Ahmad Albar mengatakan bahwa salah satu jalan untuk menggairahkan kembali animo masyarakat terhadap musik rock adalah harus sering diselenggarakan pertunjukan musik. Ahmad Albar mengelak dikatakan berbalik haluan ke irama dangdut, karena ia beranggapan bahwa ia hidup dalam negara di mana perkembangan musik berjalan musiman dan berdasarkan atas alasannya itu ia harus mengikuti perkembangan musik, kalau memang masih mau hidup dari profesi musik dan terus disukai oleh masyarakat.

Ketika God bless mengeluarkan album pertamanya Huma diatas bukit (1976), P.T Pramaqua merupakan promotor dan sponsor bagi album pertama God bless tahun 1976 yang merupakan album rock yang terjual hanya sekitar 1.500 copies. Dilihat dari segi penjualan album perdana ini memang tidak cukup menggembirakan, mengingat bahwa angka penjualan, misalnya Koes Plus jauh melampaui angka penjualan album God bless tersebut.

Grup Freedom dari Bandung membuat satu album rekaman yang berirama pop mandarin dan dua album lagu-lagu dangdut. Grup Freedom pada tahun 1975 mengerjakan album rekaman dengan satu album yang berisikan lagu-lagu ”cap-cai” atau mandarin dan satu lagi yang berisikan lagu-lagu dangdut. Alasan grup musik ini mengerjakan album dengan irama tersebut adalah untuk mengikuti selera zaman atau masyarakat. Grup ini berhasil melahirkan hits di tahun 1972 lewat lagunya yang berjudul Hancurnya Sebuah Harapan, dan Keroncong Perpisahan. The Rhytem King dari Medan merekam tujuh album keroncong dan pop Melayu. Hal ini menimbulkan protes-protes dari penggemarnya.

Pada awal dekade 1970-an, lagu rock berlirik bahasa Indonesia baru ditemukan lewat rekaman lagu dari grup musik asal Bandung yang bernama Giant Step. Sayang rekaman ini tidak bergeming di pasar, sehingga grup musik rock lainnya hanya bersedia diproduksi sebuah perusahaan rekaman jika merekam lagu-lagu yang sweat atau pop. Selain itu grup musik Ternchem dari Solo yang terkenal dengan pertunjukan ularnya di atas panggung membuat rekaman pertama pada tahun 1973, namun lagu-lagu yang diciptakannya kurang mendapat tempat di hati pendengar musik pop di negeri ini. Menurut Bambang SP (anggota Ternchem) ketidakberhasilan rekaman mereka karena lagu-lagunya masih terpengaruh oleh irama hard rock yang hanya digemari oleh kalangan tertentu.

Agar tidak mengulangi kegagalan, Ternchem melakukan rekaman kedua pada pertengahan bulan April 1974, kali ini mereka akan merekam lagu yang lebih sesuai dengan selera masyarakat. Dikatakan oleh Ternchem bahwa lagu-lagu rekamannya lebih ditekankan pada segi komersial karena bagaimanapun lagu tersebut dikonsumsikan dan disesuaikan dengan selera masyarakat luas.

Pada tahun 1976 Superkid membuat album rekaman dengan judul Trouble Maker dan tahun 1978 membuat rekaman dengan judul Desember Breaks di Nusantara Record Bandung, tetapi kedua album tersebut kurang sukses di pasaran. SAS yang kemudian juga rekaman masih menyelipkan beberapa lagu pop dengan alasan komersial. Lagu-lagu mereka yang berhasil menjadi terkenal atau hits justru bukan lagu rock, tetapi lagu pop. Grup The Fanny’s yang merupakan grup musik keras sempat melakukan dua kali rekaman. Rekaman pertama dilakukan pada tahun 1973 di Lokananta, tetapi tidak jadi diedarkan karena Lokananta tidak berani untuk berspekulasi. The Fanny’s lewat Studio Lokananta mengedarkan album rekaman pertamanya berjudul Cium Mesra. Album ini kurang mendapat sambutan di pasaran.

Salah seorang musisi vokalis dari grup musik Pramaour yang bernama Yayat mengeluhkan kondisi musik banyak dicampuri oleh cukong rekaman:“Sebetulnya saya merasa bosan dengan rekaman-rekaman grup sekarang yang monoton, semuanya hampir sama, tetapi sebagai musisi yang dalam hal ini masih dicekcoki oleh sponsornya tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima. Dan memang terus terang saja saat ini saya bersama musisi lainnya masih perlu komersial dulu yang tentu saja datangnya dari sponsor atau cukong rekaman itu. Kalau mengikuti kehendak diri sendiri maka bisa mati kutu dan dalam album rekaman keenamnya akan membawakan lagu-lagu pop melayu sesuai dengan kehendak sponsor”.

Sebagian besar rekaman grup-grup musik rock dekade 1970-an mengalami kegagalan di pasaran. Untuk mengantisipasi agar tidak terjadi lagi kegagalan, maka salah satu solusinya adalah dengan membuat atau merekam lagu-lagu keroncong atau pop di antara lagu-lagu rock dalam album mereka. Tujuannya jelas yaitu agar musiknya lebih mudah untuk diterima oleh masyarakat dan laku di pasaran. Begitu juga yang terjadi di atas panggung, dalam menghadapi ujian selera dari masyarakat yang berubah, beberapa grup musik mengubah pendirian dalam bermusik.

Fanny’s dari Semarang yang semula selalu membawakan lagu-lagu keras di atas panggung, mengubah pendiriannya dalam bermusik dengan membawakan lagu-lagu cengeng dan dangdut di atas panggung. Alasan grup musik ini membawakan lagu-lagu tersebut adalah untuk mengikuti selera masyarakat. Rhytem Kings dari Medan telah mencetak rekaman sampai dengan volume VI; Album volume I berisikan lagu-lagu keroncong, volume II berisikan lagu-lagu pop Indonesia.Volume III dan IV juga berisikan lagu-lagu pop Indonesia. Rekaman kedua Ternchem dilakukan di Remaco dan sebagian dari rekaman tersebut berisikan lagu-lagu keroncong dan lagu-lagu pop.

Beberapa musisi menjadi seorang yang bukan musisi lagi lantaran beralih profesi menjadi seorang pemain film. Misalnya Ucok Harahap dari AKA mengubah haluan artistik seninya untuk menjadi bintang film walaupun belum menjadi pameran utama, tetapi sebagai pameran pembantu dalam beberapa film. Selain itu, Ahmad Albar tampil dalam beberapa film, dan salah satu filmnya berjudul Irama Cinta dengan ratu dangdut Ely Sukaesih dan berduet membawakan lima lagu.

Ahmad Albar menjajal kemampuannya dalam berakting. Film-film yang ia bintangi antara lain, Laki-laki Pilihan (1973), Laela Majenun (1975), Semalam di Malaysia (1976), Doel Anak Modern (1976), Duo Kribo (1978), dan Cubit-cubitan (1979). God Bless juga sempat hadir dalam film Ambisi (1973), Laela Majenun (1975), dan Semalam di Malaysia (1976). Tahun 1977 Ucok AKA tampil dalam Film Ciuman Beracun. Semenjak itulah Ucok AKA banyak tampil sebagai bintang film. Film-film yang pernah dibintanginya adalah Manusia Purba, Darah Muda, Lonceng Maut, Gara Gara Gila Buntut, Tante Sun, Ratapan Anak Tiri II

Kelesuan rekaman kaset rock bisa dilihat dari bangkrutnya Tri Angkasa Studio, satu perusahaan rekaman pertama yang khusus merekam lagu-lagu rock sejak tahun 1975. Pada bulan Desember 1976 Tri Angkasa Studio sudah menghentikan kegiatannya. Tri Angkasa Studio telah merekam kelompok musik rock seperti Barong’s, God Bless, Countra Punk, ERO, Guruh Gypsy.

Menjelang akhir dekade 1970-an secara drastis musik rock “dihajar” lagu-lagu cengeng, dangdut, dan irama musik lainnnya. Hal seperti ini tidak bisa disangkal lagi sekalipun Ahmad Albar pernah mengeluh bahwa penurunan musik rock disebabkan oleh tiadanya alat-alat musik yang sanggup mendukung penampilan mereka. Musik rock di Indonesia tergantung hanya pada cukong alat musik saja. Kalau mereka sanggup membeli seperangkat alat musik mahal setaraf dengan apa yang dimiliki grup mancanegara, niscaya kehidupan musik rock tidak akan kembang kempis seperti sekarang.

Produser rekaman dalam kasus tertentu memberikan kebebasan bagi para musisinya untuk berkarya, contohnya AKA pada album-album pertamanya kental dengan unsur rock dan funk. James Brown memberikan pengaruh musikalitas yang cukup signifikan bagi grup AKA. Grup ini selalu tidak lupa menyanyikan lagu dari James Brown yang berjudul Sex Machine dalam pertunjukan musiknya. Bahkan AKA pun membuat lagu yang mirip karya Brown, seperti Shake Me dan Do What You Like

Ali Gunawan mengatakan pada dekade 1970-an produser tidak bisa mendikte pemusik sehingga karya-karya klasik bisa lahir. God bless merupakan grup hard rock ketiga yang naik kaset atau rekaman dengan konsep musiknya sendiri dalam arti merdeka, terlepas sama sekali dari giringan cukong.

Selain God bless, Giant Step mengeluarkan album kedua, ketiga dan keempat yang ketiga albumnya tersebut sama sekali tidak berkompromi dengan selera pasar yang ketika itu masih didominasi oleh lagu-lagu pop cinta remaja ala The Mercy’s, Koes Plus, dan Favorites Grup. The Rollies juga dikenal sebagai band yang tidak mau didikte oleh cukong. Tiga kali mereka rekaman tiga kali pula mereka ditolak oleh pihak rekaman karena lagu-lagu mereka ternyata kurang bisa menarik minat publik musik. Salah seorang personil Rollies, Benny mengatakan: ”Terus terang The Rollies kalah pamor dengan Koes Plus. Ketika kami diminta untuk membuat lagu seperti The Mercy’s, kami tidak sanggup. Mungkin karena kami terlalu idealis”

Rollies hanya disponsori satu album oleh produser rekaman Hayanto Gemilang karena ia merasa bahwa The Rollies tidak mau mengikuti saran yang ia berikan namun The Rollies tetap pada pendiriannya dan masih menyelipkan lagu-lagu yang berbahasa inggris. Akan tetapi dalam perkembangannya The Rollies mengambil langkah untuk lebih komersil dan mulai membuka diri dengan menyanyikan lagu-lagu karya komposer di luar tubuh The Rollies, misalnya A. Riyanto, Titiek Puspa, dan sebagainya.

Seperti halnya nama dari grup musik rock yang banyak mengambil dari nama-nama asing, beberapa dari grup musik itu juga mulai mencoba merintis membuat lagu dengan lirik menggunakan Bahasa Inggris. Kurun waktu akhir dekade 1960-an sampai dengan pertengahan dekade 1970-an adalah era suburnya lagu-lagu barat ciptaan musisi dalam negeri. Sekitar tahun 1971-1973, grup Rollies menghasilkan album rekaman yang menyertakan beberapa lagu yang menggunakan bahasa Inggris hasil ciptaan sendiri.

Grup Freedom of Rhapsodia pada pertengahan tahun 1973 juga menghasilkan album rekaman yang menyisipkan lagu-lagu barat. Seperti lagu Free Another Girls, When The Night, Was Falling, dan Don’t’ Go Away. Kelompok The Lizard memiliki album yang seluruhnya berbahasa Inggris, Super Kid dengan personilnya Deddy Stanzah bersama Gito Rollies melepas album Higher&Higher yang berisi 11 lagu berbahasa Inggris.

Begitu juga dengan God bless pada album pertama yang menyisipkan lagu barat ciptaan sendiri yang berjudul She Passed Away, AKA pada album Reflections (1971), Crazy Joe (1971), Sky Rider (1973), Cruel Side Of Suez War (1974), Mr. Bulldog (1975) , grup band SAS pada album Baby Rock (1976), Bad Shock (1976), Blue Sexy Lady (1977), Expectation (1977), Love Mover (1977). Grup Bani Adam mengeluarkan album pertama dengan empat lagu barat, di antaranya Bury Me down. Album Troublemaker dari Superkid yang dirilis pada akhir dekade 1970-an.sebagian besar dari lagu-lagu dalam album ini menggunakan bahasa inggris.

Sepertinya penciptaan lagu berbahasa Inggris terutama pada grup beraliran keras-selain berangan-angan besar juga membuktikan bahwa mereka mampu–sesuai nama grup dan kiblat musik mereka yang masih sangat ”membarat”. Hal ini nampak dalam cara memainkan beberapa melodi lagu yang serupa dengan milik supergrup dunia.

Grup-grup musik rock seperti AKA, The Fanny, Ternchem, dan grup musik panggung lainnya, identitas mereka sebagai kelompok musik hingar-bingar di panggung-panggung pertunjukan sudah jelas, tetapi identitas itu semakin kabur ketika banyak dari mereka masuk ke dalam dunia rekaman.(Tulisan dan foto dari berbagai sumber)