema lagu-lagu daerah yang dikeroncongkan.

Perkembangan musik keroncong di kota ini juga didukung melalui media rekam dalam bentuk piringan yang disiarkan di radio-radio ketika radio mulai mengudara pada tahun 1925 di Jawa. Radio Midden Java I, Midden Java II dan radio dokter menjadi corong bagi persebaran musik kerocong di Semarang. Pargelaran musik keroncong pun banyak diselenggarakan, pasar malam Tuan Manuk, pasar malam Sentiling, dan pasar malam Krido Martoyo menjadi tempat dimana musik keroncong mendapatkan wadah apresiasinya dan orkes-orkes lokal unjuk gigi menampilkan kebolehannya di tempat tersebut. Orkes keroncong yang tumbuh di Semarang antara lain Orkes DE wiete, orkes keroncong merapi, SOVLASO (Strijk Orkest Vereeniging Langen Agawe Santosa Oetomo, Jong Indie, Himalaya, De Bllum, Na Sirene, Matahari, Tjuh Guru, The Vocel, Muria, dan yang lainnya.

Memasuki dasawarsa 1930-an, musik keroncong di kota Semarang tidak hanya disukai oleh orang tua saja melainkan juga digemari pula oleh anak-anak kecil. Penyanyi keroncong cilik pada waktu itu diantaranya: Kasran, Darman, Mulyani, bahkan Anny Landouw ketika berusia 11 tahun mulai memberanikan diri untuk mengikuti vaandel concours di kota Solo tahun 1927. Demikian pula pada kurun waktu tahun 1947-1950, orkes keroncong Pelipur Lara mempunyai anggota pemain yang terdiri atas anak-anak yang berusia sekitar sembilan sampai belasan tahun. Nama anak tersebut diantaranya adalah Sugiarto, Suroto, S Dharmadi, S Dharyono, dan Budiman. Anak-anak tersebut sudah berani untuk tampil di panggung dan unjuk kebolehan di stasiun RRI Semarang. Bahkan abak-anak ini berani mengikluti Fandel Concours yang diadakan oleh perusahaan rokok Perahu Layar di Alun-alun kota Semarang.

Kota Semarang pun tak ayal lagi dapat dikatakan sebagai salah satu barometer bagi perkembangan musik keroncong di tanah air, disamping memunculkan tokoh-tokoh musik keroncong tingkat nasional seperti Kelly Puspito dan Budiman B.J. Kelly Puspito pernah memenangkan sayembara Bintang Radio Republik Indonesia untuk kategori lagu keroncong pada akhir dasawarsa 1950-an sampai dasawarsa 1960-an Kota Semarang juga sering dijadikan tempat untuk ajang lomba musik keroncong tingkat kota maupun tingkat provinsi, baik berupa kategori orkes maupun Bintang Radio dan Televisi (BRTV).

Setelah tahun 1984 sampai dengan 1990-an merupakan masa-masa kejayaan musik keroncong di kota Semarang karena hampir semua elemen masyarakat terlibat pada jenis musik yang sudah mempunyai bentuk-bentuk komposisi pakem ini, mulai dari kampung-kampung, kelurahan, dan instansi saling berantusias untuk membentuk orkes-orkes keroncong demi mengharumkan nama komunitasnya masing-masing. Stasiun-stasiun radio milik swasta dan pemerintah (Lusiana Number One, PTDI Kalimasada, dan RRI cabang Semarang) juga turut aktif mendukung dengan menyajikan menu acara musik keroncong lewat lagu-lagu yang diputar melalui kaset maupun menghadirkan langsung kelompok musik keroncong di studio.

Walaupun menurut B J Haryanto salah seoarang personil kelompok musik dari Semarang Congrock 17, musik keroncong di Semarang sebelum dekade 1980-an dikatakannya cukup memprihatinkan dan itu terjadi sampai sekitar tahun 1984. Menurutnya para pemain musik keroncong yang bermain di RRI semarang dan di tempat komunitas-komunitas keroncong lainnya sering kali pulang tanpa membawa hasil (uang) setelah mereka selesai bermain dari tempat tersebut, terkadang para pemain keroncong tersebut pulang ke rumah dalam keadaan setengah sadar (mabuk), padahal pemain-pemain keroncong tersebut mempunyai skill yang mumpuni untuk bermain musik keroncong.

Bagiamana dengan gaya musik keroncong semarang itu sendiri, tokoh musik keroncong Semarang Kelly Puspito, mengatakan musik keroncong di kota Semarang mempunyai gayanya sendiri, berbeda dengan gaya musik keroncong di kota-kota lainnya. “Keunikan gaya musik keroncong Semarang tersebut salah satunya terletak pada ketukan cello-nya” kata dia. Dia pun menambahkan gaya “Semarang-an” ini lebih semarak apabila dibandingkan dengan gaya keroncong lainnya seperti di Solo, Yogyakarta, atau Surabaya. Kesemarakan itu juga dikarenakan tipe lagu yang dibawakan memang lagu yang semarak dan melodi-melodi yang dibawakan dapat membuat semarak lagu tersebut.

Sementara gaya keroncong di surakarta (solo) itu lebih kepada gaya langgam. Memang sedikit sulit untuk membedakan antara gaya yang satu dengan gaya yang lainnya dan semua gaya tersebut cenderung hampir sama. Butuh kejelian tersendiri untuk dapat membedakan antara gaya Semarang, Solo, maupun gaya yang lainnya. Kelly Puspito lebih condong ke gaya Semarang, karena menurutnya gaya itu lebih baik. Terkadang unsur subjektif sangat melekat di saat kita membicarakan soal gaya, misalnya orang yang berasal dari Solo yang mendengarkan keroncong dari Semarang atau Jakarta, maka orang tersebut berpendapat bahwa keroncong Solo lebih baik dari keroncong yang berasal dari Semarang atau Jakarta, dan apabila itu dilihat dari permainan cello-nya.

Gaya musik keroncong di Semarang tidak mempunyai bentuk yang baku atau pakem, karena pada masing-masing musisi keroncongnya mempunyai gayanya masing-masing, seperti misalnya gaya musik keroncong yang dimainkan oleh Kelly Puspito mungkin akan berbeda dengan gaya musisi keroncong Semarang lainnya. Setiap orang yang senang dengan musik keroncong pasti senang mendengarnya, tetapi kalau ahli atau musisi keroncong yang mendengarkan pasti merasakan perbedaannya.

Tidak berbeda dengan yang dikatakan oleh Marco Manardi salah seorang personil congrock 17 semarang yang menurutnya musik keroncong gaya Semarang itu lebih bebas “keroncong Semarang itu lebih “urakan”, lebih terbuka terhadap pengaruh musik lainnya tetapi masih tetap dalam koridor pakem keroncong tersebut” kata dia. Keterbukaan itu tercermin dari kelompok musik Congrock 17 yang didirikannya bersama dengan BJ Haryanto pada sekitar tahun 1980-an.(Tulisan dan foto dari berbagai sumber)