Menyaksikan aksi grup musik Tipe X di salah satu stasiun televisi swasta beberapa waktu yang alalu, mengingatkan kembali penulis pada sebuah genre musik yang pernah berjaya di negeri ini. Musik yang pernah berdiri bak pahlawan di puncak podium, berceramah mengenai musiknya sekaligus menolong jiwa anak muda untuk berdansa kesana-kemari pada akhir dekade 90-an dan awal 2000-an.

Musik ini Digemari sampai kita pun pasti akan mendengarkan dendang musik ska dalam radio maupun televisi atau bahkan di tempat lain yang kita tidak pernah duga. Tak ada satu pun acara yang tidak menampilkan musik yang mempunyai beat yang dinamis yang tidak bisa tidak kaki kita serasa ingin ikut bergerak ber-pogo ria mengikuti hentakan irama musiknya. Ditambah lagi dengan dandanan musisi atau penikmatnya yang fashionable dan semuanya terangkum menjadi sangat meriah dan indah.

Begitu dielukan sampai banyak berdiri grup musik yang membawakan musik jenis ini, kemunculannya pun seperti jamur di musim penghujan. Dengan jumlah personil-personilnya yang lebih dari cukup untuk ukuran band-band Indonesia lengkap dengan formasi brass section, dalam kenyataannya ini turut membuat hentakan di denyut jantung panggung musik nasional.

Namun seiring dengan berjalannya waktu dan trend musik yang berganti, musik ska sekarang hanya menjadi sebuah kartu dalam deretan katalog musik Indonesia yang menunggu adakah lagi orang yang meliriknya kembali atau arsip bekas yang lama kelamaan akan berdebu tergores oleh waktu yang memang tidak kenal kompromi. Para punggawanya pun seakan-akan seperti tembok berlin yang runtuh batanya satu persatu pada tahun 90-an atau juga berubah dengan mengubah jalur musiknya menjadi musik yang berbeda.

Berbicara mengenai musik ska, musik ini pada mula-mulanya adalah musik yang berasal dari Jamaika yang lahir pada dekade 1960-an. Dalam perjalanan waktu musik ini pun tentakelnya menjalar kemana-mana, masuk ke negerinya Ratu Elisabeth dan negeri paman Sam dan mengalami tiga gelombang perkembangan di akhir 1960-an dan 1980-an.

Dekade pertama, Tahun 1962 saat dimana inggris menjanjikan jaminan secara tak terbatas kepada para imigran yang berasal dari negara-negara persemakmurannya, kerusuhan ras pun terjadi disaat itu musik ska dan reggae sedang populer. Musik tersebut dibawa dari jamaika oleh banyak musisi dan produsen yang ikut berimigrasi, termasuk The Trojan. imej rudeboy diperbaharui menjadi 2 jenis musik yang masih tergolong baru di inggris yaitu reggae dan punk oleh band The Clash.

Di Inggris mulanya ska dikenal sebagai bluebeat dan kemudian dikenal sebagai rocksteady (Rocksteady adalah bagian cerita lain: Rocksteady kemudian melahirkan musik Reggae. Popularitas musik Reggae di Inggris di sebarkan olehSkinhead; kelompok Rastafarian mengadopsi musik Reggae dan lirik-lirik lagunya cenderung bertemakan ajaran Rastafari dan pandangan Relijiusnya, Reggae pun berkembang menjadi ‘Dub’,’Dancehall’, dan seterusnya). Element utama musik ska adalah drum, rythem, bunyi brass (trumpet, trombone),kesemuanya dirangkumkan maka terlahirlah irama musik ska. ska mulai dipopulerkan oleh golongan mod dan rudeboys dengan imej tersendiri memakai hat (topi popeye) dan mengendarai skuter (vespa)

Dekade Kedua, pada tahun 1979 seperti Jerry Dammer mendirikan 2tone records. keinginan Dammers layaknya Prince Buster di awal tahun 60-an yaitu menciptakan sesuatu yang baru, hitam dan putih menjadi simbol. lahirlah yang dinamakan dengan 2tone ska. Dekade Ketiga, pada dekade ketiga ini juga terdapat hal-hal yang tidak pernah ada pada awal gelombang pertama (beberapa diantaranya ada yang tidak pernah dimengerti) seperti “straight edge” dengan logo “X’ ditangan, boneheads, OI/SKA, Skinhead Against Racial Prejudiced (SHARP’s) juga konsep-konsep ‘sell outs’. ada beberapa aspek diantaranya yang belum berubah : Ska masih menjadi musik kalangan remaja, setiap pertunjukan Ska dapat disaksikan oleh segala umur dan tidak terlalu mahal untuk mengakomodasikannya. disamping itu juga Ska masih membentuk beat yang unik dan harmonis walaupun digabungkan dengan unsur-unsur musik lainnya dan orang-orangnya pun masih banyak yang menikmatinya.

.Musik ini pun menjelajah dan akhirnya sampai ke daratan Indonesia pada awal 1980-an. Musik ini menjadi lahan inspiratif bagi keragaman musik Indonesia (Eris Djarot, Chrisye dan Jockie Soryaprajogo kabanrnya pernah mengekreasikan unsure musik ini di lagu Resesi), ska pun kemudian menemukan tempat berteduh di komunitas Underground pada dekade 1990-an.

Di komunitas “bawah tanah” ini pula musik ska bertemu dengan teman sepermainannya seperti musik thrash metal, death metal, dan musik non mainstream lainnya. Mereka bergerilya bak Che Gueverra dari satu panggung kota ke kota lainnya merangkul grup-grup musik, dari kampus ke kampus , dari sekolah ke sekolah menghimpun massa dan fans.

Dan di tahun 1997, grup-grup yang mengambil jurusan spesialisasi musik ska ini mulai bermunculan. Namun mereka masih menyanyikan lagu-lagu dari kelompok favoritnya dari Amerika dan Inggris. Baru setahun kemudian mereka mulai berani menyanyikan lagu ciptaannya sendiri. Dan mulai pertengahan 1998 hingga hampir tahun 2000 ska pun mengalami Booming di berbagai kota di nusantara.

Pergerakan cepat perkembangan musik ini ditandai ketika pihak major label membawanya dari panggung underground ke panggung tingkat nasional. Dengan bantuan media massa, televisi dan radio sebagai media promosi yang ampuh, musik ini pun dengan cepat diterima secara luas. Ska menjadi semacam endemik akut yang bisa menjakiti anak muda yang gatal tangannya untuk membuat grup musik. Grup musik ska pun bertebaran dimana-mana seperti baju-baju di pasar tumpah. Televisi semakin suka menayangkan video klip dan pertunjukan musik Ska, merchandise yang berbau Ska pun dibuat dan stiker-stiker ska tak jarang pula melekat di punggung-punggung mobil atau pun truk.

Bagaimana dengan kiprah grup musiknya sendiri, adalah Tipe X, Shaggy Dog, Noin Bullet, Wastafel merupakan salah satu contoh band-band Ska yang berkibar pada masa itu. Untuk yang pertama rasanya tidak pas apabila tidak menyinggung grup masih yang eksis sampai detik ini, grup musik itu adalah Tipe X. Grup musik ini sewaktu Ska berkembang secara bombastis menjadi grup yang harus menjalani konsernya hampir setiap hari.

Seperti yang penulis kutip dari majalah musik yang terbit kala itu, setelah meluncurkan album Skaphobia pada Agustus 1999 Tipe X langsung menggeber tur promonya dari kota ke kota dipulau Jawa. Lajunya pun tidak berhenti di pulau ini, Tipe X pun menjajal ke panggung-panggung di luar pulau Jawa, Ujung Pandang, Jambi, Padang, dan kota lainnya merupakan contoh kota yang pernah disinggahinya. Seperti jatuh tertimpa tangga pula, permintaan konser yang semakin meningkat juga diiringi dengan penjualan kasetnya yang melonjak. Selain menggenjot penjualan kasetnya di dalam negeri, album Tipe X ini pun akan dirilis di Malaysia dan Singapura. Laris manisnya album ini menunjukkan bahwa bisnis musik ini tengah memasuki masa panen.

Tak ketinggalan juga Shaggy Dog grup musik asal kota gudek ini yang sekarang pun masih tegak berdiri, album Shaggy dog pun mengalami peningkatan walaupun masih beredar dengan sistem indie. RNB dengan Wastafel-nya juga merangkak naik, lewat albumnya yang semula diedarkan melalui cara Indie namun akhirnya masuk ke major label dan dirilis ulang Pops, label rekaman yang menaungi Tipe X juga menggarap album grup ska lainnya, yaitu Kindergarten.

Sementara itu Sony Music Indonesia juga telah bersiap untuk masuk ke kancah musik se-genre dengan menggarap album Jun Fang Gang Foo. Begitu juga dengan dengan Warner Music Indonesia, yang juga merulis album Bebas grup musik ska asal Bandung dan Noin Bullet. Dari kota Solo, grup Teddy Bear pun ngebut merampungkan album mereka. Di luar itu masih banyak grup musik ska yang tengah mematangkan musik mereka dan grup-grup baru pun bermunculan. Di Yogyakarta sendiri pada masa itu sudah ada sekitar 20-an gruo musik ska. Sebut saja beberapa nama seperti Black Sky, Traffic Light, Joys Island dan Terplunk.

Di daerah lain seperti Malang ada grup musik yang mempunyai nama unik yaitu Ibu Kita Skartini. Ada pula MBDPH (entah apa singkatannya), Di selatan pulau jawa tepatnya di Purwokerto pun ada band yang juga memilih nama yang nyeleneh seperti Skarepe, di kota Bogor ada Error. Di ibukota sendiri puluhan grup musik ska bermunculan, salah satunya yang juga mempunyai nama yang aneh adalah Kethoepat Skayur. Rotorcorp label yang dimotori oleh bassis Suckerhead Krisna J Sadrach ini juga meluncurkan album kompilasi ska.

Dengan title album Ska Klinik, Rotor tampaknya memboyong kampung ska karena dalam album ini Rotor menyuguhkan 11 grup musik ska dari beberapa daerah seperti Jakarta, Bandung, Bogor, Bekasi, Yogyakarta dan Solo. Nama-namanya pun cukup unik dengan beberapa diantaranya memajang vokalis wanita. Ada Es Coret, Spidol, UFO, Jet Coester, Why Not, Teddy Bear, Rolling Door, Bom Bom Car, No Smoking, Having Fun dan Pinochio. Musiknya pun beragam ada yang ska murni, ska-core hingga ska punk.
Bermunculannya grup-grup ska itu diikuti pula dengan kegilaan fans-fans mereka.

Di panggung-panggung konser, para maniak ska berkumpul dan memasang atribut-atribut yang bersinggungan dengannya, topi pet, dasi, jas, dan tak lupa ada koper, celana pendek kotak-kotak, atau baju Hawaii, juga rambut pun dicat pirang. Sampai-sampai seperti yang penulis lansir dari majalah itu menceritakan ada sebuah kalender bergambar karikatur orang berjoget ska, si penjual kalender itu berteriak ”Ini kalender ska baru dan murah, kalender musik anak muda sekarang” dan para pengamen pun ikut memeriahkannya dengan menyanyikan salah satu lagu ska yang tengah naik daun, minus terompet mereka bernyanyi dan berska ria seperti layaknya rude boys yang gila. Wartawan musik asal Amrik Lynnea Mee pun sampai terheran-heran melihat pengemar musik di Indonesia dan grup musik yang begitu bergairah pada jenis musik ini, musik ini dapat tumbuh dan bekembang tanpa ada akarnya disini.

Namun begitulah keunikan dari Indonesia, musik Ska ini pernah terbang melintas ke angkasa musik negeri pada masa itu layaknya meteor yang datang dengan seketika namun dampak guncangannya bisa sangat luar biasa. (Tulisan dan foto dari berbagai sumber)