Cerita zaman dulu, zaman majapahit semua kaum lelaki beambut gondrong
Raja dan kstarianya malah dikonde, kalau kawan tidak percaya pak guru
Semua aman tidak dilarang, tiada polisi main cegatan
Sekarang zaman modern terulang lagi, eh sinyo yang muda berambut gondrong
Tetapi entah kenapa kini dilarang, lalu jadi macet karna cegatan
Tuh bung polisi dan tentara buka barbir di tengah jalan

Lirik lagu yang berjudul Rambut Gondrong di atas merupakan buah karya dari seoarang penyanyi Titiek Puspa yang dengan berani mengkritik cara penguasa memotong rambut secara paksa di jalan raya. Rambut gondrong yang dulu dilarang, mulai kelihatan lagi di jalan-jalan pada akhir dekade 1960-an dan dekade selanjutnya.

Pemuda khususnya pemuda yang berambut gondrong di Indonesia ternyata pada dekade tersebut menimbulkan suatu polemik tersendiri. Problematika yang apabila dilihat merupakan hal yang biasa ini pun terangkat menjadi problem tingkat nasional yang sewajarnya tidak perlu diperdebatkan, bahkan oleh pihak penguasa itu sekalipun. Spektrum penguasa sarat dengan nuansa politis yang pro-kepribadian nasional tetapi tidak bagi para pemuda berambut gondrong itu sendiri yang hanya memandangnya sebagai suatu hal yang naluriah sekaligus alamiah sebagai seorang remaja yang sedang dalam masa pertumbuhan dan mencari jati diri.

Merebaknya trend rambut gondrong di Indonesia terjadi akibat ekses infiltrasi pengaruh kebudayaan dari Barat. Musik dan majalah menjadi titik sentral medium yang paling banyak berperan dalam membentuk dan menyebarluaskan pengaruh tersebut, walaupun tidak dapat dipungkri bahwa trend tersebut terjadi karena peniruan pola adaptasi yang terjadi di Barat, peniruan sebatas di permukaan tidak esensinya, disana berambut gondrong dan disini pun berambut gondrong.

Tetapi wajar bila terjadi pelampiasan dengan meniru pola tingkah yang terjadi di belahan dunia Barat karena rezim yang dulunya pernah melarang terhadap apa pun yang berbau barat, termasuk membredel musik ngak-ngik-ngok telah berganti dengan rezim baru yang tidak lagi melarang apa pun yang barbau Barat walaupun dalam skalanya terbatas

Salah satu contoh semangat kebebasan dalam berambut gondrong dapat dilihat dari murid-murid sekolah menengah umum Taman Madya yang berada di kawasan Blok S Jakarta Selatan. Taman Madya lebih dikenal sebagai John Mayall High School karena di sekolah ini murid-muridnya berambut gondrong. John Mayall pemusik Blues dari Inggris sedang disukai di Indonesia, terutama di Jakarta dan Bandung. Dia menjadi idola dari anak-anak muda pada kurun waktu 1960-an sampai 1970-an. Di Bandung sendiri ada juga sekolah John Mayall dan sekolah itu berada di jalan Naripan, murid-muridnya disana diperbolehkan untuk berambut gondrong.

Keresahan anak muda timbul ketika ada suara-suara yang ingin melarang rambut gondrong yang membuat banyak dari mereka merasa kecewa. Pelarangan rambut gondrong ini bukan hanya terjadi pada zaman Orde Lama saja, melainkan masih berlanjut pada zaman Orde Baru. Di Jakarta polisi masih sempat memotong rambut gondrong di jalan. Alasan pelarangan rambut gondrong diberlakukan karena mode rambut ini tidak sesuai dengan kepribadian nasional.

Kalangan penguasa menganggap itu merupakan bagian dari dekadensi moral itu terjadi akibat dari adanya ekspansi kebudayaan dari luar, jadi bukan tumbuh dari pribadi alamiah remaja itu sendiri. Memang dalam umur yang sedang meningkat kekedewasaan, sifat meniru itu lebih besar dan kadang-kadang mengalahkan akalnya sendiri apakah sesuatu yang ditirunya itu merupakan sesuatu yang baik atau buruk.

Dekadensi moral dalam segala bentuknya tumbuh dan berkembang di kota-kota besar. Kalangan penguasa mengkhawatirkan banyak generasi muda berorientasi pada budaya asing akibat terasing dari sejarah dan kepribadian bangsanya. Pengaruh Barat terutama dari musik dan gaya/modenya dianggap merusak kepribadian para anak muda. Kepribadian yang bersifat populer merupakan semua kesan yang ditimbulkan oleh sifat-sifat lahiriah seseorang yang kelihatan dalam rambutnya, pakaian dan tingkah lakunya. Pihak orang tua rajin melarang anak-anaknya berpakaian ala The Beatles, tetapi anaknya menganggap larangan itu sebagai suatu penekanan terhadap keinginan mereka dan menganggap keinginan orang tua mereka terlalu picik dan tertinggal oleh kemajuan zaman. Akibatnya para remaja itu mempunyai musuh.

Ada yang menilai tindakan ini sebagai sesuatu yang tidak adil karena rambut gondrong merupakan satu mode. Adapun ciri khas dari mode adalah cepat berkembang dan cepat hilang. Pelarangan serta razia pemotongan rambut dijalankan oleh petugas merupakan suatu tindakan “perkosaan” terhadap hak asasi manusia.

Remy Sylado dalam artikelnya yang dimuat oleh majalah Aktuil mempertanyakan apakah itu kepribadian nasional. Ia berpendapat semenjak kongres nasional tahun 1928, sebenarnya kita belum menemukan satu corak kepribadian yang benar-benar merupakan cakupan satu jiwa nasional dari sabang sampai merauke, selanjutnya didalam membentuk satuan yang nasional dalam musik, kita tidak usah terlalu fanatik terhadap ekses karena bagaimana pun juga kita tidak bisa menolak hukum akulturasi bahwa kebudayaan bukanlah milik satu bangsa dan kaum yang terpagar rapat-rapat. Setiap generasi mempunyai derap langkah yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya dan berilah kebebasan kepada mereka sebab mereka hendak atas kebebasan itu

Pada September 1973, muncul juga sinyalemen akan larangan terhadap mahasiswa atau pemuda untuk berambut gondrong. Larangan ini dikeluarkan karena pada peristiwa kerusuhan di Bandung tanggal 5 Agustus 1973, pelaku kerusuhan diduga sebagai pemuda yang berambut gondrong dan sejak saat itu muncul desas-desus tentang razia rambut gondrong di Bandung walaupun hal itu dibantah oleh kepolisian Bandung.

Lantas apa kaitannya antara pemuda yang berambut gondrong dengan aksi kerusuhan yang banyak melibatkan orang yang berambut gondrong dan apakah mereka yang berambut gondrong harus selalu dicurigai sebagai biang kejahatan. Koran Indonesia Raya menanggapinya dengan tajuknya kita harus menganggap hal ini sebagai suatu mode musiman yang suatu waktu akan menghilang dan jika ada pembesar-pembesar kita yang mengindentikkan rambut gondrong dengan segala hal yang negatif, penulis juga tidak setuju.

Dalam perkembangan yang terjadi justru menunjukkan bahwa protes dari kalangan mahasiswa tentang rambut gondrong makin meningkat dan muncul opini di sana-sini mengomentari larangan tersebut. Pangkomkaptib saat itu, Jenderal Soemitro mengomentari dalam suatu kesempatan wawancara di televisi bahwa rambut gondrong menimbulkan sikap acuh tak acugh di kalangan generasi muda.

Satu ciri kebebasan yang diyakini oleh kaum muda adalah memiliki rambut panjang, bagi sebagian orang memiliki rambut panjang mungkin tidak berlalu berarti namun bagi para anak muda khususnya mereka yang menggemari musik rock memiliki rambut panjang merupakan cerminan akan kebebasan. Dalam hal yang sama terdapat banyak juga perbedaan pandangan mengenai tata cara berpakaian atau selera menikmati musik underground yang bagi sebagian orang mirip dengan suara bedug bercampur suara sirene yang memekakkan telinga.

Polemik rambut gondrong juga menyebar ke dalam ranah dunia permusikan pada waktu itu. Musik rock jarang tampil di TVRI karena beberapa alasan. Hambatan pertama dari musisi itu untuk tampil di TVRI adalah adanya larangan yang mendeskreditkan mereka, misalnya larangan musisi pria yang berambut gondrong tampil di TVRI, padahal sebagian besar musisi rock di Indonesia berambut panjang atau gondrong. Hal itu dinyatakan pada tanggal 18 April 1972 dalam Acara Kamera Ria. Untuk tampil di TVRI musik rock harus dinasionalisasikan, artinya jangan menampilkan wajah asing secara utuh, musisi itu harus mencoba untuk merangkul seluruh masyarakat dengan lirik-lirik Indonesia dan berpenampilan yang rapi.

Hamid Gruno, pemandu bakat dari TVRI pernah diskors oleh atasannya karena pemain The Rollies yang ditampilkannya di TVRI tahun 1974 berambut panjang. Di TVRI Benny dari The Rollies membuka topi dan mengibaskan rambut panjangnya saat diwawancarai Remy Sylado dari majalah Aktuil. Sejak saat itu The Rollies selama beberapa tahun tidak pernah ditampilkan lagi di TVRI.

Sebagai seorang musisi, Benny Rollies merasa ruang geraknya kurang begitu leluasa akibat pembatasan-pembatasan formal yang ditetapkan oleh pemerintah. Misalnya tentang rambut, musisi harus menyisir rapi rambut menurut ukuran sepihak untuk bisa muncul di layar TVRI. Benny Rollies juga mengatakan dia tahu semua itu dilakukan pemerintah untuk mewujudkan apa yang disebut itu sebagai musik yang berkepribadian nasional, tetapi dengan terus terang dia mengatakan bahwa musik semacam itu tidak mungkin terkenal di seluruh dunia. Ia pun mempertanyakan seperti apa sebenarnya musik yang berkepribadian nasional. Musisi harus mengorbankan kebebasannya dalam berdandan, atau ia tidak memiliki peluang untuk bisa dikenal publik lewat satu-satunya siaran televisi nasional di Indonesia. (Tulisan dan Foto dari berbagai sumber)