Catatan Kata Kelana

Perihal Rusuh di Konser Musik Rock Indonesia

Bagi kehidupan sebuah jenis musik, musik rock tampaknya bernasib ”sial”. Musik ini selalu menimbulkan kontroversi di kalangan publik dan pengamatnya. Jenis musik ini menjadi budaya kaum muda untuk alat ekpresi diri, yaitu pernyataan yang disertai dengan pelepasan diri atas kungkungan yang berlaku.

Pada awal pertumbuhannya di Amerika pada dekade 1950-an, musik ini sangat digusari oleh pihak kaum tua. Banyak orang tua yang umumya dari kalangan kulit putih kelas menengah mengkhwatirkan remaja yang mengemari musik rock ‘n roll sebagai generasi muda yang nakal, pemberontak, dan sering melakukan tindakan yang kurang lazim.

Tidak jauh berbeda dengan kehadiran The Beatles di Inggris yang pada awalnya mendapat tentangan dari kalangan orang tua yang konservatif, mereka dianggap membahayakan generasi muda di Inggris. Begitu juga dengan yang terjadi di Indonesia pada zaman Soekarno, musik rock dianggap sebagai musik yang kontra revolusi dan tidak sesuai dengan kepribadian nasional karena dianggap sebagai produk kebudayaan negara imperialis Barat.

Kerusuhan yang terjadi dalam pertunjukan musik rock itu menurut beberapa pengamat merupakan cerminan masalah sosial dan rasa frustasi yang bercampur dengan tekanan sosial dan ekonomi. Faktor musiknya sendiri tidak sebagai faktor yang penting, walaupun musik rock mempunyai watak yang bergerak. Musik itu punya daya rangsang besar bagi massa yang mengarah pada tindakan vandalisme dan pengrusakan.

Akan tetapi banyak kalangan menilai kerusuhan itu timbul justru berawal dari hal-hal yang non-musikal seperti manajemen pertunjukannya, kecelakaan teknis (listrik mati dan lain-lain), fasilitas yang tidak memadai, terlambatnya waktu pertunjukan atau karena kesenjangan sosial yang disebabkan oleh harga karcis yang tidak terjangkau oleh sebagian besar penggemar musik ini.

Musik keras tidak otomatis akan mempengaruhi perilaku penggemarnya untuk melakukan tindakan kriminal, sebab pengaruh musik terhadap penikmatnya, apa pun jenisnya juga tergantung dari kematangan pribadi pendengarnya masing-masing.

Timbulnya penyimpangan dalam konser musik lebih cenderung karena situasi dan persiapan pergelaran. Selain itu juga karena sikap mental penonton yang tidak siap akan mudah tersulut oleh keributan. Kerusuhan-kerusuhan yang terjadi pada setiap pertunjukan musik jenis ini disebabkan oleh sifat massal dari pertunjukan tersebut. Setiap massa cenderung bersifat agresif, kalau mereka berkumpul maka seseorang akan kehilangan dirinya dan mendorong agresivitas.

Penonton dari sebuah pertunjukan musik dapat digolongkan dalam kategori crowd, karena crowd sebagai suatu tingkah laku kolektif didefinisikan sebagai kerumunan atau kolektifitas orang yang berada dalam suatu ruang atau tempat tertentu dan memberi respon atau perhatian tertentu pada suatu objek atau sasaran tertentu. Tipologi dari crowd itu sendiri dibedakan menjadi empat kategori, yaitu casual crowd, conventional crowd, expressive crowd, dan acting crowd.

Kerusuhan penonton dalam pertunjukan musik rock digolongkan dalam acting crowd, yaitu sekumpulan orang yang bertindak untuk menentang seseorang atau sesuatu yang tidak mereka kehendaki. Selain itu acting crowd juga merupakan kerumunan yang sasaran tindakannya ditujukan kepada sesuatu objek atau individu tertentu dan apabila kerumunan itu merusak harta benda atau menimbulkan kecelakaan orang lain, maka disebutlah terjadi suatu kerusuhan atau riot.

Dalam kerusuhan penonton pertunjukan musik rock dekade 1970-an, banyak yang menjadi korban adalah musisi atau grup musik di atas panggung, tetapi para penonton itu sendiri terkadang juga menjadi korban dalam kerusuhan tersebut.

Musik rock memang merupakan bentuk kreasi yang mengekspresikan gejolak batin penciptanya secara langsung tanpa siratan. Dalam bentuknya yang terus tumbuh musik rock memang sudah terasa melenceng jauh dari sumbernya yaitu rhytem blues. Dari sisi itu sebenarnya orang dapat menganalisis keinginan atau pun perasaan yang ada dalam hati kreator musik muda yang menciptakan lagu-lagu berirama rock.

Tentu saja mudah dipahami bahwa refleksi yang tertuang itu secara kental dibalut oleh energi dan emosi tinggi gejolak kaum muda. Tidak mengherankan apabila konser-konser musik rock yang terjadi di Indonesia, dengan mudah dikaitkan dengan huru-hara atau keributan yang sering ikut mewarnai jalannya pertunjukan.

Fenomena Kerusuhan di Pertunjukan Musik Rock

Kerusuhan penonton kerap kali terjadi dalam pertunjukan musik rock tahun 1972-1977. Ada beberapa kota yang dianggap rawan kerusuhan, meliputi Jakarta, Bandung, Surabaya, Malang, dan Medan. Beberapa kerusuhan terjadi karena beberapa sebab. Misalnya, kerusuhan yang terjadi di Pertunjukan Musik Summer 28 di Pasar Minggu Jakarta. Pementasan musik tersebut sebenarnya bukan pementasan musik rock semata, tetapi banyak grup musik yang tampil dan menyebabkan citra musik rock sangat kuat dalam pementasan itu, salah satunya adalah grup musik God Bless yang berhasil memikat hati para penonton dengan pertunjukan musiknya yang menarik.

Keberhasilan mereka seolah-olah menenggelamkan sajian musik dari grup musik Fly Bait dari Singapura yang tampil kemudian tanpa membawa keistimewaan-keistimewaan yang diharapkan penonton oleh predikat luar negerinya. Kerusuhan di malam itu disebabkan oleh tindakan panitia yang tidak menepati janji untuk menyelenggarakan pertunjukan musik sampai pukul 6.00 pagi, dan tidak menampilkan grup musik AKA serta Ternchem. Penyebab kemarahan sejumlah penonton itu sudah jelas, mereka kecewa bukan saja karena dua atau tiga grup musik yang seharusnya ikut meramaikan pesta musik ini ternyata tidak muncul ke panggung, tetapi juga janji panitia untuk melangsungkan acara semalam suntuk tidak ditepati.

Mereka merasa ditipu oleh lembaran karcis seharga Rp. 1000,00 dan harapan-harapan di atasnya. Kerusuhan terjadi, banyak penonton melemparkan botol-botol minuman dan benda-benda lain ke arah alat-alat musik di panggung pementasan. Baru sepuluh menit kemudian, petugas keamanan dapat menggiring penonton menjauhi panggung, tetapi mundurnya penonton dari panggung diikuti dengan aksi pengrusakan di luar panggung.

Kerusuhan juga terjadi di pertunjukan musik Malam Show Duel Anti Narkotika tanggal 8 Juni 1974. Pertunjukan ini menampilkan grup musik AKA dan Giant Step. Kekacauan berawal dari jam pertunjukan yang terlambat dan dipicu oleh jalannya pertunjukan yang tidak lancar. Para penonton yang berada di belakang berusaha maju ke depan panggung, sementara pertunjukan berjalan terus. Keributan penonton juga berlangsung terus dengan melempar-lempar sendal, korek, sampai kursi besi pun ikut melayang ke arah panggung dan penonton sendiri. Akibatnya Sonata Tanjung dan Tony dari AKA terpaksa dirawat di rumah sakit karena terkena lemparan potongan besi dari penonton.

Pertunjukan God Bless di lapangan basket kota Malang pada tanggal 4 Agustus 1974 dalam rangka tour pertunjukannya ke Jawa Timur memakan korban luka-luka. Banyak dari penontonnya yang rata-rata adalah kaum muda berdesak-desakkan ingin masuk lebih dahulu ke dalam lapangan, sehingga penonton yang berada pada bagian depan yang sudah berada di pintu bagian depan berjatuhan tidak kuat menahan desakan dari belakang. Pihak panitia dan keamanan tidak kuasa membendung arus penonton yang datang begitu banyak ke tempat tersebut. Pertunjukan musik God bless belum dimulai, tetapi korban yang jatuh sekitar 20 orang lebih dan banyak di antara mereka tidak sadarkan diri.

Kerusuhan lain juga terjadi dalam pertunjukan Pesta Musik Udara Aktuil di Medan tahun 1975. Kerusuhan ini terjadi ketika pertunjukan baru berjalan setengah. Tercatat ada 12 grup musik yang akan tampil, tetapi yang muncul ke atas panggung hanya Rhytem King, Destroyer, Four Session, The Exorsist, Marati Sister, dan The Vultures. Sisanya tidak berani muncul karena keburu terjadi kerusuhan massa penonton. Dalam kerusuhan itu penonton melemparkan batu, sepatu, sandal ke atas panggung. Selain mengakibatkan sebagian peralatan musik rusak, pelemparan itu juga melukai pemain drum Fresh Man.

Salah satu penyebab terjadinya kerusuhan itu antara lain akibat dari sistem pengeras suara yang tidak berjalan dengan semestinya. Musik jenis ini membutuhkan paling tidak sedikitnya sistem pengeras suara yang berdaya 1000 watt, sedangkan yang dipasang hanya berdaya 600 watt, sehingga penonton yang berada di belakang praktis tidak bisa mendengar dengan jelas suara para pemain musik di panggung. Dari sini tumbuh rasa tidak puas yang kemudian disalurkan baik lewat batu, sandal maupun sepatu. Pertunjukan musik perdana kelompok musik SAS di Taman Ria Monas pada pertengahan Februari 1976, mengalami sedikit kekacauan karena gangguan listrik.

Ketika kelompok ini memainkan lagunya yang kedelapan, yaitu lagu milik grup musik Deep Purple, tiba-tiba listrik mati. Akibat dari adanya gangguan listrik tersebut maka pertunjukan musik SAS tidak bisa dilanjutkan dan penonton merasa kecewa yang kemudian melampiaskannya dengan melemparkan batu-batu ke arah panggung, sehingga membuat beberapa peralatan musik rusak.

Masyarakat kota Malang telah dikenal sebagai penonton musik rock yang paling sering membuat kerusuhan pada dekade 1970-an. Menurut para anggota grup musik The Gembell’s, Malang merupakan kota yang tinggi spontanitasnya, namun selalu melempari pemain-pemain musik di panggung, bahkan dengan batu. Malang merupakan kota ”ujian” bagi suatu grup musik Indonesia yang mau dikatakan populer. Gedung Olahraga Pulosari Malang menjadi semacam tempat pengadilan publik untuk menilai sukses atau tidaknya sebuah grup sewaktu pentas.

Gedung Olahraga dengan kapasitas 5000 penonton itu sangat prestisius untuk sebuah konser musik rock. Hampir setiap artis atau grup musik yang pop maupun yang rock dapat sorakan dan lemparan botol maupun batu, bahkan ada pula grup musik yang instrumennya dihancurkan. Menurut teknisi dari grup musik God Bless, Malang merupakan daerah yang lebih gawat dari Medan. AKA pun yang berasal dari Jawa Timur pernah mengalami keganasan dari ulah penonton di kota tersebut.

Kerusuhan dalam beberapa pertunjukan musik rock di kota Malang terjadi karena penonton merasa telah berkorban untuk dapat menonton suatu pertunjukan musik. Selain itu kerusuhan juga terjadi karena rata-rata penonton di Malang tidak mengerti musik, tetapi ada juga pendapat yang mengatakan bahwa penonton di kota tersebut lebih mengerti mengenai musik dan apabila ada pemunculan suatu grup musik, mereka seakan-akan ingin mengujinya.

Penonton di kota Malang tidak mudah percaya dengan publikasi besar-besaran yang dilakukan oleh panitia atau pun publikasi yang pernah ada. Keributan penonton juga terjadi pada Acara Super Show AKA vs Freedom di Malang. Sekitar 2000 penonton merasa dikecewakan dan dibohongi, karena panitia mengumumkan pembatalan acara pemilihan King and Queen Eksentrik padahal penonton sudah membayar tiket masuk yang cukup mahal.

Pertunjukan musik AKA di Taman Remaja Surabaya pada awal Juli 1975 yang seharusnya dapat berlangsung lebih lama terpaksa dihentikan karena penonnton yang tidak tertampung di tempat tersebut merusak bangku-bangku panjang serta melemparkannya ke segala penjuru, sehingga membuat lebih dari sepuluh orang luka-luka. AKA kemudian meninggalkan panggung walaupun penonton berteriak meminta AKA untuk tampil lagi.

Kerusuhan penonton juga terjadi di Surabaya, tepatnya ketika grup musik SAS melakukan pertunjukan di kota tersebut. Kerusuhan itu bermula saat SAS baru memulai pertunjukannya selama satu jam dan tiba-tiba listrik mati. Gangguan listik ini mengakibatkan grup tersebut tidak bisa melanjutnya pertunjukkan musiknya. Penonton tidak bisa menerima keadaan yang terjadi dan melampiaskannya dengan melemparkan batu-batu ke arah panggung dan mengakibatkan kerusakan pada peralatan musik. Kerugian akibat pelemparan batu itu ditaksir sebesar Rp. 450.000,00.

Dalam pertunjukan yang dilakukan oleh grup musik Superkid dan SAS, Superkid memperlihatkan demontrasi dengan kepulan asap putih. Selain itu grup ini juga mendemostrasikan atraksi kembang api. Kemudian mereka mengajak penonton naik ke pentas untuk berjoget bersama. Dalam konser ini sempat terjadi kekacauan, Super Kid nyaris dilempari kayu potongan-potongan kursi yang rusak. Kekacauan ini timbul karena penonton di bagian belakang tidak dapat lagi melihat wajah-wajah pemain dari Super kid.

Para grup musik yang bermain dalam pertunjukannya haruslah dapat memenuhi selera keinginan dari kebanyakan penonton yang rata-rata adalah kaum muda. Apabila dirasa penampilan dari grup musik tersebut kurang dapat memenuhi selera penonton maka yang terjadi kemudian adalah teriakan turun dari para penonton, disertai dengan aksi pelemparan sendal, batu, atau pun botol.

Seperti yang terjadi dalam pertunjukan Pesta Musik Kemarau 75 di Bandung, Grup VoodooChild tidak banyak menghibur penonton, begitu juga dengan Grup Rhapsodia yang lama dalam menyetel alat musik yang membuat penonton menjadi tidak sabar dan hujan sandal pun terjadi, bahkan ada yang mengenai di kepala Soleh, Vokalis dari grup musik Rhapsodia tersebut. Blood Stone yang mengawali pertunjukan musik juga tidak luput dari sasaran lemparan sendal, sepatu bahkan batu ke atas panggung karena penonton yang berada di bagian paling depan tidak puas terhadap permainan grup musik tersebut.

Dalam suatu pertunjukan musik yang dilakukan oleh grup musik Hookerman, ternyata lagu-lagu keras yang disajikannya oleh grup tersebut kurang mendapat sambutan dari penonton sehingga mendapat teriakan-teriakan turun dari penonton. Teriakan-teriakan itu kemudian meningkat menjadi tindakan-tindakan yang kurang terpuji. Sama dengan pertunjukan Hookerman yang kurang mendapat simpati dari penonton, pertunjukan grup Dragon dan Fair Stone di Semarang pada tanggal 17 April 1976, Fair Stone juga mendapat teriakan turun dari panggung oleh penonton.

Melihat seringnya terjadinya kerusuhan penonton dipertunjukan musik, Salah seorang personil God Bless yaitu, Ahmad Albar menyatakan , ”Saya tidak mengerti, mengapa penonton suka membuat keributan, tetapi berdasarkan atas laporan-laporan, kebanyakan yang buat keributan itu merupakan sebagian kecil penonton yang sengaja mencari keributan. Susah untuk memisahkan penonton yang sengaja menonton musik dengan penonton yang seperti itu.”

Kerusuhan tidak hanya terjadi pada pertunjukan musik dalam negeri, tetapi juga terjadi di pertunjukan musik grup musik luar negeri. Dalam pertunjukan grup musik Deep Purple pada tanggal 4 Desember 1975 di Istora Senayan, para penonton terutama yang berada di VIP A mulai destruktif. Terjadi perang lempar ”jok kursi” antara mereka yang berada di barisan lebih atas dan yang berada di bawah. Pesta bakar-membakar juga berlangsung, kertas-kertas koran dibakar lalu dilemparkan ke bawah, layaknya obor-obor yang dinyalakan waktu gelap. Keributan lebih mengeras terutama di VIP A dan ini berlangsung sampai pertunjukan selesai. Jok kursi dilemparkan sampai ke pintu masuk bahkan ke bawah di luar lapangan.

Tidak selamanya pertunjukan musik rock akan berakhir dengan aksi pelemparan batu maupun sendal dari penonton, penampilangrup musik SAS di kota Malang adalah contohnya. Sewaktu melakukan pertunjukan di kota tersebut, tidak ada satu butir pun kerikil dan batu yang terbang melayang ke atas panggung. Mungkin para penonton kelihatan agak segan dengan permainan SAS yang hebat. (berbagai sumber)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 18 October 2012 by in Musik Rock, Sejarah Musik Indonesia.
%d bloggers like this: