Pernah suatu ketika penulis bertandang ke rumah kerabat yang sudah berkeluarga dan mempunyai anak, si anak sedang asiknya berkaraoke ria di depan televisi menyanyiakan lagu dari sebuah band terkenal. Lucu memang melihat gerak-geriknya tapi kok terasa janggal karena lagunya tidak sesuai dengan umurnya yang baru menginjak 7 tahun.

Lagu yang ditujukan untuk pendengar anak-anak mungkin sekarang mati suri. Anak kecil zaman sekarang sudah terbiasa dengan lagu-lagu orang dewasa yang berkisah mengenai percintaan, perselingkuhan, dan yang lainnya yang dibawakan oleh band-band pop. Dan dipaksa untuk menjadi dewasa sebelum waktunya. Dan parahnya lagi mungkin para orang tuanya mengajarkan seraya bernyanyi di hadapan anaknya dengan fasih lagu-lagu tersebut.

Tak ada lagi kicau-kicau jenaka penuh tawa dari seoarang anak yang bernyanyi untuk dia dan teman-temannya. Pak Kasur atau bu kasur pun dalam kuburnya mungkin akan menangis melihat kondisi ini.

Tidak seperti di zaman duhulu, lagu anak-anak begitu membahana sampai-sampai sebuah koran tahun yang terbit di tahun 1990-an menuliskan sebuah artikel mengenai lagu anak yang katanya sudah tidak mendidik lagi di masanya. Hal ini menjadi semacam indikasi dari semakin banyaknya lagu-lagu anak yang beredar dan sampai ke telinga masyarakat luas.

Kilas balik pada akhir tahun 1920-an lagu-lagu anak berbahasa Indonesia sudah disiarkan lewat radio. Lagu-lagu karya Ibu Soed sangat dihargai pemerintah Pendudukan Jepang (1942-1945) yang menugasi ibu Soed mengajarkan lagu anak-anak berbahasa Indonesia melalui radio dengan tujuan untuk mengubah orang Indonesia yang berkiblat ke Barat. Bertahun-tahun setelah Indonesia Merdeka jaringan radio bertahap terbuka dan menjalar ke seluruh nusantara. Acara minggunan disiarkan untuk mengajar anak kecil menyanyikan lagu-lagu yang ditulis oleh Ibu Soed, Pak Kasur dan AT Mahmud. Masuknya televisi tahun 1962 memberi dorongan kuat musik anak-anak, acara khusus dirancang untuk mengajar anak-anak terhadap seni musik dan menyanyi. Perlombaan menyanyi diadakan untuk perseorangan dan untuk sekolah.

Album lagu anak dalam bentuk piringan hitam muncul pada tahun 1966. Album yang dibuat oleh perkumpulan guru taman kanak-kanak Jakarta, antara lain, berisi lagu seperti Layang-layangku, Kucingku, dan Ke Pasar Ikan. Lagu tersebut populer di kalangan anak-anak lewat corong Radio Republik Indonesia. Bagaimana dengan kiprah Pak Kasur selama hidupnya mendidikasikan untuk menciptakan lagu-lagu anak-anak. Adalah seorang mantan pejuang 45 dan pegawai negeri yang terjun ke dalam lingkuangan pergaulan anak-anak dan aktif membina mereka dalam suatu kelompok kecil anak-anak.

Di Jakarta kelomppk kecil tersebut berkembang menjadi sebuah sekolah bermain yang cukup besar, khusus untik anak-anak di bawah usia taman kanak-kanak resmi, kegiatan mereka meliputi bermain, menyanyi, menari dan membaca puisi. Dari waktu ke waktu mereka menyanyi di Radio Republik Indonesia (RRI). Setelah dia pensiun dari pegawai negeri tahun 1968. Pak Kasur mengabdikan waktunya untuk kelompk bermainnya dan untuk mereka pula ia menciptakan banyak lagu, misalnya Naik Delman dan Bangun Pagi

Beberapa diantaranya kemudian dibuat film untuk anak-anak misalnya Amrin Membolos dan harmonikaku. Jumlah lagu ciptaan Pak Kasur untuk anak-anak mencapai 140 buah lagu. Pada dekade 1970-an ada suatu fenomena ketika sang bapaknya juga seorang musisi pasti anaknya juga diarahkan atau diorbitkan untuk menjadi seorang penyanyi seperti halnya buah yang jatuh tak jauh dari pohonnya. Seperti yang terjadi dalam dinasti keluarga Koeswoyo, Sari Yok Koeswoyo kemudian di akhir tahun 1975 hadirlah Chicha Koeswoyo yang meledakkan lagu Heli. Sejak Heli, lagu-lagu anak-anak dibuat dengan pendekatan industrial. Penyanyi anak-anak bermunculan, dan kebanyakan berasal dari kalangan yang dekat dari industri rekaman. Termasuk anak-anak pemusik dan penyanyi, seperti Joan Tanamal, Adi Bing Slamet, Sari Yok Koeswoyo, Helen Koeswoyo, Vien Isharyanto, Bobby Sandhora-Mukhsin, sampai Ira Maya Sopha.

Bu kasur dalam wawancara oleh majalah Tempo tahun 70-an mengatakan lagu-lagu itu begitu digemari lantaran cara menyajikan lagu-lagunya sangat menarik, selain karena memang kebanyakan orang tua dari si anak tersebut adalah seorang pemusik, jadi mereka mempunyai dua kepintaran, yaitu sebagai musisi dan penggubah lagu. Dengan kepintaran itu mereka mampu membuat lagu yang bisa memenuhi selera pendengar. Popularitas orang tua mereka sedikitnya turut membantu cepat populernya lagu-lagu anak itu.

Pada tahun 1988 muncul lagi ledakan lagu anak-anak dari Puput Melati lewat lagu Satu Ditambah Satu. Puput masih berasal dari keluarga pelaku industri musik, yaitu dari keluarga besar Usman Bersaudara. Album Puput memunculkan album-album lain, antara lain seperti dari Melissa dengan Abang Tukang Baso. TVRI melalui acaranya Panggung Gembira banyak menayangkan lagu-lagu anak.

Tetapi sayang mungkin karena banyak yang menyukai dan mengalir secara komersial maka menurut koran terbitan tahun 90-an itu banyak lagu yang dibuat asal jadi dan seringkali menyerempet ke melodi lagu-lagu orang dewasa, banyak juga penyanyi anak-anak itu ditampilkan dengan tingkah dan dandanan mirip orang dewasa. Bocah-bocah cilik itu juga kerap kali muncul membawakan lagu dangdut dengan baju sutera gemerlapan, bersusun begitu ramai. Rambut dibuat model dewasa, lipstik dan maskara dibuat mencolok. Belum lagi goyangannya yang meniru ratu dangdut Elvi Sukaesih. Ia bagaikan kehilangan masa kanak-kanaknya dan mencoba memasuki dunia orang dewasa.

Produksi terus menggelinding hingga era 1990-an. Ria Enes, penyanyi dewasa dengan suara dikanak-kanakkan, dengan lagu Susan Punya Cita-Cita (1992). Penyanyi anak-anak bermunculan lagi, Joshua dengan lagu dibob-oboknya, Tina Toon. Trio Kwek kwek, dan yang lainnya. Tahun 1999 muncul pula Sherina yang sekarang telah mentranformasikan dirinya menjadi penyanyi dewasa, lewat album Jika Aku Besar Nanti. Ia meredefinisi lagu anak dengan garapan musik serius oleh Elfa Secioria. Kemudian muncul penyanyi imut Tasya dengan Libur Telah Tiba.(Tulisan dan foto dari berbagai sumber)