Kembali ke zaman dulu ketika musik rock mentasbihkan dirinya sebagai raja bagi anak muda, seperti kota-kota besar lainnya di awal tahun 90-an Semarang pada tahun itu pun terkena wabah musik keras. Pertunjukan musik metal yang menghadirkan group musik local juga banyak digelar di. kota yang dikenal dengan makanan Lumpianya ini.

Taman budaya Raden Saleh (TBRS), PRPP dan tempat lainnya menjadi saksi bisu dari kota semarang yang menggelegar di saat musik metal mencapai kedudukannya yang terhormat di jiwa anak-anak muda. Bahkan di kota ini pun terbentuk sebuah wadah komunitas musik rock yang bernama WARS (Wadah Artis Rock Semarang) yang banyak melakukan pentas kemanusian menggalang dana untuk korban bencana alam.

Remaja banyak yang menyukai aliran musik keras untuk ekspresi jiwa mereka. Sebuah potret pergolakan identitas masa transisi yang seru. Musik keras menempatkan ruhnya dalam alunan irama berisik yang dibawakan oleh sebagian besar anak-anak muda pada era itu. Memang wabah itu muncul secara simultan dan terkesan menjalar karena trend yang berkembang, satu ikut yang lain juga ikut tetapi apa lacur nada keras tetap diteriakkan peduli setan apapun yang terjadi.

Lantas bagaimana dengan kiprah para musisinya yang terlibat dalam gegap gempita kota atlas pada era itu. Tercatat beberapa nama band yang ikut dalam gemuruh semarang era 90-an, Icarus, Brutalator, LuckyPower, Syndrome, Scandal, Jump, Terpedo, Power Slaves, Celcius, dan yang lain-lainnya. Seperti ungkapan filsuf Socrates Ada festival maka aku ada, mungkin ungkapan yang enak yang dapat terucap dari banyak grup-grup musik rock yang bermunculan dan mengguncang panggung lokal.

Celcius, disebut-sebut sebagai kelompok anak muda kelas festival, hal ini karena prestasinya yang membanggakan di berbagai festival musik rock baik tingkat Jawa Tengah maupun Nasional. Grup yang dimotori oleh Dwi winarno ini cukup serius dan rajin mengaransemen lagu-lagunya sehingga menjadi lima besar terbaik pada Festival Rock di Indonesia versi Wendy Barnaz, di Bandung. Denny pencabik bas malah meraih predikat Bassist terbaik pada festival tersebut. Pendukung Celcius Toro (lead guitar backing vokal) Deni (bass backing vokal) Yudi (keyboard), dan Yoyok (drum).

Lucky Power, squad barisannya yang sudah matang di musik merupakan satu kelebihan yang dimiliki oleh kelompok ini. merreka pun sudah masuk dalam dapur rekaman. Band yang digawangi oleh Gibson Musthapa (gitar), Choky Gultom ( bass gitar), Adhi Pristy (vokal), Habib Loodwijk Harsono (drum) dan Simon Aria Nugraha (gitar). Habib pernah meraih drummer terbaik All Indonesia Police Music Competition di Jakarta tahun 1989. Luck Power meraih tiket sebagai finalis yamaha Music Explotion di Jakarta di tahun yang sama. Musik yang dibawakannya banyak mengacu kepada band cadas asal Inggris Judas Priest.

Power Slaves. Grup musik ini memang legendanya band dari kota Semarang. Tidaklah pas apabila membicarakan musik rock di Semarang tanpa membicarakan grup musik yang satu ini. Grup musik yang pernah nongkrong di kawasan kost mahasiswa Undip ini mempunyai manajamen yang cukup kuat dan professional dan juga pernah menjuarai beberapa festival musik tingkat Jawa Tengah, diantaranya Juara III pada Yamaha explotion tahun 1991.Vokalisnya pernah juga menjuarai best vocal di Festival Musik Gravensande Musicsholl Holland 1989 dan 1990. Fanatik dengan musik ala Guns Roses dan dekat dengan tampang urakan khas dandanan musisi rock dan rada urakan apabila di atas panggung. Barisan utamanya diperkuat oleh Heidy Prahara (vokal), Vidy (drum), Bamband Axl (Rhytem Lead) dan Wiwik (keyboard).
Icarus, grup musik yang berdiri tahun 1991 ini, dihuni oleh Nana (vokal), Erawan (gitar), cacak (bass gitar), Oyi (Keyboard), dan Wiwid (drum). Grup musik yang optimis dalam memilih jalur musik keras namun cenderung tampil dengan nuansa klasik rock ini memiliki jam terbang yang cukup padat. Tapi sayang umurnya terbilang pendek seumur jagung dan hanya bertahan selama setahun. Tetapi umur pendek tidak menghalangi kemauan keras mereka untuk mengangkat Semarang dalam peta musik cadas Indonesia.

Brutalator, melihat namanya saja sudah dapat membuat bulu kuduk berdiri apalagi mendengar musik death metal yang diusungnya, bulu kuduk pun mungkin akan kaku dan lepas dengan sendirinya. Dihuni oleh para militan yang sebelum terbentuknya band ini sudah malang melinang di bebagai grup metal di semarang. Bermain habis-habisan lewat musik grindcore ibarat membuka belantara telinga Indonesia. Aliran ini belum begitu popular di di kota ini dan membutuhkan keberanian yang besar bagi para personilnya yang terdiri atas Hengky (drum), Rudy (bass), Yusron (Vokal), wiwit (Gitar). Walaupun mereka termasuk dalam band anyar tetapi mampu memberi warna tersendiri bagi perkembangan musik rock Semarang.

Scandal, untuk urusan festival band ini tak mau kalah dengan band-band yang lainnya. Di Semarang berkali-kali personilnya dan grupnya menjadi yang terbaik. Setiap tahun menjadi langganan arena bangsal Kencana PRPP. Di Arena inilah band yang beranggotakan Deni TM (Drum), Andi Fatah (Bass), Iwan (Vokal), dan awal (Keyboard) mengekspresikan segenap jiwa raganya untuk musik cadas.

Dalam suatu acara Semarang Rock Session awal tahun 90-an, para musisi rock kota ini pun mengikrarkan dan bertekad untuk memajukan musik rock Indonesia dan menjadikan Semarang menjadi sebagai salah satu kota barometer musik rock Indonesia.

Mengenai mewabahnya musik ini di kalangan anak muda, seperti yang dikatakan oleh salah seorang personil grup musik Syndrome dan Torpedo yang penulis kutip dari koran yang terbit di tahun 90-an , menggejalanya musik rock di semarang ini terutama di kalangan anak muda barangkali tergiur oleh suburnya lahan manggung bagi pemusik rock local. Dan proses ketertarikannya timbul secara simultan, artinya mereka mendengar satu lagu yang enak dari sebuah grup (mancanegara). Lalu penasaran untuk menikmati keseluruhan lagu grup tersebut. Bisa hobi itu tertular dari kawannya yang menyukai musik rock.

Hal senada juga diungkapkan oleh musisi Ian Antono gitaris Godbless, anak muda kita banyak memilih rock sebagai musik mereka dan hal ini tidak bisa disalahkan. Dari sisi historis musik rock sendiri juga diprakarsai dan dikorbankan oleh golongan anak muda. Mungkin rock tetap akan menjadi satu jenis musik yang disukai terus oleh anak muda dan hanya perubahan warna dalam musik rock itu sendirilah yang menentukan trend atau tidaknya. Ia pun menambahkan struktur masyarakat kita masih kompleks kalau musimnya ngerock banyak yang ikutan ngerock. Kalau dangdut sedang jadi trend banyak yang terjangkit dan ikut-ikutan membuat iklim dangdut semakin semarak. Belum ada pijakan sikap yang jelas dalam menelaah musik. (berbagai sumber)