Album Rekaman Musisi Rock Indonesia Pada Dekade 1970-an

Album rekaman musik rock rata-rata mengalami kegagalan di pasaran, salah satu penyebabnya adalah perilaku konsumen musik rock Indonesia itu sendiri. Masyarakat pencinta musik rock lebih senang membeli kaset musik rock Barat daripada kaset produksi musisi rock Indonesia.

Perilaku konsumen musik rock disebabkan oleh sikap para musisi rock yang sering membawakan lagu dan meniru gaya penyanyi Barat waktu di panggung. Sebagian dari mereka tidak menyanyikan lagu-lagu karya sendiri, sehingga konsumen musik rock lebih memilih grup musik dari Barat ketika membeli kaset rock.

Seperti yang diungkapkan oleh Putu Wijaya di majalah Tempo 26 Juni 1976, dalam menyikapi album perdana yang dihasilkan oleh grup musik God Bless, ia menyatakan pertumbuhan musik rock sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari faktor lingkungan yang mendorong terciptanya musik tersebut, faktor konsumen sebagai penunjang kehidupannya, dan yang sangat penting berbagai kemajuan dalam tata suara dalam dapur rekaman yang menimbulkan temperamen warna maupun kecenderungan dalam musik. Kedua faktor yang pertama saja belum bertemu dengan baik dalam masyarakat kita, lantas bagaimana dapat dihasilkan suatu karya musik rock yang dapat disejajarkan dengan musik yang lain.

Tidak sebebas laju di jalan tol, laju jalan album rekaman musik rock tersaingi oleh sebuah grup musik yang telah malang melintang sejak dekade 1960-an, yaitu Koes Bersaudara atau Koes Plus yang mempunyai publik pendengar yang besar di Indonesia. Besarnya publik pendengar disebabkan lagu-lagu dalam album yang diciptakan oleh grup musik ini ternyata lebih banyak diterima oleh masyarakat luas dan popularitas Koes Plus telah mendominasi pasar musik rekaman dalam waktu yang cukup lama.

Mereka juga menjadi model dan kiblat bagi grup-grup musik yang hendak masuk dapur rekaman. Sebuah pameo yang berlaku pada dekade 1970-an mengatakan bahwa kalau mau popular buatlah musik seperti musik Koes Plus. Popularitas musik Koes Plus dikukuhkan oleh penobatan mereka sebagai grup musik pilihan pendengar hasil poling majalah musik Aktuil dan hasil angket yang diselenggarakan Puspen ABRI yang bekerja sama dengan RRI.

Kepopuleran Koes Plus dapat dilihat dari hasil penjualannya di Purnama Record. Purnama Record mengurutkan daftar grup musik berdasarkan hasil penjualan dan menempatkan Koes Plus pada posisi pertama diatas Mercy’s, Panbers, Bimbo, dan sebagainya. Begitu juga dengan Irama Mas Record yang menempatkan Koes Plus pada posisi puncak sebagai grup musik yang omzet penjualan di atas grup-grup lainnya.

Pada dekade 1970-an, selain musik pop Indonesia didominasi oleh grup-grup musik seperti Koes Plus, Favorite’s, Panbers, The Mercy’s, Bimbo hingga D’ Llyod, bermunculan juga beragam jenis musik pop daerah, antara lain pop Sunda, Batak, Minangkabau, Melayu, dan lagu-lagu Indonesia berirama mandarin. Berawal dari kepopuleran lagu Ling-ling di tahun 1975, sehingga menjadi wabah yang menyebabkan penyanyi atau grup lainnya ikut-ikutan merekam lagu pop Indonesia dengan irama mandarin. Mulai dari Deddy Dores, The Steps, The D’lloyd, The Relish, dan sebagainya.

Kemunculan musik pop beragam jenis itu disinyalir disebabkan oleh kelatahan dan keuntungan yang bisa didapatkan apabila produser maupun cukong rekaman merekam dan memproduksi jenis musik-musik tersebut. Salah seorang musisi Zaenal Arifin mengemukakan pendapatnya: “Omong kosong dengan lagu-lagu pop Jawa, qasidah, pop Melayu, dan lainnya. Itu semua merupakan ulah sang cukong untuk memperbanyak konsumsi rekaman dengan hanya merubah bahasanya saja karena melodinya juga cenderung berirama pop”.

Pop Melayu atau Melayu pop, dua istilah yang cukup popular dalam dunia musik dekade 1970-an meskipun pemakaian kedua istilah tersebut sering dikacaukan tetapi yang jelas lagu yang masuk dalam kategori ini sedang dalam masa jayanya dalam hal mengeruk keuntungan sehingga menjadi rebutan para cukong rekaman.

Berbeda dengan pendapat Zaenal Arifin, Mingus Tahitu berpendapat bahwa bukan hanya cukong yang harus disalahkan, sebab kondisi sosial masyarakat pun juga memungkinkan hanya lagu-lagu yang seperti itu yang harus direkam. Album rekaman musik rock juga tersaingi dengan apa yang terjadi pada tahun 1977 sampai dengan tahun 1978. Antara tahun tersebut para remaja sangat menyanjungi dan menyukai musik-musik ala Chrisye, Keenan Gypsi maupun ciptaan-ciptaan musikus muda Guruh Soekarno Putra atau yang pada waktu itu dinamakan sebagai musik pop elite. Hampir semua radio-radio swasta di penjuru tanah air memutar lagu-lagu dari Chrisye.

Kehadirannya saat itu bagaikan oase yang menyegarkan manakala musik pop telah mencapai kulminasi dengan rimbunnya lagu-lagu bertema sama dan menjamurnya grup musik epigon yang mengikuti gaya bermusik Koes Plus. Gejala pop kreatif atau pop elite, menurut Bens Leo sudah muncul sejak akhir era 1970-an. Pada saat itu diselenggarakan ajang Lomba Cipta Lagu Remaja oleh Radio Prambors. Pop kreatif aransemennya lebih rumit, Progresi chord relatif rumit, begitu juga dengan liriknya yang berbeda.

Akan tetapi ini susah untuk dirumuskan karena harus didengarkan. Pada akhir dekade 1970-an nama Guruh seakan-akan menjadi model anak-anak muda di kota-kota besar. Cap anak muda ”gedongan” seakan-akan bisa mereka lekatkan apabila mereka sudah mengindentikkan dirinya dengan model Guruh. Guruh dengan karya musiknya ingin mendobrak dominasi musik “kacang goreng” yang nampaknya menjadi salah satu alternatif buat musisi dan juga cukong rekaman.

Pada awalnya timbul keengganan para musisi rock itu untuk membuat musik pop, seperti Ahmad Albar dari God Bless yang tetap bertahan pada prinsip tidak mau ber-pop Melayu atau berdangdut, tetapi dalam perkembangannya Ahmad Albar pun menyanyikan lagu dangdut. Lagu-lagu pop Indonesia pun mulai dicandui oleh satu hits dari sebuah komplotan orkes melayu Soneta dengan Rhoma Irama sebagai vokalisnya.

Hanya dengan lewat satu hitnya yang berjudul begadang yang pop, Rhoma Irama menjadi raja dari segala lagu. Diawali dengan kesuksesan lagu begadang yang sempat menjungkirbalikkan penyanyi-penyanyi pop dan lewat tekanan ekonomi akhirnya berbondong-bondong semua berdangdut tidak terkecuali Ahmad Albar yang tadinya berkeras hendak bertahan pada aliran musiknya.

Musik dangdut yang dulu dikatakan “musik kampungan” semakin ramai dan membanjiri pasaran. Beberapa grup musik serta-merta ikut pula menerjunkan diri dalam jenis musik ini, misalnya Koes Plus, The Mercy, The Dlloyd, dan sebagainya. Ada yang dengan alasan komersial, karena sudah tidak dapat mempertahankan diri atau hanya sekedar ikut-ikutan saja.

Ahmad Albar merilis album dangdut bersama Elvi Sukaesih di tahun 1978. Ahmad Albar juga mencoba kemampuan vokalnya untuk bernyanyi dangdut dengan tampil pada film Irama Cinta bersama Elvi Sukaesih pada tahun 1979 dengan prakarsa wartawan majalah musik Junior, yang bernama Masheri Mansyur. Ahmad Albar membuat album rekaman dangdut berjudul Zakia dengan honor Rp 25 juta.

Meskipun banyak dikecam penggemar musik rock waktu itu, namun setelah album tersebut diterbitkan oleh Ramli Rukman dari Sky Records, pujian justru berdatangan. Album Zakia yang berisi sembilan lagu meledak di pasaran bahkan sampai ke Malaysia dan Singapura. Pro dan kontra mewarnai album Zakia meskipun sebelumnya Albar pernah merilis album dangdut bersama Elvi Sukaesih. Album Zakia menuai kritik dari para penggemar fanatik Albar yang melarang sang superstar untuk tidak merilis album dangdut. God Bless tidak merekam album dangdut meskipun Ahmad Albar merilis album dangdut. (Tulisan dan foto berbagai sumber)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s