Kepentingan dapur mengebul menjadi salah satu alasan beralihnya musisi rock ke dapur rekaman selain karena personil grup musik rock ini harus berumah tangga, dan juga karena sebagian besar masyarakat masih terlalu awam terhadap jenis musik ini dan lebih menyukai musik pop. Deddy Dores, nama yang masyur sebagai pemain keyboard dari grup-grup musik keras, seperti God bless, Giant Step, dan Super Kid menukik ke bawah menjadi “lembut” ketika memasuki dunia rekaman.

Deddy Dores mempunyai alasan mengapa ia mengambil langkah menukik menjadi “padede” (ungkapan Remy Sylado). Alasan itu seperti terjelaskan sebagai berikut :”Sulit sekali, karena dunia pop ini sangat berbanding terbalik apabila dibandingkan kebiasaan saya manggung dengan atribut rock. Waktu itu dengan sadar saya masuki dunia penciptaan lagu-lagu cengeng dan banyak pula kritik datang kepada saya yang mengatakan saya melacurkan diri. Tapi bagaimana pun juga, saya perlu hidup dan orang tidak bisa tahu apa saja kebutuhan saya”.
Ia mengawali terjun ke musik pop lewat rekaman suaranya sendiri. Pekerjaan itu dilakukannya pada tahun 1972, pada saat kondisi keuangannya krisis karena grup musik Rhapsodia yang dibangunnya belum menghasilkan dana bagus untuk menopang hidupnya. Album Hilangnya Seorang Gadis, cukup dikenal khalayak pop waktu itu. Deddy membuat album pop lagi pada tahun 1978, kali ini berduet dengan penyanyi yang bernama Lilian. Deddy Dores berpendapat“Bagaimanapun juga saya perlu makan, uang dan hidup, dan tidak bertahan dengan prinsip harus selalu dengan aliran hard rock, terserah dengan anggapan orang lain. Selain itu saya tidak mau seperti grup AKA, grup musik yang salah jalan. Sesungguhnya sebagai grup musik yang suka membawakan musik keras mereka sudah banyak penggemarnya. Tetapi sangat disayangkan sekali, mereka rekaman lagu-lagu berirama qasidah sehingga membuat penggemar AKA jadi menurun dan kecewa. Ia berpendapat grup musik rock kurang mendapatkan jangkauan komersial dan menurutnya lebih baik cari tempat penampung untuk rekaman dalam menyelamatkan diri.

Sebagai salah satu grup musik yang paling fanatik menganut musik keras di atas panggung, dalam rekamannya yang pertama God bless tidak melulu menyajikan lagu-lagu semacam itu, selain beberapa diantaranya lebih lunak. Mengenai dimasukkan lagu-lagu berirama “lembut”, Ahmad Albar menyatakan disebabkan oleh keinginannya untuk memikat hati para pendengar dan untuk mengingatkan orang pada penampilannya di atas panggung.

Dikeluarkannya album perdana Huma di atas Bukit (1976) ini oleh God bless, karena sudah banyak orang yang menyukai musik jenis ini dan agar hubungan God bless dengan masyarakat, khususnya pengemarnya menjadi lebih dekat. Lagu Huma diatas Bukit ternyata merupakan adaptasi dari lagu Firth Of Fifth karya Genesis dalam albumnya yang berjudul Selling England By The Pound Hal ini menjadi dimaklumi karena menurut beberapa musisi, God bless pada album pertamanya ini masih meraba-raba arah konsep dalam musik mereka.

God bless pada saat itu memang merasa kurang percaya pada kekuatan lagu milik sendiri, apalagi masyarakat hanya menuntut God bless yang serba gegap gempita. Akan tetapi sejak tahun 1976, terasa mulai ada gejala bahwa masyarakat bosan dijejali lagu yang itu-itu saja, mereka menuntut pembaruan dari grup musik yang dibanggakan. Mereka menuntut agar pemain God bless bisa sekreatif grup-grup musik yang lagunya pernah dibawakannya di atas panggung. Mengenai lagu-lagu yang diciptakan oleh God bless, Fuad Hasan salah seorang personil dalam grup musik ini mengatakan bahwa God bless anti-lagu-lagu “kacang goreng” dan tidak mau menjadi band pengiring untuk penyanyi-penyanyi Indonesia.

Fuad mengatakan tidak peduli grup musik ini diterima oleh masyarakat atau tidak, tetapi God bless mencoba membawa masyarakat ke musik yang benar-benar bermutu, karena selama ini musisi Indonesia harus mengikuti selera masyarakat dalam mengonsumsi lagu-lagu “kacang goreng” yang murahan dan tidak punya bobot. Selain itu, seperti yang dikatakan oleh Donny Fatah bahwa selama masih bisa makan, bisa jalan dan bisa hidup, God bless tidak akan ikut-ikutan untuk ikut bermelayu-melayu.

Mengenai perubahan format musik dalam rekaman, Ucok AKA mengatakan bahwa AKA membedakan antara penyajian musik dalam rekaman dan dalam pertunjukan karena menurutnya kedua hal itu harus disesuaikan dengan keadaan. AKA mempunyai prinsip bahwa pertunjukan di panggung harus berbeda dari rekaman. Tidak seperti dalam pertunjukannya yang sering menampilkan lagu-lagu yang bertema seks, dalam rekaman AKA belum berani menciptakan lagu seperti itu walaupun itu bukan lagu Indonesia, karena dalam mencipta lagu AKA juga harus menjaga nama baik dan lagi pula masyarakat Indonesia belum bisa menerima lagu-lagu semacam itu.

Ke-undergrounan AKA tidak selalu terdengar dalam lagu-lagu ciptaannya. Di atas panggung mereka memainkan lagu yang sesuai dengan trend musik hard rock pada waktu itu, tetapi dalam album rekaman mereka, selain beberapa lagu mengunakan bahasa Inggris, AKA menampilkan lagu-lagu pop Indonesia yang cengeng, misalnya Akhir Kisah Sedih, atau Badai Bulan Desember. Ke-undergronan Grup Musik AKA di kritik pedas oleh tulisan seseorangdalam majalah Aktuil, yang menyatakan bahwa lagu-lagu yang diciptakan oleh grup musik tersebut bertolak belakang dengan aksi panggung AKA yang penuh aksi sensasi.

Dalam berbagai pertunjukan musiknya, grup AKA selain membawakan lagu-lagu heavy juga membawakan lagu-lagu pop Indonesia atau pun pop Melayu. Seperti yang dikatakan oleh Ucok, bahwa musik adalah seni dan musik melayu juga ada seninya dan mereka berusaha memenuhi selera masyarakat lewat dua objek, yakni panggung dan plat atau piringan hitam.

AKA mengeluarkan album pertama mereka, Do What You Like (1971), yang berisi tiga lagu bernuansa rock keras berbahasa Inggris (Do What You Like, I’ve Gotta Work It Out, dan Glennmore) dan juga lagu-lagu pop Indonesia seperti Akhir Kisah Sedih dan Di Akhir Bulan Lima yang liriknya sangat bertolak belakang dengan semangat musik yang dibawakannya waktu di panggung.

Dalam setiap albumnya, AKA selalu menyelipkan lagu-lagu pop manis selain lagu rock. Setelah Do What You Like, album-album AKA berikutnya adalah Reflections (1971), Crazy Joe (1972), Sky Rider (1973), Cruel Side Of Suez War (1974), Mr. Bulldog (1975), Pucuk Kumati (1977). AKA juga pernah membuat album pop kasidah. Pada paruh dekade 1970-an, banyak kelompok musik yang menjejali industri musik dengan musik ber-label qasidah modern. Ada Koes Plus dari label Remaco yang merilis album qasidah, grup musik AKA di perusahaan rekaman yang sama mengeluarkan album qasidah modern.

Grup AKA pada tahun 1973 mencetak Album qasidah modern dengan warna musik rock, di antaranya lewat lagu yang berjudul Bersyukurlah, Insyallah dan Amal Ibadah. Perubahan corak musik yang terjadi datang dari masing-masing anggota personilnya yang menyadari bahwa musik rock yang sering mereka bawakan di atas panggung ternyata tidak disambut positif ketika jenis musik ini direkam pada sebuah kaset dan diperjualbelikan. Oleh karena itu mereka menciptakan musik yang dapat lebih diterima oleh masyarakat.
Keadaan itu tidak jauh berbeda dengan Band The Halper’s. Grup ini apabila di atas panggung lebih condong untuk membawakan nomor-nomor lagu yang keras milik grup musik Uriah Heep, tetapi dalam rekaman The Halper’s lebih mempunyai selera untuk membawakan lagu-lagu yang komersial yang mudah dicerna dan diterima oleh masyarakat. Berbeda dari grup Avianada dari Malang, grup musik ini menyatakan bahwa penonton adalah raja. Oleh karena itu musik yang mereka ciptakan lebih mementingkan selera masyarakat. Seperti bila sedang bermain di tempat yang banyak dikunjungi muda-mudi, maka mereka membawakan lagu-lagu yang “panas” yang biasanya disukai oleh muda-mudi saat itu.

Akan tetapi kalau pentas di tempat-tempat yang banyak dikunjungi oleh orang tua (resepsi) dengan sendirinya mereka akan membawakan lagu-lagu yang tenang atau biasa yang disebut sweet sound. Tidak berbeda dengan grup Avianada, grup Fair Stone dari Solo selalu berusaha memenuhi keinginan publik. Untuk pertunjukan-pertunjukan yang bersifat biasa, seperti pesta perkawinan, pertunjukan amal Fair Stones memakai label nama band The Rellies. Hal itu bertujuan untuk memberi perbedaan pada jenis musik yang tersaji, yaitu berirama keras apabila pertunjukan diadakan di atas panggung dan berirama lunak apabila pertunjukan diadakan di bawah panggung.

Adanya kesadaran bahwa irama rock yang ditonjolkan oleh musisi rock di blantika musik populer Indonesia kurang mendapat tempat, satu per satu mereka mencoba berjalan sendiri-sendiri. Misalnya Ahmad Albar dari grup God bless mencoba berekperimen dengan membuat album rekaman pertamanya dengan berbagai variasi lagu-lagu bernuansa rock. Namun hasilnya kurang dapat diterima oleh selera masyarakat. Kemudian Ucok Harahap mencoba membuat rekaman pertamanya di Irama Tara lewat label Hard Rock. Namun lagu-lagu yang terdapat dalam volume tersebut lebih dapat dikatakan sebagai lagu-lagu sweet daripada rock.
Tidak sedikit para musisi rock mengantisipasi keadaan dengan melakukan solo karir. Maksud dari solo karir adalah bila seseorang anggota dari sebuah grup musik yang telah punya nama, kemudian keluar, baik itu sementara maupun seterusnya, dan mencoba bermain musik (biasanya cenderung untuk rekaman saja) atas namanya sendiri. Ia mungkin akan menyelesaikan seluruh proses rekaman tersebut sendirian, dari memainkan seluruh instrumen musik hingga pada rekaman vokalnya. Gejala itu mungkin terjadi akibat ketidakpuasan dalam berkreasi, tetapi tidak jarang pula karena faktor keterpaksaan, misalnya karena tuntutan komersial.

Salah seorang anggota grup God bless, Donny Fatah melakukan solo karir dengan merekam album bernuansa country. Ia tidak menolak bahwa ia juga menganut banyak aliran musik di Indonesia, termasuk country. Ahmad Albar tidak melihat bersolo karir dari sudut pandang komersial semata, tetapi sebagai suatu kebutuhan setiap individu yang kreatif. Ahmad Albar melakukan solo karir dengan merekam lagu-lagu yang bukan bercorak musik hard rock, aliran musik yang biasa dianut oleh God bless, melainkan corak yang lebih lunak dan manis atau soft rock.

Corak musik ini sebenarnya sudah dapat ditemui dari beberapa lagu dalam rekaman God bless yang pertama. Ia menerbitkan empat album solo, dua bersama Areng Widodo dan dua bersama Fariz RM (ex-Gypsi) yang kebanyakan lagunya tidak berirama rock. Memang agak berat menjadi musisi beraliran keras seperti God bless yang penghasilannya bergantung kepada dunia pertunjukan. Lain halnya dengan musisi yang bergumul di studio rekaman, untuk hidup berkecukupan seperti kebanyakan orang Ahmad Albar sudah bisa, tetapi untuk hidup berlebihan memang mustahil. Bahkan penghasilan dari bermain musik bila dikumpulkan akan bisa menyamai penghasilannya dari bermain film.

Selain beberapa musisi yang melakukan solo karir di atas tercatat juga nama Benny Soebardja dari Giant Step. Alasan ia melakukan solo karir karena harus memikirkan kebutuhan hidup keluarganya. Giant Step menerapkan politik bebas keluar masuk dalam keanggotaan di Giant Step. Insiatif ini diambil dari pengalaman bahwa mengikat seseorang untuk tetap menjadi anggota dari sebuah grup musik adalah omong kosong, sementara pertunjukan-pertunjukan musik yang menjadi satu-satunya tumpuan hidup mereka untuk memperoleh penghasilan, paling hanya bisa dilakukan satu kali dalam sebulan. Benny Soebardja melahirkan album solo karir dengan judul album Gimme me a Piece of Gut Rock.

AKA dari Surabaya yang benar-benar jantan jika memainkan musik di atas panggung mendadak layu di pabrik rekaman. Beberapa grup lagi mencoba tumbuh bahkan saling bertemu, tetapi tidak satu pun yang tampaknya ingin mencoba bertahan secara utuh. Bagaimana bisa hidup, apabila musik itu sendiri tidak mendatangkan uang. Seperti yang dikatakan oleh Mus Mualim bahwa perkembangan musik rock di Indonesia didukung oleh publik yang masih terbataw. Hal senada juga diungkapkan oleh Donny Fatah dari grup musik God bless yang mengatakan bahwa musik rock hanya menguasai ¼ pasar dari musik populer di Indonesia. (berbagai sumber)