Catatan Kata Kelana

Kiprah Ternchem di Blantika Musik Rock Indonesia Dekade 1970-an

Kota Solo dijuluki sebagai kota ketiga di Indonesia sesudah Bandung dan Jakarta yang berhasil melahirkan penyanyi dan grup-grup musik dari berbagai macam aliran musik pada dekade 1970-an.
Ternchem adalah salah satu band yang lahir di kota ini pada tahun 1969. Nama Ternchem merupakan kepanjangan dari Taruna Cemerlang. Ternchem diperkuat oleh lima orang personil, diantara Dordar (Gitar Melodi), Oendamora (Bass), Onnu (Organ), Bambang SP ( Drum), dan Bernard Permadi (vokal).
Menurut kabar band ini pernah disinggahi sebentar oleh Setiawan Djodi yang menempati posisi sebagai gitaris. sebelum AKA, God Bless, dll lahir dan sekaligus kondang, Band ini telah merasakan pahit getirnya menjadi sekawanan kelompok musisi. Dalam perkembangannya walaupun band ini dilahirkan di kota yang sama dengan kota kelahiran presiden kedua RI Soeharto, akan tetapi rupanya kondisi daerah seperti Solo tak banyak mampu memberikan kehidupan lebih layak bagi band ini, sehingga membuat band ini hijrah ke kota lumpia Semarang. Alasan mereka dipindah ke Semarang karena diminta oleh managernya karena peralatan musiknya akan lebih dilengkapi.
Dalam banyak pertunjukan musiknya, band ini sering membawakan lagu-lagu dari grup musik Grand Funk Railroad, Deep purple, James Brown, dan sebaginya. Pernah dalam salah satu pertunjukannya pada tahun 1972, Ternchem membawakan lagu Grand Funk, tetapi secara tiba-tiba irama berubah menjadi sebuah lagu jawa yang berjudul Suwe Ora Jamu dengan alunan suara Permadi serta gaya yang lucu.
Belum selesai dengan lagu tersebut, Ternchem kemudian mengubah irama lagu jawa tersebut menjadi lagu Sepasang Bola Mata. Mereka seakan-akan bisa mengerti selera dari penonton serta terus memikat simpati penonton

Aksi Ternchem di Panggung Pertunjukan

Bernard vokalis dari band ini berekpresi seperti orang kesurupan di atas pentas musiknya. Band Terncem dari Solo terkenal juga karena aksi panggung pertunjukannya yang mempertunjukkan ular, api, dan peti mati. Dalam satu pertunjukannya di Malang Ternchem membawakan suguhan lagu berjudul “fire” dari Deep Purple yang dibawakan dengan versi Bernard sang vokalis. Ia muncul dengan keadaan kepala terbakar.
Nyala api ini terus berlangsung hingga ke akhir babak pertama yang puncak dari babak ini adalah adegan bunuh diri Bernard yang kemudian dimasukkan dalam peti mati dengan diiringan lagu dari Rolling Stone yang berjudul “Coming Down Again”.
Namun demikian Terncem masih menyisakan atraksi yang lebih istimewa lagi. Dalam pemunculan babak kedua yang dilalui tanpa setegang babak pertama, vokalis Bernard yang didampingi seekor ular dalam lagunya yang terakhir, sempat merogoh uang saku, dan dihamburkan lembaran-lembaran uang ratusan dan limapuluhan yang merupakan uang sisa honor mereka.
Gaya pertunjukan panggung grup Terncem dari Solo dikenal mengambil gaya panggung Alice Cooper, yang melengkapi penampilannya dengan atraksi bermain ular sanca serta masuk peti mati ditutupi bendera Amerika. Aksi teatrikal band ini juga dilakukan ketika mereka pentas di Palembang, dalam suasana lampu yang gelap samar-samar dengan sinar kemerahan-merahan.
Ternchem membuka acaranya dengan irama-irama lembut dibalut alunan organ. Selanjutnya irama berganti dengan irama-irama hot dan keras, kemudian muncul vokalis Bernard, di antara lengkingan suara musik, sebagai bentuk sensasi nyala api dihidupkan di atas topi yang dipakai Bernard.
Aksi panggung tidak berhenti sampai disitu, kemudian irama keras berganti ke irama Melayu dengan diselingi irama Timur Tengah. Kemudian muncullah pemain organ Ony dengan ular mautnya, sambil meliuk-likukkan bersama ular yang digantung di lehernya mengikuti irama musik yang semakin mendayu. Acara ini diselesaikan Ony dengan iringan tepuk tangan dari penonton.
Pada babak kedua, aksi adegan sama dengan yang dilakukannya ketika pentas di Malang, puncak aktraksi pertunjukan dengan melakukan adegan penusukan perut dengan pisau di tangannya atau bunuh diri Bernard yang kemudian dimasukkan dalam peti mati. Sebagai penutup dari atraksi Ternchem, band ini membagikan foto mereka kepada publik. Onny dari Ternchem dalam suatu pertunjukannya di Semarang bernyanyi dengan berani dan eksentrik, menggambarkan orang yang sedang masturbasi , bersenggema dengan berdiri.
Pertunjukan dengan memakai ular, api, dan peti mati masih diperlihatkan Ternchem pada pertunjukan Musical Show Penutup Tahun 1972. Pada babak pertama Ony menyuguhkan gaya seperti Ucok AKA ketika menyanyikan lagu “Sex Machine” dengan bergoyang pinggul dan menelungkupkan tubuh, seolah-olah tengah bersenggama. Pada babak kedua, dua orang pemain Ternchem melekatkan ular di leher mereka. Atraksi berikutnya ialah munculnya sebuah peti mati. Tiba-tiba Permadi (vokalis) mengeluarkan sebilah pisau dan mengarahkan pisau tersebut kebagian perutnya. Adegan selanjutnya persis seperti seorang yang melakukan bunuh diri.
Dalam satu pertunjukannya di gedung Gelora Pancasila Surabaya bersama AKA pada bulan Juni 1974, Ternchem yang biasanya menyuguhkan atraksi pertunjukan panggung dengan peti mati untuk kali ini tidak bisa menampilkan atraksi tersebut karena ada gangguan teknik dari alat-alat. Terchem mengatakan tentang tarif honor pertunjukannya berkisar antara Rp. 250.000,00 sampai Rp. 400.000,00 untuk setiap kali show.
Seperti halnya band AKA yang mendapat teguran dari pemerintah setempat karena gaya panggungnya yang gila-gilaan, band ini pun mendapat perlakuan yang sama pada awal dekade 1970-an. Selain dicekal aksi panggungya karena permainannya terlalu berani dan gaya yang ditampilkannya cenderung menyimpang dari gaya yang biasa ditampilkan oleh grup-grup lainnya, band ini juga mendapat cekalan karena rata-rata personilnya berambut gondrong.
Ada yang menilai tindakan ini sebagai suatu tindakan yang tidak adil karena rambut gondrong merupakan satu mode. Adapun ciri khas dari mode adalah cepat berkembang dan cepat hilang. Pelarangan serta razia pemotongan rambut dijalankan oleh petugas apapun merupakan “perkosaan” terhadap hak asasi manusia dan kurang bijaksana

Album Rekaman Ternchem

Sudah merupakan suatu hal yang umum yang terjadi pada decade 1970-an bahwa kegarangan suatu band akan melunak ketika band tersebut masuk ke dapur rekaman. Hal ini bisa dilihat dari kegarangan ternchem di atas panggung ternyata tidak terlihat ketika band ini memulai album rekamannya. Ternchem dari Solo yang terkenal dengan pertunjukan ularnya di atas panggung membuat rekaman perdananya pada tahun 1973, sayangnya lagu-lagunya yang diciptakannya kurang mendapat tempat di hati pendengar musik pop di negeri ini.
Menurut salah seorang anggota terchem Bambang SP ketidakberhasilan rekaman mereka karena lagu-lagunya masih terpengaruh oleh irama hardrock yang hanya digemari oleh kalangan tertentu. Agar tidak mengulangi kegagalan, band Ternchem melakukan rekaman kedua pada pertengahan bulan April 1974, kali ini mereka akan merekam lagu yang lebih sesuai dengan selera masyarakat. Sayang kedua-duanya tidak disambut semeriah pertunjukan musiknya.
Grup ini pada tahun 1975 membuat album rekaman volume ke -3 di perusahaan rekaman Metropolitan. Dalam kesempatan yang sama mereka juga akan membuat rekaman pertama Pop Jawa. Ternchem melakukan rekaman di studio metropolitan, dan yang produksi adalah Yukawi punyanya Nomo Koeswoyo. Volume pertama band ini dibuat diatas label Remaco dengan judul zaman edan, lalu pada volume kedua dia rekaman di Dimita.
Seperti yang dikatakan oleh band ini bahwa kebanyakan dari lagu-lagu rekaman mereka adalah lagu kacang goreng, lagu-lagu yang banyak menekankan segi komersial karena bagaimanapun lagu tersebut adalah lagu yang dikonsumsikan oleh masyarakat banyak. (dari berbagai sumber)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 19 October 2012 by in Musik Rock, Sejarah Musik Indonesia.
%d bloggers like this: