Pada awal dasawarsa 1940-an terdapat tiga ragam jenis musik utama dan popuiler diantaranya adalah musik keroncong, gambus, dan musik Hawaii, ditambah dengan musik semi klasik dan klasik orkestra yang disukai oleh orang Belanda dan kalangan elite bumiputera. Musik Hawaii menjadi salah satu bentuk musik hiburan sampai tahun 1955, musik itu tergusur oleh kehadiran musik rock n’ roll, padahal sampai tahun 1954 pertunjukan musik hawaii masih ramai di Indonesia. Keroncong adalah perpaduan berbagai pengaruh Barat dan timur dengan peralatan yang kebanyakan berupa instrumen dawai, adalah jenis yang melayani selera kalangan bawah dan menengah. Gambus, cikal bakal dangdut merupakam musik percampuran musik persia, arab, dan melayu untuk melayani selera musikal dari umat islam. Hawaii, musik pilihannya para kaum kelas atas. Pengaruh Amerika yang berupa Jazz, waktu itu sudah pula terasa. Tetapi seperti yang tercermin pada perkembangan selanjutnya, jazz ini mempunyai pengaruh yang kuat, walaupun secara utuh tidak pernah meluas secara sangat berarti. Semua jenis musik di Indonesia, baik tahun 1940-an sampai sekarang, dipengaruhi oleh Jazz secara jelas. Namun jazz sendiri selalu hanya milik kalangan tertentu. Karena adanya perbedaan tradisi dari negara asalnya sehingga menjadikan musik jazz sebagai jenis musik yang tidak terlalu merakyat. Masa pendudukan Jepang kebudayaan Barat yang dibawa oleh orang asing dikikis habis oleh Jepang karena Jepang memiliki misi yang mereka sebut dengan “perang suci” melawan imprealime Barat. “Perang suci” itu dilakukan dalam segala sendi kehidupan, termasuk dalam kebudayaan. Dalam masa ini musik keroncong mendapat nafas segar. Melalui lembaga kebudayaan Keimin Bunka Shidosho yang berada di bawah badan propaganda Sendenbu, Jepang berusaha menghapus unsur-unsur budaya Barat dalam kesenian asli Indonesia dan secara bersamaan mengembangkan serta memasyarakatkan kesenian asli Indonesia dan Jepang. Semua itu dilakukan dalam semangat sebagai bagian dari bangsa “Asia raya”. Keroncong yang sebelumnya telah memiliki “cap Barat” mendapat perhatian khusus. Kemudian disusul dengan periode yang penuh dengan perjuangan diwarnai oleh hadirnya para komponis Indonesia yang banyak menciptakan lagu-lagu yang bersifat patriotisme, karena terpengaruh oleh keadaan bangsa Indonesia yang sedang berjuang untuk meraih dan mempertahankan kemerdekaan,yang diantaranya adalah Ismail Marzuki, H Mutahar, A Simanjuntak, WR Supratman, Liberty Manik, dan yang lainnya. Revolusi Indonesia juga berpengaruh terhadap musik keroncong. Musik keroncong di masa revolusi fisik memunculkan jenis keroncong yang bercorak revolusi. Lagu keroncong tersebut adalah Keroncong Merdeka yang muatan liriknya secara umum merefleksikan rasa Nasionalisme. Dekade 1950-an: Radio dan Musik Hiburan Memasuki dekade 1950-an selain siaran radio RRI, radio-radio pemancar asing seperti Radio BBC London-Inggris, Radio ABC-Melbourne, Radio VOA Washington, Radio Moscow, Radio Peking-China, mulai bisa ditangkap di wilayah Indonesia. Sejak saat itu orang Indonesia secara ekstensif terserap ke dalam rebutan propaganda seni melalui musik radio dari Jakarta, Melborne, London, Washington. Musik menjadi lebih bersifat umum, langsung, terbuka. Musik yang semula hanya bisa didengar di kalangan terbatas, kemudian bisa dinikmati oleh siapa, kapan, dan di mana saja melalui radio. Periode 1950-an memperlihatkan bangkitnya musik hiburan yang mempergunakan terminologi Barat untuk jenis musik dalam periode ini. Jenis ini adalah satu diantara tiga ketegori disamping musik keroncong dan sariosa, sebagai pilihan dalam acara pemilihan bintang radio yang setiap tahun diadakan oleh Radio Republik Indonesia (RRI) sejak tahun 1951. Radio siaran pada masa itu hanya terbatas radio pemerintah yang untuk sebagian besar menyiarkan musik nasional, bersama dengan stasiun-stasiun radio angkatan udara, yang banyak didengar karena siaran lagu-lagunya Baratnya dari pirigan hitam yang acapkali merupakan kepunyaan atau koleksi pribadi para anggota Auri. Walaupun tidak berwacana politik, kegiatan Bintang Radio sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari semangat kebangsaan yang sedang tumbuh pada waktu itu. Pada 1950, tepatnya pada pidato kenegaraan 17 Agustus, Bung Karno dengan tegas memproklamasikan Republik Indonesia yang sebelumnya menjadi Republik Indonesia Serikat, kembali menjadi negara kesatuan. Karena hampir semua orang asing yang menjadi tenaga ahli meninggalkan Indonesia, muncullah dilema besar, yaitu siapa yang harus menggantikan peran mereka. Dari situ lantas lahir semangat baru dalam bentuk kredo: kemerdekaan harus diisi oleh bangsa sendiri. Di kota-kota besar, minimal di ibu kota provinsi, ada sekian orkes atau simfoni orkestra bentukan Belanda di masa lalu. Beberapa di antaranya berumur cukup tua dan terkenal. Orkes-orkes itu, karena imbas perubahan zaman, ditinggalkan begitu saja oleh sebagian besar pemainnya yang harus pulang ke negara asal mereka. Stasiun radio menjadi vakum. Tapi RRI, yang sejak lahirnya mempunyai moto ”sekali di udara tetap di udara”, harus tetap siar suara. Maka direkrutlah tenaga-tenaga baru untuk mengisi kemerdekaan di bidang penyiaran radio. Dalam hal musik, rekruitmen itu tidak hanya menyangkut orang, melainkan juga agenda programa dan visi ke depan penyiaran politik budaya (yang di zaman Orde Baru kemudian dipelintir menjadi budaya politik). RRI lantas menjadi semacam pusat pengembangan musik yang sangat ekstensif di Indonesia. Yang direkrut bukan hanya para pemain musik (instrumentalis dan vokalis), melainkan juga pemimpin orkes (dirigen), pencipta musik (komponis dan arranger), pengiring piano (corepetitor), penyusun acara, dan pelaksana agenda musik. Yang paling menentukan adalah lahirnya model pertama musik Indonesia dari terciptanya ratusan repertoar musik baru yang dimainkan melalui siaran radio. Peranan RRI dalam penciptaan bidang kreasi musik populer di Indonesia cukup krusial, karena penyelenggaraan sayembara untuk memenangkan “Bintang Radio” menyebabkan timbulnya komposisi-komposisi baru dalam bidang vokal, baik dalam jenis sariosa, hiburan maupun keroncong. Bintang Radio tingkat daerah, provinsi, dan pusat, serta dibukanya perusahaan studio rekaman milik pemerintah Lokananta, dan beberapa perusahaan swasta di Jakarta (Irama, Musika) di awal dekade 1950-an, yang hasilnya produksinya disiarkan melalui berbagai stasiun radio pemerintah RRI pusat maupun daerah, adalah koridor penyebarluasan musik massa yang pertama di Indonesia. Bersamaan dengan itu musik juga mulai “dijual” kepada publik secara umum dalam bentuk pertunjukan langsung di tempat-tempat terbuka. Para biduan Barat seperti Bing Crosby, Perry Como, Doris Day, dan yang lainnya menjadi populer di Indonesia pada masa itu. Tahun 1955 masuklah film Rock Around The Clock yang dibintangi oleh Bill Halley and The Comet yang membongkar telinga para remaja dan diikuti dengan hadirnya penyanyi bekas supir truk Elvis Presley. Wabah ini benar-benar menggila karena baik musik atau pun gerakannya keluar dari pakem yang ada. Bob Tutopuli seseorang yang pernah merasakan masa kejayaan musik rock n roll, seperti yang penulis lansir dalam majalah dekade 1980-an mengatakan itu merupakan sebuah revolusi. Rock n roll terus mengelinding, rambut disisir mengkilat dengan pomade Japarco dengan jambul menngunung ke depan meniru gaya elvis presley. Infiltrasi musik Barat adalah perkembangan-perkembangan yang tercermin pula dalam musik populer Indonesia pada masa itu. Radio telah menjadi penyambung lidah dunia begitulah kalimat yang terdapat dalam bukunya Suka Harjana. Nama-nama seperti: Bing Slamet, Norma Sanger, Prana Djaya, Samsaimun, Titik Puspa, Ping Astono, dan sebagainya adalah ikon-ikon musik radio yang membentuk generasi pertama budaya musik popular Indonesia. Bintang Radio dekade 1950-an merupakan periode asal mula lahirnya lagu-lagu, teknik, dan gaya bernyanyi musik popular Indonesia. Kecuali musik keroncong, lagu-lagu Bintang Radio banyak mengambil hikmah dari musik-musik popular dari Amerika dan Eropa. Akan tetapi adaptasi pengaruh itu berhasil diolah menjadi gaya khas sendiri yang berbeda dengan sumber aslinya. Salah satu bintang top pada masa itu adalah Djuwita yang membawakan lagu ciptaan Maroeti “indahnya alam” dan Nur Ain yang membawakan “Burung Nuri” karya A Chalik yang diiringi oleh Orkes Melayu Bukit Siguntang, pimpinan Chalik sendiri. Pada paruh kedua dasawarsa 1950-an, irama cha-cha juga mulai mengkhalayak. Di saat yang sama juga muncul pula irama yang sama dalam bahasa Indonesia melalui lagu ciptaan Adikarso, Papaya Cha cha cha. Dalam buku ensikopedi musik Indonesia dikatakan lagu ini mulai suatu corak lagu yang sebetulnya pas untuk anak-anak, tetapi menjadi bagian dari orang dewasa karena iramanya yang diambil alih dari dansa yang tengah populer di Amerika, melalui Xavier Cugat, Perez Prado, termasuk juga penyanyi Harry Belafonte dan Nat king Cole. Irama latin juga menyeruak ke permukaan pada dekade 1950-an dengan pelakunya yang bernama Asbon majud pemimpin Orkes Gumarang. Dengan maksud memberikan alternatif opilihan lain dari sariosa, keroncong dan hiburan, Asbon memasuki unsur-unsur musik latin yang pada saat itu juga sedang digemari. Orkes Musik dekade 1950-an Bagaimana dengan kiprah orkes musik atau grup musik pada masa itu, Tahun 1958 Mus DS merekam suaranya lewat lagu Bengawan Solo semakin populer dengan gaya menyanyi seperti Elvis Presley dengan diiringi musik bernada rock’ n roll. Grup Taruna Ria, Zaenal Combo oleh Zaenal Arifin bersama Nuskan Syarif pemimpin grup Kumbang Yjari disinyalir merupakan pemusik-pemusik pertama yang memasukkan unsur rock n’ roll dalam industri rekaman Indonesia yang piringan hitamnya diproduksi oleh perusahaan rekaman Irama. Ketiga orkes ini memasukkan irama rock n roll pada lagu-lagu minang dan non-minang seperti Kampung nan Jauh di Mato, Tirtonadi, dan Bengawan Solo Orkes Musik Gumarang terbentuk dari sekumpulan anak-anak muda asal Sumatera Barat pada akhir tahun 1953-awal 1954, seperti alidir, Anwar anif, Dhira Suhud, Syaiful Nawas, dan lainna.. Pembentukan orkes musik ini bertujuan untuk meneruskan kipah orkes Penghibur Hati yang memainkan irama musik minang. Pada awalnya yang dibicarakan adalah bagaimana konsep musik yang akan dibawakan untuk lagu-lagu minang yang sudah dipopulerkan oleh Penghibur Hati melalui RRI. Pengaruh irama latin yang sedang digemari tak mampu mereka tepis. Oleh sebab itu itulah musik latin tersebut menjadi unsur baru dalam aramsemen musik Gumarang. RRI juga memegang andil dalam mengangkat orkes ini menjadi terkenal karena grup ini sering tampil di RRI. Asbon pimpinan orkes ini semenjak tahun 1955, mengusulkan agar orkes ini tidak hanya tampil di muka corong saja, tetapi harus menunjukkan eksistensinya di muka umum. Setelah tampil di hadapan publik, orkes ini merampas hati masyarakat. Sukses Gumarang merebut hati masyarakat menyebabkan orkes ini tampil kemudian di tempat-tempat lainnya seperti Istana Negara, Istora Senayan, dan Gedung Kesenian. Orkes ini membuat sejumlah lagu Minang seperti Laruik Sanyo, Ayem Den Lepeh, dan Tari Payung yang akrab bukan hanya di telinga masyarakat Minang tetapi di telinga masyarakat. Orkes Irama Nada dengan vokalisnya yang bernama Munif Bahasuan, orkes pimpinan jack lesmana ini sering muncul di lantai dansa di Wisma Nusantara pada dekade 1950-an. Ada pula Orkes musik Panca Nada pimpinan Zainuddin Bahar. Kenangan bersanma orkesnya ini ada kaitannya dengan nama-nama para anggotanya seperti, Paul Hutabarat, Amir Saragih, Jusuf Kartolo, adikarso, dan yang lainnya. Pengaruh Barat yang kian terasa terhadap kebudayan Indonesia membangkitkan perhatian penguasa dan karena itu pada akhir dekade 1950-an radio pemerintah dilarang memutar rekaman musik rock n’ roll, kemudian film Barat yang pada akhir dekade itu juga dilarang. Tahun 1959 Presiden Soekarno dalam pidato 17 Agustus yang erat kaitannya dengan ManipolUsdek secara terang-terangan mengutuk musik Barat yang dianggapnya bersifat dekaden. Realisasi berupa tindakan pelarangan baru benar-benar terasa pada dekade 1960-an dan perkembangan musik Indonesia pun memasuki babakan yang baru. (Tulisan dan foto dari berbagai sumber)