Category Archives: Musik Rock

Peranan Media Massa bagi Perkembangan Musik Rock di Indonesia Pada Dekade 1970-an

24bb80f2601767f4d95c60872b583210

Era globalisasi telah memungkinkan bangsa Indonesia menikmati berbagai bentuk seni pertunjukan, baik yang disajikan secara langsung maupun tidak langsung lewat media massa. Sebagai media massa yang saling melengkapi, keberadaan majalah dan radio pada dekade 1970-an sangat menopang perkembangan musik popular, tidak terkecuali musik rock. Radio dan majalah disini berperan sebagai sumber informasi bagi musik dalam maupun luar negeri.

Pada masa itu grup musik yang diberitakan di majalah, lagunya juga diperdengarkan oleh radio. Majalah musik menjadi sarana yang menghubungkan penggemar musik di Indonesia dengan para bintang di luar negeri. Para musisi dan penggemar musik di Indonesia mengenal musisi rock Barat dari majalah baik dalam maupun luar negeri. Kolom-kolom dalam majalah ini juga bertindak sebagai semacam iklan dari rekaman baru musisi dunia. Selain itu majalah berperan sebagai penghubung antara pengemar musik rock, musisi rock lokal, dan musisi rock dunia.

Radio

Abad ke-20 ditandai oleh revolusi teknologi komunikasi dan segala produknya yang bersifat massal dan beragam. Radio sebagaimana produk alat modernisasi lainnya, hanyalah gejala awal dari generasi alat-alat teknologi baru musik yang membongkar semua pintu-pintu penyekat seni bunyi dan melahirkan anak pertama dari peradaban budaya musik massa di dunia modern. Radio telah menghapus jarak antara bunyi dengan orang, musik dengan pendengarnya, dan “membuka” telinga manusia selebar-lebarnya.

Melalui radio, musik Barat diperkenalkan secara efektif dan meluas kepada masyarakat umum ke seluruh Indonesia. Siaran radio yang sah di Indonesia dimulai pada tahun 1925 pada masa pemerintahan kolonial Belanda, ketika Bataviaasche Radio Vereneging (BRV), lembaga Radio Batavia yang dikelola oleh sekelompok penggemar radio ini banyak menyiarkan acara-acara musik Barat. Perkumpulan-perkumpulan radio juga bermunculan di berbagai kota di Pulau Jawa. Solo memiliki Solosche Radio Vereeniging (SRV), Yogyakarta menjadi basis Mataramche Vereeniging voor Radio Omroep (MAVRO), Surabaya mempunyai beberapa stasiun radio, salah satunya adalah Algemene Radio Vereeniging Oost Java. Bandung memiliki Vereeniging van Oorstersche Radio Luisreraars (VORL), dan lain-lain. Pada perkembangannya sekelompok pengusaha Belanda mendirikan stasiun radio Nederlandsch Indische Radio Omroep Maatschappij (NIROM) di Batavia. Siaran perdana radio ini dipancarkan pada 31 Maret 1934 dan direlai cabang-cabangnya di sejumlah kota.

Secara keseluruhan, NIROM membagi siaran dalam dua kelompok, yaitu untuk pendengar bangsa Eropa dan pendengar bagian “ketimuran”. Selain NIROM yang mempunyai hak memungut uang penarik dari semua pemilik radio, stasiun radio swasta juga bisa ditemukan di gelanggang media di wilayah Hindia Belanda. Organisasi radio swasta yang dikelola oleh penduduk pribumi dikenal sebagai stasiun radio ketimuran. Pada tahun 1937, stasiun radio ini bergabung bersama dalam satu perhimpunan badan-badan penyiaran, yaitu Perikatan Perhimpunan Radio Ketimuran (PPRK). Baik stasiun radio Eropa maupun pribumi memberikan sebagian besar waktu siaran mereka untuk acara seni dan hiburan.

Jika stasiun radio Eropa umumnya menyajikan musik Barat dari piringan hitam, maka stasiun radio pribumi mengkhususkan pada penyajian musik daerah. Pada tahun 1942 Jepang menduduki Hindia Belanda dan membangun suatu sistem siaran yang terpusat. Sesudah Indonesia merdeka, monopoli siaran radio ini diambil alih oleh Radio Republik Indonesia (RRI) dan berhasil memonopoli penyiaran berita-berita nasional, sementara itu cabang-cabangnya di daerah memberikan sebagian waktu siarannya untuk acara-acara setempat.

Memasuki dekade 1950-an selain siaran radio RRI, radio-radio pemancar asing seperti Radio BBC London-Inggris, Radio ABC-Melbourne, Radio VOA Washington, Radio Moscow, Radio Peking-China, mulai bisa ditangkap di wilayah Indonesia. Sejak saat itu orang Indonesia secara ekstensif terserap ke dalam rebutan propaganda seni melalui musik radio dari Jakarta, Melborne, London, Washington. Musik menjadi lebih bersifat umum, langsung, terbuka. Musik yang semula hanya bisa didengar di kalangan terbatas, kemudian bisa dinikmati oleh siapa, kapan, dan di mana saja melalui radio.

Peranan RRI dalam penciptaan bidang kreasi musik populer di Indonesia cukup krusial, karena penyelenggaraan sayembara untuk memenangkan “Bintang Radio” menyebabkan timbulnya komposisi-komposisi baru dalam bidang vokal, baik dalam jenis sariosa, hiburan maupun keroncong. Bintang Radio tingkat daerah, provinsi, dan pusat, serta dibukanya perusahaan studio rekaman milik pemerintah Lokananta, dan beberapa perusahaan swasta di Jakarta (Irama, Musika) di awal dekade 1950-an, yang hasilnya produksinya disiarkan melalui berbagai stasiun radio pemerintah RRI pusat maupun daerah, adalah koridor penyebarluasan musik massa yang pertama di Indonesia. Bersamaan dengan itu musik juga mulai “dijual” kepada publik secara umum dalam bentuk pertunjukan langsung di tempat-tempat terbuka. Radio telah menjadi penyambung lidah dunia.

Nama-nama penyanyi seperti: Bing Slamet, Norma Sanger, Prana Djaya, Samsaimun, Titik Puspa, Ping Astono, dan sebagainya adalah ikon-ikon musik radio yang membentuk generasi pertama budaya musik popular Indonesia. Bintang Radio dekade 1950-an merupakan periode asal mula lahirnya lagu-lagu, teknik, dan gaya bernyanyi musik popular Indonesia. Kecuali musik keroncong, lagu-lagu Bintang Radio banyak mengambil hikmah dari musik-musik popular dari Amerika dan Eropa. Akan tetapi adaptasi pengaruh itu berhasil diolah menjadi gaya khas sendiri yang berbeda dengan sumber aslinya.

Dalam perkembangan waktu, radio sebagai media elektronika yang pertama dikenal di Indonesia mengalami momentum perkembangan baru setelah Orde Baru. Memasuki Orde Baru dunia musik Indonesia memasuki babak baru karena musik Barat lebih bebas dari tekanan pemerintah. Masa Orde Baru, kedua komponen sistem komunikasi nasional yaitu radio dan televisi menduduki tempat yang cukup penting dalam masyarakat dan berkembang dengan pesat. Berbagai stasiun radio terus dikembangkan di banyak kota-kota besar di tanah air. Perkembangan radio ini semakin menarik dengan kemunculan radio-radio siaran swasta niaga di hampir semua kota-kota besar di Indonesia.

Pada tahun 1966-1967 banyak perubahan yang terjadi dalam masyarakat akibat perubahan politik. Situasi peralihan itu merupakan kesempatan yang baik bagi mereka yang mempunyai hobi di bidang penyiaran radio, khususnya radio amatir untuk mengadakan siaran radio. Pemerintah pun mengeluarkan PP No. 21/Th. 1967 tentang kegiatan Amatir Radio Indonesia. Keluarnya peraturan ini dilatarbelakangi oleh mengudaranya Radio Ampera yang merupakan radio sarana perjuangan kesatuan aksi dalam perjuangan Orde Baru.

Kemunculan radio ini diikuti pula oleh munculnya stasiun radio lainnya di beberapa kota besar di Indonesia. Radio amatir adalah seperangkat radio yang dipergunakan oleh seorang penggemar untuk berhubungan dengan penggemar lainnya. Sifatnya “two way traffic communication” dalam bentuk percakapan. Mulai pertengahan dekade 1960-an, para mahasiswa memprakarsai pendirian radio swasta dengan format acara yang disesuaikan dengan selera mereka sendiri.

Kehadiran siaran radio ini berpengaruh terhadap perkembangan pendengarnya yang umumnya adalah kalangan remaja. Siaran radio yang memiliki khalayak pendengar yang paling luas menimbulkan pengaruh terhadap kelompok-kelompok musik yang baru berdiri. Setelah 1967, banyak bermunculan grup-grup musik baru, grup-grup itu memulai dengan memainkan lagu-lagu yang tengah populer pada waktu itu yang didominasi oleh lagu-lagu dari The Beatles dan sebagainya.

Berdasarkan UU No.5/Th.1964 dalam rangka usaha penertiban dan pengarahan kepada hal-hal yang positif pada tahun 1970, Pemerintah mengeluarkan PP No. 55/Th.1970 tentang Radio Siaran Non-pemerintahan. Dalam peraturan ini ditentukan bahwa radio siaran non-pemerintah harus berfungsi sosial, yaitu sebagai alat didik, alat penerangan, alat hiburan, dan bukan alat untuk kegiatan politik.

Radio dianggap memiliki kekuasaan karena tiga faktor, yakni radio siaran yang bersifat langsung, radio siaran tidak mengenal jarak dan rintangan, dan radio siaran mempunyai daya tarik yang kuat. Daya tarik ini disebabkan oleh sifatnya yang serba hidup, berikut tiga unsur yang ada padanya, yakni musik, kata-kata, dan efek suara. Pesawat radio yang kecil dan harganya relatif murah ini dapat memberikan hiburan, penerangan, dan pendidikan. Pendengar dapat memilih berpuluh-puluh frekuensi stasiun radio, baik di dalam maupun di luar negeri yang disukainya di antara berbagai macam hiburan kesenian nasional atau daerah, musik populer dan klasik. Ketiga faktor inilah, yang menyebabkan radio diberi julukan “The Fifth Estate” atau kekuasaan kelima, setelah pers (surat kabar) yang dianggap sebagai kekuasaan keempat “The Fourth Estate”.

Radio mempunyai tiga faktor daya tarik bagi para pendengarnya, yaitu musik, kata-kata, dan efek suara. Salah satu unsur hidup yang menjadi tulang punggung dari radio siaran adalah musik. Orang menyetel radio terutama untuk mendengarkan musik karena musik merupakan suatu hiburan. Radio adalah sarana komunikasi yang paling banyak dipergunakan untuk hiburan. Dari penelitian pelajar sembilan SLA yang dianggap mewakili kelompok masyarakat tingkat ekonomi rendah, menengah, dan tinggi, didapatkan hasil 77,02% menyatakan mendengarkan radio dan menyukai siaran hiburan, terutama musik untuk mengisi waktu senggang. Radio siaran yang tergolong sebagai radio siaran non-pemerintah ini memberikan alternatif lebih banyak dan jam siaran yang lebih lama serta acara penyajian yang lebih cocok untuk selera kaum muda.

Maraknya pemancar radio dengan antena bambu menandai kehidupan anak muda dekade 1970-an. Kehadiran radio-radio amatir yang umumnya dikelola oleh anak-anak muda banyak memutarkan lagu-lagu yang sedang trend yang mereka sukai. Pengaruh radio swasta dalam membentuk selera musik pendengarnya dapat dilihat dari tiga kegiatan radio swasta yang ditulis oleh majalah Aktuil pada pertengahan dekade 1970-an, yaitu Radio Trijaya Sakti, Monalisa, dan Prambors.

Studio–studio ini dapat langgeng berdiri selain karena adanya iklan-iklan yang bisa membiayai karyawannya, juga karena program-programnya akrab di hati para kaum muda. Radio Trijaya Sakti ini mempunyai program yang memilih lagu-lagu populer. Pemilihan lagu-lagu populer dilakukan berdasarkan atas naluri penyiar dan tidak berdasarkan permintaan pendengar. Lagu-lagu yang diputar biasanya diperoleh dari perusahaan rekaman yang mengirimkan piringan hitamnya. Penyiar Trijaya Sakti, mengakui bahwa apabila suatu lagu sering diputar, maka masyarakat pendengar akan terbiasa.

Perusahaan rekaman banyak yang menginginkan kaset dari produser rekaman untuk promosi. Radio kedua adalah Radio Monalisa yang mengutamakan pemutaran lagu-lagu pop Barat. Akan tetapi, studio radio ini juga mempunyai koleksi lagu-lagu berbahasa Indonesia. Menurut pengasuh acara di Monalisa, radio swasta yang dianggap top oleh perusahaan rekaman akan mendapat kiriman lagu-lagu dari perusahaan rekaman.

Radio ketiga adalah radio Prambors di Jakarta yang mulai beroperasi pada tahun 1967. Pemancar radio seperti ini dioperasikan oleh anak-anak muda yang menjadikannya sebagai penyalur hobby. Selain Radio Prambors, di Jakarta juga banyak bermunculan pemancar radio seperti TU 47, Mr Pleasant, dan beberapa nama unik lainnya yang rata-rata belum memiliki izin resmi. Prambors yang berada di sekitar Menteng baru memiliki izin resmi sebagai radio swasta niaga pada tahun 1971. Radio yang dibentuk oleh anak-anak muda di seputar Jalan Prambanan, Mendut, dan Borobudur bisa dianggap membentuk selera musik anak muda saat itu. Mereka menyiarkan lagu-lagu yang mereka gemari, yakni lagu Barat.

Radio yang menyapa pendengarnya dengan sebutan kawula muda ini menjalin hubungan akrab di antara anak muda karena memutar lagu-lagu dari grup musik The Rolling Stone, Pink Floyd, Black Sabbath, Led Zeppelin, dan sebagainya. Radio ini melayani selera anak-anak muda, diibaratkan apabila telinga kita jika sehari saja terus-menerus mendengar radio tersebut, yang didengar adalah suara teriakan-teriakan keras dari kelompok musik keras, ciri ini yang menandai Radio Prambors. Radio Elshinta dengan Riel sebagai pembawa acaranya mengisi acara yang sedang didengar oleh anak-anak muda yang gemar pada musik hiburan. Cara pengungkapan Riel dengan acaranya “dari artis untuk artis” banyak didengar oleh anak-anak muda yang gemar bermain musik dalam band pop.

Seperti halnya dengan kota-kota lainnya di tanah air, di Bandung pun berdiri pemancar radio amatir dan di antaranya yang banyak dikenal adalah YG, Mara 27, Mercy 73, Falcon, Sableng, Bongkeng, Blue Angel, dan sebagainya. Satu di antaranya yang cukup populer khususnya di kalangan para muda-mudi kota kembang adalah Young Generation – Studio Pusat atau disingkat YG Siaran radio Young Generation dapat ditangkap di seluruh daerah kabupaten Bandung, Garut, Sukabumi, dan Bogor. Selain nama-nama itu, di kota Bandung juga ada pemancar radio amatir yang cukup banyak mendapat penggemar, yaitu radio Flippies Psychedelic. Radio ini ketika kali pertama mengudara hampir semua lagu-lagu yang diputarnya adalah lagu-lagu berirama psyhedelic. Siaran radio ini dapat ditangkap tidak hanya oleh masyarakat Bandung saja, tetapi sampai Tanjung Karang, Makassar, dan kota lainnya di luar pulau Jawa. Radio Siaran di Kota Malang yang menjadi corong musik rock antara lain adalah Radio TT 77 dengan penyiar Djoni Mamisa, Radio Senaputra dengan Ovan Tobing, serta Radio KDS 8, dengan penyiarnya yang bernama Husni.

Majalah

Tumbuh dan berkembangnya musik rock di Indonesia pada dekade 1970-an tidak terlepas dari adanya media cetak sebagai penyebar informasi, khususnya majalah musik. Majalah musik adalah media informasi mengenai (1) berita kegiatan, (2) sorotan, esai, kritik, dan timbangan, (3) pembahasan menyeluruh mengenai seluk-beluk musikologi. Majalah yang sering menulis mengenai dunia permusikan di Indonesia yang terbit antara tahun 1950-1980 adalah Musika, Selecta, Monalisa, Diskorna, Monitor TVRI, Midi, Top, Junior, Aktuil, Varianada, Sonata dan Violett. Majalah tersebut berfungsi sebagai alat komunikasi bagi para pencinta musik dan penyanyi serta musiknya.

Beberapa majalah menempati posisi sentral sebagai majalah musik yang digemari oleh banyak anak muda, seperti majalah Aktuil dari Bandung, serta TOP dan Junior dari Jakarta. Isi berita musik masih meniru mentah-mentah majalah musik luar negeri seperti Pop Foto dan Muziek Ekspress. Majalah-majalah itu muncul dengan atribut-atribut bonusnya, seperti poster, stiker atau pun gambar setrika yang isinya adalah gambar para bintang, nama grup musik mereka, maupun hal-hal lain yang berkaitan dengan musik. Dalam hal ini majalah Aktuil menjadi penting karena selalu muncul dengan ide-ide baru, seperti gambar setrika dan poster dua muka yang kemudian menjadi fenomenal dalam mengulas mengenai perkembangan musik di Indonesia. Majalah ini banyak menulis peristiwa yang terjadi dalam percaturan musik Indonesia serta berupaya untuk membentuk opini masyarakat pencinta musik.

Pembentukan opini dalam majalah Aktuil diarahkan pada kehebatan musik rock, karena musik pop sering dianggap musik yang berkualitas rendah.Perkembangan musik rock mendapat dukungan yang hebat dari majalah musik Aktuil. Hampir dalam setiap terbitan, majalah Aktuil membicarakan aktifitas musik rock di negeri ini Selain membentuk opini, majalah ini juga membentuk beberapa istilah dalam musik, contohnya istilah underground dan blantika.

Aktuil merupakan nama majalah hiburan umum beralamat di Bandung, Majalah Aktuil beredar kali pertama sejak akhir dekade 1960-an. Awal terbitnya majalah ini berupa majalah musik remaja dengan susunan pengelola pemimpin umum: Toto Rahardjo: pemimpin redaksi: Asbari Nurpatria Krisna; dan pemimpin perusahaan: Noor S.A. Majalah khusus musik yang terbit di Bandung ini menjadi legenda karena semasa hidupnya dikenal sebagai pelopor pembawa informasi perkembangan musik kepada publik Indonesia, tidak hanya yang berasal dari dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri. Pada dekade 1970-an, majalah ini tercatat membuka jaringan kantor perwakilan dan korespondennya di luar negeri (Hamburg, Munich, Berlin, Swedia, Stockholm, Ottawa, Tokyo, Hongkong, Kowloon, dan New York).

Pada tahun 1973-1974 majalah ini sempat berhasil menembus tiras sekitar 126 ribu eksemplar, dan menjadi trend setter anak muda yang penting pada masa itu. Pada tahun 1975, Aktuil juga mengejutkan publik Indonesia dengan mengundang grup musik Deep Purple untuk berpentas di Indonesia. Saat itu, pentas-pentas musik apalagi dengan mendatangkan pemain musik dari luar negeri masih jarang terjadi. Di kota kelahirannya, majalah Aktuil memberikan pengaruh besar pada semangat kreatif para musisi-musisinya. Seperti dikatakan oleh Harry Roesli bahwa majalah Aktuil banyak memberi pengaruh besar pada semangat kreatif para musisi Bandung. Selain itu majalah ini juga menyuguhkan informasi-informas terbaru tentang perkembangan musik. Penerbitan majalah ini bermula dari ide Denny Sabri Gandanegara (Denny Sabri merupakan putra pertama Sabri Gandanegara, wakil gubernur Jawa Barat periode 1966 – 1974), kontributor majalah Discorina, Yogyakarta. Ia kemudian bertemu Bob Avianto, seorang penulis lepas masalah-masalah perfilman. Berawal dari obrolan ringan, akhirnya mereka sampai pada perbincangan intens dan serius untuk membuat majalah hiburan.

Avianto menemui Toto Rahardjo, pemimpin kelompok musik dan tari Viatikara. Gayung bersambut, di rumah Syamsudin mereka mencapai kata sepakat dan mengusulkan Aktuil sebagai nama majalah. Asal kata Aktuil diambil dari nama majalah luar negeri yaitu Actueel yang merupakan majalah musik yang terbit di Belanda. Tahun 1970-1975 merupakan masa keemasannya saat Aktuil menjadi bacaan wajib bagi anak-anak muda di Indonesia. Lebih-lebih setelah seniman Remy Sylado menyuntikkan eksperimen sastra mbeling dalam bentuk cerita bersambung Orexas.

Cerita ini sekaligus menegaskan Aktuil sebagai majalah anak muda. Orexas sendiri bukan dewa atau ksatria dari mitos Yunani, melainkan kependekan dari “organisasi seks bebas. ” Pameo yang mengatakan “belum jadi anak muda kalau belum membaca Aktuil”, bukanlah sesuatu yang berlebihan. Dalam sebuah catatan Remy Sylado dikatakan bahwa majalah Aktuil menyuarakan budaya tandingan (counter culture) terhadap struktur budaya yang mapan pada masa itu. Bahkan, majalah ini masih dianggap sebagai “kitab suci”, khususnya oleh para rock mania yang besar di dekade 1970-an.

Meskipun majalah ini lebih tertarik untuk menulis berita musik rock, namun untuk urusan informasi musik dan aktualitas berita musiknya majalah ini menempati urutan pertama. Kesuksesannya kemudian menjadikan majalah ini sering dianggap sebagai majalah musik pertama di Indonesia. Padahal, kenyataannya sepuluh tahun sebelum kelahiran Aktuil, majalah musik Musika terbit di Jakarta. Mulai tahun 1976, pamor majalah Aktuil mulai merosot-setidaknya kalau dilihat dari segi penjualan. Ketika majalah ini dipindah ke Jakarta pada tahun 1979, nasibnya pun tidak menjadi lebih baik.

Majalah ini sempat menjadi majalah umum sebelum akhirnya benar-benar “mati” pada tahun 1986. Kritik musik yang disiarkan majalah Aktuil yang khusus memberitakan kegiatan-kegiatan musik itu pun tidak mewakili pengertian yang asasi tentang kritik musik. Hal ini mungkin karena pembaca hanya mengerti soal selera, dan kritik musik yang hadir di majalah tersebut terpaksa menyesuaikan diri. Sementara itu tidak dapat diingkari bahwa peta musik dunia sedang dicandui oleh lagu-lagu niaga atau pop yang dilemparkan dari negeri dolar dan musik ini rupanya menempatkan selera berada di atas segala-galanya. Selain itu keluarnya Remy Sylado disinyalir sebagai pemicu merosotnya pamor Aktuil. Pihak perusahaan dinilai Sylado tidak terbuka kepada redaksi untuk persoalan keuangan. Selain itu, konser Deep Purple juga dituding sebagai pemicu. Konser pertama memang sukses, akan tetapi di hari kedua, pintu stadiun jebol dan banyak penonton yang masuk tanpa karcis.

Banyak penyanyi dan musisi mengakui bahwa keberhasilannya didukung oleh media massa cetak. Pemberitaan media massa cetak baik positif dan negatif, keduanya dianggap menguntungkan, sebab pada hari-hari berikutnya terjadi opini yang terus berkembang. Penggemar musik rock di Indonesia adalah bentukan dari majalah. Mereka yang menjadi penggemar suatu grup musik, sebagian besar sebenarnya tidak pernah menyaksikan secara langsung pertunjukan musisi idolanya. Majalah musik juga menjadi media promosi musik rock yang penting. Sementara grup-grup musik pop sudah menggunakan televisi sebagai media promosi bagi album mereka. Album pertama God bless hanya dipromosikan lewat majalah Aktuil dan Top. Publikasi grup Superkid didukung secara terang-terangan oleh majalah Aktuil. Di setiap terbitannya, sejak Superkid diperkenalkan kepada pencinta musik rock, majalah itu selalu memuat berita-berita tentang mereka. (dari berbagai sumber)


Nyepi yang tidak sepi

Denpasar hari itu berbeda dengan Denpasar pada hari biasanya. Tak ada lalu lalang kendaraan, tak ada aktivitas warga, pantai Kuta yang biasanya disesaki oleh manusia nampak lenggang yang ada hanya suara debur ombak yang berkejaran. Siaran stasiun televisi dan radio pun tidak melakukan siaran selama 24 jam.

nyepi 2011-4

Benar-benar sepi, karena hari itu tepat di saat umat Hindu di Bali melakukan Catur Brata Penyepian, yakni tidak boleh menyalakan lampu (Amati Geni), tidak boleh bepergian (Amati Lelungan), tidak boleh bekerja (Amati Karya), dan tidak boleh bersenang-senang (Amati Lelanguan). Denpasar pun tak ayal  berubah drastis seperti halnya kota mati di saat perayaan Nyepi.

Namun di saat bersamaan nun jauh beratus kilometer dari pusat kota, ada pemandangan yang tidak biasa di sebuah perkampungan muslim di wilayah Jembrana, tepatnya di Desa Yeh Sumbul. Masyarakatnya pada saat perayaan nyepi malah tumpah ruah di jalanan. “Denpasar sepi tapi disini kayak pasar heheheh” celoteh salah satu warga di pinggiran jalan kepada penulis beberapa waktu yang lalu.

Menjadi tak heran melihat riuhnya suasana lantaran mereka menganggap  kegiatan ramai-ramai itu sudah merupakan tradisi turun temurun. “iya dari saya kecil acara kayak gini udah ada” sahutnya lagi. Jalan raya tempatnya dia berbaur dengan warga lainnya memang tak ada sama sekali kendaraan yang lewat. Maklum saja, jalan itu di hari biasa sering dilalui oleh kendaraan dari  Pelabuhan Gilimanuk yang menghubungkan Ketapang (Jatim). Pelabuhan di saat nyepi dihentikan aktivitasnya, jalanan pun menjadi lenggang.

Nampak terlihat jelas sejauh mata memandang siang itu, warga memenuhi jalan raya. Ada yang bersenda gurau, gelar tikarr di pinggiran jalan.  Beragam kegiatan pun mereka helat mulai dari perlombaan yang diikuti oleh anak-anak, sampai mereka yang telah berumur. Serunya jika dilihat Bagi penduduk perkampungan itu nyepi sama saja dengan hari lebaran. Banyak ibu-ibu yang masak hidangan khas lebaran, mulai dari ketupat sampai opor ayamnya tak ketinggalan.

Sejarah Yeh Sumbul

Meriah, yesss!! bukan main, menjadi hal yang tidak terlalu aneh pasalnya jika dirunut sejarah Desa Yeh Sumbulnya sendir, desa ini  dulunya bernama Air Sumbul dan sudah ada sejak tahun 1912. Daerah Air Sumbul dibuka oleh orang-orang Melayu setelah mereka membuka daerah Air Kuning. Awalnya, Air Sumbul didominasi umat muslim. Lambat laun, daerah yang berada dekat pantai ini mulai mengalami perimbangan penduduk. Sebelum tahun 1960-an, Air Sumbul dipimpin oleh kades-kades muslim.

Setelah tahun 1960, Air Sumbul berganti nama menjadi Yeh Sumbul. Setelah itu, kadesnya pun lebih dominan umat Hindu, namun bukan berarti semuanya didominasi. Ada semacam pembagian, jika kades Hindu maka sekdesnya muslim. Hal yang sama juga berlaku di Subak Air Kuning. Jika klian subak muslim, maka wakilnya Hindu. Darmawi, mantan sekdes, mengatakan pembagian ini sudah turun-temurun. Soal subak yang masih bernama Air Kuning, itu merupakan bagian dari sejarah. Harus ada kenangan yang mengingatkan tentang keberadaan Air Sumbul. Karena itulah, nama subak tetap mempergunakan Air Sumbul.

Beragam Budaya Pembauran umat muslim Melayu dengan Hindu Bali ini kemudian melahirkan beragam budaya. Tak jarang jika ada kenduri di warga muslim, hiburan dipersembahkan umat Hindu. Demikian pula sebaliknya. Sambroh dan jidor adalah kesenian muslim yang sering ditampilkan. Sambroh merupakan kesenian dengan bernyanyi diiringi rebana, sementara jidur tak jauh beda dengan sambroh. Hanya alat yang digunakan adalah bungkil kelapa yang dibungkus kulit dan dipukul-pukul.

Tak hanya dalam kesenian, dalam ritual kemanusiaan pun sudah terjadi pembauran. Bayi-bayi muslim di Yeh Sumbul diupacarai layaknya bayi Hindu, seperti kepus pungsed, nelu bulanin dan otonan. Bahkan, ketika mereka sudah dewasa dan akan menikah, mereka juga masangih.

Tentu saja upacara-upacara ini tidak mempergunakan banten layaknya umat Hindu, mereka hanya mempergunakan sajian tertentu saja. Jika ada warga yang meninggal, setelah tiga hari dan tujuh hari juga ada acara seperti layaknya orang setelah ngaben.

Budaya ngejot pun ada di wilayah ini. Hanya ini dilakukan orang per orang yang memiliki hubungan yang dekat. Ngejot yang isinya kue-kue dan lontong dilakukan menjelang Lebaran. Saat malam takbiran, warga akan keliling seperti umat muslim di tempat lain. Selain itu, hal yang tak boleh dilupakan adalah Tadarusan (membaca Alquran) pada awal puasa dan akhir puasa. (berbagai sumber)


Sedikit Cerita Perang dari Si Mbah

BeaCh oRps

Berapa banyak dia telah banyak menghabisi orang selama mengemban tugas negara? Hanya dia yang tahu, tapi mendengar dari cerita singkatnya siang itu, tak disangsikan lagi jumlah nyawa yang melayang ditangannya mungkin banyak. “ ya kan pilihannya cuma dua dibunuh atau membunuh, namanya juga perang” katanya sambil bercerita panjang lebar tentang perang yang pernah dilakukannya saat di Timor Timur.

Saat itu bertepatan dengan hari Natal. Kumpul keluarga pun sesuatu yang biasa di salah satu rumah kerabat yang beragama Nasrani di daerah Jatinegara. Nah, mbah yang satu ini memang tak pernah absen datang ke acara kumpul-kumpul seperti ini. Berbeda dengan kerabat lainnya yang datang bergerombol, saban kali datang mbah ini hanya seorang diri, tak tahu kemana anak-anaknya. Datang setelah saudara lain tiba pagi hari. Setelahnya kangen-kangenan menjadi hal yang lumrah. Jabat tangan, mengobrol sebentar, lantas ambil piring dan menyikat makanan yang tersedia di meja makan ruang tamu.

Bila diingat lama tak berjumpa terakhir ketemu mungkin natal tahun lalu. Sikapnya biasa-biasa saja awalnya saat dihampiri, namun berubah menjadi tak biasa saat saya sedikit berbincang-bincang dengannya di sebuah sofa empuk ruang depan rumah kerabat. Yup, cerita bergulir pelan soal pengalaman masa lalunya saat menjadi abdi negara yang sukanya nenteng senjata dan bertopi baja. Ngalor ngidul dia bercerita, bla-bla bla bla. Panjang lebar memang, namun sedikit susah mencerna inti cerita sesungguhnya karena cerita yang keluar dari mulutnya itu bercampur dengan rasa kesalnya kepada salah seorang anak lelakinya yang pindah agama.

Namun untunglah sedikit bisa ditangkap kisah perangnya. Jadi perangnya itu terjadi saat dirinya ditugaskan ke salah satu pulau yang sekarang sudah menjadi negara yang berdiri sendiri. Adalah Timor Leste, sebuah negara yang dulunya bagian dari republik Indonesia yang kemudian pada tahun 1999 melepaskan diri dan merdeka sebagai negara yang berdiri sendiri.

Bagaimana Timor Leste lepas dari pangkuan ibu pertiwi? Hmm sepertinya akan panjang bila diceritakan. Lanjut ke cerita, berpangkat sersan mayor di sebuah kesatuan khusus yang amat ditakuti saat Orde Baru masih berkuasa saat dirinya pergi kesana. Kopassus dalam operasi di Timor Timur ini menurut beberapa sumber memang memainkan peranna penting sejak awal. Mereka melakukan operasi khusus guna mendorong integrasi Timtim dengan Indonesia. Pada tanggal 7 Desember 1975 pasukan ini merupakan angkatan utama yang pertama ke Dili.

Operasi ini melibatkan satuan-satuan dari Batalyon 502 Raiders Kostrad, Kopassgat (sekarang Paskhas TNI AU dan Kopassandha (sekarang Kopassus) lewat penerjunan. Mbah tua yang satu ini merupakan salah satu dari anggota Kopassus yang yang menjejakkan kakinya di Timor Timur setelah terjun dari atas pesawat yang ditumpanginya. Diterjunkan lewat pesawat dengan menggunakan parasut. Berpakaian ala warga sipil tetapi memegang senapan, dia wara-wiri kesana kemari.” celananya seperti yang kamu pakai sekarang ini” bilanganya. Dan sontak dia menyebutnya sebagai tentara jeans.

Yup, tentara jeans, tentara samaran agar mengelabuhi musuh dan diturunkan dalam beberapa kesatuan. Entah mungkin lupa dia mengingat nama kesatuannya, maklum saja umurnya sudah menginjak 70 tahun-an lebih. Menelisik sedikit buku soal Kopassus, memang pasukan khusus ini dalam melaksanakan operasi tempur, jumlah personel yang terlibat relatif sedikit, tidak sebanyak jumlah personel infanteri biasa, dengan kata lain tidak menggunakan ukuran konvensional mulai dari peleton hingga batalyon. ” ya seingat saya dulu cuma lima orang yang berangkat dengan saya” bilangnya.

Tugasnya kala itu adalah untuk mengumpulkan informasi sebanyak mengenai segala hal yang berhubungan dengan lawan, lantas mengirimkan informasi itu ke pusat. Mbah tua bercerita, pernah suatu ketika saat dirinya menangkap tentara musuh. Hehehhehe malang bagi mereka yang tertangkap, jangan harap tidak akan terluka pasalnya dia bilang pernah memotong kuping serseorang pakai belati tajam. “ saya lupa kapan persisnya waktu itu motong kuping” bilangnya.

Namun beruntung bagi veteran perang yang  satu karena selama bertugas di timor timur, tak pernah ditangkap. “Jangan bayangkan saya tertangkap, bisa-bisa sekarang saya sudah diakhirat” katanya. Perang pasti memakan korban, teman-teman pun banyak gugur di sana, namun entak kenapa tak nampak raut sedih dimuka. “ namanya juga tugas negara mati adalah “hal wajar, ini kan peran, nyawa bisa melayang jika peluru menembus badan kita” kata dia. (bersambung)


Mereka yang Berjibaku dengan Kotoran

Pernah terdengar sedikit petuah dari seorang tua yang pernah saya dijumpai pada waktu yang lalu. Dia berkata jangan pernah meremehkan pekerjaan orang sekalipun pekerjaan itu bagi kita sangatlah tidak mengenakkan. Jangan pula menistakannya, karena selama pekerjaan itu dapat mendatangkan uang atau halal, maka sah-sah saja untuk dilakukan.

Jelas itu petuah bijak bak perkataan orang suci, tanpa perlu direnungkan panjang lebar apa pun pekerjaan kita sekarang hal itu patutlah kita syukuri, walaupun dalam hati kecil berteriak-teriak untuk menolaknya. Tapi apa lacur, tak kerja maka tak ada uang yang bisa masuk ke kantong, itu hukum alam. Sepertinya tak ada yang bisa hidup tanpa uang terlebih lagi jika berada di kota besar seperti Jakarta.

Indian-Sewer-man_1375125i

Nah, berbicara soal pekerjaan, ada pekerjaan yang mungkin banyak dari kita jika disuruh memilih pekerjaan ini pasti jawabannya tidak atau mungkin akan pikir-pikir lagi. Kenapa? karena pekerjaan ini, pertama identik dengan bau tak sedap, kedua berhubungan dengan kotoran manusia, dan ketiga anda harus berteriak-teriak saat keliling menawarkan jasanya.

Yup, pekerjaan sedot WC, tak asing bukan? hampir dipastikan mobil sedot WC sering wara-wiri di sekitar perumahan kita. Tak tentu mereka biasanya lewat, kadang pagi hari, siang hari atau sore hari tetapi biasanya mereka melintas sebelum jam menunjukkan pukul 12. Sebenarnya tergoda juga untuk menelusuri profesi ini lebih lanjut perihal kapan kali pertamanya “kegiatan” sedot WC ini dijadikan sebagai profesi.

Mungkin ada sejarahnya, bagaimana jika profesi ini sudah ada dari zaman belanda dulu? Cukup menarik bukan,? jadi tidak mengunakan truk seperti sekarang melainkan mengunakan kuda, jadi tanki itu diangkut dan kemudian di tarik oleh kuda, siapa tahu? Tak ada yang tahu dan mungkkin yang tahu hanya tumpukan arsip-arsip yang telah berwarna kuning berbahasa Belanda yang tersimpan di lembaga arsip semisal Arsip Nasional. Untuk menemukan informasinya, mungkin juga teramat sulit seperti mencari jarum di atas tumpukan jerami.

Terlepas dari sejarah, kala itu orang di rumah pusing tujuh keliling kenapa WC tidak isa bekerja seperti sedia kalan. Saban kali “menabung”, emas yang dihasilkan oleh organ tubuh bagian belakang seperti terhambat untuk masuk ke dalam. Satu kata yang terucap, WC lagi mampet!. Sempat berhari-hari merasakan WC mampet, namun akhirnya jalan penyelesaian dilaksanakan dengan memanggil tukang sedot WC yang pasti akan melintas di depan rumah.

Yang pertama melintas, mereka lah yang beruntung untuk menyedot WC rumah. Pagi itu mobil sedot WC lewat. Diperkuat formasi tiga orang, satu terlihat lebih dua dibanding keduanya. Yang lebih tua bertindak sebagai komandan dan yang keduanya tak lebih sebagai anak buahnya. setelah dipanggil, dan dijelaskan duduk perkaranya, mereka pun bergegas dengan fungsi dan peranan yang diembannya masing-masing.

Deru mesin penyedot pun berbunyi kencang setelah dinyalakan, pun dengan selang-selang panjang yang lantas mereka bawa langsung menuju ke lubang septic tank. Sedikit lama berselang, namun nampak raut muka yang tidak biasa dari para “pembersih” kotoran manusia ini. mereka sepertinya menemukan kendala yang berarti lantaran selang yang mereka masukkan ke lubang septic tank.

“agaknya gak bisa masuk kotorannya ke selang” kata salah satu dari mereka. Nah, jalan satu-satunya adalah harus ada orang yang masuk ke dalam seprik tank itu dan mengeluarkan kotoran itu secara manual dengan menggunakan tangan dan ember.

Caranya, karena lubang septic tank itu sangat kecil, mereka terlebih dahulu melobangi bagian sisi `samping dari lubang itu. Setelah dilubangi pas seukuran tubuh, akhirnya salah seorang dari mereka masuk ke dalamnya. Tak pelak, setelah sejam-an menguras septic tank dengan tangan, tubuhnya itu dilumuri oleh kotoran-kotoran dari ujung rambut sampai kaki. Ndilalah, kotoran itu sudah tidak berbau dan kami pun bisa bernafas lega di dekatnya. Bisa dibayangkan jika kotoran itu masih berbau?

Perenang New Delhi
Hampir serupa dengan apa yang dilakukan di ibukota India, New Delhi. Jika di Indonesia ada seorang petugas sedot WC menyelam di lautan kotoran, maka di negeri Bollywood ini ada sebuah profesi yang mengharuskan seseorang untuk menyelam ke dalam saluran-saluran got/selokan kotor sepanjang New Delhi.

Mereka “menyelam” untuk membersihkan saluran-saluran yang tersendat akibat sampah yang menghambat aliran air. Parahnya lagi, mereka melakukan penyelaman tersebut tanpa menggunakan alat khusus dan hanya mengandalkan kekuatan menahan napas. Mereka berkubang di air kotor berwarna hitam pekat khas got/selokan akibat dari sampah yang dibuang sembarangan ke dalam saluran tersebut.

Pekerjaan yang mereka lakukan tersebut bukan tanpa resiko, sedikit saja air tersebut masuk ke dalam tubuh, pasti akan berdampak tidak baik pada kesehatannya. Fenomena para divers ini ternyata tidak dilakukan oleh segelintir orang di India. Sebuah data yang membuat kita mengelus dada mencatat, sejak enam bulan yang lalu sudah 61 orang “selokan divers” meninggal dunia akibat berbagai gangguan kesehatan setelah menjalani profesi ini.


Tahun 1967: Year Of The Dragon

Tanpa disangka bahwa sebuah tahun mempunyai suatu arti sendiri bagi suatu perkembangan musik, terbukti bahwa di tahun 1967 banyak terjadi peristiwa penting dalam dunia permusikan di dunia maupun di Indonesia. Hal-hal esensial apa saja yang terjadi di tahun tersebut. Tulisan singkat ini akan mengupas sedikit mengenai hal-hal penting yang terjadi di tahun itu.

koes-rekor

Sebagai catatan pembuka, tercatat bahwa pada tahun 1967 terjadi pergantian rezim pemerintah di Indonesia dari pemerintahan Soekarno ke pemerintahan Soeharto MPRS memberhentikan Soekarno dari jabatannya sebagai Presiden dan mengangkat Soeharto sebagai penggantinya dan di tahun itu pula juga terjadi apa yang dinamakan itu sebagai “politik pintu terbuka” di bidang ekonomi yaitu pemberlakuan UU tentang Penanaman Modal No.1 /1967 modal asing masuk ke Indonesia dan implikasi logis dari kebijakan tersebut adalah adanya kenyataan turut masuknya ‘budaya asing’ ke Indonesia yang membuat semakin puspa ragamnya aspek kehidupan sosial di Indonesia, tidak terkecuali dalam ranah musik popular.
Tahun 1967 merupakan tahun terbentuknya grup musik AKA. Grup ini dalam perkembangannya nanti pada decade 1970-an banyak mempertontonkan aksi panggung yang teatrikal yang belum dipertunjukkan sebelumnya oleh para musisi pribumi mana pun dan menjadi sesosok grup musik fenomenal yng tercipta hanya pada decade itu. Ekistensi AKA di panggung musik rock domestik era 1970-an tidak bisa dipandang remeh. Bahkan, AKA yang dibentuk di Surabaya, 23 Mei 1967, dapat dianggap sebagai “pelopor” musik rock di Tanah Air. Popularitas mereka waktu itu hanya bisa dikalahkan oleh grup-grup legendaris seperti Koes Plus atau Panbers.
Para penonton selalu berjubel di setiap pementasan AKA. Artis film Roy Marten dan Hendra Cipta konon pernah mengaku harus menjual celana jins hanya karena ingin menyaksikan pentas AKA. Seorang anak di pelosok desa di Bali sejak kecil dipanggil dengan “Ucok” hanya lantaran ia berambut kribo. Itulah kira-kira gambaran betapa sekitar tahun 1970-an Ucok bersama AKA benar-benar menyihir masyarakat.

The Rollies, grup musik pioner jazz rock indonesia terbentuk walaupun embrionya muncul pada 1965 dari band yang dibawa Deddy Stanzah dan band Delimas yang beranggotakan Delly (gitar), Iskandar (gitar rhythm), dan Iwan Krisnawan (drum). Tahun 1967 lebih dimaksudkan bahwa Gito, penyanyi eksentrik dengan suara parau tapi melodius yang telah dipanggil oleh Tuhannya mulai bergabung dalam grup musik ini.

Mereka memainkan lagu-lagu yang sedang trend di zamannya, termasuk dari Jimi Hendrix, Cream, sampai The Monkeys. Pada tahun yang sama The Rollies merambah ke Singapura. Mereka bermain tetap pada acara Morning Show di Bioskop Capitol Singapura dan memulai dengan menyanyikan musik-musik rock Barat di atas pentas panggung pertunjukan. Pada 1969 bergabunglah Benny Likumahua memainkan saxofon. Sejak itu Rollies cenderung bermain jazz rock dengan orientasi ke musik jenis Chicago.

Masuk tahun 1970 Rollies memantapkan seksi tiup dengan Iskandar pada saxofon, Gito (trumpet), dan Benny Likumahua (trombon). Saat itu masuk Bonny Nurdaya pada lead gitar dan vokal. Posisi Deddy Stanzah, dan Iwan tetap pada bas dan drum. Satu catatan, kemampuan vokal personel boleh dikatakan merata. Mereka sering menampilkan harmoni vokal yang tertata apik. Waktu itu jazz rock belum lazim dan the Rollies berupaya mensosialisakan jazz rock dari penggung ke panggung musik nasional.

Pada tahun yang sama grup musik Koes Bersaudara setelah keluar dari penjara karena terkait isu subversif , masuk ke dalam studio rekaman dan mengeluarkan album To The So Called the Guilties yang cukup “keras” apabila dilihat dari ukuran zamannya. Koes Bersaudara di bawah label rekaman Dimita dan dengan didukung oleh alat-alat dan sound yang ketika itu tergolong baru menggebrak pasar musik pop Indonesia dengan memainkan irama rock ’n roll yang berani.

Koes Bersaudara dijadikan simbol perlawanan kaum muda terhadap kemapanan, terutama dari segi musiknya. Penampilan Koes Bersaudara seperti layaknya The Beatles dengan potongan rambut yang sebagian menutup kening, celana ketat, dan sepatu lancip dengan hak tinggi. Penampilan Koes Bersaudara di panggung ibarat kuda yang lepas dari kekangan dan konser-konser mereka di berbagai kota dipenuhi oleh histeria penonton.

Grup musik ini menggunakan beat-beat cukup keras untuk ukuran zamannya, dan beat-beatnya ini dapat didengar dari salah satu lagunya yang diciptakan pada tahun 1967 Seperti yang termuat pada album To The So Called the Guilties dengan lagu yang berjudul sama. Album ini merupakan buah perenungan mereka selama mendekam di dalam penjara dan album ini melambungkan hits; Di Dalam Bui, Mengapa Hari Telah Gelap dan Three Little Words.

Album ini pun masuk dalam peringkat 6 daftar 100 album terbaik sepanjang masa versi majalah Rolling Stones Indonesia. selain Koes Bersaudara menelorkan album To The So Called the Guilties tahun 1967 koes bersaudara mengeluarkan album jadikan aku dombamu Beberapa kalangan menganggap bahwa berdirinya grup musik Koes Bersaudara merupakan awal berkembangnya musik rock di Indonesia, namun ada beberapa kalangan kurang setuju mengkategorikan Koes Bersaudara dalam aliran musik rock karena dalam perkembangannya grup ini menciptakan musik lintas genre. Jenis musik apa saja, entah itu pop dengan berbagai jenis variannya,pop melayu, pop religi, dangdut, dan yang lainnya digarap oleh para jenius yang tergabung dalam grup musik ini

Sejak tahun 1967 The Flower Generation atau generasi bunga melancarkan protes anti-perang Vietnam di kampus-kampus di Amerika Serikat dan Eropa. Para Penyanyi Folk seperti, Bob Dylan dan Joan Baez mempelopori gerakan protes tersebut melalui karya-karya mereka yang mendalam, masing-masingnya melalui lagu Blowing in The Wind dan Bangladesh, begitu juga dengan protes anti-perang dengan slogannya War Is Over oleh John Lennon yang akhirnya melahirkan sebuah karya yang berjudul Imagine.

Tahun 1967 itu juga merupakan tahun berdirinya majalah fenomenal Rolling Stones di Amerika Serikat yang terus berkibar sampai detik ini dan telah melebarkan sayap invasi budaya musik populernya ke seluruh dunia. Di tahun 1967 mencatat beberapa album fenomenal yang tercipta, diantaranya adalah. The Beatles dengan albumnya Sgt Pepper Lonely Hearts Club Band dan Magical Mystery Tour-nya, The Rolling Stones dengan albumnya Between The Buttons dan Flowers, The doors stranges day, Jimmy Hendrix dengan albumnya Axis Bold as Love dan Are You Experienced, Jefferson Airplane Surrealistic Pillow, Grateful dead, The Byrds Younger Than yesterday, The Hollies Evolution, The Kinks Something Else by The Kinks, Procol Harum, Cream Disraeli gears, dan lain-lainnya. Untuk lebih lengkapnya baca artikel Rolling Stones edisi Agustus 2007 dengan judul 40 Essential Album Of 1967. (berbagai sumber)


Sejarah Rekaman di Indonesia dari awal abad ke-20 sampai dekade 1970-an

Snap 2014-11-25 at 14.42.21

Dunia rekaman di Indonesia berawal dari masuknya gramaphone Colombia buatan Amerika yang diimpor ke Hindia Belanda pada awal abad ke 20. Indonesia mulai memasuki awal perkembangan industri piringan hitam. Pada saat itu orang Belanda harus menunggu kiriman piringan hitam dari Belanda untuk mendengarkan musik-musik yang baru. Namun untuk pengiriman itu membutuhkan waktu yang cukup yang lama sehingga mereka merekam keahlian bermusik pribumi. Orang Indonesia yang dekat dengan orang Belanda sering diperdengarkan lagu-lagu Barat seperti jazz dan klasik sehingga mereka dapat belajar musik.

Keberadaan perusahaan rekaman di Indonesia seperti yang tertulis dalam buku karangan Yapi Tambayong yang berjudul Ensiklopedia Musik jilid 2, menyebutkan bahwa sekitar dekade 1920-an perusahaan rekaman piringan hitam Tio Tek Hoang merupakan perusahaan yang banyak merekam penyanyi-penyanyi sampai perang dunia ke-2 dan perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan yang mendominasi pembuatan piringan hitam ketika itu.

Semua rekaman PH yang diproduksinya selalu dimulai dengan suaranya sendiri sebelum musik terdengar, begitu jarum mengena PH darinya terdengar suaranya yang berkata: “terbikin oleh Tio Tek Hong Batavia”. Perusahaan Tio Tek Hong yang berada di Batavia juga banyak mencetak dan mempublikasikan lagu-lagu keroncong yang dibuat oleh Paul Seeking dan Fred belloni. Jadi berdasarkan atas keterangan yang termuat dalam buku tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa aktivitas perusahaan rekaman ini telah dijalankan sebelum dekade 1950-an.

Pada tahun 1954 perusahaan rekaman Irama berdiri, disusul Dimita, Remaco di Jakarta dan perusahaan rekaman milik negara Lokananta di Solo. Perusahaan rekaman Irama banyak merekam lagu-lagu dari Orkes Melayu, keroncong, dan penyanyi solo, kemudian dalam perkembangannya Irama merekam lagu-lagu pop. Jejak Irama diikuti oleh perusahaan rekaman Dimita dan Remaco, yang selain memproduksi lagu-lagu keroncong, juga mulai berpaling pada lagu pop. Dimita yang dipimpin Dick Tamimi memproduksi piringan hitam Panbers dan Koes Bersaudara, sebelum kedua grup itu pindah ke Remaco.

Sementara Lokananta tetap memproduksi lagu-lagu daerah dan tradisional. Hingga tahun 1964, perusahaan-perusahaaan yang memproduksi piringan hitam ini tidak mengalami hambatan berarti kecuali pasar yang lambat berkembang. Industri rekaman Indonesia baru memasuki era kaset tahun 1964. Jangkauan pasar kaset yang luas, menyebabkan Remaco juga mulai memproduksi kaset tahun 1967 Yang pertama direkam Irama adalah sebuah quintet yang terdiri dari Dick Abel, Max van Dalm, Van der Capellen, dan Nick Mamahit.

Perusahaan rekaman pertama setelah kemerdekaan Indonesia ini juga memproduksi penyanyi dan grup musik Melayu seperti Hasnah Tahar (Burung Nuri, Khayalan dan Penyair), yang diiringi Orkes Melayu Bukit Siguntang pimpinan A Chalik. Kemudian Munif Bahasuan (Ratapan Anak Tiri), Oslan Husein yang me-rock ‘n roll-kan lagu Bengawan Solo, Kampuang nan Jauh di Mato dengan iringan musik orkes Taruna Ria, Nurseha (Ayam den Lapeh, Laruik Sanjo), serta Mas Yos sendiri yang merekam suara lewat lagu Nasi Uduk.

Sebelum menjadi Koes Bersaudara dan masuk rekaman Dimita tahun 1969, Koes Bersaudara yang terdiri dari Tonny, Yon, Yok, Nomo, Jon pada tahun 1962 merekam lagu-lagunya di Irama. Dengan Remaco-nya, Eugene Timothy merekam suara emas Broery Pesolima, Eddy Silitonga, Ernie Djohan, Tetty Kadi, Lilies Suryani, Ida Royani, Benyamin S, Hetty Koes Endang, Rhoma Irama, Elvy Sukaesih, grup Empat Nada, Koes Plus, Mercy’s, D’lloyd, Favouriet’s, Panbers, Bimbo, The Pros, The Crabs, serta sederetan nama lainnya. Remaco merupakan perusahaan rekaman pertama di Indonesai yang menggunakan sistem rekaman 8 track. Seperti halnya Irama Record, Remaco setelah beralih kepemilikan lebih tertarik untuk memproduksi musik pop dibandingan dengan musik rock dengan alasan musik rock tidak menjual.

Memasuki dekade 1970-an perusahaan rekaman semakin berkembang dan rata-rata perusahaan rekaman tersebut menggunakan sistem track rekaman di studio-studio dan hasil rekamannya dapat berupa kaset maupun piringan hitam. track adalah suatu sistem rekaman dalam pita besar yang dapat menyaring masing-masing suara atau bunyi instrumen tersendiri. Banyak perbedaan antara studio yang memiliki sistem track yang sedikit dengan studio yang memiliki banyak track. Salah satu perbedaannya adalah studio dengan sistem track yang banyak dapat menampung seluruh suara yang direkam, misalnya suara orkestra dan sebagainya.

Musica Studio atau Metropolitan Studio di Jakarta yang dimiliki oleh Amin mempunyai dua studio rekaman. Satu studio dengan sistem empat track dan yang satunya lagi dengan sistem dua track, tetapi dalam perkembangannya ia menambahkan alat-alat baru dengan sistem enam belas track untuk keperluan merekam ilustrasi musik untuk film-film nasional. Begitu juga dengan studio Remaco yang dimiliki oleh Eugene Timothy memiliki sistem rekaman dua dan empat track dan akan melengkapinya lagi dengan menambah track-track untuk keperluan rekaman. Golden Hand di Surabaya dengan Mus Mulyadi sebagai pimpinannya memiliki studio dengan sistem rekaman empat track sampai delapan track. Celebrity Studio yang dimiliki oleh Jack Lesmana hanya mempunyai sistem rekaman dua track. Sama seperti studio yang dimiliki Jack Lesmana, studio Fajar Menyingsing hanya mempunyai sistem dua track.

Pada dekade 1970-an kemajuan teknologi mengiringi pula dunia rekaman di Indonesia. Diperdagangkan tape recorder secara umum yang menyebabkan masyarakat dengan mudah merekam siaran radio maupun dari pemutar piringan hitam ke dalam kaset. Pada awalnya distribusi piringan hitam dikirimi kaset kosong dari singapura yang memberi informasi bahwa lagu dalam piringan hitam dapat dipindahkan ke dalam kaset. Mereka mempunyai kolekdipiringan hitam lagu-lagu Barat yang harganya mahal dapat direkam kembali dalam kaset yang harganya jauh lebih murah. Hal ini tentunya sangat diminati oleh masyarakat dari seluruh lapisan karena harganya lebih terjangkau ditambah para perekam ini dapat memilih lagu yang paling populer dari beberapa album artis. Para pembeli ini mendapatkan referensi lagu-lagu Barat dari majalah musik dan radio.


Musik Rock Underground Indonesia tempo dulu

Mengutip pernyataan dalam artikel yang beredar cukup luas di internet yang ditulis oleh seseorang yang sekarang duduk sebagai editor majalah musik terkemuka di Indonesia yang berjudul Sejarah Musik Rock Indonesia, ia mengatakan embrio kelahiran musik rock underground di Indonesia sulit dilepaskan dari evolusi rocker-rocker pionir dekade 70-an sebagai pendahulunya. Sebut saja misalnya God Bless, Gang Pegangsaan, Gypsy(Jakarta), Giant Step, Super Kid (Bandung), Terncem (Solo), AKA/SAS (Surabaya), Bentoel (Malang) hingga Rawe Rontek dari Banten. Mereka adalah generasi pertama rocker Indonesia.

images

Istilah Underground digunakan majalah musik dan gaya hidup pionir asal Bandung itu untuk mengidentifikasi band-band yang memainkan musik keras dengan gaya yang lebih `liar’ dan `ekstrem’ untuk ukuran jamannya. Padahal kalau mau jujur, lagu-lagu yang dimainkan grup musik tersebut di atas bukanlah lagu karya mereka sendiri, melainkan milik grup-grup luar negeri macam Deep Purple, Jefferson Airplane, Black Sabbath, Genesis, Led Zeppelin, Kansas, Rolling Stones hingga ELP. Tradisi yang kontraproduktif ini kemudian mencatat sejarah namanya sempat mengharum di pentas nasional.

Mengenai istilah musik Underground itu sendiri, menurut buku ensiklopedia musik yang ditulis oleh Yapi Yambayong, Underground diartikan sebaai suatu gerakan seni rock yang muncul di penghujung akhir dekade 1960-an. Underground sendiri hadir sebagai jawaban untuk musik yang mempunyai dua konteks, yaitu musik yang melawan arus komersial dan musik yang berani melakukan eksperimen bunyi dengan suara gegap gempita. Konotasi Underground menjadi semacam perlawanan terhadap trend musik yang berkembang pada saat itu. Contoh musisi luar negeri yang dikategorikan sebagai musisi underground antara lain: Frank Zappa, Grand Funk Railroad, Black Sabbath, Alice Cooper, dan sebagainya.

Underground merujuk pada jenis musik hingar-bingar yang dibarengi dengan berbagai atribut nonmusikal, seperti rambut gondrong, pakaian awut-awutan, serta atraksi panggung yang teatrikal dan sensasional. Bandingkan dengan Glamour Rock yang melanda musisi-musisi rock Indonesia. Ciri-ciri yang menonjol dari mode ini bisa dilihat dari dada di tattoo, dilukis dengan cat minyak yang berwarna-warni. Pipi dicoreng-coreng atau diberi pewarna, rambut dibiarkan terurai ke muka sampai bahu. Mode ini dapat dilihat dari Ternchem dari Solo, dalam salah satu pertunjukannya di Surabaya, seluruh pemain-pemainnya dicat dan memakai eye shadow, God Bless dalam pertunjukan musik Summer 28 seluruh pemainnya juga dicat dan berpakaian unik-unik dengan dihiasi warna-wana aneh.
Istilah underground dalam khasanah musik populer di Indonesia diperkenalkan kali pertama oleh majalah Aktuil. Istilah ini biasanya diidentikkan dengan grup musik rock.

Selain karena jenis musiknya, grup musik rock kerap kali menyajikan aksi-aksi dan gaya panggung yang tidak umum dalam pertunjukan musiknya. Band-band tersebut mengkhususkan dirinya dalam nada lagu yang keras, baik dalam pengungkapan orkestrasinya maupun dalam susunan melodinya yang memang menjauhi aliran nada-nada yang manis. Tidak banyak grup musik yang mengklaim dirinya sebagai pemusik underground itu.

Musik underground menurut seorang musisi Tony Koeswoyo dari Koes Bersaudara adalah suatu cetusan rasa terpendam secara ekstrim. Dengan kemajuan teknis elektris di bidang alat-alat musik, maka pemusik underground bisa mewujudkan kekesalan mereka dengan petikan-petikan gitar yang keras dan permainan amplifier yang menggelora. Kalau hal ini semakin berkembang, maka berdasar analogi kalau nanti timbul adanya intervensi gabungan antara rasa kekelasan dan kemajuan peralatan itu, maka mungkin akan bisa timbul musik yang lebih keras dari underground yang diperkirakannya bisa menggetarkan orang dalam syaraf-syaraf tertentu.

Grup AKA merupakan penganut musik aliran ini walaupun masih dalam tahap experimen. AKA mengikuti aliran underground karena aliran musik ini sesuai dengan jiwa dan corak dari masing-masing personilnya. Akan tetapi untuk menyesuaikan dengan publik atau penonton, dalam setiap pertunjukannya AKA tidak harus selalu menyajikan musik underground saja. Menurut pengertian AKA, musik underground adalah musik yang diciptakan oleh musisi yang luar biasa, sebab di dalam underground terlebur segala macam aliran musik. Grup AKA juga sanggup memainkan aransemen mulai dari keroncong sampai musik jazz yang berat. Dengan nada merendah AKA memang menganut underground atau “ngandergrond”, tetapi AKA bukan atau belum merupakan grup musik top underground Indonesia.

Benny Soebardja salah seorang personil dalam grup Rollies tentang musik underground mengatakan : “Saya mau membimbing masyarakat untuk mengenal musik yang saya bawakan. Dan musik yang saya buat menurut konsep saya berat ala underground. Sebab kalau saya teliti musik underground itu sebetulnya musik yang bermutu tinggi, secara langsung memang publik harus diberi musik baru yang mengandung kejutan-kejutan”.

Walaupun banyak yang mengatakan bahwa God Bless merupakan salah satu dari beberapa grup musik Indonesia yang masuk ke dalam kategori underground, namun hal ini menjadi terbantahkan, karena dalam salah satu wawancara Ahmad Albar dengan majalah Midi, ia mengatakan: “Kami rata-rata tak mengerti apa yang dimaksud dengan underground. Mungkin underground itu hanya musik hingar-bingar. Tapi God Bless tidak demikian. God Bless selalu berusaha menciptakan musik yang harmonis tanpa meninggalkan rock”.

Selain kedua grup musik di atas yang mengklaim atau pun yang diklaim sebagai pengikut aliran underground, Grup musik Freedom adalah jelmaan dari grup Rhapsodia yang beranggotakan enam anggota yang mengaku dirinya sebagai penganut aliran underground yang menjelajahi berbagai panggung pertunjukan di kepulauan nusantara ini. Tentang irama musik dari lagu-lagu yang berhasil direkam, Freedom masih dalam taraf mencipta suatu warna musik sendiri. Mereka tidak terlalu gegabah untuk menyebut dirinya sebagai grup yang telah tenar. Freedom terus berusaha untuk meningkatkan mutu dari lagu-lagu yang diciptakannya dan berusaha menyanyikan lagu-lagu yang bisa diterima oleh masyarakat.

Tidak semua grup-grup musik aliran musik ini menampilkan aksi dan gaya underground di dalam pertunjukannya, karena beberapa alasan, dan salah satu alasannya adalah adanya larangan-larangan dari Pemda, meskipun hal ini bertentangan dengan jiwa mereka sendiri yang bebas dan kreatif. Beberapa musisi merasa skeptis dengan ada tidaknya aliran musik underground di Indonesia. Di antara kesibukan penggemar musik membicarakan ada atau tidaknya aliran underground yang asli di bumi ini, Jon Karjono, pimpinan grup musik The Brim’s mengatakan bahwa sesungguhnya di Indonesia aliran ini belum ada. Kalau pun ada dalam suatu petunjukan dijumpai adegan-adegan seperti yang terjadi di Barat, sebenarnya hal itu hanyalah serupa dengan adegan pentas saja.

The Brims sebagai grup musik pun bersedia melakukannya asalkan hal tersebut diminta dan diizinkan oleh panitia yang mengundangnya. Hal senada juga diunggapkan oleh Heru Emka yang mengatakan bahwa aliran musik underground dalam konteks yang sebenarnya tidak pernah ada. Di Indonesia yang ada adalah aliran musik underground yang asli, tetapi palsu saja. ( berbagai sumber)


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.