Tidak semua para pemenang maupun finalis festival musik rock pada dekade 80-an an 90-an dapat terus mengibarkan sayapnya. Hukum seleksi alam Darwin siapa yang kuat dia yang bisa bertahan seakan-akan berlaku untuk para raja-raja festival dalam menjalani tahta yang diberikannya. Sedikit banyak dari mereka hilang tanpa rimbanya setelah tahta diberikan.

Festival musik hingar bingar yang diartikan sebagai ajang perlombaan oleh promotor Log Zhelabour ini ketika diadakan pada kali pertamanya di Surabaya 15 September 1984 memilih grup Harley Angels menjadi jawaranya. Grup asal pulau dewata ini mengalahkan sejumlah pesaingnya, seperti Heartbreaker (Malang), Rock Trickle Band (Surabaya) dan El Pamas dari kota kecamatan Pandanan Jawa Timur.

Band Harley Angels yang sesungguhnya cukup punya potensi ini setelah mengantongi tropi dan penghargaan uang tunai, justru mati tanpa jejak yang jelas; dalam arti karya-karyanya tak sempat dinikmati oleh masyarakat luas. Hanya pada tahun 1991 sang vokalis band ini mencoba bersolo karir dengan meluncurkan mini album Menara yang sempat menjadi hits. One hit single setelah itu namanaya tidak terdengar lagi.

Berbeda dengan El Pamas, rivalnya dalam festival itu. Masih teringat dalam ingatan video klip musik yang muncul pada tahun 90-an yang menggambarkan derita seorang keluarga di sebuah rumah sederhana yang sempit.

Sudah dua hari ini anakku mulai sekolah katanya kalau sudah besar pengenjadi tentara/bagus-bagus/sudah dua hari ini aku tidak lagi kerja Sebenarnya aku punya rencana untuk beli rumah yang sangat sederhana sekali/RSSS/sekarang tinggal pesangon ala kadarnya hanya cukup uang bayar kontrak sebulan Lirik yang berjudul RSSS itu dilantunkan oleh salah satu dedengkot grup musik metal di tahun 90-an El Pamas. Ya mungkin musiknya tidak terdengar sebagai sebuah Grup musik pemenang festival rock se Indonesia tahun 1985 di Malang itu. Tetapi itu cukup memberikan bukti eksistensi berikut konsistensinya dalam bermusik. Band ini pun cukup mempunyai talenta dan pantas diganjar sebagai grup musik terbaik, sang gitaris Totok Tewel juga dinobatkan sebagai The Best Guitarist pada festival rock se Indonesia tahun 1985. Lalu El Pamas pun sering diajak sebagai grup pembuka konser-konser God Bless.

Tak puas dengan hanya menjadi grup di atas panggung, El Pamas lantas bergerak ke dalam bidang penciptaan lagu dengan menelorkan sebuah album. Album perdana mereka Dinding-Dinding Kota (1990) yang diproduksi oleh Loggis Record (label rekaman milik Log Zhelabour), namun di bursa kaset album tersebut ternyata kurang sukses di pasaran. Kekurangan mereka terletak di sector vokal dan tak adanya lagu-lagu yang dapat dijadikan dan berpotensi menjadi Hits.

Patah arang tidak dikenal oleh band yang berasal dari kota gudangnya para grup-grup musik rock Jawa Timur, pada langkah berikutnya mereka mencoba memperbaiki diri. Untuk urusan vokal kendali dipegang oleh Doddy Katamsi yang sebelumnya adalah anggotanya dari band One Feel dari Jakarta. Kemudian lagu andalan pun diusahakan dari orang luar. Mereka melejit dengan lagunya yang berjudul Pak Tua karya Pitat Haeng (Iwan fals) yang diambil dalam album Tatyo (1991), yang cukup dikenal populer di tengah masyarakat.

Dalam menghadapi album ketiga, mereka mendapati sejumlah kendala. Empat inti personilnya Didik Sucahyo (bass), Totok Towel (leadgitar), Edy Darome (kibor), Rush Tato (drum) sepakat mencari vokalis baru dan meninggalkan doddy Katamsi. Mereka lalu menngunakan suaranya ekky Lamoh yang beberapa tahun sebelumnya pernah bergabung dengan El Pamas. Kebetulan waktu itu Ekky baru saja keluar dari band Edane yang digawangi oleh master metal Eet Syahrani. Mereka pun mengeluarkan album dengan tittle Box (loggis Record 1993).

Namun saat album tersebut dibawa dalam promo tour di kawasan Sulawesi. Ekky Lamoh sontak keluar, sehingga penampilan mereka nyaris gagal. Untung bala bantuan segera datang. Penyanyi muda berbakat Andy Liani dalam waktu hanya seminggu berlatih untuk membabntu di departemen vokal El Pamas.

Adi Metal band, Festival ketiga tahun berikutnya meluluskan grup musik Adi Metal dari Surabaya yang merupakan band dengan personel satu keluarga. Adi Metal yang nama personilnya semuanya menggunakan adi, tahun 1990 mencetal album peradana dengan tittle Revolusi Kaisar. Tembang yang diilhami dari kisah film tentang kaisar Cina terakhir melesat menjadi tembang hits. Tapi pada album yang kedua Licik-Munafik (1992) nyaris tidak bisa memepertahankan reputasinya. Bahkan kehadiran Adi Metal dilibas oleh grup-grup musik baru yang kian banyak muncul di dapur rekaman. Adi metal band hilang ditelan bumi gaungnya tak lagi terdengar.

Grass Rock, grup ini juga salah satu jawaranya festival musik rock. Kemenangan Grass rock –yang sebelumnya pada berbagai festival dinobatkan menjadi band favorite, hanyalah menunggu waktu saja. Grup ini diperkuat oleh pemain-pemainnya yang handal, terutama di sektor drum yang diisi oleh Rere Gombel dan gitar (Eddi Kemput). Grass rock yang personilnya pada waktu itu berusia muda pada tahun 1989 mencoba mengembangkan karirnya dengan menggarap album perdana Anak Rembulan (Peterson, 1990), yang liriknya ditulis oleh Remy Soetansyah. Album sempat menjadi album yang cukup laris dengan tiras di atas 70.00 copies. Hal itu tertolong oleh tembang balada Selamat Pagi tragedy yang dinyanyikan oleh Zoul Yusuf. Grass rock yang punya dua vokalis, ketika mengerjakan rekaman beriutnya hanya mengandalkan vokal Dayan Smach karena Zoel Yusug balik ke Surabaya.

Grup ini kemudian mencetak album Bulan Sabit (1993) dan album ini merupakan usaha Grass rock untul mematangkan lirik dan instrumen musiknya Lirik puitisnya banyak digemari oleh pecinta musik di kota buaya tersebut. Grass rock dalam tahun –tahun berikutnya berhasil mencetak album Grass Rock (1994) dengan hitnya Datang Padaku, dan terakhir Menembus Zaman (1999) yang antara lain berisi lagu Adakah Hasrat

Power Metal, Grup musik ini adalah lulusan festival Musik Rock Indonesa tahun 1990 dengan predikat sangat memuaskan mungkin, dan tampaknya grup yang paling setia rekaman dengan kerja sama bersama Logiss Record. Kiprah power metal cukup beruntung, selain mempunyai manajer dan promotor yang bia mengerti aspirasi mereka, grup musik ini pun memiliki markasnya sendiri lenkap dengan peralatan untuk berlatih.

Grup ini mulai diperhitungkan di blantikan musik rock sejak meluncurkan album pertama Power One, album metal ini langsung terjual di atas 250.000 copies, jumlahyang fantastis untuk kuran sebuah album metal ketika itu. Tak ayal lagi mereka pun mennggondol penghargaan pada BASF Award tahun 1991 sebagai grup pendatang baru terbaik. Dengan prestasi ini mereka mencoba meningkatklan musikalitas diri dan mencapai kekompakan squad. Pembentot bass, Prasshady yang mementingkan study segera diganti dengan Freddy Rosy, Sang gitaris Ipunk yang konon terlibat “konflik” lalu diganti dengan Lucky Seto W mantan Adhromeda band. Bersama para pemainnya yang baru ini Power Metal yang diperkuat Arul (Vokal), Raymond (Kibor) dan Mugix (drum) mengorbitkan Power Mission (1992) sebagai album kedua.

Namun, album yang dirampungkan dengan proses “saling menata diri” ini hanya masuk nominasi pada BASF award 1992, karena menurut perhitungan ketika itu album ini hanya terjual kurag lebih 100.000 copies. Kehadiran dikalahkan oleh Gong 2000. turunnya angka penjualan album yang diperkraakan karena ramainya konser grup mancnegara disini membuat mereka mawas diri, disamping ada pemain baru yang mau tidak mau harus menyesuaikan diri antara satu sama lainnya. Setelah proses adaptasi selama satu tahun. Mereka pun bangkit kembali dengan memancu musik speed metalnya yang telah menjadi cirri khasnya. Maka lahirlah album ketiga Power Demons dengan tembang andalan Timur Tragedi serta Bidadari.

Power Metal mengeluarkan album lainnya, Serigala (1995), dan Pesta Dansa (1996).Lagi-lagi di tengah persiapan penggarapan album berikutnya, terjadi masalah dalam intern tubuh Power Metal, yang berakhir dengan mundurnya Raymond dan Mugix. Sementara itu Power Metal harus dikejar target menyiapkan album baru lagi. Untuk mengisi kekosongan itu, akhirnya ditariklah Ekko Dinaya (dram) dan James Ireng (kibor). Dengan sekuat tenaga dan segala kemampuan Lucky cs mencoba mempertahankan kharisma Power Metal dengan merilis album Peace,Love & War (1999). Meski dari segi musikalitas materi album ini cukup bagus. Tapi sayangnya album ini lagi-lagi kurang mujur di pasaran.

Tak lama setelah album rilis album ini, Power Metal pelan-pelan menghilang dari hingar-bingarnya panggung musik rock. Tak heran bila di tengah kevakuman itu muncul berita spekulatif bahwa grup ini bubar. Sampai akhirnya muncul inisiatif dari owner Power Metal yaitu dengan memanggil kembali Raymond untuk diajak membenahi lagi Power Metal. Antara lain dengan mengajak Ipunk kembali gabung di Power Metal, menggantikan posisi Lucky Setyo W yang mengundurkan diri.

Kaisar, grup musik rock yang berasal dari kota Solo ini namanya melejit ketika menjadi finalis Festival Rock ke 5 di Surabaya. Sebuah lagu kaya mereka Kerangka Langit yang kemudian direkam menjadi album seleksi di tahun 1990 menjadi lagu Hits. Bahkan mengalahkan sebuah tembang milik Power Metal yang diangap sebagai grup rock terbaik.

Pada festival berikutnya, grup musik Kaisar dengan lagu karyanya sendiri Garis-garis Bintang (1992) dinobatkan sebagai grup terbaik. Hadiah untuk rekamaan pun digenggam tangan, namun karena sesama personilnya terjadi “gesekan” maka rencana mereka menjadi tertunda. Setelah masalah internalnya selesai dan lagu-lagu yang mereka ciptakan dianggap layak, maka janji Log Zhelabour pun akhirnya dipenuhi Kaisar dan meluncurkan album dengan tittle Mulut Angit (Logiss Record, 1994). Sebagai grup daerah yang formasinya rata-rata dari kalangan mahasiswa, mereka merupakan grup musik yang cukup menjajnjikan. Mereka menghadirkan musik rock dengan sound yang terdengar gahar namun tidak bising dengan lirik lagu yang temanya tidak klise.

Mereka memang banyak terkikis oleh semakin berkembangnya zaman atau pun trend yang berganti, namun ada satu yang menarik yaitu album-albumnya berisikan lagu-lagu yang cenderung memotret realitas social. Misalnya Grass rock dengan lagunya Peterson. Melalui lagu ini Grass Rock bersama Remy Soetansyah mencoba mengungkapkan aank jalanan pada lagu Peterson (Anak Rembulan). Mengapa diibaratkan anak rembulan!. Karena mereaka tak punya rumah, mereka juga lahir dan besar hanya di jalanan. Namun Paterson yang digambarkan “Tampangnya keras, garang tongkrongannya segarang singa” namun sebetulnya mereka adalah manusia yang juga punya rasa kaih sayang. Seperti lirik: tapi walau begitu, hatinya penuh kasih. Kadangkala sikapnya seperti malaikat yang paling mulia.

Power Metal dengan Timur Tragedi-nya, grup musik ini mencoba untuk menangkap betapa menderitanya manusia yang terkena musibah gempa bumi dan Tsunami di Flores, walaupun lagu ini berbuntut panjang karena Power Metal dianggap mengkritik pemerintah dan dicekal di RCTI dan TVRI. (dari berbagai sumber)