Aksi panggung memegang peranan yang penting bagi kesuksesan pementasan musik rock. Gaya panggung musik rock di Indonesia sudah meniru grup musik dari Barat sejak kemunculannya pada akhir dekade 1960-an. Meskipun secara musikal suatu grup musik rock tergolong berhasil dalam pementasan, tetapi apabila tidak didukung dengan aksi panggung yang memadai maka grup tersebut akan menjadi kelihatan kurang sempurna.

Aksi panggung perlu diperhatikan agar permainannya tidak kelihatan ”mati” di atas panggung. Dalam aksi panggung tersebut para musisi juga harus dapat mengisi kekosongan dengan gerakan atau gaya yang sesuai dengan musiknya. Selain itu ekspresi wajah juga harus dapat menggambarkan keadaan tema serta karakteristik lagu. Melalui aksi panggung yang ”gila” juga akan dapat menutupi kesalahan-kesalahan atau kekurangan yang terjadi dalam penyajian musiknya. Aksi sensasi di panggung merupakan salah satu hal yang penting dalam pertunjukan musik rock dan sensasi terkadang dapat mengangkat popularitas dari pemusik itu sendiri.

Sebagai sebuah bentuk seni pertunjukan, pertunjukan musik rock memiliki gaya aksi tersendiri. Kebebasan dalam bermain musik yang bercorak rock terlihat ”menabrak” batasan-batasan umum, baik musik, lagu maupun gaya pertunjukannya. Aksi panggung para musisi rock dekade 1970-an cenderung bersifat teatrikal. Jadi dalam suatu pertunjukan musik, pemusik tidak hanya menyuguhkan kepiawaian dalam bermusik saja, tetapi juga menampilkan aksi dan gaya panggung yang sejalan dengan aliran musiknya.

Aksi dan gaya pertunjukan para musisi rock Indonesia banyak terinspirasi oleh aksi dan gaya panggung para musisi Barat. Sebagian grup musik rock pada dekade 1970-an berlomba-lomba untuk tampil atraktif di atas panggung. Sebagai sumber referensi untuk gaya pertunjukan didapat melalui berbagai majalah musik terbitan Amerika atau Eropa, seperti majalah Music Express, Melody Maker, atau Pop Foto dan foto sampul PH. PH tidak sekadar menjadi acuan musikal tetapi juga menjadi inspirasi penampilan visual.

Aksi Panggung Grup Musik AKA

Gaya panggung musik rock di Indonesia sudah meniru grup musik Barat sejak kemunculannya pada akhir dekade 1960-an dan salah satu grup musik yang sering melakukan aksi “gila” dalam pertunjukan panggung musiknya adalah AKA. AKA dengan vokalisnya Ucok Harahap semenjak tahun 1969 sudah mulai memperlihatkan gaya-gaya yang sinting dan gila. Seperti yang pernah dilakukannya, ia membawakan permainan seolah-olah dirinya kesurupan dalam lagu yang berjudul Sex Machine. Ucok Harahap sering mendemonstrasikan atraksi-atraksi kesurupan dengan rela dicambuk badannya oleh algojo, menyanyi sambil berlari-lari, bermain organ sambil memanjat ke sana dan ke sini dan dimasukkan ke dalam peti mati sebagai pelengkap atraksi panggungnya.

Dalam pertunjukannya selama dua malam pada tanggal 9 dan 10 November 1973, AKA untuk pertama kalinya tampil dalam konser di TIM. Walaupun belum bisa disebut sebagai penampil musik bawah tanah yang sebenarnya, mereka memang sudah sepatutnya ditempatkan pada urutan pertama dalam deretan pemusik heavy rock and sound. Ucok AKA dalam pertunjukan di atas panggung menyambut para penonton cukup dengan sikap lengan ke atas, tanpa ada secercah senyuman di wajahnya. Komunikasinya dengan penonton tidak begitu harmonis dan Ucok hanya memperlihatkan kebolehannya saja, di samping raut mukanya yang keras dan jarang sekali tersenyum Baginya tidak perlu berbasa-basi dan itu sudah merupakan prinsip Ucok untuk mendapatkan predikat disegani.

Dalam salah satu aksi pertunjukan musiknya, Ucok beraksi sambil membawa lagu yang berjudul Sex Machine, ia seakan-akan kesurupan dan memeragakan adegan bersenggama dengan salah satu alat musiknya. Kemudian dia keluar dari panggung, memanjat tembok dan ke atas genteng. Ketika muncul lagi di pentas, ia langsung membuka baju. Membiarkan dirinya “dihajar” dua algojo, kakinya diikat dan digantung. Setelah “ditusuk” dengan pedang, ia dimasukkan ke dalam peti mati. Di panggung ia mengenakan kostum semi-ketat. Mengenai tingkahnya di atas panggung Ucok Harahap tercatat sebagai yang paling “gila”. Ia sering kali muncul dengan goyangan-goyangan seperti seseorang yang sedang bersenggema, adegan menggantung diri atau masuk ke dalam peti mati.

Grup musik AKA memang gemar menampilkan aksi-aksi Ucok Harahap yang sensasional seperti Alice Cooper. Hal ini terlihat dalam salah satu pertunjukan yang dihadiri tidak kurang 5000 penonton di Gedung Gelora Olahraga 10 November Surabaya. Aksi serupa juga diperlihatkan dalam pentas AKA di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pada tahun 1972.

Kejutan lain yang diperlihatkan oleh Ucok adalah ketika AKA bertemu Rollies di panggung Stadion Gelora 10 November pada tanggal 8 Juli 1972. Ketika Rollies membawakan lagu-lagu Gone Are The Song of Yesterday, I Had To Leave You, dan sebuah lagu dari Iron Butterfly berjudul A Gadda Da Vida, tiba-tiba seorang muncul dari kerumunan penonton menuju ke depan panggung sambil memegang tongkat. Penonton gemuruh dan bersorak karena orang itu adalah Ucok Harahap yang sengaja berada di antara penonton menyaksikan Rollies.

AKA dan Freeman tampil dalam pertunjukan di Stadion Teladan Medan pada tanggal 3 dan 9 Agustus 1974. Dalam pertunjukan ini sebenarnya tidak ada yang berbeda dari yang pernah mereka sajikan kepada penonton-penontonnya di kota lain yang pernah mereka kunjungi. Akan tetapi dalam pertunjukannya kali ini Ucok sama sekali tidak memperlihatkan gerakan-gerakan bersenggamanya, mungkin karena ia segan karena menganggap Medan adalah kampung halamannya.

Tidak semua aksi panggung yang ditampilkan musisi rock mendapatkan respon positif dari penonton. Seperti dalam pertunjukannya di Malang, Ucok Harahap lagi-lagi mendemonstrasikan aksi adegan bersenggama. Do you know sex!, tanya Ucok beberapa kali kepada penonton. Kemudian ia mengeliatkan-geliatkan tubuhnya di lantai dan di atas organ, seperti orang yang sedang melakukan perbuatan senggama. Pertunjukkannya yang dinilai jorok itu tidak mendatangkan heboh di kalangan penonton.

Begitu juga ketika mereka tampil di kota Tasikmalaya pada Juni 1972, di kota ini gaya panggung Ucok dan kawan-kawan tidak terlalu disukai oleh pecinta musik rock. Meskipun para penonton sempat meneriaki mereka, namun pertunjukan tidak berakhir dengan kerusuhan karena grup musik Rhapsodia, yang tampil sesudah mereka berhasil menjinakkan penonton dengan lagu-lagu ala Santana serta lagu-lagu lokal.

Peristiwa serupa kembali berulang ketika AKA tampil di Gedung Kridosono Yogyakarta pada Juni 1974 bersama grup Giant Step asal Bandung. Para penonton yang tidak suka melihat atraksi Ucok tidak dapat dibendung lagi. Mereka berteriak-teriak dan merusak gitar Arthur Kaunang. Ucok pun terkena lemparan kursi, dan kening Sunatha terluka parah akibat potongan kayu dan besi yang dilempar penonton. Ketiganya dirawat di RS Panti Rapih Yogyakarta.

Terkadang AKA tampil biasa saja dalam pertunjukan musiknya. Seperti saat tampil bareng dengan grup musik Ternchem asal Solo di Gelora Pancasila Surabaya pada Maret 1973. AKA membuat surprise di hadapan fans fanatiknya dengan tidak menonjolkan aksi-aksi yang eksentrik dan gila-gilaan seperti sebelumnya. Bahkan, pembawaan Ucok terlihat kaku, berbeda dari Arthur Kaunang (bass dan vokal) dan Sunatha Tanjung (leadguitar dan vokal) yang justru lincah bergaya dalam aksi panggungnya. Namun, aksi kalem Ucok ini ada latar belakangnya. Rupanya, Ucok seringkali mendapat surat teguran dari pihak berwenang dan acara tersebut dihadiri juga pejabat kepolisian setempat, namun lama kelamaan penonton merasa kecewa dengan sikap Ucok. AKA yang tampil biasa-biasa saja tanpa peti mati dan tiang gantungan diperlihatkan juga ketika mereka pentas di Taman Hiburan Rakyat Surabaya tahun 1975.

Aksi Panggung Grup Musik God Bless

Seperti grup musik AKA yang sering menggunakan peti mati dalam pertunjukan musiknya, dalam pementasannya di TIM pada tanggal 24 dan 25 Mei 1975, pada puncak acara God Bless menyuguhkan aksi tearikal dengan dua buah peti mati. Diawali dengan bunyi lonceng besar, kemudian peti itu dibuka dan dua orang pria dan wanita yang didandani seperti layaknya sepasang mayat keluar serta bernyanyi dengan lagu yang berjudul nurlela dari penyanyi Bing Slamet dengan yang suara fals untuk menimbulkan kesan horor.

Waktu itu Ahmad Albar berkibar di atas panggung dengan membawakan lagu-lagu dari grup musik Deep Purple, Led Zeppelin, Kansas, dan Yes. Dalam pertunjukan panggungnya Ahmad Albar berbeda dari Ucok AKA. Ahmad Albar dalam pertunjukannya ramah menyambut setiap lambaian setiap penonoton yang ingin sekedar bersalaman, baik itu laki-laki maupun gadis, hingga nyaris ia seorang yang familiar dengan para penontonnya.

Hampir dalam setiap pertunjukan musiknya God Bless selalu menggunakan efek gelembung dan asap di panggung. Seperti dalam pertunjukannya untuk mengenang dua tokoh musik yang telah tiada (Fuad Hasan dan Soman Lubis) God Bless memulai pertunjukan dengan suara angin disertai kepulan asap dari belakang drum serta gelembung-gelembung sabun yang beterbangan dari kipas angin yang ada di atas pentas. Penggunaan Efek asap juga dilakukan pada pertunjukan God Bless di Padang. Begitu juga dengan pertunjukan musik God Bless di Yogyakarta yang juga menggunakan efek asap dan hampir kebanyakan lagu-lagu yang dibawakan dalam pertunjukan ini tergolong lagu-lagu berirama keras.

Selain mempelopori penggunaan efek asap di atas panggung, grup musik ini juga banyak melahirkan ide-ide baru yang sederhana di atas panggung, misalnya penggunaan lonceng besar yang diletakkan di belakang perangkat drum, pohon-pohon tiruan yang dibalut dengan timah yang memberikan suatu efek halusinasi yang berbau mistik.

Aksi Panggung Grup Musik Ternchem

Bernard vokalis dari grup musik ini berekpresi seperti orang kesurupan di atas pentas musiknya. Grup Terncem dari Solo terkenal juga karena aksi panggung pertunjukannya yang mempertunjukkan ular, api, dan peti mati. Dalam satu pertunjukannya di Malang Ternchem membawakan suguhan lagu berjudul fire dari grup Deep Purple yang dibawakan dengan versi Bernard sang vokalis. Ia muncul dengan keadaan kepala terbakar. Nyala api ini terus berlangsung hingga ke akhir babak pertama yang puncak dari babak ini adalah adegan bunuh diri Bernard yang kemudian dimasukkan dalam peti mati dengan diiringan lagu dari Rolling Stone yang berjudul Coming Down Again.

Namun demikian Terncem masih menyisakan atraksi yang lebih istimewa lagi. Dalam pemunculan babak kedua yang dilalui tanpa setegang babak pertama, vokalis Bernard yang didampingi seekor ular dalam lagunya yang terakhir, sempat merogoh uang saku, dan dihamburkan lembaran-lembaran uang ratusan dan lima puluhan yang merupakan uang sisa honor mereka. Gaya pertunjukan panggung grup Terncem dikenal mengambil gaya panggung Alice Cooper, yang melengkapi penampilannya dengan atraksi bermain ular serta masuk peti mati ditutupi bendera Amerika Serikat. Aksi teatrikal grup musik ini juga dilakukan ketika mereka pentas di Palembang dan Malang tahun 1974. Onny dari Ternchem dalam suatu pertunjukannya di Semarang bernyanyi dengan berani dan eksentrik, menggambarkan orang yang sedang masturbasi, bersenggema dengan berdiri.

Pertunjukan dengan memakai ular, api, dan peti mati masih diperlihatkan Ternchem pada pertunjukan Musical Show Penutup Tahun 1972. Dalam satu pertunjukannya di gedung Gelora Pancasila Surabaya Juni 1974, Ternchem yang biasanya menyuguhkan atraksi pertunjukan panggung dengan peti mati untuk kali ini tidak bisa menampilkan atraksi tersebut karena ada gangguan teknik dari alat-alat.

Aksi Panggung Grup Musik Rock lainnya

Beberapa grup musik mengikuti jejak keeksentrikan Ucok AKA di atas panggung pertunjukan. Salah seorang diantaranya adalah Micky Mikelbach vokalis dari grup musik Bentoel Malang. Aksi Micky bahkan lebih berani dari Ucok AKA. Seperti yang diperlihatkannya ketika tampil bersama Arista Birawa, ZB 101, dan penyanyi Filipina Victor Wood di Gelora Pancasila Surabaya tanggal 18 Februari 1973. Dalam pertunjukan itu, tanpa diketahui panitia Micky mengeluarkan seekor kelinci dari sebuah tas di sudut panggung. Setelah mulutnya komat-komit membaca mantra, Micky mengelus-elus kelinci itu, dibelai dan dicium, tetapi kemudian secara tiba-tiba kelincinya itu dicekiknya, kemudian dilempar dan ditikam dengan belati yang sudah dipersiapkan ke tubuh binatang malang itu. Darah kelinci pun muncrat dan Micky pun menghirupnya dan penonton terkejut. Berharap mendapat sambutan, Micky malah menerima teriak turun dari penonton.

Ketika itu juga aliran listrik ke peralatan musik di panggung dihentikan oleh panitia dan Micky serta grup Bentoel diminta menghentikan penampilannya. Band Bentoel dari Malang yang bermain di Gelora Pancasila Surabaya telah dihentikan pertunjukan musiknya oleh keamanan, karena Mickey salah satu seorang anggotanya menampilkan pertunjukan yang menegakkan bulu roma. Perbuatan yang mengarah kepada aksi sadisme itu kemudian dikutuk banyak orang sampai akhirnya mereka harus turun panggung.

Mickey yang ketika masih bergabung dengan grup musik Bentoel biasa menampilkan aksi sadistis seperti yang tertulis di atas, maka dalam suatu pertunjukannya bersama band barunya Oegle Eyes di Taman Remaja Surabaya, ia tidak lagi menampilkan adegan menghisap darah binatang. Namun demikian dalam pertunjukannya ini ia masih mencoba mengulang kembali gaya dan tingkah yang pernah diperlihatkan sebelumnya yang telah berhasil mengorbitkan namanya, seperti gaya suaranya yang tetap keras, hoby berjongkok, main sodok stick mike serta berlengggang-lenggok, ditambah dengan demostrasi main kipas serta mengkibas-kibaskan rambut seperti halnya permainan kuda lumping.

Aksi pertunjukan teatrikal juga dilakukan oleh Guntur Simatupang dari grup musik Destroyer dan Yose Tobing dari Freeman. Yose misalnya bisa menyanyi sambil berguling atau bernyanyi sambil disalib, melompat dan berlari, dimasukkan dalam peti mati seperti yang dilakukan oleh Ucok Harahap dari AKA. Guntur Simatupang pernah bernyanyi dengan jalan digantung; dia memanjat ke atap gedung, kemudian kakinya digantung di atas atap panggung sementara kepalanya menjulur ke bawah. Selain itu ia juga pernah membawa 40 ular yang ditangkapnya sendiri ke atas panggung dan telah menjadi kebiasaan dalam pertunjukan musiknya. Ia selalu melakukan atraksi pertunjukan dengan melibatkan ular di atas panggung.

Saat itu Guntur dijuluki Alice Cooper dari Medan. Pada waktu memeriahkan Festival underground di Yogyakarta, salah seorang penyanyi Destroyer menaiki tangga sampai ke atas dan memukul lonceng yang ditaruh di atas dengan keras sekali hingga menggetarkan telinga para penonton. Destroyer juga terkadang mempertunjukkan atraksi bakar kemenyan yang diiringi oleh lagu-lagu seram semacam upacara orang-orang yang masih primitif.

Sebuah atraksi panggung yang tidak kalah menariknya adalah kiprah vokalis grup musik Rawa Rontek dari Banten. Vokalis Bacthiar Taher terkenal dalam setiap pentas pertunjukannya selalu melakukan pembauran musik dengan unsur-unsur magik dan gambus, seperti jari-jari roda sepeda yang ditusukkan pada sang vokal yang tubuhnya dirajah, dan rangkaian peniti yang ditusukkan ke pipi.

Grup musik Generation of Briliancy atau G Brill dengan vokalisnya yang bernama Tantri dalam salah satu pertunjukannya menampilkan aksi panggung seakan-akan jatuh pingsan terkena serangan penyakit jantung. Banyak penonton yang jadi kalang kabut, kebingungan sambil bertanya-tanya apakah yang telah terjadi. Tidak lama kemudian muncul seorang yang bertopeng dan melakukan demontrasi pemotongan leher sang vokalis. Musik mereka berpegang pada aliran shock rock yang mereka ciptakan sendiri, shock rock yang dimaksudkan adalah hal-hal yang merupakan kejutan bagi penonton, namun demikian musik mereka masih tetap bertolak dari musik hard rock.

Atraksi panggung dengan melakukan aksi jatuh pingsan juga dilakukan oleh Arthur Kaunang dari SAS. Pihak penyelenggara berbisik ke telinga Arthur dan pada saat itu pemain bass gitar ini tiba-tiba pingsan. Semua penonton terkejut. Arthur diangkat ke atas panggung dan untuk waktu yang tidak lama pertunjukan musik pun dilanjutkan lagi. Vokalis yang bernama Soleh dari grup musik Freedom dijuluki juga sebagai Alice Cooper, melakukan atraksi pelepasan burung dalam salah satu pertunjukannya kendatipun terhuyung-huyung membawa tempayang berisi burung sambil menjulurkan lidah.

Grup musik Fanny’s mempunyai gaya yang meyakinkan di atas panggung dan sering menyanyikan musik-musik keras, walaupun sering pula membawakan lagu-lagu cengeng dan berdangdut. Aksi panggung grup musik ini pun tidak jarang menampilkan aksi pertunjukan dengan menggunakan peti mati, suntik, makan api, kembang api, dupa, dan sebagainya yang dilakukan dengan maksud untuk menambah kekaguman publik.

Sang vokalis melakukan aksi panggung dari mengayun-ayunkan tangkai mick dan menyembur-nyemburkan api dari mulutnya sampai memakai jubah hitam bertongkat tengkorak manusia kemudian melakukan adegan bunuh diri dan terakhir digotong dimasukkan ke dalam peti mati. Aksi panggung ini dipertunjukkan dalam Jambore Band Se-Jateng di Semarang. Aksi pertunjukan teatrikal grup Fanny’ juga ditampilkan lagi ketika mereka pentas di Yogyakarta bersama grup Ambisi awal Oktober 1975.

Dalam pertunjukan musik yang melibatkan grup band Fanny’s dan Dragon di Semarang, Aksi The Fanny’s menjelang akhir dari babak satu menyuguhkan kepada penonton usungan mayat menyerupai wujud drakula yang begitu sampai di hadapan penonton, mayat tersebut bangun dan bernyanyi. Menjelang akhir lagu, satu adegan lagi sang drakula ditusuk secara mendadak dengan sebilah pisau panjang oleh Yanto. Gaya yang lain yang disuguhkan oleh Fanny’s untuk lebih menarik para penonton adalah sang penyanyi karena sadisnya dalam membawakan sebuah lagu sampai-sampai baju putih yang sudah dipersiapkan sedemikian rupa itu dirobekkan sampai lumat.

Aksi para musisi rock ternyata tidak hanya dilakukan di kota-kota besar yang notebene sering diselenggarakan pertunjukan musik. Kota Aceh yang ketika itu jarang diselenggarakan pertunjukan musik digemparkan oleh aksi pembakaran gitar dalam pertunjukan yang dilakukan oleh band lokal Al Topsy. Gitaris band tersebut sengaja menjadikan gitarnya sebagai tumbal api pada akhir acara pertunjukan.

Fenomena peniruan aksi dan gaya yang selalu berkiblat ke grup musik Barat dalam grup musik Indonesia mempunyai beberapa alasan dari para musisinya. Latar belakang penampilan AKA menyajikan segala macam gaya sensasi eksentrik menurut para anggota personilnya karena disesuaikan dengan lagu dan jiwanya. Ekpresi dan kreasi seni ada bermacam-macam dan gaya underground adalah pilihan bagi AKA Ucok Harahap melakukan aksi pertunjukan sebagaimana yang dibayangkan oleh syair-syair lagu dari grup musik Barat yang sering dibawakannya. Mickey dari band Bentoel ketika ditanya oleh aparat berwenang atas tindakannya “membunuh seekor kelinci” di atas panggung dan mengapa berbuat hal semacam itu, ia menjawab bahwa hal itu dilakukan demi pertunjukan musik ala underground.

Scahmmy Tampangoema yang menjadi setan laki-laki dalam suatu pementasan God bless bertanya kepada Ahmad Albar, mengapa memakai peti mati dan mayat!. Schammy mendapat jawaban bahwa hal itu dilakukan hanya sekedar meramaikan pertunjukan saja. God Bless ingin berekperimen dengan berbagai macam kemunculan. Selain itu alasan ia menggunakan mayat hidup yang membawakan lagu nurlela adalah sebagai semacam peringatan bagi pemusik-pemusik yang bisanya hanya “membeo” dan menerima apa adanya.

Grup Destroyer melihat justru dengan melakukan atraksi-atraksi yang aneh itu, grupnya dapat menanjak dengan pesat dan dikagumi oleh pemuda-pemudi, khususnya di Solo. Dalam soal kreasi Guntur Simatupang merasa tidak pernah puas, oleh karena itu dalam setiap pertunjukan musiknya, ia selalu berusaha membuat segala keanehan-keanehan dan melakukan aksi adegan teatrikal. Adegan bunuh diri yang dilakukan vokalis Juju dari grup The Fanny’s di atas panggung adalah adegan palsu. Menurutnya tak ada seorang artis pun yang mau dibunuh benar-benaran di atas panggung. Alasan vokalis Freemen Yose Tobing melakukan aksi-aksi teatrikal di atas panggung adalah agar grupnya itu dibicarakan oleh orang banyak dan menjadi terkenal. Setelah terkenal secara lambat laun, mereka akan memperbaiki mutu permainannnya.

Tidak semua grup musik rock menganggap perlu melakukan adegan teatrikal yang berlebihan seperti memakai tiang gantungan atau menggotong peti mati ke panggung. Grup musik itu misalnya adalah Ministrel dari Medan. Grup ini tidak melakukan aksi teatrikal di atas panggung karena bagi mereka faktor musikal lebih penting dibanding faktor non-musikal. (Tulisan dan foto dari berbagai sumber)