Melihat kembali majalah-majalah kuno yang terbit pada tahun 60-an mengenai kiprah para musisi Indonesia, ternyata kota Singapura menjadi tempat tujuan bagi musisi kita entah untuk merekam lagunya di studio disana atau sekedar manggung di club-club malam pada decade 1960-an dan awal 1970-an.

Kenapa banyak sekali musisi Indonesia yang mengadu nasib di negara yang berlambang singa ini. Apakah karena penghasilan yang mereka terima jauh lebih besar ketika mereka pentas di sana atau kah karena tempat atau gedung untuk mementaskan musik di Indonesia masih sangat jarang, atau juga karena teknologi rekaman di Indonesia pada masa itu belum bisa dikatakan maju, atau juga mungkin dengan perginya mereka ke luar negeri merupakan suatu prestige tersendiri bagi mereka. Tercatat dari dari grup musik AKA hingga The Step pernah menjelajahi club-club malam di negara yang dulunya adalah daerah koloni Inggris ini.

Grup musik AKA yang dihuni oleh para dedengkot musik rock asal Surabaya, Ucok Harahap dan kawan-kawan antara tahun 1969-1971 sempat bermain beberapa kali di West Point Garden, Singapura. Hingga mereka kembali ke tanah air dan mentuguhkan sensasi aksi tergila di atas panggung musik Indonesia ketika itu.

Dengan manajernya Tinton Suprapto, mengawal The Step pergi ke Singapura dengan biaya sendiri tanpa ada kontrak dari siapapun. Konon uang yang dibawa oleh The Step hanya untuk makan sekedarnya, sehingga setibanya disana terpaksa mereka harus mencari pertolongan dari warga Indonesia yang tinggal di Singapura. Lee H King yang bekerja di Phillip sebagai manajer bidang recording menjadi salah seoarang yang membantu The Step untuk rekaman selama disana.
Lee H King ini menjadi penolong hampir semua artis-artis Indonesia atau musisi yang datang dan mengalami kesusahan di Singapura. Selain rekaman, The Step juga diberikan kesempatan untuk unjuk gigi di panggung negara dan dan mendapat kontrak untuk pentas di Night Club di Singapura.

Dalam jangka waktu 4 bulan disana, The Step merekam lagunya sebanyak 156 judul lagu di Phillip, Polydor, Pop Sound. Dari 156 judul yang diselesaikan pada atahun 1969. The Step sendiri merekam 44 judul. Begitu pula dengan grup musik Eka Sapta juga pergi ke Singapura selama tiga bulan pada awal tahun 1970 bersama 11 anggota lainnya. Eka Sapta berada di Singapura untuk rekaman di Studio Kinitex. Sebuah rumah tinggal berlantai dua di Jalan Bintan, tidak jauh dari Wisma Indonesia, Lantai satu untuk latihan dan di lantai dua terdapat kamar-kamar tidur. Idris salah seoarang anggota mengatakan pagi latihan dan sore rekaman, Itulah yang mereka lakukan selama berada di sana.

Mereka berangkat kesana karena Studio Metropolitan sedang dibangun di Jalan Perdatam Raya, Pancoran, Jakarta Selatan. Selama ini Eka Sapta menggunakan Studio Remaco di Jalan Gedung Panjang 1, Jakarta Utara. Keberadaan mereka di Singapura karena ada kerja sama antara Amin dan perusahaan rekaman Philips.Penyanyi-penyanyi yang mereka pilih adalah Tanti Josepha, Vivi Sumanti, Tuty Ahem, Erni Djohan, Lilies Suryani, Elly Kasim, Nani Wijaya, Suzanna, Rima Melati, Inneke Kusumawati, Maya Sopha, dan Franz Doromez. Mereka mondar-mandir Jakarta-Singapura untuk mengisi suara pada lagu-lagu yang telah dipilih sesuai dengan karakter masing-masing.

The Rollies, grup musik yang digawangi oleh penyanyi bersuara serak Gito Rollies, sudah dipanggil yang Maha Kuasa dan sederetan musisi top lainnya yang tergabung di dalamnya pada tahun 1967 pernah juga merambah ke tanah Singapura. Mereka bermain tetap pada acara Morning Show di bioskop Capitol di kota ini.

Grup musik ini pun membuat album Pop Sound Phillips di perusahaan rekaman Philip, Singapura pada tahun 1968. Yeah Yeah Boys grup musik dari Surabaya yang dikenal sebagai bandnya Bank Bumi Daya pada tahun 1960-an juga berangkat ke Singapura untuk pentas di klub-klub malam Singapura. Begitu juga dengan grup musik The Peels juga pernah merasakan pangung di club-club malam di Singapura pada dekade yang sama.

Grup Musik The Gembels yang musiknya banyak mengangkat tema kepahlawanan di albumnya pada decade 1970-an ini menarik seorang sponsor rekaman untuk membawanya terbang ke Singapura. Kabarnya nama The Gembels yang jarang dipublikasikan di media cetak Indonesai ternyata menjadi sorotan pers dan buah bibir para pengemar musik di negeri ini. (dari berbagai sumber)