Sejak awal kekuasaannya Soeharto mengerahkan tentara untuk membuat panggung-panggung hiburan populer. Korps Cadangan Strategis Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat, pasukan tempur, yang baru saja mengambil alih kekuasaan, malahan membuat “kompi” baru: Badan Koordinasi Seni atau biasa disingkat BKS-Kostrad. Di sinilah artis dan musisi, terutama dari jalur pop, dibariskan. Di kemudian hari, Pusat Penerangan Departemen Pertahanan dan Keamanan Republik Indonesia melanjutkan aktivitas itu dengan membuat acara TVRI Kamera Ria.

Berbeda dengan Soekarno yang sejak 1964 melakukan pembabatan musik Barat -Soekarno menyebutnya sebagai musik “ngak-ngik-ngok”- Orde Baru dukungan militer ini justru menyokong pertunjukan-pertunjukan yang digelar anak muda. Malahan Angkatan Darat turun tangan untuk tujuan itu dengan membentuk orkes Badan Koordinasi Seni Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (BKS-Kostrad). Orkes ini dikelilingkan ke sejumlah kota besar di Indonesia, dengan artis pendukung Onny Suryono, Lilis Suryani, dan lainnya. Badan itu pun pada akhir 1966 sengaja mendatangkan The Blue Diamond, kelompok musik terkenal dari Belanda, untuk tur bersama. Penyanyi Titiek Puspa, Bob Tutupoly, dan Ernie Djohan ikut menyemarakkan tur ini.

Peranan dari BKS Kostrad di dekade 1960-an, khususnya setelah tahun 1965. Setelah tahun 1965 Angkatan Darat melalui BKS kostradnya mengadakan banyak serangkaian pertunjukan musik yang antara lain menampilkan jenis musik yang dilarang di masa demokrasi terpimpin. BKS kostrad ini menyelenggarakan tur-tur ke seluruh wilayah Indonesia. Bagi Angkatan Darat sendiri diselenggarakannya pertunjukan itu mempunyai dua fungsi, yaitu keluar untuk show of force terhadap kekuatan politik lawan mereka dan menarik hati rakyat serta menunjukkan kesan bahwa Indonesia tidak kebudayaan barat. Pada tur-tur BKS kostrad dimainkan kembali jenis musik yang dilarang pada zaman demokrasi terpimpin seperti lagu-lagu cengeng ataupun irama rock n’roll.

Pembentukan dan keberlangsungan suatu grup musik tidak terlepas dari adanya sumber keuangan sebagai dana operasional dalam bermusik. Dana itu selain berasal dari musisi band itu sendiri, juga berasal dari seseorang yang tertarik terhadap musik atau mendapat dukungan dana dari perusahaan swasta dan negara. Pada dekade pertengahan 1960-an banyak berdiri grup-grup musik yang digawangi oleh para petinggi ABRI. Hal ini menjadi semacam bukti adanya Infiltrasi Angkatan Darat dalam bidang berkesenian, khususnya musik.

Hal ini dapat dilihat dari Grup Nada Bumi, grup ini diasuh oleh Mayjen Herman Budoyo, Sapta Nada dari Surabaya, pembentukan grup ini berawal dari sebuah hoby. The Criminal dari Bandung .Grup ini ditampung dan disediakan peralatan musiknya oleh dua orang pengusaha. The Players dari Bandung. Grup ini dikontrak oleh PELNI selama 1 bulan diatas Tampomas. Sehabis kontraknya mereka akan tinggal di singapure untuk mengadakan kontrak dalam waktu yang cukup yang lama. Grup ini mendapat dukungan dan bimbingan dari Let Kol R Soegito.

Grup Daya Sakti dari Semarang merupakan grup SIAM VII Diponegoro. Sebagai band yang hidup dan berkembang dalam naungan instansi tersebut, grup ini mesti benar-benar perpimpin serta dapat memberikan publik service dengan hiburan-hiburan yang sehat yang masyarakat butuhkan. Daya sakti bukan hanya harus bisa membawakan lagu-lagu hot dan lagu-lagu barat populer, tetapi lagu-lagu daerah.

Grup Panakawan dari Jakarta, grup ini pun akan merencanakan untuk pergi Singapure untuk melakukan pertunjukan dan rekaman di salah satu piringan hitamdisana.The Junction telah melakukan serangkaian tour dikota-kota Eropa. Disamping adanya band-band yang independen, maka dewasa ini banyak band-band yang menganut prinsip simbiosis mutualisme dan bernaung di bawah salah satu perusahaan besar. Bagi anggota-anggota band kecuali disediakan alat-alt musik, juga dapat hidup tenang karena memperoleh pendapatan tetap dari perusahaan tersebut.ditambah pula dengan adanya penghasilan yang bisa diperolehnya apabila mereka bermain di luar bsedang bagi band perusahaan maka band tersebut digunakan sebagai alat sales promotion sehingga nama perusahaan dikenal oleh masyarakat. The Beauties, grup dari surabaya yang anggotanya terdiri dari para wanita yang mempunyai hobi yang sama, yaitu bermain musik.. Grup ini diasuh oleh Mayjen Azil Wijayakusuma

The Honeys grup dari Jakarta. Berkat latihan-latihan yang sungguh dan alat-alat lengkap yang dimiliki serta bimbingan dari Kol M.A.F Joni. Keistimewaan dari grup adalah tempat dan lingkungan dimana mereka harus bermain, apabila mereka bermain dihadapan orang-orang tua maka jenis-jenis serta lagu-lagu yang disajikan tidak akan sama dengan apabila mereka mainkan di hadapan kaum muda. (berbagai sumber)