Log Zhelabour merupakan seorang businessman dan seorang trubadour bagi sebuah festival musik rock terbesar di Indonesia. Pameo rock Indonesia adalah Log dan Log adalah musik rock Indonesia bukanlah hal yang berlebihan, melainkan sesuatu yang tepat untuk disandang bagi seseorang yang telah malang melintang selama lebih kurang 20 tahun dalam jagat permusikan Indonesia.

Perkenalannya dengan musik rock diakui oleh pria kelahiran Surabaya, 19 Maret 1959 ini terjadi ketika ia masih duduk di bangku SMP. Namun, lulus dari SMA St. Louis Surabaya, 1977, ia baru menyatakan arahnya sebagai promotor pergelaran musik rock, meski hanya bersifat terbatas atau kecil-kecilan. Sebelum menentukan pilihannya sebagai promotor pergelaran musik rock, ia sempat menjadi promotor untuk acara disko di berbagai tempat hiburan di Surabaya.

Log memulai karir di dunia hiburan sebagai penyelenggara pesta disko yang mulai meruyak sejak pertengahan 1970-an ketika dunia diguncang oleh lagu-lagu Booney M serta film-film John Travolta seperti Saturday Night Fever atau Grease. Namun, musik rock yang penuh dengan hiruk-pikuk dan penampilan garang selalu saja menggelitik nalurinya. Persahabatannya dengan kalangan radio, yang dia rintis sejak malang-melintang di pesta-pesta disko, membantunya untuk melangkah lebih panjang, sampai akhirnya Log mampu membuat pentas besar. Bak meteor, namanya tiba-tiba melintas di angkasa musik rock. Ia memang tidak berhasil menyulap Surabaya sebagai pusat gravitasi musik rock, tetapi Log menjadikan kota Malang sebagai kawah candradimuka buat mereka yang merasa jadi musisi.

Sedemikian penting peran kota Malang, sehingga para pemusik belum merasa jadi rocker sebelum pentas di Malang. Pada tahun 1979 ia kemudian meninggalkan bisnisnya menyewakan peralatan disko yang mulai tidak laku dan memasuki bisnis pertunjukan musik rock. Tahun 1979, Log mulai menggelar konser band, yang kemudian melebar ke tingkat stadion. Saat itu, rock belum dilirik orang sebagai lahan yang subur di jagat industri hiburan. Log pun masih dalam taraf mencari-cari peluang. “Rock masih dianggap sebagai bisnis payah yang tidak menguntungkan sponsor. Dengan modal mesin ketik dan Honda bebek, saya ke sana-kemari cari sponsor. Kemudian saya bikin konser dan sukses. Sponsor merasakan manfaat, dan saya juga,” kenang Log tentang konser-konser awal yang digelarnya.

Sekitar tahun 1978 sampai awal 1980-an, Log pernah menggelar band dan penyanyi rock terkenal saat itu semisal Super Kid, SAS, Rollies, Giant Step, Euis Darliah, Sylvia Saartje, sampai Farid & Bani Adam. Mereka tampil di bawah tenda dengan panggung yang disangga dengan drum minyak. Terbukti, konser yang digelar Log tidak mengakibatkan kerusuhan seperti yang dibayangkan pihak keamanan dan para sponsor.

Tahun 1980, usahanya membuahkan hasil dengan sebuah konser besar bertajuk Rock Power yang digelar di panggung terbuka. Bintangnya dua grup rock besar saat itu, SAS Band dan Superkid. Pertunjukannya berjalan dengan sukses walaupun penonton berjubel, tetapi tanpa diwarnai oleh ada keributan sedikitpun. Dari sebuah konser inilah namanya mulai berkibar dan dekade 1980-an melambungkan seorang arsitek yang berhasrat untuk menciptakan sebuah pertunjukan musik yang banyak digemari oleh anak-anak muda.

Pada tahun 1984 muncul semacam kegairahan baru bagi perkembangan musik rock karena di beberapa kota diadakan festival musik rock. Dalam festival tersebut tampil grup-grup baru yang membawa warna musik Heavy Metal, yang jenis baru ini sedang melanda dunia rock. Sejak dekade 70-an, heavy metal mulai populer dan banyak pengemar mulai meniru hal-hal yang terkait dengan jenis musik ini.

Berbagai radio kembali mengadakan acara musik rock yang kebanyakan didominasi musik heavy metal. Kelompok musik yang berdiri di paruh pertama dasawarsa 1980-an banyak terpengaruh oleh jenis musik Festival ini sifatnya kompetitif dan diselenggarakan setiap tahun, yang semakin lama semakain besar dengan banyak melibatkan grup-grup dari berbagai kota. Berbicara mengenai festival musik tidak terlepas dari peranan krusial Sang Trubador Mr Log Zhelebour. Festival musik rock versi Log Zhelebour dikenal sebagai Djarum Super Rock Festival. Perusahaan rokok itu mendanainya sebanyak delapan kali (1984, 1985, 1986, 1987, 1989, 1993).

Jenuh dengan sekadar menggelar konser rock. Festival pertama Log pun digelar pada tahun 1984 dengan bertajuk Festival Musik Rock se-Indonesia. Log menggagas dan menggelar festival rock Log berusaha meyakinkan berbagai pihak, termasuk sponsor tentang usahanya mementaskan musik rock yang pada waktu itu rawan kerusuhan. Promosi berbagai produk yang waktu itu dilakukan hanya sebatas melalui radio dan spanduk karena TVRI satu-satunya stasiun televisi tidak menerima iklan dan musik rock nyaris tidak menjadi pilihan sebagai program acara.

Log perlu waktu lima tahun untuk meyakinkan Djarum Super agar bersedia menjadi penyandang dana. Kepada perusahaan rokok, Log menawarkan mereka untuk membiayai pertunjukan dengan system perusahaan rokok membiayai seluruh pertunjukan dan ia memperoleh sepersepuluh dari seluruh biaya. Log sebenarnya mempunyai resiko tidak memperoleh penghasilan apabila pertunjukan itu rugi rock. Dalam festival ini berlaga grup-grup rock dari berbagai kota di Jawa ditambah Ujung Pandang, Bali dan Jayapura. Babak penyisihan dilakukan di masing-masing kota sedangkan babak final diselenggarakan di Surabaya. Festival ini menghabiskan biaya Rp. 15 juta yang semuanya ditanggung oleh Djarum.

Gagasan ingin membuat festival musik rock saat itu karena ia ingin mendobrak citra musik rock yang seakan-akan harus membawakan lagu berbahasa Inggris. Yang lebih parah lagi, band rock Indonesia seolah-olah wajib membawakan atau bahkan meniru grup rock Barat. Sekadar ilustrasi, saat itu God Bless identik dengan Kansas, Cockpit meniru Genesis, atau SAS yang mengacu ELP. “Saat itu susah sekali mendobrak tradisi bahwa rock itu harus Barat. Saya bikin festival yang mengharuskan peserta tampil dengan lagu sendiri dengan lirik bahasa Indonesia.” Kata Log

Log Zhelebour mengawal festival perdananya ini di lapangan sepakbola 10 November, Tambaksari, Surabaya, hari Minggu 14 April 1984, dengan dukungan sound-system Lasika yang melayani para peserta yaitu 30 grup rock dari Jakarta, Bandung, Jawa Timur dan Bali : LCC, Flash Rock, Amara, Grass Rock, Blues Brothers, Full of Shit, Heaven, Literature Rock, Vocation, Leizig, Warrock (konon group ini binaan Ucok Aka), Q Red, Squencer, Heart Breaker, Bom Chankar, Sensitive Band, Mat Bitel, Nickey Astria, D’Ronners, Smallers Band. Harley Angels, 2nd Smile, Jamrock, Bissing, Drop Out dan Elpamas. Mereka membawa sebuah lagu pilihan dan lagu wajib Djarum Super: Oh nikmatnya Djarum Super Filter, oh sedapnya Djarum Super filter, untuk memperebutkan hadiah Rp. 3 juta.

Para juri terdiri atas penyanyi God Bless Achmad Albar, penabuh drum Jelly Tobing, gitaris Ian Antono, pemetik bas Arthur Kaunang, pemain keyboard Abadi Soesman dan seorang wakil dari Depdikbud (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan) memilih Harley Angles dari Bali sebagai juara pertama., LCC (Surabaya, juara dua), Elpamas (Pandaan, juara tiga), 2nd Smile (Jakarta, juara harapan) dan Drop Out (Irian Jaya, juara favorit), Juga dipilih penyanyi terbaik Bambang (Harley Angles), penyanyi terbaik wanita Chetty WS (LCC), pemain bas terbaik Indrawan (Harley Angels), penabuh drum terbaik Budi R (Jamrock, Bandung) dan pemain keyboard terbaik Andy (2nd Smile). Meskipun tidak masuk final atau menjadi juara, sejumlah pesertanya justru berhasil berkarir dalam industri musik. Salah satu contoh, grup Jamrock (yang sekarang dikenal dengan nama Jamrud) waktu itu hanya masuk final. Mereka terdiri atas Aziz MS (gitar), Ricky Teddy (bas), Agus (dram) dan Oppi (vokal).

Keberhasilan Log dengan festival perdananya tahun 1984 menyebabkan Djarum Super kembali bersedia memberi dukungannya untuk pelaksanaan festival tahun berikutnya, 1985, yang dijuarai grup rock asal Pandaan, Malang, Elpamas. Elpamas yang merupakan kepanjangan “Elek-Elek Arek Pandaan Mas”menelorkan gitaris handal Totok Tewel, yang kemudian banyak bekerjasama dengan berbagai musisi dan grup, antara lain Kantata Takwa pimpinan pengusaha yang suka musik Setiawan Djody. Grup ini beranggota sejumlah pemusik kondang seperti Jockey Soeryoprayogo, Inisistri, Donny Fattah, Iwan Fals, Sawung Jabo dan Rendra tahun 1989 hingga sekarang. Sementara Grass Rock hanya beruntung memperoleh juara III dan Rere memperoleh gelar The Best Drumer.

Baru pada penyelenggaraan Festival Rock Indonesia yang ke III pada tahun 1986, juaranya adalah Grass Rock dari Surabaya, saat itu vokalisnya adalah Zulkarnain. Rere pun kembali menyabet gelar The Best Drumer. Mereka lantas memperoleh kesempatan dari Log Zhelebour untuk mengikuti tur 10 kota untuk mengiringi God Bless. Grup rock Slank juga masuk final, tapi hanya berhasil menjadi juara hiburan.Tahun berikutnya 1987 pada penyelenggaraan ke IV, giliran Adi Metal Rock Band (Surabaya) sebagai juaranya, sama seperti Harley Angels, Adi Metal Rock Band sampai sekarang tidak tahu rimbanya. Lagu yang sempat hits mereka diantaranya Revolusi Kaisar dan Mereka Menantimu. Sayangnya penyelenggaraan Festival Rock Indonesia I sd IV, belum dikeluarkan album rekaman 10 finalis Festival Rock Indonesia tersebut, akibatnya penikmat musik kayak kita-kita ini tidak bisa menikmati hasil cipta lagu kesemua finalis tersebut.

Baru pada penyelenggaraan Festival Rock Indonesia ke V Tahun 1989, lewat Logiss Records (Logiss adalah gabungan dua nama, LOG (Log Zhelebour) dan ISS (Iwan Sutadi Sidarta), perusahaan rekaman Log Zhelebour yang bekerjasama dengan Iwan Sutadi Sidarta dengan benderanya Indo Semar Sakti, yang memayung perusahaan rekaman King Records, Billboard, Aruna dan Buletin Intrernasional, mulai merekam 10 lagu finalis yang ke V, dimana juara nya pada saat itu adalah Power Metal (Surabaya), Hendrix Sanada juga terpilih sebagai the best bassist. Lucky Setyo W gitaris Andromedha Rock Band memperoleh The best guitaris. Menariknya saat itu vokalis Power Metal bukan Arul,tetapi adalah Pungky, saat itu Arul juga ikut Festival Rock Indonesia ke V sebagai Vokalis Big Boy (Banjarmasin) dan meraih vokalis terbaik dengan lagunya Polusi Kehidupan. Grup band yang dianggap rival terberat Power Metal saat itu adalah Andromedha (Surabaya), Kaisar (Solo) dan Roxx (Jakarta). Kemenangannya ini sekaligus menjadi awal perjalanan karier Power Metal menembus dunia rekaman.

Pada Festival Rock Indonesia ke VI, yang diadakan tiga tahun kemudian tahun 1991, Log menggandeng Gudang Garam sebagai penyandang dana. Semifinal yang diadakan di Malang dan final di Surabaya, mengusung grup rock Kaisar dari Solo sebagai yang terbaik. Sayangnya Kaisar juga bernasib sama tidak terdengar gaungnya sampai ekarang, padahal lagunya cukup bagus seperti kerangka langit dan garis bintang. Djarum Super baru kembali mendukung Log pada festival yang ke tujuh dua tahun kemudian yaitu tahun 1993. Grup yang menjuarainya kali ini adalah Andromeda Rock Band dari Surabaya, namun finalnya diselenggarakan di Yogyakarta.

Festival Log pada tahun 1985, Festival Log pada tahun 1986, Festival Log pada tahun 1987, Festival Log pada tahun 1990. Pada festival keenam ini sekitar tiga ratus grup berlaga, mereka tidak hanya datang dari kota-kota besar tetapi juga dari kota-kota kecil. Perusahaan rokok PT Gudang Garam menyediakan dana Rp. 400 juta untuk pembiayaannya. Dari penjualan karcis di babak penyisihan saja ditangguk uang sebesar Rp. 150 juta, sedang di babal final terjual 10.000 karcis, dan Festival pertama Log pada tahun 1993

Tangan dingin Log merambah tidak hanya di panggung tetapi mulai masuk ke dunia rekaman. Dengan bekerja sama dengan Djarum, ia menerbitkan album ketiga God bless, Semut Hitam yang laku keras di pasaran sebanyak 400.000 kaset. Di tahun 1989 Log bekerja sama dengan perusahaan rekaman indo semar sakti mendirikan Logiss (singkatan dari Log dan Indo Semar Sakti) yang khusus memproduksi kaset rock Indonesia. Alasan ia mendirikan Logiss karena ia tak ingin para produser rekaman mengambil keuntungan dari bakat yang ditemukannya. Karena itu sejak festival rock 1989, para pemenang festival otomatis diikat kontrak rekaman di Logiss.

Sinergi positif antara rokok dan musik rock terlihat dalam keterlibatan perusahaan rokok dalam pertunjukan musik rock. Populernya jenis musik rock di akhir dasawarsa 1980-an berkaitan dengan perkembangan di berbagai bidang lainnya. Antara lain perkembangan industri rekaman dan media promosi perusahaan rokok. Di bidang rekaman dasawarsa 1980-an memperlihatkan kondisi yang berbeda dengan dasawarsa 1970-an. Sejak 1986 dan awal 1991, grup yang pernah rekaman jumlahnya 24 grup. Kaset rekaman yang diterbitkan dri 1986 sampai awal 1991 jumlahnya 21 buah. Rekaman solo yang dodominasi oleh penyanyi rock wanita jumlahnya sudah puluhan.

Keterlibatan perusahaan rokok dalam musik rock terlihat dari pertunjukan musik kelas dunia maupun kelas kampus, perusahaan Gudang Garam, Djarum dan Bentoel banyak terlibat dalam pertunjukan musik nasional maupun local, juga menjadi sponsor pertunjukan di perbagai sekolah menengah dan kampus. Dana promosi sebagian digunakan untuk mensponsori pertunjukan-pertunjukan musik yang digemari oleh golongan muda karena perusahaan rokok menjadikan golongan muda sebgai pangsa pasar yang penting. Selain itu pada dasawarsa 1980-an dan awal 1990-an muncul panggung-panggung besar musisi tingkat dunia yang diselenggarakan di Indonesia. (Tulisan dan Foto dari berbagai sumber)