Musik rock dekade 1970-an merupakan musik panggung, namun gemuruh suara di panggung ternyata tidak diikuti oleh gemuruhnya di saat musik ini dibawa ke dalam dapur rekaman, karena musik rock Indonesia belum lazim di dunia rekaman dan dianggap sulit menembus pasar yang didominasi oleh lagu-lagu pop. Masalah klasik yang sering mengemuka adalah sang cukong tidak mau mengambil risiko merugi ketika ia merekam kaset rock. Eksistensi musik ini sebenarnya hanya ada di dunia panggung tidak di dunia rekaman dan sedikit banyak dari grup-grup musik rock itu masuk ke dunia rekaman dengan mengubah formulasi musiknya menjadi lebih mudah untuk dijual dan diterima oleh masyarakat luas.

Penyajian musik rock secara rekaman sangat berbeda dari penyajiannya secara langsung di atas panggung. Jika dalam pementasan secara langsung prosesnya spontan, yakni semua unsur baik musikalitas maupun aksi panggungnya benar-benar akan diuji secara langsung, maka penyajian secara rekaman penikmat hanya dapat mendengar musikalisasinya melalui kaset dan piringan hitam.
Dunia rekaman di Indonesia berawal dari masuknya gramaphone Colombia buatan Amerika yang diimpor ke Hindia Belanda pada awal abad ke 20. Indonesia mulai memasuki awal perkembangan industri piringan hitam. Pada saat itu orang Belanda harus menunggu kiriman piringan hitam dari Belanda untuk mendengarkan musik-musik yang baru. Namun untuk pengiriman itu membutuhkan waktu yang cukup yang lama sehingga mereka merekam keahlian bermusik pribumi. Orang Indonesia yang dekat dengan orang Belanda sering diperdengarkan lagu-lagu Barat seperti jazz dan klasik sehingga mereka dapat belajar musik.

Keberadaan perusahaan rekaman di Indonesia seperti yang tertulis dalam buku Ensiklopedia Musik menyebutkan bahwa perusahaan rekaman piringan hitam Tio Tek Hoang merupakan perusahaan yang banyak merekam penyanyi-penyanyi sampai perang dunia ke-2. semua rekaman PH yang diproduksinya selalu dimulai dengan suaranya sendiri sebelum musik terdengar, begitu jarum mengena PH darinya terdengar suaranya yang berkata: “terbikin oleh Tio Tek Hong Batavia”. jadi berdasarkan atas keterangan yang termuat dalam buku tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa aktivitas perusahaan rekaman ini telah dijalankan sebelum dekade 1950-an

Pada tahun 1954 ketika perusahaan rekaman Irama berdiri, disusul Dimita, Remaco di Jakarta dan perusahaan rekaman milik negara Lokananta di Solo. Perusahaan rekaman Irama banyak merekam lagu-lagu dari Orkes Melayu, keroncong, dan penyanyi solo, kemudian dalam perkembangannya Irama merekam lagu-lagu pop. Jejak Irama diikuti oleh perusahaan rekaman Dimita dan Remaco, yang selain memproduksi lagu-lagu keroncong, juga mulai berpaling pada lagu pop.

Dimita yang dipimpin Dick Tamimi memproduksi piringan hitam Panbers dan Koes Bersaudara, sebelum kedua grup itu pindah ke Remaco. Sementara Lokananta tetap memproduksi lagu-lagu daerah dan tradisional. Hingga tahun 1964, perusahaan-perusahaaan yang memproduksi piringan hitam ini tidak mengalami hambatan berarti kecuali pasar yang lambat berkembang. Industri rekaman Indonesia baru memasuki era kaset tahun 1964. Jangkauan pasar kaset yang luas, menyebabkan Remaco juga mulai memproduksi kaset tahun 1967.

Memasuki dekade 1970-an perusahaan rekaman semakin berkembang dan rata-rata perusahaan rekaman tersebut menggunakan sistem track rekaman di studio-studio dan hasil rekamannya dapat berupa kaset maupun piringan hitam. Musica Studio atau Metropolitan Studio di Jakarta yang dimiliki oleh Amin mempunyai dua studio rekaman. Satu studio dengan sistem empat track dan yang satunya lagi dengan sistem dua track, tetapi dalam perkembangannya ia menambahkan alat-alat baru dengan sistem enam belas track untuk keperluan merekam ilustrasi musik untuk film-film nasional. Begitu juga dengan studio Remaco yang dimiliki oleh Eugene Timothy memiliki sistem rekaman dua dan empat track dan akan melengkapinya lagi dengan menambah track-track untuk keperluan rekaman. Golden Hand di Surabaya dengan Mus Mulyadi sebagai pimpinannya memiliki studio dengan sistem rekaman empat track sampai delapan track.

Celebrity Studio yang dimiliki oleh Jack Lesmana hanya mempunyai sistem rekaman dua track. Sama seperti studio yang dimiliki Jack Lesmana, studio Fajar Menyingsing hanya mempunyai sistem dua track. track adalah suatu sistem rekaman dalam pita besar yang dapat menyaring masing-masing suara atau bunyi instrumen tersendiri. Banyak perbedaan antara studio yang memiliki sistem track yang sedikit dengan studio yang memiliki banyak track. Salah satu perbedaannya adalah studio dengan sistem track yang banyak dapat menampung seluruh suara yang direkam, misalnya suara orkestra dan sebagainya.

Proses perekaman dilakukan di studio rekaman, yaitu tempat untuk memproses semua materi musik yang hasilnya kemudian dibawa ke pabrik kaset untuk diperbanyak (duplicating) sebelum dipasarkan. Selain proses merekam semua materi lagu, musik, serta bunyi-bunyian lainnya, di studio juga dilakukan proses mixing, yaitu menetralisasi seluruh bunyi, dalam arti mana yang harus disejajarkan dan mana yang harus ditonjolkan. Proses yang terjadi di dalam perekaman musik sangat panjang. Untuk merampungkan sebuah komposisi lagu yang sempurna terkadang membutuhkan beberapa shift yang bertahap. Pengambilan suara dari seluruh unsur musik tidak secara serentak atau bersaman. Meskipun ada beberapa grup musik yang merekam secara langsung di dalam studio, tetapi pada tahap mixing, untuk kesempurnaan hasilnya biasanya mereka akan melakukan penambahan, pengurangan atau pergantian komposisi musiknya, sehingga kemungkinan untuk melakukan dubbing ulang sangat besar.

Dekade 1970-an
Pada dekade 1970-an kemajuan teknologi mengiringi pula dunia rekaman di Indonesia. Diperdagangkan tape recorder secara umum yang menyebabkan masyrakat dengan mudah merekam siaran radio maupun dari pemutar piringan hitam ke dalam kaset. Pada awalnya distribusi piringan hitam dikirimi kaset kosong dari singapura yang memberi informasi bahwa lagu dalam piringan hitam dapat dipindahkan ke dalam kaset. Mereka mempunyai kolekdipiringan hitam lagu-lagu Barat yang harganya mahal dapat direkam kembali dalam kaset yang harganya jauh lebih murah. Hal ini tentunya sangat diminati oleh masyarakat dari seluruh lapisan karena harganya lebih terjangkau ditambah para perekam ini dapat memilih lagu yang paling populer dari beberapa album artis. Para pembeli ini mendapatkan referensi lagu-lagu Barat dari majalah musik dan radio.

Pada awal hingga pertengahan dekade 1970-an, para produser rekaman tidak berani menjual musik rock Indonesia karena dunia rekaman saat itu banyak didominasi oleh musik pop. Kelompok musik rock lokal tidak mendapat kesempatan rekaman mengingat mereka kebanyakan atau malahan hanya menyanyikan lagu-lagu rock musisi Barat di atas panggung. Di samping itu, produser kaset lagu Indonesia sudah puas dengan pasar lagu pop. Ketidakpopuleran musik rock dalam rekaman dibandingkan dengan musik pop disebabkan oleh anggapan bahwa musik rock kurang menguntungkan bagi perusahaan rekaman. Bagi produser rekaman, musisi rock adalah unproductive labour. Dibandingkan dengan musik pop, musik rock tidak menjual dan dianggap sebagai musik minoritas dengan jumlah pendengar dan pasar yang terbatas pada dekade 1970-an.

Seorang pemain musik sering kali ingin bermain musik sesuai dengan selera dan kepandaian musikal teknis yang dimilikinya. Akan tetapi hal ini kadang-kadang tidak dimungkinkan dalam segi komersial, karena dalam segi ini selera publiklah yang menentukan. Untuk dapat mendekati selera publik, tidak sedikit pemain-pemain musik yang terpaksa merendahkan mutu permainan supaya dapat dijual, tetapi tidak sedikit pula yang tidak bersedia untuk melakukannya. Selera publik luas tidak banyak mengenal segi-segi teknis dalam dunia musik dan kemajuan musikal teknis dari pemain musik tidak seimbang dengan kemajuan apresiasi dari publik pendengar.

Peralihan ini mengisyaratkan bahwa kreativitas musisi terpola pada kebutuhan yang lain, bukan lagi didasarkan pada sentuhan intuisi dan imajinasi yang memadai. Selera kreativitas mengikuti selera produser dalam sisi modalitas perdagangan. Dalam situasi ini musik tidak lagi bebas mengembangkan konsep ideal sebagai bagian dari angan-angan utopian senimannya. Seperti dua sisi mata uang yang berbeda, di satu sisi para musisi ingin tetap mempertahankan identitas dan daya kreatifnya, tetapi terbentur oleh sisi lain yang berkata sebaliknya. Akan tetapi beralihnya musisi rock ke dapur rekaman tidak dapat diartikan sebagai hilangnya idealis yang dimiliki oleh mereka, namun lebih karena tidak siapnya masyarakat menerima sajian musik rock.

Pada dasarnya produser adalah kepanjangan tangan dari selera publik yang harus dijangkau karena ia adalah seorang pengusaha yang menggantungkan kehidupan di studio rekaman dan yang menjadi tujuannya adalah mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Pada dekade 1970-an hal tersebut dikenal dengan logika dagang. Logika dagang itu mengharuskan para produser rekaman untuk mencari jenis musik dan lagu yang disukai masyarakat. Oleh karena merasakan risiko yang besar dalam berdagang, produser sering tampak dominan dalam menentukan jenis musik, musisi, dan penyanyi yang akan direkamnya. Produser selalu berupaya menyesuaikannya dengan selera konsumen.

Kekuatan penghargaan musik itu dijawab dengan kekuatan modal. Satu hal kepemilikan uang dapat membuat pembenaran sepihak yang dilatarbelakangi oleh unsur kekuasaan, karena uang bisa meng-hagemoni (kekuasaan). Kondisi seperti ini berimbas pada seniman. Seniman hanya membuat karyanya dengan termotivasi uang. Musik yang mereka mainkan, tidak semestinya mereka mainkan. Namun kekuatan produserlah yang menciptakan musik mereka. Seni musik seperti masuk ke dalam lubang market (masuk dalam pasaran). Hasil karya musik hanya menjadi ketentuan dan kebijakan dari seorang produser rekaman yang mempunyai otoritas kuat menentukan musik apa yang harus dimainkan dan apa yang tidak harus dimainkan.

Banyak musisi yang mengeluhkan kondisi di mana produser rekaman banyak berperan dalam proses kreatif musisi dalam berkarya. Keluhan tidak hanya datang dari musisi rock, melainkan dari musisi dari berbagai aliran musik lainnya. Misalnya, Zaenal Arifin yang dulunya bergabung dalam kelompok Zaenal Group merasakan bahwa perkembangan musik semakin mundur dan grup-grup musik tidak mempunyai karakter karena mereka dikendalikan oleh cukong rekaman. Yopie Item musisi eks Eka Sapta dan Baby Faces juga mengeluhkan kebebasan berkreasi musikus di negeri ini masih terpatri dan peranan cukong rekaman terlampau berkuasa. Hal senada juga diungkapkan oleh Wandi Kuswandi dari grup Odalf. Ia berpendapat bahwa musik disini adalah musik yang mengikuti musik dari Barat dan musik ini sendiri tidak luput dari cengkraman kekomersilannya. Sebagian besar dari masyarakat Indonesia terdiri dari publik musik komersial yang harus diisi kebutuhannya.

Salah seorang diantaranya adalah Benny dari Rollies, ia berpendapat:”Masak sampai soal variasi dan soal irama, kami ditekan harus begini-begitu. Bagaimana kita bisa mengembangkan daya cipta secara bebas, kami pernah terpaksa melakukannya karena sudah terlanjur dimulai dan kami menginginkan juga sedikit lebih dikenal melalui rekaman-rekaman itu. Toh ternyata rekaman-rekaman kita tidak laku, sebab memang jelek adanya.(berbagai sumber)