“Seru dan dasyat waktu konser itu, suaranya menggelegar se-stadion, speaker-speakernya sebesar gajah, Godbless band pembuka kayaknya gak ada apa-apanya”. Kata-kata itu merupakan ekspresi yang diucapkan oleh salah satu teman bapak saya yang kebetulan menyaksikan konser dua malam berturut turut super grup Deep Purple di Stadion Jakarta pada tanggal 4 dan 5 Desember 1975.

Selayaknya anak muda berumur 20-an yang hidup pada zaman yang banyak dari mereka menyukai musik hard rock ala Deep Purple. Sudah barang tentu konser Deep Purple menjadi sesuatu yang wajib untuk ditonton. Konser ini menjadi semacam pelepas dahaga dari kerinduannya terhadap grup musik yang telah memberikannya banyak inspirasi kehidupan baginya.

Selain itu konser ini terselenggara pada waktu yang tepat dimana musik yang disuguhkan oleh grup yang digawangi oleh John Lord (keyboard), Ian Paice (drum), Glenn Hughes (bass/vokal), David Coverdale (Lead vokal), dan Tommy Bolin gitaris baru yang mengantikan Richie Blackmore, ini lagi berada di atas angin dan banyak dielu-elukan oleh para anak muda. “Jarang ada grup musik keras seperti Deep purple pentas di Indonesia, memang kemarin kan ada Suzy Quatro tapi yang datang kali ini kan berbeda” kata dia.

Untuk mencapai tempat konser itu Ia bersama teman-teman nongkrongannya tidak perlu bersusah payah karena cukup berjalan kaki saja karena rumahnya yang terletak di daerah Pancoran tidak jauh dari stadion senayan. Singkat cerita ia pun pergi dengan rasa suka cita pada malam itu, berharap ada yang dapat yang dikenang pada malam yang memang tidak pernah dilupakan bagi dirinya. Suasana sangat ramai ketika ia bersama kawan-kawannya sampai ke stadion dan untung bagi dia pribadi karena ia tidak harus repot-repot untuk merogoh kantongnya lebih dalam untuk membeli tiket masuk” Saya masuk gratis alias dibayari oleh teman, kalau tidak salah harga tiket masuk konser itu bervariasi dari Rp. 7500, Rp. 1000 dan Rp. 4000” kata dia.

Pertunjukan musik grup yang pada tahun sama juga dianugerahi gelar World’s Loudest Band oleh Guinnes Book of Records terselengara berkat tangan dingin dari Denny sabri melalui Majalah Aktuil sebagai penggagas ide untuk mendatangkan Deep Purple ke Indonesia dan Buena Produktama bertindak sebagai sponsor dari acara tersebut.

Deep Purple yang sedianya pada malam pertama akan didampingi oleh God Bless, setelah show sedikit tertunda, deep Purple pada malam itu muncul sendirian. Peralatan Depp Purple terlalu menyita waktu dan ruangan untuk panggung seluas itu, tiada awaktu tersisa bagi pemasangan alat-alat musik God bless. Disamping itu juga panggung telah penuh oleh alat-alat Deep Purple dan tiada ruang juga yang tersisa bagi God bless.

Show pun dimulai, David Coverdale membuka konser dengan berbasa-basa sedikit menggunakan bahasa Indonesia di hadapan para penonton yang berjumlah kurang lebih 35.000 orang. Deep Purple kemudian membuka acara dengan lagu-lagu seperti burn yang pernah menjadi hits di dunia musik rock. Sambutan hadirin bertambah meriah dengan penampilan lagu-lagu seperti ”Smoke on The Water, Soldier of Fortune, Stormbringer, Machine Head, Love Children, Lady Luck dan getting Thighter. Selama kurang lebih dua jam non stop grup musik ini menghibur penonton.

Setiap pemain seperti yang kita ketahui mempunyai skill individu yang kuat dalam penguasaan instrumentasi alat musiknya masing-masing. Tommy Bolin eks angota James gang pun cukup mumpuni permainnannya, meskipun di Deep Purpule dia termasuk anggota baru. Aksi pada barisan muka Coverdale-Hughes-Tommy merupakan trio yang memberikan dosis tinggi yang adiktif bagi para penonton karena tampilannya yang mempesona.

Kelebihan grup musik lainnya terletak dalam departemen propertinya, mulai dari moog, organ, amplifier serta speaker yang berkekuatan puluhan ribu watt, sound out-nya pun tak ayal lagi seperti yang dikatakan di muka pasti menggelegar. Semua peralatan itu memenuhi panggung yang berukuran 30×15 meter dengan tinggi sampai 2 meter. Yang menarik dalam konser ini John Lord sempat membawakan sepotong lagu ”Burung Kakatua” sebagai intro lagu hitsnya. Penonton dan musisi Indonesia mengangap ini adalah trick live yang menarik untuk ”ditiru” jikalau mereka konser.

Pihak keamanan tidak berdaya menahan desakan penonton yang menyerbu ke depan. Penonton yang tadinya berada di kelas tribune atas berhasil membobolkan pintu, lalu menerobos sampai ke bawah. Di depan panggung, anak-anak muda ikut bergoyang-goyang mengikuti irama musik. Setelah didaulat untuk encore dari para penonton, Deep Purple pun menambahkan sebuah nomor lagu lagi yang berjudul ”Highway Star”. Mereka mengakhiri acara dengan atraksi berupa pengeluaran asap di atas panggung. Satu persatu pemain Deep Purple kemudian menghilang di belakang asap itu.

Pada pertunjukan di malam kedua lebih banyak penonton yang datang menyaksikan konser Deep Purple bersama God bless. Tidak banyak berbeda seperti hari pertama, Deep Purple menyuguhkan repertoarnya yang sama pada malam itu, dari Burn, Stormbringer tapi tanpa tambahan lagu Highway Star. Pada awal pertunjukan lampu besar stadion dinyalakan dan barangkali utuk menghindari keributan. Tapi penonton yang tenang dang mungkin juga atas permintaan Deep Purple sendiri pada lagu Lady Luck lampu dimatikan. Pemadaman lampu Ini berlangsung sampai lagu Smoke on the Water dinyanyikan.

Konser ini diwarnai oleh aksi kerusuhan yang dilakukan oleh sejumlah penonton. Para penonton terutama yang berada di VIP A mulai destruktif. Terjadi perang lempar ”jok kursi” antara mereka yang berada di barisan lebih atas dan yang berada di bawah. Pesta bakar-membakar juga berlangsung, kertas-kertas koran dibakar lalu dilemparkan ke bawah, layaknya obor-obor yang dinyalakan waktu gelap. Keributan lebih mengeras terutama di VIP A dan ini berlangsung sampai pertunjukan selesai. Jok kursi dilemparkan sampai ke pintu masuk bahkan ke bawah di luar lapangan.

Ketika terjadinya kerusuhan, Ia mengatakan tidak jauh dari tempatnya berdiri, banyak orang yang melemparkan sesuatu dari atas balon ketika lagu salah satu lagu Purple dinyanyikan. Rasa was-was dan ketakutan sudah tentu meliputi suasana hatinya, bagaimana tidak, posisinya sebagai ketua karang taruna di wilayah tempat tinggalnya mengharuskan dia untuk menjaga lima orang teman wanita tetangganya. “Orang tua mereka sudah memberikan kuasa kepada saya untuk menjaga anak-anak gadisnya ” kata dia. Ia pun menambahkan orang tua mereka akan mengizinkan anak gadisnya untuk ikut menonton konser itu apabila ada orang yang menjaganya “ Jadi beban itu saya harus menanggungkanya mau gimana lagi” ungkap dia.

Terlepas dari kerusuhan yang telah menodai pertunjukan Deep Purple itu, namun konser ini bagi perkembangan musik Indonesia sekaligus menandai masuknya teknologi musik panggung. Karena usai konser itu, Light system dan tata suara supergroup God bless dan SAS (yang baru berubah nama dari AKA usai Ucok Harahap keluar), berubah total dan cenderung meniru Deep Purple.

Ahmad Albar seperti yang terlansir dalam artikel di situs aktuilista.com mengatakan pertunjukan Depp Purple memberikan banyak ilmu baru bagi dirinya, dari bagaimana mereka tampil, dengan opening, terus equipment itu sendiri, cara kerja mereka bagaimana, lalu bagaimana mereka membawa beberapa manajer; ada stage manager, ada road manager, dan yang lainnya. Masing-masing punya fungsi dan terus ada kru-kru, chiefnya, kepalanya, dan kepala engineernya. Mereka tidak perlu cek sound lagi. Paling hanya satu dua, yang Jon Lord sebentar aja, sama David Coverdale. Begitu juga dengan Benny Subarja gitaris dari Giant Step dan Shark Move yang mengatakan pada prinsipnya banyak yang bisa dipelajari dari show itu, terutama dari cara me-manage show dan stage act.

Bagi temannya bapak saya, konser Deep Purple begitu membekas dalam hati sanubarinya ”Saya sampai sekarang masih teringat konser itu” katanya. dia pun menambahkan Begitu gilanya konser deep purple itu sebagian besar listrik di jakarta padam.(Tulisan dan foto dari berbagai sumber)