Walaupun lahirnya Orde Baru memberikan secercah harapan baru bagi para seniman musik karena seniman bisa dengan bebas mengekpresikan karya-karya yang menampilkan tema-tema serta gaya ungkap sesuai dengan gejolak hati nurani mereka, namun kebebasan pada dekade 1970-an masih dirasakan sebagai kebebasan yang semu karena masih terjadi aksi penyetopan acara-acara pertunjukan musik yang menampilkan aksi gaya panggung rocker yang dinilai ngak-ngik-ngok dan tidak sesuai dengan kepribadian nasional.

Bahkan sebelum memasuki dekade 1970-an, pelarangan pentas suatu grup musik terjadi pada akhir dekade 1960-an. The Props dari Semarang dilarang pentas oleh pihak berwajib karena penampilannya tidak sesuai dengan kepribadian nasional. Pernah juga ada yang ditahan karena seseorang yang bernama Martinus menyanyikan lagu-lagu ala Jimmy Hendrix sambil tidur-tiduran.

Memasuki dekade 1970-an, aksi dan gaya panggung para musisi rock ternyata sudah mampu membuat pusing kepala para aparat keamanan. Beberapa di antaranya bahkan sudah dinyatakan terlalu sadis dan mampu menggerakkan agretivitas penonton, seperti yang dilakukan oleh Ucok Harahap dari grup musik AKA dan Mickey Mickelbach dari grup musik Bentoel dari Malang. Untuk mengantisipasi agar para musisi itu tidak mengulangi perbuatannya, maka diambil langkah oleh pihak aparat keamanan, yaitu berupa sanksi terhadap musisi tersebut.
Untuk waktu jangka tertentu mereka beserta grup musiknya tidak diperkenankan menginjakkan kaki di atas panggung pertunjukan. Mickey yang melakukan aksi penyembelihan kelinci di Surabaya tidak diperkenankan melakukan pertunjukan di panggung umum untuk sementara waktu. Ia sejak melakukan aksi penyembelihan kelinci sudah masuk black list di Surabaya.

Dampak aksinya tersebut terasa ketika dia ingin pentas di Bali, dengan tiba-tiba ia dilarang untuk tampil. Pemerintah setempat berpikir dalam pertunjukannya nanti ia akan menyembelih burung hantu di depan umum, seperti halnya peristiwa penyembelihan kelinci di Surabaya. Ia tidak menyalahkan pemerintah setempat yang melarang ia untuk tampil, tetapi ia lebih menyalahkan pihak dari panitia. Selain AKA dan Bentoel, grup musik yang mengalami nasib yang sama adalah Ternchem. Grup musik ini pernah mengalami masa pelarangan pentas pada dekade 1970-an oleh pemerintah setempat karena permainannya terlalu berani dan gaya yang ditampilkannya cenderung menyimpang dari gaya yang biasa ditampilkan oleh grup-grup musik lainnya.

Di Surabaya pada tahun 1972 Ucok Harahap dengan AKA-nya berkali-kali berurusan dengan pihak penguasa. Pertunjukannya diancam dibubarkan karena dianggap tidak sesuai dengan kepribadian nasional. Banyak terjadi bahwa kebudayaan ditentukan oleh selera siapa yang berkuasa. Dalam wawancara oleh majalah Midi Ucok AKA mengungkapkan: “Dalam melakukan pertunjukan saya memang sering bisa mempengaruhi anak-anak muda yang menonton dengan teknik performace saya yang tersendiri, misalnya saya sampai “Fly” maka anak-anak muda penonton pun ikut-ikutan. Padahal sebetulnya saya hanya mewujudkan teks lagu yang justru bermaksud untuk memberi nasihat agar jangan suka mengisap ganja, dan sebagainya. Tetapi rupanya mereka meniru begitu saja tanpa melihat keseluruhan teks lagu dan menurut pihak kepolisian saya dianggap berbahaya karena bisa mempengaruhi anak-anak muda walaupun maksud saya sendiri sama sekali tidak jelek”.

AKA tidak lagi selalu menampilkan peti mati, kulit sapi, tengkorak, dan lain-lainnya dalam pertunjukan karena ada larangan dari pemerintah. Oleh karena itu AKA hanya mengadakan pertunjukan ala kadarnya. Memang bagi AKA sendiri hal itu sangat tidak menguntungkan. Selain di pulau Jawa, Ucok Harahap dari AKA juga masuk black list di Bali sama halnya seperti Mickey. Ia mengungkapkan:“Hampir setiap pertunjukan musik AKA, terutama di daerah yang masyarakatnya belum terlalu terbuka, selalu dijaga ketat dan diawasi. Sebetulnya bukan masyarakatnya yang menolak AKA, tetapi penguasa setempat”.

Dalam salah satu pertunjukannya, AKA tampil di Taman Hiburan Rakyat Surabaya tanpa atraksi peti mati dan keanehan lainnya, mereka hendak menyuguhkan pertunjukan musiknya saja. Meski tanpa peti mati, Ucok masih mampu menyemarakkan atraksinya, seperti terjun ke tepi kolam dan menari-nari sambil mengitari air mancur. Selain grup musik diatas yang mendapat teguran dari pihak keamanan, Guntur Simatupang dari grup musik Destroyer pada aksi panggungnya di Medan dilarang tampil oleh pihak keamanan. Pelarangan ini dilakukan karena pihak keamanan takut gaya panggungnya akan dicontoh oleh kalangan kaum muda di Medan dan ular yang dipakai oleh Guntur Simatupang dalam atraksinya dianggap membahayakan keamanan para penonton khususnya penonton di bagian depan. Sama halnya dengan pertunjukan grup musik Gemas dari kota Banjarmasin yang mendapat teguran dari pihak kepolisian setempat, walaupun dengan alasan yang berbeda. Grup musik ini ditegur karena aksi vokalis melepaskan celana levis yang dipakainya di depan penonton.

Peneguran tidak hanya ditujukan kepada musisi rock pria, musisi rock wanita juga mendapatkan perlakukan yang sama. Pihak panitia yang menyelenggarakan konser musik rocker perempuan Euis Darliah pun mendapat teguran dari pihak kepolisian kota Medan karena gaya yang dipertunjukkan Euis Darliah dalam pertunjukannya dinilai tidak sopan. Euis Darliah ketika bersama grup Antique Clique juga memperlihatkan gaya yang tidak sopan dalam pertunjukan musik di Gedung Olah Raga Medan. Banyak yang berpendapat gaya Euis Darliah dalam pertunjukan ini seperti gaya seorang penari striptease di klab malam.

Berbeda dari musik pop, musik rock jarang tampil di TVRI karena beberapa alasan. Apabila musisinya tampil, maka lagu yang dinyanyikannya bukan lagu rock. Hambatan pertama dari musisi itu untuk tampil di TVRI adalah adanya larangan yang mendeskreditkan mereka, misalnya larangan musisi pria yang berambut gondrong tampil di TVRI, padahal sebagian besar musisi rock di Indonesia berambut panjang atau gondrong. Hal itu dinyatakan pada tanggal 18 April 1972 dalam Acara Kamera Ria. Untuk tampil di TVRI musik rock harus dinasionalisasikan, artinya jangan menampilkan wajah asing secara utuh, musisi itu harus mencoba untuk merangkul seluruh masyarakat dengan lirik-lirik Indonesia dan berpenampilan yang rapi.

Musik rock tidak ditampilkan di TVRI karena alasan narkotika. Sebenarnya alasan itu hanya bercermin dari penyanyi rock Dedy Stanzah yang akan ditampilkan di salah satu acara TVRI ternyata beberapa waktu kemudian sebelum tampil ditahan oleh pihak berwajib. Menurut Djuha Irawadi dan Sofyan, keduanya merupakan pengarah acara di TVRI, sebenarnya TVRI tidak anti-musik rock. Hanya saja menurutnya, musisi rock perlu memperhatikan perihal tata krama yang berlaku. Pakaian tidak boleh sembarangan atau rambut tidak boleh acak-acakan.

Hamid Gruno, pemandu bakat dari TVRI pernah diskors oleh atasannya karena pemain The Rollies yang ditampilkannya di TVRI tahun 1974 berambut panjang. Di TVRI Benny dari The Rollies membuka topi dan mengibaskan rambut panjangnya saat diwawancarai Remy Sylado dari majalah Aktuil. Sejak saat itu The Rollies selama beberapa tahun tidak pernah ditampilkan lagi di TVRI.

Sebagai seorang musisi, Benny Rollies merasa ruang geraknya kurang begitu leluasa akibat pembatasan-pembatasan formal yang ditetapkan oleh pemerintah. Misalnya tentang rambut, musisi harus menyisir rapi rambut menurut ukuran sepihak untuk bisa muncul di layar TVRI. Benny Rollies juga mengatakan dia tahu semua itu dilakukan pemerintah untuk mewujudkan apa yang disebut itu sebagai musik yang berkepribadian nasional, tetapi dengan terus terang dia mengatakan bahwa musik semacam itu tidak mungkin terkenal di seluruh dunia. Ia pun mempertanyakan seperti apa sebenarnya musik yang berkepribadian nasional. Musisi harus mengorbankan kebebasannya dalam berdandan, atau ia tidak memiliki peluang untuk bisa dikenal publik lewat satu-satunya siaran televisi nasional di Indonesia.

Nada keberatan terhadap ketetapan pemerintah juga dirasakan oleh anggota grup musik AKA, Ucok AKA menyatakan pendapatnya: ”Sebetulnya kami pernah diminta untuk pentas dengan membawakan lagu-lagu dari rekama volume II AKA, tetapi kami menolak karena harus menjepit dan mengikat rambut kami. Kami maunya apa adanya saja. Kalau memang rambutnya gondrong ya biarkan saja seperti itu dan tidak usah ditutup-tutupi”

Baru pada tahun 1977, musik rock masuk TVRI lewat siaran iklan ”Mana Suka Siaran Niaga”. Album Duo Kribo (Ahmad Albar dan Ucok Harahap) muncul di televisi lewat album, “Neraka Jahanam” (1977) setelah itu banyak produser kaset rock yang memanfaatkan TVRI sebagai medium promosi. ( berbagai sumber)