Catatan Kata Kelana

Sejarah Musik Keroncong di Indonesia Bag. I

Terdapat beragam pendapat mengenai asal usul musik keroncong. Pendapat pertama lebih cenderung mengatakan bahwa bentuk musik keroncong bukanlah bentuk musik import (asing), melainkan benar-benar buah karya nenek moyang bangsa Indonesia sendiri dan yang berasal dari luar adalah alat musiknya. Alat musik ini kali pertama masuk ke Indonesia dan dibawa oleh orang-orang Portugis.

Pendapat kedua mengatakan musik keroncong dikembangkan oleh golongan Moresko. Golongan Moresko adalah bagian dari kaum Moor yang tidak melarikan diri ke daratan Afrika Islam serta tidak ingin tersiksa di kamp inquisisi bangsa Spanyol yang pada saat itu sedang berjaya, dan lebih memilih untuk masuk ke agama Kristen. Sebagian dari keturunan Moresko dijadikan tentara sewaan dan ikut menjelajah ke berbagai belahan dunia, antara lain ada yang kemudian terdampar di daerah Tugu, Jakarta Utara. Untuk melupakan kepahitan masa lalu, maka anak keturunan mereka bermain musik keroncong dengan lagu Moresko.

Pendapat ketiga mengatakan musik keroncong konon berasal dari suku bangsa Meztezia. Golongan Meztezia adalah keturunan budak-budak dari Portugis: sesudah majikan mereka disingkirkan oleh kolonialis Belanda yang bercampur dengan penduduk asli dan bersama penduduk asal Belanda dan suku Ambon yang beragama kristen bertempat di sebuah kampung di Batavia yang disebut Seruni atau Kampung Tugu.

Judith Becker, yang merupakan seorang peneliti mengatakan keroncong adalah istilah umum untuk populer, lagu-lagu sentimental yang dinyayikan di seluruh Indonesia dan pada umumnya diperkenalkan oleh Portugis pada sekitar abad ke-16. Ia pun mengatakan bahwa keroncong di bawa ke kawasan Indonesia timur (terutama Maluku) bersamaan dengan alat musik gitar para pelaut Portugis, dan hal itu tampaknya cepat diterima oleh penduduk pribumi. Sementara Ernest Heins yang juga merupakan seorang peneliti menyatakan pendapatnya, bahwa keroncong mewarisi situasi multirasial di dalam sistem kolonial Portugis pada akhir abad ke-16 di luar batas benteng dan perkampungan mereka.

Beberapa peneliti seperti A. Th Manusama, Antonio Pinto da Franca, Abdurahman R Paramita, dan S. Brata berpendapat bahwa sejarah perkembangan keroncong dimulai pada abad ke-17, ketika kaum Mardijkers keturunan Portugis mulai memperkenalkannya di Batavia dan menurut beberapa peneliti tersebut keroncong bukanlah kesenian asli ciptaan orang-orang Indonesia. Walaupun Keroncong diperkenalkan oleh kaum Mardijkers, yakni budak-budak Portugis yang kemudian dibebaskan oleh Belanda lantas berpihak kepada Belanda untuk berbagai kepentingan, baik politik, spiritual, sosial maupun budaya.

Istilah Mardijker sendiri berasal dari bahasa Melayu yang artinya merdeka. Kedudukan seorang Mardijker adalah Vrijgelatene, seseorang yang bebas dan bukan sebagai budak lagi. Yapi Tambayong berpendapat bahwa keroncong merupakan corak musik populer Indonesia dan ia pun beranggapan jika ada orang yang berkata bahwa musik keroncong berasal dari Portugis, pastilah orang tersebut salah tangkap.

Hal senada juga dikatakan oleh Kusbini, seorang musisi keroncong yang juga merupakan ahli keroncong di Indonesia, ia mengatakan bahwa musik keroncong adalah asli ciptaan bangsa Indonesia dan keroncong adalah asli milik bangsa Indonesia, dikatakan pula olehnya bahwa lagu-lagu keroncong asli memang banyak diilhami oleh lagu-lagu Portugis abad ke-17 tetapi nada dan irama-nya berbeda sekali dengan keroncong asli Indonesia.

Menurut kusbini, lagu-lagu Portugis hanya mengilhaminya dan bangsa Indonesia-lah yang menciptakan nada dan irama serta bentuk permainan musik keroncong. Kusbini juga mengatakan pendapat berbeda perihal alat musik ukulele yang dikatakannya bukan berasal dari Portugis, tetapi berasal dari Hawaii dan cara orang Indonesia memainkan ukulele berbeda dengan cara orang Hawaii. Beberapa nyanyian orang Portugis banyak disenangi oleh orang Indonesia dan orang Indonesia berusaha memainkannya dengan caranya sendiri.

Pada dasarnya musik keroncong merupakan persenyawaan dari gelombang budaya musikal Barat dan budaya musikal lokal (dimaksud budaya lokal adalah budaya daerah dan budaya tradisional) yang diterima dan diadaptasi sesuai dengan kemampuan inisiatif dan kreativitas local genius. Local genius yang dimaksud adalah adanya unsur-unsur atau ciri-ciri tradisional yang mampu bertahan dan kemudian memiliki kmampuan untuk mengakomodasikan unsur-unsur budaya dari luar serta mengintegrasikan ke dalam budaya asli.

Para pencinta musik keroncong pun sepakat mengatakan bahwa musik keroncong adalah salah satu bukti budaya bangsa, yaitu bangsa Indonesia. Keroncong itu muncul di Indonesia dan tidak di dapat di negara lain, juga tidak di Portugis. Almarhum Andjar Any berpendapat bahwa musik keroncong adalah genius product masyarakat Indonesia dan ada beberapa hal yang dipertimbangkan mengenai pendapat ini, yang salah satu pendapatnya adalah di Portugis tidak terdapat musik keroncong. (berbagai sumber)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 20 October 2012 by in Lintasan Musik, Musik Keroncong, Sejarah Musik Indonesia.
%d bloggers like this: