Suka Harjana dalam bukunya corat-coret Musik Kontemporer Dulu dan Kini mengatakan bahwa setiap masyarakat di dunia pasti mengenal musik, sebagai salah satu pencerminan kebudayaannya. Karena tidak satu bangsa pun di bumi ini yang tidak mengenal ”permainan bunyi di dalam waktu”, maka sesungguhnya memang tidak satu bangsa pun yang tidak mengenal musik.

Dengan demikian setiap bangsa mengenal seni artifisialisasi bunyi. Selain itu, musik dalam suatu masyarakat juga merupakan sarana komunikasi pengungkap gagasan atau perasaan tertentu. Setiap masyarakat mempunyai gagasan-gagasan mengenai keindahan, yang antara lain terungkap dalam musik yang diciptakan masyarakat atau bagian tertentu dari masyarakat yang bersangkutan.

Janet Wolff dalam The Social Production of Art menyebutkan suatu karya seni tidak serta merta dihasilkan dalam suatu isolasi atau keterasingan yang berlawanan terhadap suatu kelompok sosial tertentu atau realitas sosial, walaupun tema dari artis atau musisinya itu merupakan fragmentasi dari kehidupan sosial. Akan tetapi tidak berarti bahwa esensi dari seni, termasuk seni musik itu melampaui dari kehidupan dan melewati kenyatan sosial. Sebuah karya seni memiliki nilai yang dapat disebut sebagai nilai kehidupan (Life Value), yaitu nilai-nilai dalam diri manusia seperti keindahan, kegunaan, proses interaksi, komunikasi sehingga dapat menjadi hubungan dengan orang lain dan lingkungannya.

Seni mempunyai nilai kehidupan karena seni menjadi bagian integral bagi kehidupan manusia. Seni juga mempunyai peranan dalam menyerap, merasa dan menilai akan suatu arti kehidupan. Fungsi seni apabila menurut jangkauan kuantitasnya, salah satunya adalah untuk memenuhi kebutuhan emosional; setiap individu mempunyai berbagai kebutuhan dan salah satu kebutuhan itu adalah kebutuhan emosional. Kebutuhan emosional merupakan dasar dari semua kebutuhan penciptaan karya seni. Seseorang seniman mengungkapkan perasannya lewat karyanya dan karya seni berfungsi sebagai media untuk memenuhi kebutuhan emosionalnya (perasaan) dan seseorang yang bukan seniman menikmati karya seni itu dengan perasaannya.

Seni dalam melantunkan sebuah lagu menentukan daya tariknya tersendiri, disamping unsur-unsur sebagai daya pikat dalam sebuah lagu berupa melodi jenis irama, dan lirik lagu. Melodi berhubungan dengan aransemen atau kemampuan seoarng pengarang lagu dalam merangkai nada atau notasi musik. Lirik lagu menuju pada syair dan isi lagu terlepas dari unsur melodi dan jenis iramanya. Ketiga unsur ini terangkai lewat kreativitas pengarang lagu sehingga menjadi bentuk yang lain yang dapat dinikmati sebagai satu kesatuan yang utuh menjadi sebuah lagu.

Lagu selain merupakan perpaduan antara jenis irama dan melodi, di dalamnya juga terkandung unsur lirik. Lirik lagu dan musik memiliki keterpaduan erat yang saling mendukung dan keterjalinan antara keduanya dapat menciptakan suasana tertentu tentang gambaran yang akan disampaikan pengarangnya. Rangkaian nada dapat memberikan intonasi dan penekanan terhadap kata-kata atau kalimat dalam lirik lagu sehingga makna kata yang ada semakin kuat memberi gambaran imajinasi kepada pendengarnya lewat ilustrasi nada-nada tersebut, sehingga lirik merupakan elemen terpenting dalam musik.

Tanpa lirik makna musikal tembang berkurang drastis. Oleh sebab itu ”pembaca lirik” alias vokalis seperti Mick Jagger atau Robert Plant menyandang status sebagai front man di depan panggung. Seperti politisi karismatis, mereka menguasai panggung, membuka dan menutup konser, mengajak penonton berdialog dan mendapat dukungan.

Dalam suatu lirik terdapat unsur tematik, unsur tematik yang dimaksud disini adalah melalui tema musisi dapat menyampaikan pesan lewat karya musik yang dihasilkannya. Tema disini dimaknai sebagai sesuatu yang telah diuraikan atau sesuatu yang telah ditempatkan. Tema merupakan gagaan pokok atau subjectmatter yang dikemukakan oleh seniman Pokok persoalan ini begitu mendesak begitu kuat dalam alam pikian seorang seniman dan menjadi landasan utama pencapaiannya.

Persoalan yang mendesak ini dapat berupa pembicaraan tentang kemanusiaan, keadilan sosial, ketuhanan, cinta, dan sebagainya. Teks suatu lagu tertentu juga mencerminkan suatu gejala kemasyarakatan tertentu. Gejala kemasyarakatan itu terungkap dalam teks lagu melalui penafsiran pribadi pencipta atau kelompok pencipta. Tidak jarang pada teks lagu mencerminkan gagasan-gagasan atau perasaan pribadi yang senantiasa dikaitkan dengan keadaan sosial yang dialami atau dihadapi.

Pada dekade 1970-an musik di Indonesia berkembang di hampir semua genre musik dan masing-masing aliran musik mempunyai penggemarnya masing-masing. Di jalur musik pop, grup-grup musik seperti Koes Plus, Favorite Group, Trio Bimbo, D`Lloyd, The Mercy`s, atau Panbers, tidak hanya di panggung tetapi juga mulai eksis di dapur rekaman dan lagu-lagunya mendominasi selera dari sebagian besar masyarakat Indonesia.

Di jalur musik dangdut, Rhoma Irama datang bagaikan badai yang menggunjang trend dengan mengibarkan Soneta Grup yang menggabungkan irama Melayu dengan idiom musik dari grup musik Deep Purple. Pada dekade ini musik Balada dan country mulai mendapatkan tenaganya di tangan Yan Hartlan, Dede Haris, atau Iwan Abdurachman. Warna lain yang memadukan pop dan art rock, lahir dari tangan Eros Djarot atau Guruh Soekarnoputra melalui grup musiknya yang bernama Gypsy. Dekade 1970-an juga bermunculan beragam jenis musik pop daerah, antara lain pop Sunda, Jawa, Batak, Minangkabau, Melayu dan lagu-lagu Indonesia berirama mandarin

Berdiri di tengah-tengah pusaran dominasi selera umum masyarakat Indonesia yang banyak menyanjungi musik melankolis atau pop dan sejenisnya, grup musik God Bless beserta AKA, Giant Step, Rollies, SAS, The Fanny’s, Terchem, dan sebagainya menyuguhkan sesuatu yang berbeda yang belum pernah dipertunjukkan sebelumnya. Musik dan penampilan aksi panggung yang disajikan oleh musisi-musisi tersebut berbeda dari banyak penampilan grup-grup musik pop yang cenderung biasa-biasa saja. Walaupun menebarkan sensasi di atas panggung, tetapi pada awalnya sebagian besar grup-grup musik rock lebih suka menjadi epigon dari grup-grup musik Barat yang tengah merajai dunia, seperti Led Zeppelin, Alice Cooper, Deep Purple, Black Sabbath, Rolling Stones, dan The Beatles.

Dekade 1970-an mencatat beberapa musisi yang lantang membicarakan soal protes sosial dalam karya musiknya. Diantaranya adalah Mogi Darusman, Lirik lagu yang diciptakan oleh Mogi Darusman pada albumnya yang berjudul Aje Gile (1978) dapat dikategorikan sangat keras, straightforward, dan berani untuk masa itu, di mana cengkeraman kuku rezim Orde Baru masih sangat kuat. Pada masa itu Mogi Darusman bukanlah satu-satunya yang mempelopori munculnya tema-tema protes sosial-politik dalam lirik musik rock pada dekade 1970an, yang dikenal sebagai aliran classic rock). Karena sebelum Mogi Darusman, ada Remy Sylado, Harry Roesli, Leo Kristi, dan Gombloh & Lemon Trees. Seperti halnya Mogi, Remy dan Harry lantang dalam mengecam “budaya korupsi” pada era Soeharto.

Perhatikan lirik-lirik Remy dalam album Orexas (“Organisasi Sex Bebas”), Folk Rock, Nyanyian Khalayak, dan Bromocorah, atau Philosophy Gang dan Ken Arok milik Harry pada pertengahan dekade 1970-an. Dalam Bromocorah, Remy mempertanyakan apa bedanya bromocorah (garong) dan koruptor, jika sama-sama mendapatkan harta secara haram tetapi bromocorah dihukum sementara, koruptor justru dibiarkan berkeliaran. Inilah realitas yang terjadi di Indonesia yang oleh Remy digambarkan sebagai “negeri elok yang banyak cukongnya.” Sementara itu dalam lagu “Peacock Dog” (album Philosophy Gang, 1973), Harry menggambarkan Indonesia sebagai negara berwajah ganda: antara “merak yang indah” dan “anjing yang menyebalkan.”

Kritik Harry Roesli pada rezim Soeharto sangat telak dalam Ken Arok (1977). Lirik-lirik yang ditulis oleh Harry Roesli terasa lugas, gamblang, dan menerjang bagaikan badai, apalagi itu terjadi pada era Orde Baru yang represif. Harry Roesli sepanjang dekade 1970-an melalui sejumlah karyanya jeli memotret berbagai ketimpangan sosial yang kerap menuai kontroversi. Ia membungkus kegeramannya dengan lirik-lirik satiris dan komikal, walaupun terkadang sulit dipahami atau dicerna oleh orang awam.

Namun tidak jarang dia seolah-olah provokasi, mengajak kaum tertindas untuk pemberontakan, seperti yang terdapat di dalam lirik lagu Malaria dari album Philosophy Gang (1971). Gambar sampul depan album ini mengundang kontroversi karena mengandung unsure pornografi, yang menurut Harry Roesli gambar tersebut tidak lebih sebagai suatu personifikasi kondisi Indonesia yang carut-marut. Melalui Opera Ken Aroknya Harry Roesli .

Soal merajalelanya korupsi dan penyalah-gunaan kekuasaan juga diangkat oleh Barong’s Band (bandnya Eros Djarot ) dan Keenan Nasution (Di Batas Angan-Angan, 1977). Korupsi bukan satu-satunya problematika tema politik yang diangkat para musisi era 1970-an. Masalah Timor-Timur pun tak luput dari perhatian mereka. Perhatikan lirik-lirik Leo Kristi dalam album Nyanyian Tanah Merdeka, Nyanyian Malam, dan Nyanyian Cinta. Leo memang tidak seperti Mogi, Remy atau Harry, yang cenderung blak-blakan dalam mengritik penguasa. Ia, misalnya menyoroti penderitaan korban perang Timor-Timur:’Tubuh-tubuh terbujur kaku/Di antara altar dan bangku-bangku/Rumput sabana jadi merah/Ternak-ternak pun musnah/Saudara telah tiada/Entah di mana mereka”.

Leo memang menempatkan dirinya sebagai penyaksi, bukan sebagai penggugat. Apa yang dilihatnya, apa yang dirasakannya, dan apa yang bergejolak dalam nadinya. Semuanya dituangkan dalam torehan lirik dan sebongkah nada. Leo pun bersaksi dalam lagu Di Deretan Rel-rel dari album Nyanyian Fajar (1975):“ Kereta pagi berangkat siang hari Satu gerbong seratus penumpang Di sela-sela tumpukan keranjang dan karung-karung Perempuan berteriak ribut Bayi bayi menangis Jalan menuju kota gaduh selalu”.

Menyimak senandung Leo Kristi dengan artikulasi yang jernih dan vibrato yang tegar, kita pada akhirnya mahfum ini merupakan sekelumit kesaksian yang tidak hanya mencuat dari kerongkongan seorang Leo Kristi, tetapi seluruh masyarakat di negeri ini. Dan, kita maklum bahwa Leo Kristi tidak sedang melayangkan kritik terhadap menteri perhubungan, instansi perkereta-apian, kegagalan keluarga berencana, urbanisasi, atau apalah. Dia hanya menyaksikan kejadian rutin yang terjadi sehari-hari. Rasanya di situlah letak kelebihan dari sosok Leo Kristi. Ia menciptakan lagu protes tetapi dalam koridor yang santun walaupun mungkin terdengar seolah menjewer pihak-pihak tertentu.

“Wahai bapak pemimpin yang bijaksana ajak rakyatmu untuk berkarya, perhatikan generasi muda kita, semua harta kau terima kami percaya, hidup tertawa bagaikan oang gila, anak dijual sanagt murahnya”. Sepenggal lirik Lagu God Bless yang berjudul setan tertawa yang ditulis oleh Donny Fatah dan Ahmad Albar menyiratkan ajakan bagi para pemimpin negara untuk lebih peduli terhadap masysrakat dan tidak hanya tenggelam dalam kesenangan diri sendiri saja. Lagu sepintas sama seperti kebanyakan lagu rock pada masa itu, lagu ini pun terdengar mirip dengan aransemen musik-musik yang diciptakan oleh grup musik Deep Purple.

Lagu lainnya dalam album Huma di atas Bukit yang juga mengkritik moralitas masyarakat, yaitu lagu Gadis Binal dan Sesat. Gadis binal ditujukan kepada golongan grupies. Sebenarnya tidak bermaksud mengejek kaum cewek. Dalam hal ini God Bless mencoba menceritakan kejadian yang terlihat dalam dunia pop sekarang. Groupies ternyata bukan saja mendatangi anak band, tapi bisa juga ia mencari mangsa pada tokoh-tokoh teater atau tokoh yang lainnya. Pada saat itu memang bisa diusulkan, munculnya lagu special menceritakan kehidupan seniman lain di luar musik. Tak ketinggalan grup musik Bimbo, pada pertengahan decade 70-an Bimbo mulai membuat lagu yang bermuatan kritik social. Disini Bimbo mengendus fenomena social yang berkembang di masyarakat. Lalu muncullah lagu-lagu seperti Singkatan, Abang becak, Kumis, Tangan, Sepakbola, Kampanye Pemilu, Calon Mertua, dan yang lainnya.

Pada decade 1970-an masyarakat Indonesia memang sedang mengalami perubahan sebagai akibat dari julai masuknya budaya dan informasi dari mancanegara dan hal ini mempengaruhi juga kondisi moralitas bangsa Indonesia terutama di kota-kota besar, termasuk Jakarta. Beberapa tempat hiburan malam menyajikan pertunjukan berupa tarian telanjang, dan lain-lainnya. Pertunjukan ini dibuka untuk umum sehingga tidak ada batasan umur bagi para pengunjung yang ingin menyaksikannya. Para pelaku dari kegiatan ini pun berasal dari kaum wanita muda dan sebagian pengunjung yang datang bukan para orang tua melainkan para kaum muda. Kondisi ini menunjukkan bahwa seiring dengan masuknya informasi dan budaya mancangera, budaya timur masyarakat Indonesia mulai memudar di kalangan anak-anak muda di kota-kota besar termasuk di Jakarta. (Tulisan dan foto dari berbagai sumber)