Category Archives: Sejarah Musik Indonesia

Perjalanan dan Karya Musik Jessy Wenas

Jessy Wenas (75) pada dekade 1960 sampai 1970-an dikenal sebagai seorang musisi serba bisa. Tak hanya sebagai pemain dari beberapa band saja, pria yang lahir tanggal 14 April 1939 ini juga aktif menciptakan lagu untuk penyanyi-penyanyi seperti Ernie Djohan, Titik Puspa, Bob Tutupoli, Titik Sandhora dan masih banyak lagi. Tak hanya itu, Jessy pun pernah tergabung dalam band yang bernama Aneka Nada dimana Guntur Sukarno Putra bermain sebagai pemain drum disana. Dijumpai di rumah sederhananya yang terletak di wilayah Condet, Jakarta Timur, Jessy kembali mengenang kehidupannya sebagai seorang musisi dan pencipta lagu.

Jessy mengingat, masa kecilnya banyak dihabiskan di tempat kelahirannya di Tomohon, Sulawesi Utara. Kesukaannya terhadap musik mulai dirasakannya saat dia bersekolah di Sekolah Rakyat (SR). “ Saya sudah mengagumi bunyi gitar dan kebetulan ayah saya punya gitar dan rasanya enak sekali itu bunyi gitar” katanya.

Beranjak dewasa, Jessy ikut orang tuanya pindah ke Bandung dan meneruskan pendidikan SMA. Waktu itu dia bilang, Bandung sudah ada beberapa kelompok-kelompok band. “Di Bandung saat itu ada band Alulas yang menyanyikan lagu apa saja, dan kalau ada perpisahan sekolah saya sudah ikut band sekolah”kata Jessy. Baginya menjadi seorang pemain band menjadi kebanggan tersendiri dan untungnya keluarganya tidak keberatan dengan aktivitas berkesenian anaknya. “Orang tua dulu mikir daripada aktifitas gak karuan, lebih baik jadi pemain band saja ” kata Jessy.

Karena bukan uang yang dicari waktu itu, tetapi bayaran untuk anak SMA, bagi Jessy sudah sangat cukup daripada tidak ada sama sekali. “ Bisa senang-senang dan makan gratis apalagi pas ngeband di acara yang dilakukannnya di hotel-hotel” tutur pria bernama asli Jehezkiel Robert Wenas ini.

Setelah lulus SMA, pertengahan tahun 1950-an sampai 1960-an Jessy membangun karir bermusik secara serius. Dia sempat tergabung dalam band Aneka Nada di Bandung sebagai penyanyi dan pemain gitar. Aneka Nada anggotanya kala itu terdiri dari Sam Bimbo yang sekarang dilkenal dengan trio bimbo. Guntur Sukarno putra yang poisisi gitar dan drum dan Iwan (Bass), Indradi (Drumer), Samsudin, Atjil, Memet Slamet (vocal).

Jessy Wenas bersama Aneka Nada banyak memainkan musik berirama Amerika Latin yang berirama cha-cha seperti lagu Trio Los Ponchos. Sedikit-sedikit ada lagu barat yang berirama rock, tetapi tidak banyak karena ada larangan musik ngak ngik ngok. Mereka pun melakukan tur ke berbagai kota di Indonesia. “Dulu turnya kita pakai bus PPD yang disewa oleh istana keliling pulau Jawa, ya disewa oleh istana karena kan ada Guntur di band kita” kata Jessy yang pernah menjadi kolumnis budaya di harian Sinar Harapan.

Selain aktif di band, Jessy di tahun 1960-an mulai menciptakan lagu disaat kebutuhan lagu di dunia rekaman makin menggeliat. Dia merekam lagu ciptaan sendiri di Irama record, sebuah perusahaan rekaman yang berkantor di Jakarta. Jessy menciptakan lagu untuk penyanyi Rahmat Kartolo dan Alfian. Pun dengan lagu berjudul “Abunawas”,yang merupakan lagu pertamanya yang diciptakan pada tahun 1961. Direkam di Irama Record lantas dinyanyikan oleh Yanti Bersaudara dan diedarkan melalui piringan hitam.

Lagu Abunawas sendiri terinspirasi dari lagu pop barat yang terkenal dengan nada-nada timur tengahnya. Jessy mempelajarinya dan lahirlah lagu tersebut. Jessy bilang cerita yang paling mengena ada di lagu Abunawas itu.

Yang menarik dari lagu “Abunawas” ini, selain dipopulerkan oleh Yanti Bersaudara, lagu itu juga dinyanyikan oleh mahasiswa di tahun 1966 dalam demonstrasinya menentang Sukarno. Tentu, kata Jessy, syair lagunya telah dirubah. “Lucu juga penciptanya adalah pecinta Sukarno, tetapi saya senang saja bisa dipakai jadinya lagu itu semakin terkenal” kata Jessy yang di tahun yang sama juga menciptakan lagu “Si Gareng”,“Kisah Setangkai Daun”, “Menuai Padi”.

Pencari Bakat dan Pencipta Lagu
Selain bermusik Jessy sempat pula kuliah di ITB jurusan Seni Rupa. Hanya saja di Tahun 1966, Jessy dipecat dari almamaternya. “Dulu saya anggota dari GMNI, terus dekat pula dengan Guntur Sukarno Putra, entah kenapa saya dipecat dari sana” bilang dia. Setelah tak lagi kuliah, Jessy kemudian kerja di perusahaan rekaman Remaco pada tahun 1967 sampai tahun 1970.

Di Remaco, Jessy selain masih aktif bermusik juga menciptakan lagu untuk para penyanyi. “ Saya mencipta lagu karena ada kebutuhan saja, studio meminta lagu lalu saya buatkan lagu” kata dia. Disana, seperti yang Jessy bilang sistemnya para pencari bakat/pencipta lagu menyodorkan ke produser, penyanyi, berikut dengan bandnya.

Lagu diciptakan dan sebelum direkam ada satu tim yang menilai apakah lagu ini cocok untuk penyanyi atau tidak. “Produser menitipkan satu hal, dalam satu lagu piringan hitam, yang isinya delapan lagu harus ada satu lagu yang berhasil. Oleh karena itu setiap kali rekaman, pencipta lagu pimpinan band berembuk untuk mengusahakan agar lagu ada yang laku” kata Jessy.

Nah, dalam merekrut penyanyi-penyanyi Jessy “hunting” ke daerah-daerah yang disaat bersamaan sudah ada kegiatan Pop Singer. Melalui Pop Singer, pencari bakat di Remaco mencari penyanyi-penyanyi dan Jessy beberapa kali menjadi juri di acara tersebut. Dalam memilih penyanyi, terkadang Jessy menjatuhkan pilihannya tidak kepada mereka yang juara satu, tetapi lebih ke arah feeling yang Jessy rasa. Lantas setelah cocok, mereka dibawa ke Remaco untuk rekaman. “Tahun 1967-1968, kita ingin mengalahkan pasaran musik Pop Barat dan yang pertama kali berhasil itu Riyanto dan rekaman Tety Kadi, melebih penjualan piringan hitamnya The Beatles di Sarinah sekitar tahun 1967” kata dia.

Sistem ini berlaku sampai tahun 1970, setelahnya pada dekade tersebut terjadi perubahan, dimana piringan hitam berubah jadi kaset yang diiringi dengan perubahan bentuk produksi sampai tanun 1970-an. “Karena kita yang mensuplai musik pop kepasaran dari perusahan Remaco dan Irama, jadi produser itu menunggu lagu yang kita ciptakan. Kalau ada yang satu lagu yang top itu biasa berurutan karema kita sudah menemukan ramuannya maka jadi saya melahirkan lebih satu lagu yang top” kata Jessy.

Ketika berubah, dimana peranan pencipta lagu berkurang dan yang menentukan adalah pimpinan band dan produser yang menjual kaset. Pimpinan band-lah yang menentukan lagu yang akan dinyanyikan oleh penyanyi. Sehingga pemain band yang mencari penyanyi, karena satu kaset isi banyak lagu dari 24 lagu dalam kaset hanya dibutuhkan satu lagu yang hits.

Menurut Jessy, ini yang sulit dicapai oleh sistem itu dari banyak lagu belum tentu semuanya hits. Lalu mereka menghapus dan membuat lagi rekaman lagu, kemudian lahirlah tiga kaset seharga Rp.1000. Sistem pertama tidak dipakai, setiap studio ada timnya sendiri yang mensuplai lagu, pemain, penyanyi kepada produser. “Kalau hasilnya baik diteruskan, kalau gagal penyanyi turun tapi tim itu tetap ada di studio. Kami bukan pegawai, karena kami pencari bakat yang mencari penyanyi di seluruh daerah” kata Jessy.

Segudang Karya Jessy Wenas
Setidaknya kurang lebih lagu 200 lagu Jessy ciptakan dari tahun 1961-1970. Di studio Remaco (30 Juli 1966), “Di tepi Kola”, “Peluklah Daku dan Lepaskan”, “Mega di Kala Senja (ciptaan tanggal 2 Juli 1966), “Pergi dan Kembali” (ciptaan tanggal 1 Juli 1966). Tahun 1967, Lagu ciptaan yang direkam di studio Remaco, bersama band studio Remaco (A.Riyanto, Joppy Item, Zaenal Arifin, Enteng Tanamal,dkk), “Semalam di Kota Bogor”, penyanyi Alfian. (PH. Aneka 12″.Vol.4), “Kini Ku Rindu”, penyanyi Tatty Sale, “Yang Terakhir”, penyanyi Tatty Saleh. Dari tahun 1967-1968, Lagu ciptaan yang direkam di studio Remaco, penyanyi Ernie Djohan “Pemalu” (ciptaan tanggal 6 Maret 1967, “Ingin Kembali” (ciptaan tanggal 29 Maret 1967), “Tidak Kutanya Lagi”, “Samudraku”, “Setengah dari Hatiku”, “Mutiara yang Hilang”.

Tahun 1968 , Lagu ciptaan yang dinyanyikan Bob Tutupoli, “Mengapa Tiada Maaf” (ciptaan tanggal 2 April 1968),dinyanyikan kembali oleh Yuni Shara, “ Wanita”. Lagu ciptaan yang dinyanyikan Titiek Sandora “Si Jago Mogok”, “Si Boncel”, “Jangan Tertawa”, “Warung Kopi” (duet dengan Muchsin Alatas), Micoma (Oh Mama). Lagu ciptaan yang dinyanyikan Titik Puspa, “Antara Sepi dan Kesepian”, “ Penyesalan”. Di Tahun yang sama lagu ciptaan yang dinyanyikan Patty Bersaudara, “Cintaku Abadi Untukmu” (ciptaan tanggal 6 Juli 1968), “Kisah Seribu Satu Malam”. Pun dengan lagu ciptaannya yang dinyanyikan Tetty Kadi, “Pramugari Udara”, “Bungaku”, “Bisikan Angin”, “Kuda Terbang”, “Tiada Maaf Bagimu”.


Peranan Media Massa bagi Perkembangan Musik Rock di Indonesia Pada Dekade 1970-an

24bb80f2601767f4d95c60872b583210

Era globalisasi telah memungkinkan bangsa Indonesia menikmati berbagai bentuk seni pertunjukan, baik yang disajikan secara langsung maupun tidak langsung lewat media massa. Sebagai media massa yang saling melengkapi, keberadaan majalah dan radio pada dekade 1970-an sangat menopang perkembangan musik popular, tidak terkecuali musik rock. Radio dan majalah disini berperan sebagai sumber informasi bagi musik dalam maupun luar negeri.

Pada masa itu grup musik yang diberitakan di majalah, lagunya juga diperdengarkan oleh radio. Majalah musik menjadi sarana yang menghubungkan penggemar musik di Indonesia dengan para bintang di luar negeri. Para musisi dan penggemar musik di Indonesia mengenal musisi rock Barat dari majalah baik dalam maupun luar negeri. Kolom-kolom dalam majalah ini juga bertindak sebagai semacam iklan dari rekaman baru musisi dunia. Selain itu majalah berperan sebagai penghubung antara pengemar musik rock, musisi rock lokal, dan musisi rock dunia.

Radio

Abad ke-20 ditandai oleh revolusi teknologi komunikasi dan segala produknya yang bersifat massal dan beragam. Radio sebagaimana produk alat modernisasi lainnya, hanyalah gejala awal dari generasi alat-alat teknologi baru musik yang membongkar semua pintu-pintu penyekat seni bunyi dan melahirkan anak pertama dari peradaban budaya musik massa di dunia modern. Radio telah menghapus jarak antara bunyi dengan orang, musik dengan pendengarnya, dan “membuka” telinga manusia selebar-lebarnya.

Melalui radio, musik Barat diperkenalkan secara efektif dan meluas kepada masyarakat umum ke seluruh Indonesia. Siaran radio yang sah di Indonesia dimulai pada tahun 1925 pada masa pemerintahan kolonial Belanda, ketika Bataviaasche Radio Vereneging (BRV), lembaga Radio Batavia yang dikelola oleh sekelompok penggemar radio ini banyak menyiarkan acara-acara musik Barat. Perkumpulan-perkumpulan radio juga bermunculan di berbagai kota di Pulau Jawa. Solo memiliki Solosche Radio Vereeniging (SRV), Yogyakarta menjadi basis Mataramche Vereeniging voor Radio Omroep (MAVRO), Surabaya mempunyai beberapa stasiun radio, salah satunya adalah Algemene Radio Vereeniging Oost Java. Bandung memiliki Vereeniging van Oorstersche Radio Luisreraars (VORL), dan lain-lain. Pada perkembangannya sekelompok pengusaha Belanda mendirikan stasiun radio Nederlandsch Indische Radio Omroep Maatschappij (NIROM) di Batavia. Siaran perdana radio ini dipancarkan pada 31 Maret 1934 dan direlai cabang-cabangnya di sejumlah kota.

Secara keseluruhan, NIROM membagi siaran dalam dua kelompok, yaitu untuk pendengar bangsa Eropa dan pendengar bagian “ketimuran”. Selain NIROM yang mempunyai hak memungut uang penarik dari semua pemilik radio, stasiun radio swasta juga bisa ditemukan di gelanggang media di wilayah Hindia Belanda. Organisasi radio swasta yang dikelola oleh penduduk pribumi dikenal sebagai stasiun radio ketimuran. Pada tahun 1937, stasiun radio ini bergabung bersama dalam satu perhimpunan badan-badan penyiaran, yaitu Perikatan Perhimpunan Radio Ketimuran (PPRK). Baik stasiun radio Eropa maupun pribumi memberikan sebagian besar waktu siaran mereka untuk acara seni dan hiburan.

Jika stasiun radio Eropa umumnya menyajikan musik Barat dari piringan hitam, maka stasiun radio pribumi mengkhususkan pada penyajian musik daerah. Pada tahun 1942 Jepang menduduki Hindia Belanda dan membangun suatu sistem siaran yang terpusat. Sesudah Indonesia merdeka, monopoli siaran radio ini diambil alih oleh Radio Republik Indonesia (RRI) dan berhasil memonopoli penyiaran berita-berita nasional, sementara itu cabang-cabangnya di daerah memberikan sebagian waktu siarannya untuk acara-acara setempat.

Memasuki dekade 1950-an selain siaran radio RRI, radio-radio pemancar asing seperti Radio BBC London-Inggris, Radio ABC-Melbourne, Radio VOA Washington, Radio Moscow, Radio Peking-China, mulai bisa ditangkap di wilayah Indonesia. Sejak saat itu orang Indonesia secara ekstensif terserap ke dalam rebutan propaganda seni melalui musik radio dari Jakarta, Melborne, London, Washington. Musik menjadi lebih bersifat umum, langsung, terbuka. Musik yang semula hanya bisa didengar di kalangan terbatas, kemudian bisa dinikmati oleh siapa, kapan, dan di mana saja melalui radio.

Peranan RRI dalam penciptaan bidang kreasi musik populer di Indonesia cukup krusial, karena penyelenggaraan sayembara untuk memenangkan “Bintang Radio” menyebabkan timbulnya komposisi-komposisi baru dalam bidang vokal, baik dalam jenis sariosa, hiburan maupun keroncong. Bintang Radio tingkat daerah, provinsi, dan pusat, serta dibukanya perusahaan studio rekaman milik pemerintah Lokananta, dan beberapa perusahaan swasta di Jakarta (Irama, Musika) di awal dekade 1950-an, yang hasilnya produksinya disiarkan melalui berbagai stasiun radio pemerintah RRI pusat maupun daerah, adalah koridor penyebarluasan musik massa yang pertama di Indonesia. Bersamaan dengan itu musik juga mulai “dijual” kepada publik secara umum dalam bentuk pertunjukan langsung di tempat-tempat terbuka. Radio telah menjadi penyambung lidah dunia.

Nama-nama penyanyi seperti: Bing Slamet, Norma Sanger, Prana Djaya, Samsaimun, Titik Puspa, Ping Astono, dan sebagainya adalah ikon-ikon musik radio yang membentuk generasi pertama budaya musik popular Indonesia. Bintang Radio dekade 1950-an merupakan periode asal mula lahirnya lagu-lagu, teknik, dan gaya bernyanyi musik popular Indonesia. Kecuali musik keroncong, lagu-lagu Bintang Radio banyak mengambil hikmah dari musik-musik popular dari Amerika dan Eropa. Akan tetapi adaptasi pengaruh itu berhasil diolah menjadi gaya khas sendiri yang berbeda dengan sumber aslinya.

Dalam perkembangan waktu, radio sebagai media elektronika yang pertama dikenal di Indonesia mengalami momentum perkembangan baru setelah Orde Baru. Memasuki Orde Baru dunia musik Indonesia memasuki babak baru karena musik Barat lebih bebas dari tekanan pemerintah. Masa Orde Baru, kedua komponen sistem komunikasi nasional yaitu radio dan televisi menduduki tempat yang cukup penting dalam masyarakat dan berkembang dengan pesat. Berbagai stasiun radio terus dikembangkan di banyak kota-kota besar di tanah air. Perkembangan radio ini semakin menarik dengan kemunculan radio-radio siaran swasta niaga di hampir semua kota-kota besar di Indonesia.

Pada tahun 1966-1967 banyak perubahan yang terjadi dalam masyarakat akibat perubahan politik. Situasi peralihan itu merupakan kesempatan yang baik bagi mereka yang mempunyai hobi di bidang penyiaran radio, khususnya radio amatir untuk mengadakan siaran radio. Pemerintah pun mengeluarkan PP No. 21/Th. 1967 tentang kegiatan Amatir Radio Indonesia. Keluarnya peraturan ini dilatarbelakangi oleh mengudaranya Radio Ampera yang merupakan radio sarana perjuangan kesatuan aksi dalam perjuangan Orde Baru.

Kemunculan radio ini diikuti pula oleh munculnya stasiun radio lainnya di beberapa kota besar di Indonesia. Radio amatir adalah seperangkat radio yang dipergunakan oleh seorang penggemar untuk berhubungan dengan penggemar lainnya. Sifatnya “two way traffic communication” dalam bentuk percakapan. Mulai pertengahan dekade 1960-an, para mahasiswa memprakarsai pendirian radio swasta dengan format acara yang disesuaikan dengan selera mereka sendiri.

Kehadiran siaran radio ini berpengaruh terhadap perkembangan pendengarnya yang umumnya adalah kalangan remaja. Siaran radio yang memiliki khalayak pendengar yang paling luas menimbulkan pengaruh terhadap kelompok-kelompok musik yang baru berdiri. Setelah 1967, banyak bermunculan grup-grup musik baru, grup-grup itu memulai dengan memainkan lagu-lagu yang tengah populer pada waktu itu yang didominasi oleh lagu-lagu dari The Beatles dan sebagainya.

Berdasarkan UU No.5/Th.1964 dalam rangka usaha penertiban dan pengarahan kepada hal-hal yang positif pada tahun 1970, Pemerintah mengeluarkan PP No. 55/Th.1970 tentang Radio Siaran Non-pemerintahan. Dalam peraturan ini ditentukan bahwa radio siaran non-pemerintah harus berfungsi sosial, yaitu sebagai alat didik, alat penerangan, alat hiburan, dan bukan alat untuk kegiatan politik.

Radio dianggap memiliki kekuasaan karena tiga faktor, yakni radio siaran yang bersifat langsung, radio siaran tidak mengenal jarak dan rintangan, dan radio siaran mempunyai daya tarik yang kuat. Daya tarik ini disebabkan oleh sifatnya yang serba hidup, berikut tiga unsur yang ada padanya, yakni musik, kata-kata, dan efek suara. Pesawat radio yang kecil dan harganya relatif murah ini dapat memberikan hiburan, penerangan, dan pendidikan. Pendengar dapat memilih berpuluh-puluh frekuensi stasiun radio, baik di dalam maupun di luar negeri yang disukainya di antara berbagai macam hiburan kesenian nasional atau daerah, musik populer dan klasik. Ketiga faktor inilah, yang menyebabkan radio diberi julukan “The Fifth Estate” atau kekuasaan kelima, setelah pers (surat kabar) yang dianggap sebagai kekuasaan keempat “The Fourth Estate”.

Radio mempunyai tiga faktor daya tarik bagi para pendengarnya, yaitu musik, kata-kata, dan efek suara. Salah satu unsur hidup yang menjadi tulang punggung dari radio siaran adalah musik. Orang menyetel radio terutama untuk mendengarkan musik karena musik merupakan suatu hiburan. Radio adalah sarana komunikasi yang paling banyak dipergunakan untuk hiburan. Dari penelitian pelajar sembilan SLA yang dianggap mewakili kelompok masyarakat tingkat ekonomi rendah, menengah, dan tinggi, didapatkan hasil 77,02% menyatakan mendengarkan radio dan menyukai siaran hiburan, terutama musik untuk mengisi waktu senggang. Radio siaran yang tergolong sebagai radio siaran non-pemerintah ini memberikan alternatif lebih banyak dan jam siaran yang lebih lama serta acara penyajian yang lebih cocok untuk selera kaum muda.

Maraknya pemancar radio dengan antena bambu menandai kehidupan anak muda dekade 1970-an. Kehadiran radio-radio amatir yang umumnya dikelola oleh anak-anak muda banyak memutarkan lagu-lagu yang sedang trend yang mereka sukai. Pengaruh radio swasta dalam membentuk selera musik pendengarnya dapat dilihat dari tiga kegiatan radio swasta yang ditulis oleh majalah Aktuil pada pertengahan dekade 1970-an, yaitu Radio Trijaya Sakti, Monalisa, dan Prambors.

Studio–studio ini dapat langgeng berdiri selain karena adanya iklan-iklan yang bisa membiayai karyawannya, juga karena program-programnya akrab di hati para kaum muda. Radio Trijaya Sakti ini mempunyai program yang memilih lagu-lagu populer. Pemilihan lagu-lagu populer dilakukan berdasarkan atas naluri penyiar dan tidak berdasarkan permintaan pendengar. Lagu-lagu yang diputar biasanya diperoleh dari perusahaan rekaman yang mengirimkan piringan hitamnya. Penyiar Trijaya Sakti, mengakui bahwa apabila suatu lagu sering diputar, maka masyarakat pendengar akan terbiasa.

Perusahaan rekaman banyak yang menginginkan kaset dari produser rekaman untuk promosi. Radio kedua adalah Radio Monalisa yang mengutamakan pemutaran lagu-lagu pop Barat. Akan tetapi, studio radio ini juga mempunyai koleksi lagu-lagu berbahasa Indonesia. Menurut pengasuh acara di Monalisa, radio swasta yang dianggap top oleh perusahaan rekaman akan mendapat kiriman lagu-lagu dari perusahaan rekaman.

Radio ketiga adalah radio Prambors di Jakarta yang mulai beroperasi pada tahun 1967. Pemancar radio seperti ini dioperasikan oleh anak-anak muda yang menjadikannya sebagai penyalur hobby. Selain Radio Prambors, di Jakarta juga banyak bermunculan pemancar radio seperti TU 47, Mr Pleasant, dan beberapa nama unik lainnya yang rata-rata belum memiliki izin resmi. Prambors yang berada di sekitar Menteng baru memiliki izin resmi sebagai radio swasta niaga pada tahun 1971. Radio yang dibentuk oleh anak-anak muda di seputar Jalan Prambanan, Mendut, dan Borobudur bisa dianggap membentuk selera musik anak muda saat itu. Mereka menyiarkan lagu-lagu yang mereka gemari, yakni lagu Barat.

Radio yang menyapa pendengarnya dengan sebutan kawula muda ini menjalin hubungan akrab di antara anak muda karena memutar lagu-lagu dari grup musik The Rolling Stone, Pink Floyd, Black Sabbath, Led Zeppelin, dan sebagainya. Radio ini melayani selera anak-anak muda, diibaratkan apabila telinga kita jika sehari saja terus-menerus mendengar radio tersebut, yang didengar adalah suara teriakan-teriakan keras dari kelompok musik keras, ciri ini yang menandai Radio Prambors. Radio Elshinta dengan Riel sebagai pembawa acaranya mengisi acara yang sedang didengar oleh anak-anak muda yang gemar pada musik hiburan. Cara pengungkapan Riel dengan acaranya “dari artis untuk artis” banyak didengar oleh anak-anak muda yang gemar bermain musik dalam band pop.

Seperti halnya dengan kota-kota lainnya di tanah air, di Bandung pun berdiri pemancar radio amatir dan di antaranya yang banyak dikenal adalah YG, Mara 27, Mercy 73, Falcon, Sableng, Bongkeng, Blue Angel, dan sebagainya. Satu di antaranya yang cukup populer khususnya di kalangan para muda-mudi kota kembang adalah Young Generation – Studio Pusat atau disingkat YG Siaran radio Young Generation dapat ditangkap di seluruh daerah kabupaten Bandung, Garut, Sukabumi, dan Bogor. Selain nama-nama itu, di kota Bandung juga ada pemancar radio amatir yang cukup banyak mendapat penggemar, yaitu radio Flippies Psychedelic. Radio ini ketika kali pertama mengudara hampir semua lagu-lagu yang diputarnya adalah lagu-lagu berirama psyhedelic. Siaran radio ini dapat ditangkap tidak hanya oleh masyarakat Bandung saja, tetapi sampai Tanjung Karang, Makassar, dan kota lainnya di luar pulau Jawa. Radio Siaran di Kota Malang yang menjadi corong musik rock antara lain adalah Radio TT 77 dengan penyiar Djoni Mamisa, Radio Senaputra dengan Ovan Tobing, serta Radio KDS 8, dengan penyiarnya yang bernama Husni.

Majalah

Tumbuh dan berkembangnya musik rock di Indonesia pada dekade 1970-an tidak terlepas dari adanya media cetak sebagai penyebar informasi, khususnya majalah musik. Majalah musik adalah media informasi mengenai (1) berita kegiatan, (2) sorotan, esai, kritik, dan timbangan, (3) pembahasan menyeluruh mengenai seluk-beluk musikologi. Majalah yang sering menulis mengenai dunia permusikan di Indonesia yang terbit antara tahun 1950-1980 adalah Musika, Selecta, Monalisa, Diskorna, Monitor TVRI, Midi, Top, Junior, Aktuil, Varianada, Sonata dan Violett. Majalah tersebut berfungsi sebagai alat komunikasi bagi para pencinta musik dan penyanyi serta musiknya.

Beberapa majalah menempati posisi sentral sebagai majalah musik yang digemari oleh banyak anak muda, seperti majalah Aktuil dari Bandung, serta TOP dan Junior dari Jakarta. Isi berita musik masih meniru mentah-mentah majalah musik luar negeri seperti Pop Foto dan Muziek Ekspress. Majalah-majalah itu muncul dengan atribut-atribut bonusnya, seperti poster, stiker atau pun gambar setrika yang isinya adalah gambar para bintang, nama grup musik mereka, maupun hal-hal lain yang berkaitan dengan musik. Dalam hal ini majalah Aktuil menjadi penting karena selalu muncul dengan ide-ide baru, seperti gambar setrika dan poster dua muka yang kemudian menjadi fenomenal dalam mengulas mengenai perkembangan musik di Indonesia. Majalah ini banyak menulis peristiwa yang terjadi dalam percaturan musik Indonesia serta berupaya untuk membentuk opini masyarakat pencinta musik.

Pembentukan opini dalam majalah Aktuil diarahkan pada kehebatan musik rock, karena musik pop sering dianggap musik yang berkualitas rendah.Perkembangan musik rock mendapat dukungan yang hebat dari majalah musik Aktuil. Hampir dalam setiap terbitan, majalah Aktuil membicarakan aktifitas musik rock di negeri ini Selain membentuk opini, majalah ini juga membentuk beberapa istilah dalam musik, contohnya istilah underground dan blantika.

Aktuil merupakan nama majalah hiburan umum beralamat di Bandung, Majalah Aktuil beredar kali pertama sejak akhir dekade 1960-an. Awal terbitnya majalah ini berupa majalah musik remaja dengan susunan pengelola pemimpin umum: Toto Rahardjo: pemimpin redaksi: Asbari Nurpatria Krisna; dan pemimpin perusahaan: Noor S.A. Majalah khusus musik yang terbit di Bandung ini menjadi legenda karena semasa hidupnya dikenal sebagai pelopor pembawa informasi perkembangan musik kepada publik Indonesia, tidak hanya yang berasal dari dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri. Pada dekade 1970-an, majalah ini tercatat membuka jaringan kantor perwakilan dan korespondennya di luar negeri (Hamburg, Munich, Berlin, Swedia, Stockholm, Ottawa, Tokyo, Hongkong, Kowloon, dan New York).

Pada tahun 1973-1974 majalah ini sempat berhasil menembus tiras sekitar 126 ribu eksemplar, dan menjadi trend setter anak muda yang penting pada masa itu. Pada tahun 1975, Aktuil juga mengejutkan publik Indonesia dengan mengundang grup musik Deep Purple untuk berpentas di Indonesia. Saat itu, pentas-pentas musik apalagi dengan mendatangkan pemain musik dari luar negeri masih jarang terjadi. Di kota kelahirannya, majalah Aktuil memberikan pengaruh besar pada semangat kreatif para musisi-musisinya. Seperti dikatakan oleh Harry Roesli bahwa majalah Aktuil banyak memberi pengaruh besar pada semangat kreatif para musisi Bandung. Selain itu majalah ini juga menyuguhkan informasi-informas terbaru tentang perkembangan musik. Penerbitan majalah ini bermula dari ide Denny Sabri Gandanegara (Denny Sabri merupakan putra pertama Sabri Gandanegara, wakil gubernur Jawa Barat periode 1966 – 1974), kontributor majalah Discorina, Yogyakarta. Ia kemudian bertemu Bob Avianto, seorang penulis lepas masalah-masalah perfilman. Berawal dari obrolan ringan, akhirnya mereka sampai pada perbincangan intens dan serius untuk membuat majalah hiburan.

Avianto menemui Toto Rahardjo, pemimpin kelompok musik dan tari Viatikara. Gayung bersambut, di rumah Syamsudin mereka mencapai kata sepakat dan mengusulkan Aktuil sebagai nama majalah. Asal kata Aktuil diambil dari nama majalah luar negeri yaitu Actueel yang merupakan majalah musik yang terbit di Belanda. Tahun 1970-1975 merupakan masa keemasannya saat Aktuil menjadi bacaan wajib bagi anak-anak muda di Indonesia. Lebih-lebih setelah seniman Remy Sylado menyuntikkan eksperimen sastra mbeling dalam bentuk cerita bersambung Orexas.

Cerita ini sekaligus menegaskan Aktuil sebagai majalah anak muda. Orexas sendiri bukan dewa atau ksatria dari mitos Yunani, melainkan kependekan dari “organisasi seks bebas. ” Pameo yang mengatakan “belum jadi anak muda kalau belum membaca Aktuil”, bukanlah sesuatu yang berlebihan. Dalam sebuah catatan Remy Sylado dikatakan bahwa majalah Aktuil menyuarakan budaya tandingan (counter culture) terhadap struktur budaya yang mapan pada masa itu. Bahkan, majalah ini masih dianggap sebagai “kitab suci”, khususnya oleh para rock mania yang besar di dekade 1970-an.

Meskipun majalah ini lebih tertarik untuk menulis berita musik rock, namun untuk urusan informasi musik dan aktualitas berita musiknya majalah ini menempati urutan pertama. Kesuksesannya kemudian menjadikan majalah ini sering dianggap sebagai majalah musik pertama di Indonesia. Padahal, kenyataannya sepuluh tahun sebelum kelahiran Aktuil, majalah musik Musika terbit di Jakarta. Mulai tahun 1976, pamor majalah Aktuil mulai merosot-setidaknya kalau dilihat dari segi penjualan. Ketika majalah ini dipindah ke Jakarta pada tahun 1979, nasibnya pun tidak menjadi lebih baik.

Majalah ini sempat menjadi majalah umum sebelum akhirnya benar-benar “mati” pada tahun 1986. Kritik musik yang disiarkan majalah Aktuil yang khusus memberitakan kegiatan-kegiatan musik itu pun tidak mewakili pengertian yang asasi tentang kritik musik. Hal ini mungkin karena pembaca hanya mengerti soal selera, dan kritik musik yang hadir di majalah tersebut terpaksa menyesuaikan diri. Sementara itu tidak dapat diingkari bahwa peta musik dunia sedang dicandui oleh lagu-lagu niaga atau pop yang dilemparkan dari negeri dolar dan musik ini rupanya menempatkan selera berada di atas segala-galanya. Selain itu keluarnya Remy Sylado disinyalir sebagai pemicu merosotnya pamor Aktuil. Pihak perusahaan dinilai Sylado tidak terbuka kepada redaksi untuk persoalan keuangan. Selain itu, konser Deep Purple juga dituding sebagai pemicu. Konser pertama memang sukses, akan tetapi di hari kedua, pintu stadiun jebol dan banyak penonton yang masuk tanpa karcis.

Banyak penyanyi dan musisi mengakui bahwa keberhasilannya didukung oleh media massa cetak. Pemberitaan media massa cetak baik positif dan negatif, keduanya dianggap menguntungkan, sebab pada hari-hari berikutnya terjadi opini yang terus berkembang. Penggemar musik rock di Indonesia adalah bentukan dari majalah. Mereka yang menjadi penggemar suatu grup musik, sebagian besar sebenarnya tidak pernah menyaksikan secara langsung pertunjukan musisi idolanya. Majalah musik juga menjadi media promosi musik rock yang penting. Sementara grup-grup musik pop sudah menggunakan televisi sebagai media promosi bagi album mereka. Album pertama God bless hanya dipromosikan lewat majalah Aktuil dan Top. Publikasi grup Superkid didukung secara terang-terangan oleh majalah Aktuil. Di setiap terbitannya, sejak Superkid diperkenalkan kepada pencinta musik rock, majalah itu selalu memuat berita-berita tentang mereka. (dari berbagai sumber)


Konser Kantata Barock Dua Tahun Lalu

Kibaran Bendera berlambang Oi, kata-kata OI diteriakan  oarang yang tergila-gila tak hentinya menyanyiakan setiap kata dari lagu, jebolnya pintu masuk, kerumunan massa lengkap dengan atribut idolanya dan lain sebagainya. Kesemua itu adalah pemandangan umum yang akan didapatkan saat Iwan Fals pentas.Tapi malam itu, Iwan Fals tidak sendiri, disamping kiri  ada Setiawan Djodi, dan Sawung jabo plus para pemain musicklainnya.

Kantata-Barock-Bagus-2

Ya, mereka adalah Kantata Barock yang didaulat pentas sabtu malam ini. Konser dibuka dengan lagu Padamu Negeri yang dinyanyikan beramai-ramai bersama para pengunjung. Sawung Jabo, arsitek musik Kantata, muncul seperti biasa dengan baju merah dan tutup kepala berwarna sama.

Di atas panggung Jodi berkata “dua puluh satu tahun lalu, siapa yang di sini, Kita kangen kalian semua. Sekarang, kita resolusi sosial dan menghibur saudara-saudara sekalian”. Iwan fals pun tak ketinggalan juga berkata Selamat malam, selamat datang di negeri para calo! kepada para penonton.

Sambutannya pun sontak ditanggapi gemuruh suara oleh penonton. Pertunjukan mulai, pertanda tiga jam disini akan hanya ada Kantata barock dan para penggemar setianya berikut listrik 300 watt dan 24 tembang yang akan dibawakan.

Kantata Barock  pentas pada pukul 19.30, setelah kotak band tampil sebagai band pembuka. Iwan Fals, Setiawan Djody, Sawung Jabo, dan kawan-kawan menggeber lagu “Nocturno” dan membuat bergemuruh para penonton yang sejak sore sudah mulai berkumpul di area Bung Karno.    “Selamat malam, selamat datang di negeri para calo!” kata Iwan Fals, seusai menyudahi lagu pertama. Wajah-wajah presiden RI, mulai dari Ir Soekarno hingga Susilo Bambang Yudhoyono, pun menjadi latar saat Iwan Fals berorasi.

Lagu kedua kembali didendangkan”Presiden Tanpa Rakyat” berkumandang, dengan irama rock n roll, lagu ini benar-benar mengajak bergoyang penonton yang datang. Lagunya dari Partai Bonek, Goro-Goro,Bongkar  Balada Pengangguran, HIO sampai  versi teranyarnya yang berjudul Barong Bento menjadi teman setia para penggemar. Nanyian Jiwa membius para penonton yang turut menyanyikan lagu tersebut dengan satu suara diiringi hujan rintik.

Kesemua tembang yang dinyanyikan Kantata Barock malam itu hanya lima lagu yang merupakan lagu baru, termasuk lagu yang berjudul megalomania. Uniknya lagu yang bercerita tentang masyarakat Indonesia lebay ini  dinyanyikan Iwan Fals dengan dialek betawi.

Iwan pun sempat berlada ria seperti ciri khasnya.  Penonton terduduk di rumput hijau disaat Iwan mulai berorasi sebentar sebagai pengantar lagunya teranyar  berjudul Ombak. “lagu ini sebenarnya pengen saya kasih judul Samudra, tapi saya ganti menjadi ombak” kata iwan.  Dia berkata keheranannya dengan negeri yang kaya akan lautan ini tapi justru  ironis kenapa ikannya mahal, begitu juga dengan hutan mangrove dan karang di Indonesia yang sudah mulai banyak yang rusak akibat ulah manusia.

Khusus untuk lagunya  Barong Bento, di pentas ini  dibawakannya dengan lebih ngerock dengan modifikasi lirik disana-sini plus irama Bali. “yang tadinya bento itu untuk orang lain sekarang Bento itu adalah kami bertiga, bento yang baik” kata Setiawan Djodi Maksudnya, jika dulu si Bento merupakan personifikasi ketamakan yang mempunyai bisnis menjagal apa saja yang penting senang, sekarang  Bento ini berjuang melawan apa saja dan sadar untuk berontak.

Tak pelak, lantaran ada perubahan aransemen dari lagu Bento, banyak penonton yang tidak sedikit terkecoh saat lagu itu didendangkan” wah lagu bentonya ternyata lain, nyanyi salah tadi gw” kata salah seorang penonton. Tapi berubahnya lagu tak lantas membuat diam mulutnya. Ia pun komat kamit mengikuti  lirik lagu sekenanya.

Memang konser malam ini tak segempita konser perdananya  21 tahun lalu,  Iwan Fals, Sawung Jabo, Setiawan Djody, WS Rendra, dan Yockie Soerjoprajogo menggeber stadion senayan.  Ditambah konsernya sekarang adalah konser pertama yang digelar selepas kepergian WS Rendra, tapi ini tak menyurutkan para penonton yang enggan beranjak pulang sampai lagu terakhir Kesaksian dinyanyikan.

Terlebih lagi, mata penonton dimanjakan dengan tata panggung yang disajikan begitu apiknya. Foto Gayus pun terselip muncul di atas panggung di Gelora Bung Karno jadi astronot, tak hanya jadi astronot gayus pun hadir dalam mata uang dollar .  Selain  itu  juga tampak sekilas gambar kecoa  yang merepresentasi para penghisap ekonomi  dan beberapa pemimpin negara yang dianggap diktator.

Diperkuat Dody “Elpamas” Katamsi sebagai backing vocal dan beberapa pemusik dari Sirkus Barock bentukan Sawung Jabo, seperti Joel Tampeng (gitar), Toni Agusbekti Sutomo (bas), Endy Barqah (drum), Denny Yuda Kusuma (perkusi), Ucok (biola), serta Edi Darome (kibor), tuntaslah sudah konser yang sudah lama di tunggu-tunggu oleh para penggemarnya.  Eko (40), salah satu penonton mengatakan  dengan lantang akan  selalu nonton konser iwan fals sama kantatanya, “dari dulu sampai sekarang dan kalau ada saya akan selalau menonton kalau Kantata pentas” kata dia.


Tahun 1967: Year Of The Dragon

Tanpa disangka bahwa sebuah tahun mempunyai suatu arti sendiri bagi suatu perkembangan musik, terbukti bahwa di tahun 1967 banyak terjadi peristiwa penting dalam dunia permusikan di dunia maupun di Indonesia. Hal-hal esensial apa saja yang terjadi di tahun tersebut. Tulisan singkat ini akan mengupas sedikit mengenai hal-hal penting yang terjadi di tahun itu.

koes-rekor

Sebagai catatan pembuka, tercatat bahwa pada tahun 1967 terjadi pergantian rezim pemerintah di Indonesia dari pemerintahan Soekarno ke pemerintahan Soeharto MPRS memberhentikan Soekarno dari jabatannya sebagai Presiden dan mengangkat Soeharto sebagai penggantinya dan di tahun itu pula juga terjadi apa yang dinamakan itu sebagai “politik pintu terbuka” di bidang ekonomi yaitu pemberlakuan UU tentang Penanaman Modal No.1 /1967 modal asing masuk ke Indonesia dan implikasi logis dari kebijakan tersebut adalah adanya kenyataan turut masuknya ‘budaya asing’ ke Indonesia yang membuat semakin puspa ragamnya aspek kehidupan sosial di Indonesia, tidak terkecuali dalam ranah musik popular.
Tahun 1967 merupakan tahun terbentuknya grup musik AKA. Grup ini dalam perkembangannya nanti pada decade 1970-an banyak mempertontonkan aksi panggung yang teatrikal yang belum dipertunjukkan sebelumnya oleh para musisi pribumi mana pun dan menjadi sesosok grup musik fenomenal yng tercipta hanya pada decade itu. Ekistensi AKA di panggung musik rock domestik era 1970-an tidak bisa dipandang remeh. Bahkan, AKA yang dibentuk di Surabaya, 23 Mei 1967, dapat dianggap sebagai “pelopor” musik rock di Tanah Air. Popularitas mereka waktu itu hanya bisa dikalahkan oleh grup-grup legendaris seperti Koes Plus atau Panbers.
Para penonton selalu berjubel di setiap pementasan AKA. Artis film Roy Marten dan Hendra Cipta konon pernah mengaku harus menjual celana jins hanya karena ingin menyaksikan pentas AKA. Seorang anak di pelosok desa di Bali sejak kecil dipanggil dengan “Ucok” hanya lantaran ia berambut kribo. Itulah kira-kira gambaran betapa sekitar tahun 1970-an Ucok bersama AKA benar-benar menyihir masyarakat.

The Rollies, grup musik pioner jazz rock indonesia terbentuk walaupun embrionya muncul pada 1965 dari band yang dibawa Deddy Stanzah dan band Delimas yang beranggotakan Delly (gitar), Iskandar (gitar rhythm), dan Iwan Krisnawan (drum). Tahun 1967 lebih dimaksudkan bahwa Gito, penyanyi eksentrik dengan suara parau tapi melodius yang telah dipanggil oleh Tuhannya mulai bergabung dalam grup musik ini.

Mereka memainkan lagu-lagu yang sedang trend di zamannya, termasuk dari Jimi Hendrix, Cream, sampai The Monkeys. Pada tahun yang sama The Rollies merambah ke Singapura. Mereka bermain tetap pada acara Morning Show di Bioskop Capitol Singapura dan memulai dengan menyanyikan musik-musik rock Barat di atas pentas panggung pertunjukan. Pada 1969 bergabunglah Benny Likumahua memainkan saxofon. Sejak itu Rollies cenderung bermain jazz rock dengan orientasi ke musik jenis Chicago.

Masuk tahun 1970 Rollies memantapkan seksi tiup dengan Iskandar pada saxofon, Gito (trumpet), dan Benny Likumahua (trombon). Saat itu masuk Bonny Nurdaya pada lead gitar dan vokal. Posisi Deddy Stanzah, dan Iwan tetap pada bas dan drum. Satu catatan, kemampuan vokal personel boleh dikatakan merata. Mereka sering menampilkan harmoni vokal yang tertata apik. Waktu itu jazz rock belum lazim dan the Rollies berupaya mensosialisakan jazz rock dari penggung ke panggung musik nasional.

Pada tahun yang sama grup musik Koes Bersaudara setelah keluar dari penjara karena terkait isu subversif , masuk ke dalam studio rekaman dan mengeluarkan album To The So Called the Guilties yang cukup “keras” apabila dilihat dari ukuran zamannya. Koes Bersaudara di bawah label rekaman Dimita dan dengan didukung oleh alat-alat dan sound yang ketika itu tergolong baru menggebrak pasar musik pop Indonesia dengan memainkan irama rock ’n roll yang berani.

Koes Bersaudara dijadikan simbol perlawanan kaum muda terhadap kemapanan, terutama dari segi musiknya. Penampilan Koes Bersaudara seperti layaknya The Beatles dengan potongan rambut yang sebagian menutup kening, celana ketat, dan sepatu lancip dengan hak tinggi. Penampilan Koes Bersaudara di panggung ibarat kuda yang lepas dari kekangan dan konser-konser mereka di berbagai kota dipenuhi oleh histeria penonton.

Grup musik ini menggunakan beat-beat cukup keras untuk ukuran zamannya, dan beat-beatnya ini dapat didengar dari salah satu lagunya yang diciptakan pada tahun 1967 Seperti yang termuat pada album To The So Called the Guilties dengan lagu yang berjudul sama. Album ini merupakan buah perenungan mereka selama mendekam di dalam penjara dan album ini melambungkan hits; Di Dalam Bui, Mengapa Hari Telah Gelap dan Three Little Words.

Album ini pun masuk dalam peringkat 6 daftar 100 album terbaik sepanjang masa versi majalah Rolling Stones Indonesia. selain Koes Bersaudara menelorkan album To The So Called the Guilties tahun 1967 koes bersaudara mengeluarkan album jadikan aku dombamu Beberapa kalangan menganggap bahwa berdirinya grup musik Koes Bersaudara merupakan awal berkembangnya musik rock di Indonesia, namun ada beberapa kalangan kurang setuju mengkategorikan Koes Bersaudara dalam aliran musik rock karena dalam perkembangannya grup ini menciptakan musik lintas genre. Jenis musik apa saja, entah itu pop dengan berbagai jenis variannya,pop melayu, pop religi, dangdut, dan yang lainnya digarap oleh para jenius yang tergabung dalam grup musik ini

Sejak tahun 1967 The Flower Generation atau generasi bunga melancarkan protes anti-perang Vietnam di kampus-kampus di Amerika Serikat dan Eropa. Para Penyanyi Folk seperti, Bob Dylan dan Joan Baez mempelopori gerakan protes tersebut melalui karya-karya mereka yang mendalam, masing-masingnya melalui lagu Blowing in The Wind dan Bangladesh, begitu juga dengan protes anti-perang dengan slogannya War Is Over oleh John Lennon yang akhirnya melahirkan sebuah karya yang berjudul Imagine.

Tahun 1967 itu juga merupakan tahun berdirinya majalah fenomenal Rolling Stones di Amerika Serikat yang terus berkibar sampai detik ini dan telah melebarkan sayap invasi budaya musik populernya ke seluruh dunia. Di tahun 1967 mencatat beberapa album fenomenal yang tercipta, diantaranya adalah. The Beatles dengan albumnya Sgt Pepper Lonely Hearts Club Band dan Magical Mystery Tour-nya, The Rolling Stones dengan albumnya Between The Buttons dan Flowers, The doors stranges day, Jimmy Hendrix dengan albumnya Axis Bold as Love dan Are You Experienced, Jefferson Airplane Surrealistic Pillow, Grateful dead, The Byrds Younger Than yesterday, The Hollies Evolution, The Kinks Something Else by The Kinks, Procol Harum, Cream Disraeli gears, dan lain-lainnya. Untuk lebih lengkapnya baca artikel Rolling Stones edisi Agustus 2007 dengan judul 40 Essential Album Of 1967. (berbagai sumber)


Sejarah Rekaman di Indonesia dari awal abad ke-20 sampai dekade 1970-an

Snap 2014-11-25 at 14.42.21

Dunia rekaman di Indonesia berawal dari masuknya gramaphone Colombia buatan Amerika yang diimpor ke Hindia Belanda pada awal abad ke 20. Indonesia mulai memasuki awal perkembangan industri piringan hitam. Pada saat itu orang Belanda harus menunggu kiriman piringan hitam dari Belanda untuk mendengarkan musik-musik yang baru. Namun untuk pengiriman itu membutuhkan waktu yang cukup yang lama sehingga mereka merekam keahlian bermusik pribumi. Orang Indonesia yang dekat dengan orang Belanda sering diperdengarkan lagu-lagu Barat seperti jazz dan klasik sehingga mereka dapat belajar musik.

Keberadaan perusahaan rekaman di Indonesia seperti yang tertulis dalam buku karangan Yapi Tambayong yang berjudul Ensiklopedia Musik jilid 2, menyebutkan bahwa sekitar dekade 1920-an perusahaan rekaman piringan hitam Tio Tek Hoang merupakan perusahaan yang banyak merekam penyanyi-penyanyi sampai perang dunia ke-2 dan perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan yang mendominasi pembuatan piringan hitam ketika itu.

Semua rekaman PH yang diproduksinya selalu dimulai dengan suaranya sendiri sebelum musik terdengar, begitu jarum mengena PH darinya terdengar suaranya yang berkata: “terbikin oleh Tio Tek Hong Batavia”. Perusahaan Tio Tek Hong yang berada di Batavia juga banyak mencetak dan mempublikasikan lagu-lagu keroncong yang dibuat oleh Paul Seeking dan Fred belloni. Jadi berdasarkan atas keterangan yang termuat dalam buku tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa aktivitas perusahaan rekaman ini telah dijalankan sebelum dekade 1950-an.

Pada tahun 1954 perusahaan rekaman Irama berdiri, disusul Dimita, Remaco di Jakarta dan perusahaan rekaman milik negara Lokananta di Solo. Perusahaan rekaman Irama banyak merekam lagu-lagu dari Orkes Melayu, keroncong, dan penyanyi solo, kemudian dalam perkembangannya Irama merekam lagu-lagu pop. Jejak Irama diikuti oleh perusahaan rekaman Dimita dan Remaco, yang selain memproduksi lagu-lagu keroncong, juga mulai berpaling pada lagu pop. Dimita yang dipimpin Dick Tamimi memproduksi piringan hitam Panbers dan Koes Bersaudara, sebelum kedua grup itu pindah ke Remaco.

Sementara Lokananta tetap memproduksi lagu-lagu daerah dan tradisional. Hingga tahun 1964, perusahaan-perusahaaan yang memproduksi piringan hitam ini tidak mengalami hambatan berarti kecuali pasar yang lambat berkembang. Industri rekaman Indonesia baru memasuki era kaset tahun 1964. Jangkauan pasar kaset yang luas, menyebabkan Remaco juga mulai memproduksi kaset tahun 1967 Yang pertama direkam Irama adalah sebuah quintet yang terdiri dari Dick Abel, Max van Dalm, Van der Capellen, dan Nick Mamahit.

Perusahaan rekaman pertama setelah kemerdekaan Indonesia ini juga memproduksi penyanyi dan grup musik Melayu seperti Hasnah Tahar (Burung Nuri, Khayalan dan Penyair), yang diiringi Orkes Melayu Bukit Siguntang pimpinan A Chalik. Kemudian Munif Bahasuan (Ratapan Anak Tiri), Oslan Husein yang me-rock ‘n roll-kan lagu Bengawan Solo, Kampuang nan Jauh di Mato dengan iringan musik orkes Taruna Ria, Nurseha (Ayam den Lapeh, Laruik Sanjo), serta Mas Yos sendiri yang merekam suara lewat lagu Nasi Uduk.

Sebelum menjadi Koes Bersaudara dan masuk rekaman Dimita tahun 1969, Koes Bersaudara yang terdiri dari Tonny, Yon, Yok, Nomo, Jon pada tahun 1962 merekam lagu-lagunya di Irama. Dengan Remaco-nya, Eugene Timothy merekam suara emas Broery Pesolima, Eddy Silitonga, Ernie Djohan, Tetty Kadi, Lilies Suryani, Ida Royani, Benyamin S, Hetty Koes Endang, Rhoma Irama, Elvy Sukaesih, grup Empat Nada, Koes Plus, Mercy’s, D’lloyd, Favouriet’s, Panbers, Bimbo, The Pros, The Crabs, serta sederetan nama lainnya. Remaco merupakan perusahaan rekaman pertama di Indonesai yang menggunakan sistem rekaman 8 track. Seperti halnya Irama Record, Remaco setelah beralih kepemilikan lebih tertarik untuk memproduksi musik pop dibandingan dengan musik rock dengan alasan musik rock tidak menjual.

Memasuki dekade 1970-an perusahaan rekaman semakin berkembang dan rata-rata perusahaan rekaman tersebut menggunakan sistem track rekaman di studio-studio dan hasil rekamannya dapat berupa kaset maupun piringan hitam. track adalah suatu sistem rekaman dalam pita besar yang dapat menyaring masing-masing suara atau bunyi instrumen tersendiri. Banyak perbedaan antara studio yang memiliki sistem track yang sedikit dengan studio yang memiliki banyak track. Salah satu perbedaannya adalah studio dengan sistem track yang banyak dapat menampung seluruh suara yang direkam, misalnya suara orkestra dan sebagainya.

Musica Studio atau Metropolitan Studio di Jakarta yang dimiliki oleh Amin mempunyai dua studio rekaman. Satu studio dengan sistem empat track dan yang satunya lagi dengan sistem dua track, tetapi dalam perkembangannya ia menambahkan alat-alat baru dengan sistem enam belas track untuk keperluan merekam ilustrasi musik untuk film-film nasional. Begitu juga dengan studio Remaco yang dimiliki oleh Eugene Timothy memiliki sistem rekaman dua dan empat track dan akan melengkapinya lagi dengan menambah track-track untuk keperluan rekaman. Golden Hand di Surabaya dengan Mus Mulyadi sebagai pimpinannya memiliki studio dengan sistem rekaman empat track sampai delapan track. Celebrity Studio yang dimiliki oleh Jack Lesmana hanya mempunyai sistem rekaman dua track. Sama seperti studio yang dimiliki Jack Lesmana, studio Fajar Menyingsing hanya mempunyai sistem dua track.

Pada dekade 1970-an kemajuan teknologi mengiringi pula dunia rekaman di Indonesia. Diperdagangkan tape recorder secara umum yang menyebabkan masyarakat dengan mudah merekam siaran radio maupun dari pemutar piringan hitam ke dalam kaset. Pada awalnya distribusi piringan hitam dikirimi kaset kosong dari singapura yang memberi informasi bahwa lagu dalam piringan hitam dapat dipindahkan ke dalam kaset. Mereka mempunyai kolekdipiringan hitam lagu-lagu Barat yang harganya mahal dapat direkam kembali dalam kaset yang harganya jauh lebih murah. Hal ini tentunya sangat diminati oleh masyarakat dari seluruh lapisan karena harganya lebih terjangkau ditambah para perekam ini dapat memilih lagu yang paling populer dari beberapa album artis. Para pembeli ini mendapatkan referensi lagu-lagu Barat dari majalah musik dan radio.


Penetrasi Radio Barat bagi musisi dulu

dallas_am_radio

Abad ke-20 ditandai oleh revolusi teknologi komunikasi dan segala produknya yang bersifat massal dan beragam. Radio sebagaimana produk alat modernisasi lainnya, hanyalah gejala awal dari generasi alat-alat teknologi baru musik yang membongkar semua pintu-pintu penyekat seni bunyi dan melahirkan anak pertama dari peradaban budaya musik massa di dunia modern.

Radio telah menghapus jarak antara bunyi dengan orang, musik dengan pendengarnya, dan “membuka” telinga manusia selebar-lebarnya. Radio dianggap memiliki kekuasaan karena tiga faktor, yakni radio siaran yang bersifat langsung, radio siaran tidak mengenal jarak dan rintangan, dan radio siaran mempunyai daya tarik yang kuat.

Daya tarik ini disebabkan oleh sifatnya yang serba hidup, berikut tiga unsur yang ada padanya, yakni musik, kata-kata, dan efek suara. Pesawat radio yang kecil dan harganya relatif murah ini dapat memberikan hiburan, penerangan, dan pendidikan. Pendengar dapat memilih berpuluh-puluh frekuensi stasiun radio, baik di dalam maupun di luar negeri yang disukainya di antara berbagai macam hiburan kesenian nasional atau daerah, musik populer dan klasik.

Ketiga faktor inilah, yang menyebabkan radio diberi julukan “The Fifth Estate” atau kekuasaan kelima, setelah pers (surat kabar) yang dianggap sebagai kekuasaan keempat “The Fourth Estate”. Radio mempunyai tiga faktor daya tarik bagi para pendengarnya, yaitu musik, kata-kata, dan efek suara. Salah satu unsur hidup yang menjadi tulang punggung dari radio siaran adalah musik. Orang menyetel radio terutama untuk mendengarkan musik karena musik merupakan suatu hiburan.

Pada dekade 1950-an selain siaran radio RRI, radio-radio pemancar asing seperti Radio BBC London-Inggris, Radio ABC-Melbourne, Radio VOA Washington, Radio Moscow, Radio Peking-China, mulai bisa ditangkap di wilayah Indonesia. Sejak saat itu orang Indonesia secara ekstensif terserap ke dalam rebutan propaganda seni melalui musik radio dari Jakarta, Melborne, London, Washington. Musik menjadi lebih bersifat umum, langsung, terbuka. Musik yang semula hanya bisa didengar di kalangan terbatas, kemudian bisa dinikmati oleh siapa, kapan, dan di mana saja melalui radio.

Mengudaranya radio pemancar asing seperti yang disebutkan di atas memberikan referensi musical teranyar bagi para musisi Indonesia ketika itu kerena keterbatasan dari stasiun radio-radio lokal dalam memberikan suguhan musik mancanegara Terkait dengan kondisi politik tahun 60-an yang mengharamkan masuknya pengaruh musik Barat ke Indonesia karena dianggap sebagai sesuatu yang dekaden atau merusak, terlebih lagi apabila banyak remaja yang akan terbawa oleh pengaruhnya seperti yang dituduhkan oleh kalangan pemerintah ketika itu Info tentang The Beatles kemudian menjadi barang mewah yang hanya didapat oleh kalangan tertentu.

Musisi Abadi Soesman seperti yang penulis kutip dari majalah Musik Mumu mengatakan ia mengenal lagu-lagu The Beatles lewat siaran radio Australia. Sama halnya dengan Harry Roesly dalam sebuah artikel di koran Pikiran Rakyat yang mengatakan pada masa itu, tidak seperti sekarang ada MTV dan untuk mendapatkan piringan hitam saja sulit. Untuk mencari dan menghafalkan lagu-lagu terbaru dari The Rolling Stones atau Deep Purple, tak jarang harus mencarinya lewat Radio Australia dan Itu dilakukan dengan susah-payah.

Begitu juga Tony Koeswoyo dari grup musik Koes Bersaudara sedemikian seriusnya belajar memainkan gitar, ukulele, piano. Lagu-lagu Barat juga berusaha didengarnya dari corong radio ABC (Australia Broadcasting Corporation) maupun BBC (British Broadcasting Corporation) untuk menambah wawasan musiknya. Sama halnya dengan The Rollies, grup musik jazz rock yang terlahir di era ketika kran untuk musik rock telah terbuka. Seiring bergantinya situasi politik Indonesia pada pertengahan tahun 60-an. Mereka tumbuh ketika televisi belum menguasai blantika musik negeri ini. Referensi musikal masih terbatas pada piringan hitam (PH) dan harus rajin menyimak perkembangan musik Barat lewat radio Australia atau Voice of America (VOA).

Kenapa radio australia mungkin karena negara itu bertetangga dengan indonesia jadinya frekuensi nya dapat ditangkap di nusantara. selain itu juga timbul kebutuhan Setelah Indonesia merdeka untuk saling mengenal dan bekerjasama antara Australia dan Indonesia sebagai negara bertetangga. Untuk mewujudkannya, digunakan sarana radio yang dapat secara langsung digunakan sebagai salah satu media penerangan mengenai hal-hal yang terjadi di Australia, baik tentang kehidupan rakyat Australia maupun perkembangan negara ini di berbagai bidang, termasuk juga musik-musik populer. Radio Australia ini sendiri kali pertamanya mengudara dari studio Australian Broadcasting Commission (ABC), Sydney pada tanggal 20 Desember 1939, dengan pidato peresmian oleh Perdana Menteri Robert Menzies. Radio Australia Siaran Bahasa Indonesia (RASI) pertama kali mengudara pada tanggal 10 Agustus 1942.


Musik Rock Underground Indonesia tempo dulu

Mengutip pernyataan dalam artikel yang beredar cukup luas di internet yang ditulis oleh seseorang yang sekarang duduk sebagai editor majalah musik terkemuka di Indonesia yang berjudul Sejarah Musik Rock Indonesia, ia mengatakan embrio kelahiran musik rock underground di Indonesia sulit dilepaskan dari evolusi rocker-rocker pionir dekade 70-an sebagai pendahulunya. Sebut saja misalnya God Bless, Gang Pegangsaan, Gypsy(Jakarta), Giant Step, Super Kid (Bandung), Terncem (Solo), AKA/SAS (Surabaya), Bentoel (Malang) hingga Rawe Rontek dari Banten. Mereka adalah generasi pertama rocker Indonesia.

images

Istilah Underground digunakan majalah musik dan gaya hidup pionir asal Bandung itu untuk mengidentifikasi band-band yang memainkan musik keras dengan gaya yang lebih `liar’ dan `ekstrem’ untuk ukuran jamannya. Padahal kalau mau jujur, lagu-lagu yang dimainkan grup musik tersebut di atas bukanlah lagu karya mereka sendiri, melainkan milik grup-grup luar negeri macam Deep Purple, Jefferson Airplane, Black Sabbath, Genesis, Led Zeppelin, Kansas, Rolling Stones hingga ELP. Tradisi yang kontraproduktif ini kemudian mencatat sejarah namanya sempat mengharum di pentas nasional.

Mengenai istilah musik Underground itu sendiri, menurut buku ensiklopedia musik yang ditulis oleh Yapi Yambayong, Underground diartikan sebaai suatu gerakan seni rock yang muncul di penghujung akhir dekade 1960-an. Underground sendiri hadir sebagai jawaban untuk musik yang mempunyai dua konteks, yaitu musik yang melawan arus komersial dan musik yang berani melakukan eksperimen bunyi dengan suara gegap gempita. Konotasi Underground menjadi semacam perlawanan terhadap trend musik yang berkembang pada saat itu. Contoh musisi luar negeri yang dikategorikan sebagai musisi underground antara lain: Frank Zappa, Grand Funk Railroad, Black Sabbath, Alice Cooper, dan sebagainya.

Underground merujuk pada jenis musik hingar-bingar yang dibarengi dengan berbagai atribut nonmusikal, seperti rambut gondrong, pakaian awut-awutan, serta atraksi panggung yang teatrikal dan sensasional. Bandingkan dengan Glamour Rock yang melanda musisi-musisi rock Indonesia. Ciri-ciri yang menonjol dari mode ini bisa dilihat dari dada di tattoo, dilukis dengan cat minyak yang berwarna-warni. Pipi dicoreng-coreng atau diberi pewarna, rambut dibiarkan terurai ke muka sampai bahu. Mode ini dapat dilihat dari Ternchem dari Solo, dalam salah satu pertunjukannya di Surabaya, seluruh pemain-pemainnya dicat dan memakai eye shadow, God Bless dalam pertunjukan musik Summer 28 seluruh pemainnya juga dicat dan berpakaian unik-unik dengan dihiasi warna-wana aneh.
Istilah underground dalam khasanah musik populer di Indonesia diperkenalkan kali pertama oleh majalah Aktuil. Istilah ini biasanya diidentikkan dengan grup musik rock.

Selain karena jenis musiknya, grup musik rock kerap kali menyajikan aksi-aksi dan gaya panggung yang tidak umum dalam pertunjukan musiknya. Band-band tersebut mengkhususkan dirinya dalam nada lagu yang keras, baik dalam pengungkapan orkestrasinya maupun dalam susunan melodinya yang memang menjauhi aliran nada-nada yang manis. Tidak banyak grup musik yang mengklaim dirinya sebagai pemusik underground itu.

Musik underground menurut seorang musisi Tony Koeswoyo dari Koes Bersaudara adalah suatu cetusan rasa terpendam secara ekstrim. Dengan kemajuan teknis elektris di bidang alat-alat musik, maka pemusik underground bisa mewujudkan kekesalan mereka dengan petikan-petikan gitar yang keras dan permainan amplifier yang menggelora. Kalau hal ini semakin berkembang, maka berdasar analogi kalau nanti timbul adanya intervensi gabungan antara rasa kekelasan dan kemajuan peralatan itu, maka mungkin akan bisa timbul musik yang lebih keras dari underground yang diperkirakannya bisa menggetarkan orang dalam syaraf-syaraf tertentu.

Grup AKA merupakan penganut musik aliran ini walaupun masih dalam tahap experimen. AKA mengikuti aliran underground karena aliran musik ini sesuai dengan jiwa dan corak dari masing-masing personilnya. Akan tetapi untuk menyesuaikan dengan publik atau penonton, dalam setiap pertunjukannya AKA tidak harus selalu menyajikan musik underground saja. Menurut pengertian AKA, musik underground adalah musik yang diciptakan oleh musisi yang luar biasa, sebab di dalam underground terlebur segala macam aliran musik. Grup AKA juga sanggup memainkan aransemen mulai dari keroncong sampai musik jazz yang berat. Dengan nada merendah AKA memang menganut underground atau “ngandergrond”, tetapi AKA bukan atau belum merupakan grup musik top underground Indonesia.

Benny Soebardja salah seorang personil dalam grup Rollies tentang musik underground mengatakan : “Saya mau membimbing masyarakat untuk mengenal musik yang saya bawakan. Dan musik yang saya buat menurut konsep saya berat ala underground. Sebab kalau saya teliti musik underground itu sebetulnya musik yang bermutu tinggi, secara langsung memang publik harus diberi musik baru yang mengandung kejutan-kejutan”.

Walaupun banyak yang mengatakan bahwa God Bless merupakan salah satu dari beberapa grup musik Indonesia yang masuk ke dalam kategori underground, namun hal ini menjadi terbantahkan, karena dalam salah satu wawancara Ahmad Albar dengan majalah Midi, ia mengatakan: “Kami rata-rata tak mengerti apa yang dimaksud dengan underground. Mungkin underground itu hanya musik hingar-bingar. Tapi God Bless tidak demikian. God Bless selalu berusaha menciptakan musik yang harmonis tanpa meninggalkan rock”.

Selain kedua grup musik di atas yang mengklaim atau pun yang diklaim sebagai pengikut aliran underground, Grup musik Freedom adalah jelmaan dari grup Rhapsodia yang beranggotakan enam anggota yang mengaku dirinya sebagai penganut aliran underground yang menjelajahi berbagai panggung pertunjukan di kepulauan nusantara ini. Tentang irama musik dari lagu-lagu yang berhasil direkam, Freedom masih dalam taraf mencipta suatu warna musik sendiri. Mereka tidak terlalu gegabah untuk menyebut dirinya sebagai grup yang telah tenar. Freedom terus berusaha untuk meningkatkan mutu dari lagu-lagu yang diciptakannya dan berusaha menyanyikan lagu-lagu yang bisa diterima oleh masyarakat.

Tidak semua grup-grup musik aliran musik ini menampilkan aksi dan gaya underground di dalam pertunjukannya, karena beberapa alasan, dan salah satu alasannya adalah adanya larangan-larangan dari Pemda, meskipun hal ini bertentangan dengan jiwa mereka sendiri yang bebas dan kreatif. Beberapa musisi merasa skeptis dengan ada tidaknya aliran musik underground di Indonesia. Di antara kesibukan penggemar musik membicarakan ada atau tidaknya aliran underground yang asli di bumi ini, Jon Karjono, pimpinan grup musik The Brim’s mengatakan bahwa sesungguhnya di Indonesia aliran ini belum ada. Kalau pun ada dalam suatu petunjukan dijumpai adegan-adegan seperti yang terjadi di Barat, sebenarnya hal itu hanyalah serupa dengan adegan pentas saja.

The Brims sebagai grup musik pun bersedia melakukannya asalkan hal tersebut diminta dan diizinkan oleh panitia yang mengundangnya. Hal senada juga diunggapkan oleh Heru Emka yang mengatakan bahwa aliran musik underground dalam konteks yang sebenarnya tidak pernah ada. Di Indonesia yang ada adalah aliran musik underground yang asli, tetapi palsu saja. ( berbagai sumber)


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.