Catatan Kata Kelana

Musik dan Musisi Rock di Indonesia Pada Dekade 1970-an

Musik rock pada dekade 1970-an tidak terpisahkan dari fenomena munculnya band-band anak muda yang tumbuh pada mada Orde Lama yang banyak membawakan musik rock dari mancanegara, walaupun sebelum pertengahan tahun 1960-an musik ini sempat dilarang oleh Presiden Soekarno karena dianggap musik yang tidak berbudaya Indonesia, sehingga semua yang berbau rock‘n roll harus dihentikan. Akan tetapi setelah Bung Karno tidak lagi menjabat sebagai presiden muncul kembali band-band yang meniru grup musik rock dari luar negeri.

Sesudah dekade 1960-an, bidang kreasi di Indonesia sedikit demi sedikit beralih ke bidang penciptaan musik yang lebih condong ke sifat komersial. Masuknya musik Barat yang disebut “kultur Kosmopolitan” merupakan sebab utama. Ciptaan musik yang bernafas pendek, dari yang sentimental “cengeng”, sampai kepada yang “panas bergelora” dan “tenggelam dalam suasana”, menguasai jiwa anak muda serta dunia penciptaannya.

Pada dekade 1970-an berkembang jenis-jenis aliran musik rock karena pengaruh dari perkembangan teknologi elektronik musik yang menjanjikan peluang bagi para musisi rock untuk mengeksplorasi suara dari instrumen yang dipakainya dalam rangka proses kreatif bermusiknya, aliran-aliran tersebut diantaranya: heavy metal, jazz atau brass rock, punk rock, art atau progressif rock, dan sebagainya
.
Sebagaimana di pelosok dunia lainnya, dekade 1970-an di Indonesia musik rock menjadi bagian penting dari budaya remaja dan musik rock ini menjadi perhatian dari kaum remaja. Wabah musik ini hadir di Indonesia tidak lewat pergaulan langsung antara manusia, dan sempat menjadi fenomena, terutama di kota-kota besar sekalipun tidak semua, melainkan hadir melalui perantara yang sudah dikemas dalam industri rekaman.
Pada masa itu banyak remaja didanai (yang memiliki cukup uang) untuk membeli peralatan musik dan mulai membentuk sebuah grup musik.

Grup musik itu tampil di panggung dengan membawakan lagu-lagu populer yang sering mereka dengarkan, terutama dari kategori lagu-lagu hard rock dari rekaman yang saat itu mudah didengarkan di radio. Pertunjukan musik semakin mendatangkan keuntungan dan para musisi beraliran keras mengalami masa panen. Di mana-mana pertunjukan mereka dibanjiri oleh penonton dan mengundang histeria massa, pertunjukan musik rock mendapatkan sambutan gegap-gempita. Sejak kehadiran musik rock di percaturan musik pop negeri ini, panggunglah yang merupakan arena yang paling berhasil memasyarakatkan musik ini, di samping radio dan majalah.

Scene kota-kota besar Indonesia

Pada dekade 1970-an nyaris di setiap kota besar memiliki grup-grup musiknya sendiri. Kota Jakarta sebagai ibukota negara banyak melahirkan grup-grup musik antara lain, Gypsy, Bigman Robinson, Fancy, Ireka, Rhadows Rasela, Hookerman, Equator Child dan God Bless. Selain pentas di pesta-pesta rumahan, mereka juga tampil di beberapa tempat seperti Mini Disco, Taman Ria Monas, dan Taman Ismail Marzuki. Namun demikian kota Jakarta sering tidak dianggap sebagai barometer perkembangan musik populer di Indonesia, kecuali dalam urusan industri produk rekaman. Apabila diandaikan, kota Jakarta tidak lebih dari sekedar pasar, bukan pemasok musisi seperti halnya kota Bandung.

Grup-grup musik di kota Bandung pada saat itu banyak bermunculan misalnya Savoy Rhythm, Provist (Progressive Student), Diablo Band, The Players, Happiness, Thippiest, Comets, DD (Djogo Dolok), Jack C’llons, C’Blues, Memphis (yang kemudian menjadi Man Face), Delimas, Rhapsodia, Batu Karang, Red&White, Topics&Company, The Rollies, Gang of Philosophy Harry Roesli, Bani Adam, G-bril, Giant Step, Paramour, dan Finishing Touch.

Kaum hawa pun tidak mau ketinggalan atau ingin mengikuti jejak Dara Puspita dari Jakarta. Misalnya, Miscellina yang selalu tampil dengan gaya hippies, Dara Shinta, Moderato, The Mad, One Dee & Lady Faces, dan masih banyak lagi. Dari sekian banyak band yang melebur menjadi satu grup dan berhasil, misalnya The Rollies. Grup musik ini menjadi grup pembuka pada konser Bee Gees tanggal 2 April 1972 di Istora Senayan dan Shocking Blue tanggal 23 Juli 1972 di Taman Ria Monas.

Ada juga band Paramour yang didirikan pada tahun 1965 yang pernah beranggotakan gitaris The Rollies, Bonnie. Bersama beberapa personel lain, mereka membentuk Topic & Co. Grup yang awalnya banyak membawakan lagu-lagu heavy ini cukup dikenal di masyarakat, terutama karena aksi pimpinannya, Jajat, yang melakukan gerakan pencak silat di atas panggung. Seperti juga yang lainnya, setelah sukses dalam pembuatan album, ada personel yang melanjutkan solo karier sehingga akhirnya band ini bubar.

Letak geografis yang berdekatan dengan Jakarta menjadikan Bandung sebagai kota pertama yang menerima informasi setiap perkembangan baru yang terjadi di Jakarta, sekaligus juga memberikan pengaruh terhadap perkembangan musik di Bandung. Akan tetapi Bandung sesungguhnya juga diuntungkan oleh suasana kulturalnya yang berbeda dari Jakarta. Suasananya masih memberi tempat pada keakraban, yang mau tidak mau membangun kondisi kreatif para musisinya. Suasana kultural di kota Bandung juga tidak bisa dilepaskan dari kenyataan bahwa Bandung memiliki sejarah yang tidak bisa dipisahkan dari kenyataannya sebagai kota kosmopolitan, kota tempat berbagai budaya diterima kehadirannya yang berpengaruh ke dalam sikap berkesenian yang serba egaliter.

Kota Semarang dan Solo dekade 1970-an merupakan masa hingar bingarnya musik rock di Jawa Tengah. Sebelum memasuki dekade 1970-an terbentuknya band-band di Semarang pada zaman Orde Lama biasanya bermula dari band sekolah. Mereka atau band sekolah ini hanya bersandar pada pendengaran musik di radio-radio siaran saja, misalnya RRI, VOA, dan radio Australia.

Memasuki dekade 1970-an musik di Semarang dilanda trend musik rock ala Deep Purple, Led Zeppelin, dan sebagainya. Ada tiga nama grup musik yang cukup disegani keberadaannya yaitu, Mama Clan’s, Dragon, dan Fanny’s. Mama Clan’s tidak hanya berkiprah di kota asalnya, tetapi juga mampu menaklukkan penonton di kota Kembang Bandung yang dikenal sebagai gudangnya grup-grup musik rock pada dekade 1970-an. Mama Clan bahkan juga mampu menawan hati publik Jakarta dengan manggung di Taman Ria Monas tanggal 20 Oktober 1973.

Grup dari Semarang lainnya bernama Spider, tetapi entah kenapa bernama Voodoo Child ketika ikut perhelatan musik “Pesta Kemarau 75” di Bandung. Satu kelebihan yang dimiliki oleh kota ini, yakni ada cukong yang berani mencukongi dan menyediakan alat-alat musik. Keadaan justru berbeda apabila dibandingkan dalam konteks perkembangan musik rock di Yogyakarta, di kota ini walaupun banyak melahirkan grup musik keras, tetapi gersang dengan cukong dan alat sehingga perlu meminjam alat antara band yang satu dengan yang lain atau meminjam alat di persewaan band. Yogyakarta belum mempunyai promotor yang kuat selain susahnya mendapat fasilitas. Dengan demikian alat-alat band yang dipergunakan oleh band dari Yogyakarta itu masih banyak yang mempergunakan sistem sewa alat.

Kota Solo dijuluki sebagai kota ketiga di Indonesia sesudah Bandung dan Jakarta yang berhasil melahirkan penyanyi dan grup-grup musik dari berbagai macam aliran musik. Untuk grup musik dijumpai sederet nama yang patut dikedepankan, misalnya Yap Brothers, Tercnhem, Ayodhia, Scorless, dan Fair Stone. Dari sekian nama tersebut ada beberapa yang berhasil melambung ke tangga yang lebih atas, namun ada pula yang terlanjur “mati”. Setelah Yap Brothers hijrah ke Jakarta, Tercnhem, Ayodhia sekarat, dan Scorless bubar.

Kota Malang hanya sedikit grup musik yang eksis pada waktu itu, grup musik itu antara lain: Irama Abadi, Bentoel, dan Opet. Ada lagi Zodiak, Panca Nada, Arulan, dan Swita Iram. Hampir semua grup itu adalah grup musik perusahaan atau grup yang dibentuk dan didanai oleh instansi atau lembaga tertentu. Sama seperti di Semarang terbentuknya grup-grup musik di Malang pada zaman Orde Lama biasanya bermula dari band sekolah.

Tidak seperti di Jakarta, atau Surabaya banyak anak-anak muda Malang ingin bermain band, namun tidak mempunyai alat-alat musik yang cukup karena harganya mahal. Akhirnya grup band bisa terbentuk dan manggung setelah didanai oleh suatu perusahaan besar. Nama-nama band yang muncul pun mengikuti nama perusahaan sponsor, seperti band Bentoel. Kota Malang pernah dianggap sebagai barometer musik rock di Jawa Timur, bahkan di Indonesia. Mayoritas warga Malang pada dekade 1970 menggemari musik rock, seperti Deep Purple dan Rolling Stone. Pernah ada suatu angket yang dibuat radio-radio amatir waktu itu dan memang kebanyakan kaum muda di kota Malang menggemari musik rock.

Pada tahun 1964 irama musik rock mulai menggeliat di kota Surabaya ketika salah satu serial film James Bond yang berjudul From Russia with Love yang soundtrack-nya berjudul sama dibawakan penyanyi bersuara lembut Matt Monro digemari di Indonesia. Sebagai kota pelabuhan yang pernah menjadi markas Angkatan Laut Belanda, Inggris, dan Indonesia, berbagai tempat hiburan bertebaran di Surabaya, termasuk kehidupan musik yang merata di bar dan diskotek, seperti Seaside, Poras, Tegalsari, dan Mirasa. Di sinilah irama musik rock mulai terdengar di antara lagu-lagu berirama chacha atau tango yang dibawakan oleh berbagai grup musik. Antara takut dan berani, mereka sekali-kali berjingkrak dengan rock’n roll-nya Elvis Presley atau The Beatles.

Didi Pattirani adalah pengusung rock ‘n roll yang sukses pada pertengahan dekade 1960-an, ketika pementasannya di kota Surabaya, Semarang, Yogyakarta, dan Solo memperoleh sambutan luar biasa dari kalangan remaja. Padahal, rock ‘n roll sudah diproklamasikan 10 tahun sebelumnya di Amerika, melalui Good Rockin’ To Night (Roy Brown), Rock All Night Long (The Rives), serta Rock Around The Clock (Bill Haley & His Comet).

Hampir semua pemusik asal Surabaya pernah memainkan musik rock. Grup musik AKA merupakan grup yang lahir dari kota ini dan dianggap sebagai pelopor musik underground di Indonesia. Grup AKA juga mengusung aksi-aksi panggung yang tidak lazim dipertunjukan ketika itu, karena menampilkan aksi peti mati dan tiang gantungan. Grup dan pemusik lainnya yang terbentuk di kota yang sama, meliputi Oorzaak, Yeah Yeah Boys, Lemon Tree’s, D’Hand, Gembels, dan Rock Trikel

Kejayaan musik di Medan ditandai dengan tiga grup yang bersaing di atas panggung pertunjukan, yaitu Rhytem King, Minstreal, The Great Session, dan Destroyer, dan tentu masih banyak musisi rock lainnya seperti Freemen, The Foxus, Amateur, The Rag Time, Six Men, Grave Men, Copa Tone, Bhineka Nada, dan Black Spades.

Pada waktu itu kota Medan dapat dikatakan menjadi barometer bagi grup musik dan penyanyi baik dari luar maupun Medan sendiri. Mereka yang berhasil menaklukan penonton kota Medan berarti dengan mudah menjinakkan penonton di tempat lainnya. Penonton Medan cukup adil karena penyanyi atau grup Medan juga tetap diperlakukan sama. Artinya jika penampilan mereka tidak memuaskan, mereka tetap dihukum dengan teriakkan “turun” atau bahkan lemparan berbagai benda ke arah panggung. Sebenarnya penonton yang dikenal kritis terdapat di sekitar Medan, seperti Pematang Siantar, Binjai, Tanjung Balai, dan Tebing Tinggi. Nommensen Hall di Pematang Siantar yang mampu menampung 4000 penonton selalu menjadi pilihan baik grup maupun penyanyi dari dalam dan luar kota Medan.

Repertoar Musikal Grup Musik Rock

Tidak semua grup-grup musik di atas membawakan lagu-lagu beirama rock dalam pertunjukan musiknya. Tercatat AKA dalam pementasan panggungnya sering membawakan lagu-lagu yang up to date, seperti lagu dari grup musik Blind Faith, Led Zeppelin, Deep Purple, James Brown, dan Black Sabbath. Selain membawakan lagu-lagu dari grup-grup musik Barat, AKA dapat pula membawakan lagu-lagu Indonesia populer, terutama lagu-lagu berlangggam Jawa. AKA perlu memainkan lagu-lagu dari kelompok musik luar negeri karena grup-grup musik itu sangat digemari di Indonesia.

God Bless banyak memainkan lagu-lagu dari grup musik Kansas, Deep Purple, Yes, dan James Gang dalam setiap pertunjukannya.The Rollies selalu membawakan lagu-lagu dari grup musik Chicago. Grup musik Ternchem sering tampil di pertunjukan musik dengan lagu-lagu dari James Brown dan Deep Purple. Destroyer dari kota Solo selain membawakan lagu ciptaan mereka sendiri, grup musik ini juga sering membawakan lagu-lagu dari Black Sabbath dan Led Zeppelin.

Grup musik yang berasal dari Medan banyak membawakan lagu-lagu dari Uriah Heep, Deep Purple, dan The Beatles, serta lagu Melayu. Great Session sering membawakan lagu-lagu dari band Uriah Heep, Deep Purple, dan The Beatles, serta membawakan juga lagu-lagu berirama Melayu. Rhythm King mengandalkan lagu-lagu hard rock dalam pertunjukan musiknya, Minstrel’s membawakan lagu-lagu hard rock dari Grand Funk Railroad, Rolling Stone, Deep

Purple, Black Sabbath, dan The Beatles. Equator Child grup musik rock dari Jakarta sering membawakan lagu dari Deep Purple, Grand Funk Railroad, dan lagu-lagu ciptaannya banyak terpengaruhi oleh grup musik Uriah Heep, Freedom grup musik keras dari Bandung sering membawakan lagu-lagu dari grup Deep Purple, Queen, dan Styx. The Rollies banyak membawakan lagu-lagu dari The Beatles, Hollies, Blood Sweet and Tears dan Chicago di atas panggung pertunjukan. Banyak dari grup-grup musik diatas lebih mudah untuk membawakan lagu milik musisi Barat dibandingkan membuat lagu sendiri karena masyarakat memang sudah mengetahui lagu-lagu dari grup-grup barat tersebut.

Para grup musik memperoleh repertoar dan referensi musiknya dari pelat-pelat atau piringan hitam. Pelat maupun piringan hitam biasanya dibawa sebagai oleh-oleh dari luar negeri. Namun tidak sedikit juga yang membeli di kompleks pertokoan, seperti di Jakarta piringan hitam itu dapat diperoleh di sekitar pertokoan Pasar Baru. Grup musik rock luar negeri yang cukup berpengaruh di Indonesia pada dekade 1970-an, antara lain The Beatles, Rolling Stones, Led Zeppelin, Black Sabbath, Grand Funk Railroad, Emerson Lake Palmer, dan Deep Purple. Deep Purple sangat digandrungi publik musik rock Indonesia pada masa itu. Lagu-lagu Deep Purple seakan-akan sudah menjadi semacam “lagu wajib” dalam pentas grup-grup musik rock Indonesia dekade 1970-an. Deep Purple mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap dunia permusikan di bumi nusantara dan dapat dikatakan sebagian besar grup musik rock Indonesia pada masa itu sangat dipengaruhi aliran musik dari Deep Purple.

Gejala peniruan yang menunjukkan bahwa banyaknya grup-grup di atas sering membawakan lagu-lagu dari grup musik Barat mirip dengan peniruan yang sebelumnya dilakukan oleh grup musik yang muncul pada dekade tahun 1960-an. Suatu grup musik muncul dengan memainkan lagu-lagu Barat yang sedang digemari. Bagi para pemusik rock Indonesia, grup-grup musik rock asal Inggris dan Amerika itu menjadi semacam teladan. Mereka berusaha mengidentifikasi diri mereka dengan meniru pemusik dunia itu. Peniruan itu bukan hanya sebatas memainkan lagu mereka tetapi juga atribut yang dipakainya.

Giant Step dari Bandung adalah satu-satunya grup musik rock yang pada masa itu paling tidak suka membawakan lagu-lagu karya dari orang lain. Dengan kata lain Giant Step merupakan grup musik rock yang berani melawan arus ketika grup-grup musik rock pribumi lainnya gemar membawakan lagu-lagu dari The Beatles, Led Zeppelin, Deep Purple, dan Grand Funk Railroad. Giant step justru lebih bangga membawakan lagu-lagu karya ciptaan mereka sendiri.

Perihal Nama grup Musik

Nama-nama grup musik rock Indonesia dekade 1970-an rata-rata menggunakan bahasa Inggris karena penggunaan bahasa Indonesia untuk nama grup musik rock di negeri ini dianggap kurang lazim dan sering dianggap “kampungan”. Para pemusik lebih sering memberi nama grupnya dengan bahasa dari asal-usul musik rock yang berbahasa Inggris. Mereka beranggapan dengan nama “cas-cis-cus” itu untuk nama grup musiknya akan terkesan lebih garang dan mentereng. Kecenderungan memakai nama Bahasa Indonesia hanya ada pada masa lalu, terutama pada periode tahun 1950-hingga awal 1970-an, seperti grup Panca Nada, Irama Nada, hingga generasi Koes Bersaudara.

Pada saat Orde Lama tumbang dimana arus budaya pop (kebudayaan massa yang bersifat pluralistik) kian deras masuk Indonesia, bidang musik rock memberi pengaruh pada kalangan muda. Secara serentak tanpa ada yang mengkomandani mereka khususnya pemusik rock Indonesia, ikut meniru gaya musisi Barat dengan menghidupkan musik hingar-bingar. Kalangan pemuda Indonesia ini juga memberi nama grupnya dengan bahasa keinggris-inggrisan, seperti grup musik rock yang lahir pada dekade 1970-an di kawasan pulau Jawa, maupun di luar pulau Jawa.

Dalam blantika musik Indonesia, khususnya untuk nama grup biasanya dianggap penting, karena mempunyai arti simbolis serta sekaligus dapat mencerminkan jenis musik yang dimainkan. Selain itu, nama biasanya menandakan grup musik itu dilahirkan pada periode tertentu. Dekade 1970-an sedang gencar-gencarnya muncul gelombang musik hard rock, maka grup-grup musik hard rock bermunculan di Indonesia dengan nama yang tidak meng-Indonesia lagi sesuai trend yang ada di Barat.

Sumber Dana Grup-grup Musik Rock

Pembentukan dan keberlangsungan suatu grup musik tidak terlepas dari adanya sumber keuangan sebagai dana operasional dalam bermusik. Dana itu selain berasal dari musisi band itu sendiri, juga berasal dari seseorang yang tertarik terhadap musik atau mendapat dukungan dana dari perusahaan swasta dan negara. Mereka itu adalah para donatur atau cukong bagi grup-grup musik untuk terus melangsungkan kegiatan bermusik. Sokongan dana diberikan juga mengingat bahwa para pemusik ini ada yang bersekolah, kuliah, atau pun merangkap kerja di tempat lain.

Sebagian besar band-band, baik itu band-band yang sering menyanyikan lagu-lagu keras atau band yang menyanyikan lagu-lagu lembut pada dekade 1970-an adalah milik perusahaan, lembaga pemerintahan atau non pemerintah atau dicukongi oleh seseorang yang mempunyai modal dan fasilitas alat-alat musik. Tercatat The Tankers adalah band yang dimiliki oleh Pertamina, Dara Kartika band wanita milik Kodam II Bukit Barisan, T Ram Band milik Perusahaan Air Minum, Kartika Sapta milik Kodam VII Diponegoro, Nada Jaya sebuah Grup band beraliran sweet sound berdiri di bawah naungan Pom ABRI, The Irti’s kelompok band yang disponsori oleh perusahaan Inter Recreation, dan sebagainya.

Sejak awal dekade 1970-an grup musik mulai untuk dibisniskan, banyak cukong yang membeli peralatan grup lalu mendirikan grup musik dan mengusahakannya sebagai salah satu sumber penghasilannya. Bagi para pemusik di awal dekade 1970-an keberadaan penyandang dana berpengaruh besar terhadap permainan musik dan kualitas dari suatu grup. Keberadaan penyandang dana bagi grup-grup musik sangat bermakna bagi kelangsungan hidup suatu grup. Seringkali terdapat grup musik yang berkualitas baik, tetapi tidak dapat bertahan di dunia musik rock karena tidak mempunyai penyandang dana yang kuat. Contohnya adalah grup musik Bentoel yang pada dekade 1970-an sempat ditinggal beberapa waktu oleh sponsor utamanya Pabrik rokok Bentoel, tanpa adanya sponsor tersebut maka kegiatan grup ini pun paktis terhenti.

AKA ketika terbentuk pada tanggal 23 Mei 1967 mendapat dukungan penuh dari orang tua Ucok. Oleh karena itulah usaha leluarga berupa sebuah apotek yang bernama Apotek Kali Asin di Surabaya menjadi sponsor utama AKA. Band Bentoel dari Malang mendapat bantuan dana dari perusahaan rokok Bentoel. Begitu juga dengan band Ogle Eyes adalah grup band milik perusahaan rokok Oepet. Band Destroyer dari Medan didanai oleh Pemerintah Daerah Sumatera Utara, Grup Dragon dari Semarang didanai oleh seorang pengusaha yang bernama Agus Susanto yang senang dengan musik dan membeli peralatan musik.

God bless didanai oleh Akuang atau Hendra Kusnadi, seorang pengusaha dari Jakarta yang bergerak di bidang penyewaan alat-alat musik. Akuang menyediakan tempat dan biaya latihan, serta mengurus pertunjukan God Bless. Rollies mendapatkan dana dari orang tua salah seorang personilnya yang seorang pengusaha. Ia menyediakan semua peralatan musik yang diperlukan Rollies. Sementara itu Great Session dicukongi oleh Teruna Said. Band Spider dari Semarang diasuh oleh seseorang yang bernama Widodo yang berasal dari Kodam, dan sebagainya.

Citra lain yang melekat pada musik rock dekade 1970-an adalah identiknya musik rock itu dengan narkotika. Perkembangan musik rock saat itu diwarnai nuansa psychedelic, gerakan menikmati musik rock sambil menyuntik obat terlarang. “Konon, musik rock lebih dapat diresapi dan dinikmati jika sambil nyuntik narkotik,” kata Remy Sylado.

Dunia musik apalagi kalau yang dianutnya adalah musik yang beraliran keras, selalu dikaitkan dengan obat-obatan terlarang. Banyak pemusik rock Indonesia yang terjerumus dalam lingkaran setan napza (narkotik dan zat terlarang), seperti musisi dari grup musik The Rollies, yaitu Iwan dan Gito Rollies, Yongki dari God Bless. Akan tetapi tidak semua anggota God Bless memakai obat-obatan terlarang, seperti yang dituturkan oleh Ahmad Albar dalam majalah Midi: ”Kami tidak pernah melakukannya, bahkan para fans kami seringkali minta kami membagi ”boat” untuk mereka, dianggapnya kami anak-anak yang suka gituan”.

Ahmad Albar tidak sampai kecanduan obat bius semacam morfin atau ganja, namun di God bless ada seseorang yang kecanduan. Tempo, 27 September 1975. Boat atau bowat adalah sebutan yang lazim digunakan untuk menyebut narkotika pada dekade 70-an. Ukuran pemakaiannya antara lain dibagi dalam ukuran cekak dan mata. Sementara melakukannya sampai keadaan tubuh melayang atau disebut nyetun.

Kiprah Para Rocker Wanita

Dunia musik rock Indonesia dekade 1970-an tidak selamanya dikuasai oleh kaum adam, kaum hawa pun ikut ambil bagian dalam gemuruh suara dan gerakan garang di atas panggung pertunjukan. Setelah Dara Puspita bermunculan sejumlah penyanyi rock dan grup musik perempuan; diawali dengan kehadiran Sylvia Saartje di saat terjadi booming kemunculan grup-grup musik rock di kota-kota besar seperti AKA di Surabaya, God Bless di Jakarta, Giant Step dan Rollies di Bandung. Sylvia Sartje tercatat sebagai satu-satunya artis wanita yang berjingkrak-jingkrak sambil meneriakkan lagu-lagu rock. Saat itu ia dianggap tepat untuk melantunkan repertoar milik grup musik Led Zeppelin.

Sebagai seorang rocker, perempuan menjadi tidak lagi lembut. Paha yang mestinya terkesan empuk menjadi keras dengan balutan sepatu lars kulit berhias paku jamur atau pernak-pernik lainnya. Lengannya yang gemulai diganduli gelang-gelang logam yang berat. Sementara tubuh dibalut pakaian yang seakan-akan asal menutup yang penting-penting saja. Salah seorang penyanyi rock wanita selain Sylvia Sartje adalah Euis Darliah. Euis Darliah menyukai musik hard rock, maka tidak jarang apabila lagu-lagu yang dibawakan di atas panggung adalah lagu-lagu yang berirama underground dan funky.

Euis Darliah pada pertengahan dasawarsa 1970-an bergabung dengan grup wanita yang bernama Antique Clique. Grup ini senantiasa memainkan musik rock jika berada di atas panggung pertunjukan . Hingga tahun 1976 grup-grup musik perempuan Indonesia yang tercatat adalah Pretty Sisters, Aria Junior, Odalf, Family Sister, Fellow sisters, Queens, Dara Kartika, Anoas, D’sis, The Singer, dan Princess Tone. Akan tetapi tidak semua grup musik perempuan tersebut menyanyikan lagu-lagu keras di atas panggung. (Tulisan dan foto dari berbagai sumber)

Advertisements

One comment on “Musik dan Musisi Rock di Indonesia Pada Dekade 1970-an

  1. Pingback: TERUS MELAWAN: SEJARAH MUSIK INDIE INDONESIA | PIKIR BODO' !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 18 October 2012 by in Musik Rock, Sejarah Musik Indonesia.
%d bloggers like this: