Berkumpul sekerumunan wanita berpakaian seksi di depan sebuah rumah di salah satu sudut gang sebuah lokalisasi. Mereka berdiri seraya memanggil setiap orang yang melewatinya dengan panggilan-panggilan merayu penuh hasrat yang dapat membuat hawa dingin malam itu terasa panas, reaksi anda pun pasti tidak akan tidak untuk melihatnya, tinggal sekarang pilihan berada di tangan anda sepenuhnya, apakah anda akan memulai transaksi atau pergi meninggalkannya.

Pekerja seks komersial sebuah ironi bagi harga diri yang terpajang untuk dibeli. Harga manusia tergantung dari banyaknya rupiah yang tergenggam dalam kepalan tangan dan tidak ada satu pun pekerjaan yang paling primitif di bumi ini selain dari pekerjaan menjajakan diri sendiri. Pelacuran merupakan profesi yang sangat tua usianya setua umur kehidupan manusia itu sendiri. Berupa tingkah laku lepas bebas tanpa kendali dan cabul. Karena adanya pelampiasan nafsu seks dengan lawan jenisnya tanpa mengenal batas-batas kesopanan. Pelacuran itu selalu ada pada semua negara berbudaya, sejak zaman purba sampai sekarang dan senantiasa menjadi masalah sosial.

Selanjutnya dengan perkembangan teknologi industri dan kebudayaan manusia turut berkembang pula pelacuran dalam berbagai bentuk dan tingkatannya. Soal kompleksnya permasalahan telah menjadi wacana yang tidak berujung pada jawaban yang tepat dan akan terus menghantui kita di saat memperbincangkan soal dunia pelacuran dan solusinya. Namun demikian tidak berarti tidak ada cerita yang dapat dibagikan dari dunia hitam ini karena di dalamnya terkandung berbagai kisah yang mengisyaratkan bahwa profesi ini tidak semudah orang mencibirkannya sebagai profesi yang hina.

Sunan Kuning yang berada di jalan Abdurahman Saleh tepatnya di belakang Museum Ronggowarsito merupakan komplek Lokalisasi terbesar di kota Semarang, bahkan se-Jawa Tengah. Kompleks lokalisasi ini telah ada sejak dekade 1970-an dan terus tumbuh dan berkembang , “ tadinya kompleks ini hanya dihuni oleh 100-200 orang saja tetapi sekarang sudah berubah menjadi sekitar 500 orang dan mungkin lebih, begitu juga penambahan rumah-rumahnya yang sekarang menjadi lebih banyak, “ujar wati salah seorang PSK yang telah bekerja selama hampir 1 tahun sebagai penghuni Sunan Kuning.

Heterogentas asal para PSK ditempat ini dapat dilihat dari banyaknya mereka berasal dari daerah-daerah seantero pulau Jawa, dan tidak jarang pula banyak dari mereka juga berasal dari daerah luar Jawa. “ saya saja berasal dari pemalang, ada juga teman saya yang dari temanggung, para pekerja di sini memang bermacam-macam, ungkap dia. Dia pun mengatakan jumlah penghuni setiap rumah di kompleks ini berbeda-beda, ada rumah yang dihuni oleh empat orang ditambah dengan mucikarinya saja, ada pula yang dihuni oleh enam orang bahkan lebih dan Setiap rumah biasanya mempunyai satu induk semang, dan mucikari itu bisa lelaki maupun perempuan.

Sunan kuning memiliki tiga pintu masuk sekaligus pintu keluar dan ketiga pintu itu senantiasa dijaga oleh beberapa orang yang akan memungut bayaran ketika anda akan masuk. Biaya masuknya cukup terjangkau karena hanya dengan lembaran seribu rupiah, pintu surga sekaligus neraka terbuka lebar di mata anda dan apabila ada sedikit keberuntungan anda pun bisa masuk tanpa dipungut bayaran. “masuk lewat pintu belakang kadang-kadang tidak ada orang yang menjaga”, ungkap ibu satu orang anak ini yang sebelum menjalani profesi ini sempat bekerja di sebuah pabrik di Pemalang.

Transaksi di lokalisasi dilakukan dengan 2 cara yaitu dilakukan oleh pelacur sendiri kadangkala disaksikan oleh mucikari dan melalui perantara. Apabila dilakukan oleh pelacur sendiri maka yang lebih senior berperan menentukan tarif dan siapa yang melayani konsumen. Pendapatan yang diperoleh oleh PSK tidak semuanya dimiliki oleh PSK itu sendiri, tetapi masih dibagi dengan mucikarinya. Mucikari ini yang menentukan tarif PSK yang menjadi anak asuhnya. Biasanya para PSK menyerahkan separuh penghasilanya kepada mucikarinya tapi apabila ada pihak ketiga seperti perantara maka PSK ini menyerahkan sepertiga penghasilanya kepada mereka. “tarifnya short time disini berbeda-beda, tetapi tarif berkisar antara Rp. 70.000-100000, dan itu tergantung dari tempatnya kalau tempatnya bagus dalam arti di kamarnya ada TV dan kamar mandi harganya bisa Rp. 100000 untuk sekali kencan”.

Jumlahnya yang diterimanya itu merupakan pendapatan kotor karena akan dipotong untuk biaya-biaya yang lainnya, “misalnya tariff Rp. 70.000, bersihnya maka saya akan mendapat Rp. 50.000, dan sisanya yang Rp. 20.000 akan saya berikan pada mami dan kalau tarifnya Rp. 100.000, bersihnya mungkin hanya Rp.60.000, sisanya untuk biaya kamar, keamanan dan yang lainnya, jadi saya kadang-kadang senang apabila ada tamu yang memberikan uang yang berlebih,” kata wanita yang tidak suka merokok dan minum-minuman keras ini. Bandingkan dengan tarif PSK “jalanan” di jakarta yang bisa mencapai Rp.150.000-200.000 untuk sekali kencan, jumlah tarif PSK di Sunan Kuning jauh lebih kecil dengan tarif PSK di Jakarta.

Dengan jumlah PSK yang mencapai angka kurang lebih 500 orang ini maka banyak sekali keuntungan yang didapat dari tempat lokalisasi tersebut, ditambah lagi dengan hadirnya para pedagang makanan maupun minuman yang harganya tentu sudah tidak wajar dan berbeda dengan harga di luar kompleks ini. Ada kecenderungan sekarang di masing-masing rumah dilengkapi dengan tempat karoke sendiri, walaupun tidak semua rumah melengkapinya, dan tarif untuk satu kali karoke selama satu jam mencapai Rp. 25.000-30.000. “saya paling malas untuk diajak karaoke, apalagi dengan mereka yang sedang dalam keadaan mabok kadang-kadang suka risih”, kata wati.

Selain dilengkapi dengan sarana berkaroke, di tempat ini juga dilengkapi oleh sebuah Puskesmas dengan agenda pemeriksaan rutin kesehatan selama 2 kali dalam seminggu bagi para penghuni lokalisasi. Para PSK disini diwajibkan untuk mengecek kesehatan fisiknya. ”disini ada cek kesehatan, gratis mas jadi dijamin kebersihannya, selain itu ada kegiatan rutin berupa olahraga dan senam 1 kali dalam seminggi dan para dokternya atau ahli kesehatan didatangkan dari Rumah Sakit Karyadi”, kata Wati. Setiap profesi mempunyai resikonya sendiri begitu juga dengan mereka yang menjalani profesi ini suka duka seakan-akan selalu menyelimuti, ” pernah mas ada yang tidak mau bayar terus saya ancam akan saya panggil pihak keamanan di disini, pernah juga ada yang meminta macam-macam tetapi saya tolak karena bayarannya tidak setimpal,” ungkap wati.

Melihat begitu masifnya arus modal yang masuk, seiring dengan banyaknya pria hidung belang yang senantiasa hilir mudik di dalamnya terlebih lagi ketika menjelang hari libur, apakah membawa kebahagian tersendiri bagi para pekerja seks komersial di lokalisasi ini, ”walaupun banyak keuntungan yang saya dan keluarga terima, tetapi menurut saya mana ada wanita disini yang mau terus bekerja seperti ini, uang yang saya terima saya coba sisihkan untuk ditabung buat anak yang masih sekolah dan masa depan”, kata wati menutup perbincangan yang singkat ini.