Category Archives: Musik Keroncong

Seputar Asal Usul Musik Keroncong

keroncong

Sebelum adanya musik rock, musik pop atau musik lainnya, musik keroncong telah terlebih dahulu ada dan menghibur mereka yang haus akan hiburan akan kesenian suara. Sejarahnya panjang jika dirunut, namun menilisik soal asal usul dari musiknya sendiri, ternyata banyak beragam pendapat terlontar dengan masing-masing mempunyai pendapatnya sendiri.

Pendapat pertama lebih cenderung mengatakan bahwa bentuk musik keroncong bukanlah bentuk musik import (asing), melainkan benar-benar buah karya nenek moyang bangsa Indonesia sendiri dan yang berasal dari luar adalah alat musiknya. Alat musik ini kali pertama masuk ke Indonesia dan dibawa oleh orang-orang Portugis. Bangsa Moor diasosiasikan dengan golongan Arab yang mempengaruhi jalannya sejarah perkembangan kebudayaan di Eropa sampai ke Asia.

Pendapat kedua mengatakan musik keroncong dikembangkan oleh golongan Moresko. Golongan Moresko adalah bagian dari kaum Moor yang tidak melarikan diri ke daratan Afrika Islam serta tidak ingin tersiksa di kamp inquisisi bangsa Spanyol yang pada saat itu sedang berjaya, dan lebih memilih untuk masuk ke agama Kristen.

Sebagian dari keturunan Moresko dijadikan tentara sewaan dan ikut menjelajah ke berbagai belahan dunia, antara lain ada yang kemudian terdampar di daerah Tugu, Jakarta Utara. Untuk melupakan kepahitan masa lalu, maka anak keturunan mereka bermain musik keroncong dengan lagu Moresko. Pendapat ketiga mengatakan musik keroncong konon berasal dari suku bangsa Meztezia. Golongan Meztezia adalah keturunan budak-budak dari Portugis: sesudah majikan mereka disingkirkan oleh kolonialis Belanda yang bercampur dengan penduduk asli dan bersama penduduk asal Belanda dan suku Ambon yang beragama kristen bertempat di sebuah kampung di Batavia yang disebut Seruni atau Kampung Tugu.

Judith Becker, yang merupakan seorang peneliti mengatakan keroncong adalah istilah umum untuk populer, lagu-lagu sentimental yang dinyayikan di seluruh Indonesia dan pada umumnya diperkenalkan oleh Portugis pada sekitar abad ke-16. Ia pun mengatakan bahwa keroncong di bawa ke kawasan Indonesia timur (terutama Maluku) bersamaan dengan alat musik gitar para pelaut Portugis, dan hal itu tampaknya cepat diterima oleh penduduk pribumi. Sementara Ernest Heins yang juga merupakan seorang peneliti menyatakan pendapatnya, bahwa keroncong mewarisi situasi multirasial di dalam sistem kolonial Portugis pada akhir abad ke-16 di luar batas benteng dan perkampungan mereka.

Beberapa peneliti seperti A. Th Manusama, Antonio Pinto da Franca, Abdurahman R Paramita, dan S. Brata berpendapat bahwa sejarah perkembangan keroncong dimulai pada abad ke-17, ketika kaum Mardijkers keturunan Portugis mulai memperkenalkannya di Batavia dan menurut beberapa peneliti tersebut keroncong bukanlah kesenian asli ciptaan orang-orang Indonesia. Walaupun Keroncong diperkenalkan oleh kaum Mardijkers, yakni budak-budak Portugis yang kemudian dibebaskan oleh Belanda lantas berpihak kepada Belanda untuk berbagai kepentingan, baik politik, spiritual, sosial maupun budaya.

Istilah Mardijker sendiri berasal dari bahasa Melayu yang artinya merdeka. Kedudukan seorang Mardijker adalah Vrijgelatene, seseorang yang bebas dan bukan sebagai budak lagi. Yapi Tambayong berpendapat bahwa keroncong merupakan corak musik populer Indonesia dan ia pun beranggapan jika ada orang yang berkata bahwa musik keroncong berasal dari Portugis, pastilah orang tersebut salah tangkap.

Hal senada juga dikatakan oleh Kusbini, seorang musisi keroncong yang juga merupakan ahli keroncong di Indonesia, ia mengatakan bahwa musik keroncong adalah asli ciptaan bangsa Indonesia dan keroncong adalah asli milik bangsa Indonesia, dikatakan pula olehnya bahwa lagu-lagu keroncong asli memang banyak diilhami oleh lagu-lagu Portugis abad ke-17 tetapi nada dan irama-nya berbeda sekali dengan keroncong asli Indonesia. Menurut kusbini, lagu-lagu Portugis hanya mengilhaminya dan bangsa Indonesia-lah yang menciptakan nada dan irama serta bentuk permainan musik keroncong. Kusbini juga mengatakan pendapat berbeda perihal alat musik ukulele yang dikatakannya bukan berasal dari Portugis, tetapi berasal dari Hawaii dan cara orang Indonesia memainkan ukulele berbeda dengan cara orang Hawaii. Beberapa nyanyian orang Portugis banyak disenangi oleh orang Indonesia dan orang Indonesia berusaha memainkannya dengan caranya sendiri.

Pada dasarnya musik keroncong merupakan persenyawaan dari gelombang budaya musikal Barat dan budaya musikal lokal (dimaksud budaya lokal adalah budaya daerah dan budaya tradisional) yang diterima dan diadaptasi sesuai dengan kemampuan inisiatif dan kreativitas local genius. Local genius yang dimaksud adalah adanya unsur-unsur atau ciri-ciri tradisional yang mampu bertahan dan kemudian memiliki kmampuan untuk mengakomodasikan unsur-unsur budaya dari luar serta mengintegrasikan ke dalam budaya asli.

Para pencinta musik keroncong pun sepakat mengatakan bahwa musik keroncong adalah salah satu bukti budaya bangsa, yaitu bangsa Indonesia. Keroncong itu muncul di Indonesia dan tidak di dapat di negara lain, juga tidak di Portugis. Almarhum Andjar Any berpendapat bahwa musik keroncong adalah genius product masyarakat Indonesia dan ada beberapa hal yang dipertimbangkan mengenai pendapat ini, yang salah satu pendapatnya adalah di Portugis tidak terdapat musik keroncong. (berbagai sumber)


“Buaya Besar Keroncong” yang jago silat

kusbini

Siapa yang tak kenal komponis legenda indonesia yang satu ini, ya Kusbini seorang maestro yang handal dalam menciptakan nada-nada indah yang tak lekang dimakan zaman. Namun, naga-naganya ada sesuatu yang menarik dari diri seoarang pencipta lagu Bagimu Negeri ini.

Ternyata musisi kelahiran kota gudeg ini jago silat juga ternyata. Pasalnya, dulu untuk menjadi seoarang buaya keroncong, orang harus terlebih dahulu mahir bersilat . Itulah sebabnya Kusbini harus melewatkan waktu yang cukup lama yaitu lima tahun untuk mengasah dirinya sebagai jago silat.

Tak tanggung-tanggung lengan kanan Kusbini pun konon ada “isinya” dan memang keras lengannya, seakan-akan ada benda keras yang tertanam di lengannnya. Adalah sepotong besi yang telah tertanam di dalamnya. Dengan kekuatan tangan kanannya itu, dalam waktu singkat ia msih sanggup mematahkan tangan seseorang. Pun namanya menjadi terkenal luas oleh kalangan pencopet di jogyakarta kala itu,

Lantaran si pencopet selalu gagal merogoh dompet sang buaya besar keroncong ini. Kusbini, sang penggubah lagu athem nasional yang mahir berkeroncong ini adalah musisi tiga zaman, berturut-turut dari zaman Hindia Belanda dengan Nirom (Nederlansch Indische Radio Omroep Maatschappij) dan Cirvo (Chinesch Inheemsche Radio Voor Omstreken) terus ke zamn Jepang dengan Radio Hoso Kanri Kyohu (jugaga Keimin Bunka Shidosho), kemudian di zaman republk dengan RRI-nya.

Karir bermusiknya dimulai manakala dirinya berumur 14 tahun di tahun 1924 di Surabaya dengan menjadi anggota JITSO (Jong Indisch Strijk en Tokkel Orkest) di Pasar Keling yang dipimpin kakak kandungnya yang tertua, Kusbandi. Merasa belum terpuaskan hasrat bermusiknya, ia akhirnya memilih belajar biola dan teori musik umum di pendidikan musik swasta Apollo di Malang tahun 1929 sampai 1933. Di tahun 1935 terus ke NIROM di Surabaya, dengan meninggalkan jabatan di kantor kotapraja dengan gaji puluhan rupiah saat itu, hanya untuk menuruti panggilan jiwanya menjadi buaya besar dengan pendapatan hanya lima rupiah saja ia memantapkan langkahnya di jalur ini.

Segera Kusbini membuat gebrakan dengan memperbaharui formasi alat-alat musik keroncong asli dengan tambahan alat-alat seperti piao, saxophone, klarinet, trombone. Singkat kata, tindakannya ini sekaligus telah merubah status musik keroncong dari sifatnya yang improvisatoris kepada statusnya yang lebih rumiit semacam orkes simphoni yang berdasar teori-teori musik. Bagi Kusbini, keroncong adalah asli milik bangsa Indonesia.

Dengan caranya yang sederhanaa Kusbini mencoba mejelaskan darimana asalnya kata keroncong yang tak ditemukannya dalam ensiklopedia manapun. Ia menunjukkan gelang keroncong biasa dikenakan pada kaki anak Indonesia dan kemudian membandingkan bunyinya dengan ukulele yang kemudian dikenal dengan sebutan keroncong. Ukulele sendiri, tidak berasal dari portugis melainkan dari Hawaii cara Indonesia memainkannya juga berbeda dengan cara orang hawaii. Disinilah kelihatan bagaimana jia musik bangasa Indonesia menunjukkan kepribadiannya.

Menurutnya, awalnya bangsa Portugis datang ke Indonesia, dan beberapa nyanyiannya Portugis ternyata disenangi oleh orang Indonesia tapi dengan caranya sendiri. Orang Indonesia berusaha memainkan dengan caranya sendiri. Bahkan ketika orang portugis meninggalkan Indonesia, maka buaya-buya keroncong begitu sapaan para musisi keroncong saat itu, berusaha menciptakannya sendiri. Tak diingkarinya olehnaya bahwa kerangka lagu-lagu asli Portugis banyak mengilhami lagu-lagu keroncong asli.


Sejarah Musik Keroncong di Indonesia Bag. IV

Pada masa revolusi Indonesia 1945-1950, lagu-lagu keroncong mendapatkan peran yang baru, yaitu sebagai “keroncong revolusi”. Lagu keroncong tersebut adalah Keroncong Merdeka yang muatan liriknya secara umum merefleksikan nasionalisme. Pada perkembangan selanjutnya, keroncong mengalami berbagai pengaruh lagi, baik yang dari Barat (musik tari Cha Cha Cha, Tango, Foxtrot dan sebagainya) maupun yang dalam negeri, terutama di Jawa Tengah, di mana musik keroncong semakin berkembang terutama untuk orang di luar lingkungan keraton. Dengan demikian unsur gamelan (laras, irama) dimasukan ke dalam musik keroncong.

Pada tahun 1955 lagu-lagu Langgam Jawa mulai merebak dan pada tahun 1959 diselenggarakan Lomba Lagu Kembang Kacang yang mengorbitkan penyanyi Waldjinah sebagai ratu Kembang Kacang. Waldjinah “merayap” terus dan pada pemilihan Bintang Radio jenis keroncong di tahun 1965, Waldjinah berhasil keluar sebagai Juara Nasional. Pada awal dasawarsa tahun 1960-an, timbul fenomena baru yaitu makin menguat dan mencuatnya irama Langgam Jawa. Tercatat beberapa seniman pencipta lagu Langgam Jawa, antara lain: Andjar Any dengan lagu ciptaanya Yen Ing Tawang Ana Lintang, S. Darmanto dengan lagu ciptaannya Lara Branta, Ismanto dengan lagu ciptaannya Wuyung.

Pada zaman Orde Baru, keterbukaan dan kemajuan IPTEK semakin memperlancar komunikasi dengan dunia luar, dan masuklah irama lain yang makin lama arusnya makin deras, sehingga irama keroncong yang menggunakan alat-alat akustik konvensional terdesak oleh jenis musik yang menggunakan alat-alat elektronik, seperti pop, dangdut, rock dan lain-lainya. Budiman BJ dengan Orkes Keroncong Bintang Jakarta yang dipimpinnya, menampilkan irama keroncong dengan aransemennya agresif yang dipadu dengan irama-irama lain. Garapan musikalnya ini menimbulkan suasana baru, terutama dalam penggarapan introduksi, interlude dan coda yang diramu dengan pengaruh musik lain, seperti jazz, rock dan sebagainya.

Selain itu juga muncul Andjar Any dengan Orkes Keroncong Bintang Nusantara. Garapan musiknya mencoba “mendobrak” dengan mengganti alat musik flute dan biola dengan mengisi interlude string dan synthesizer, bahkan merubah cara penyajiannya sehingga menimbulkan pro dan kontra, khususnya antara generasi tua yang masih fanatik dan konservatif yang belum rela musik keroncongnya “dirusak” dengan generasi muda yang menginginkan pembaharuan di jagad musik keroncong.

Pada tahun 1959, Yayasan Tetap Segar Jakarta pimpinan Brigjen Sofyar memperkenalkan “keroncong beat”. Warna musiknya disesuaikan dengan perkembangan musik pop pada waktu itu yang dipengaruhi oleh irama rock n’ roll dan grup musik The Beatles. Lagu-lagu Indonesia, daerah maupun Barat diiringi dengan “keroncong beat”, misalnya Na so Nang da Hito (Batak), Ayam den Lapeh (Padang), Pileuleuyan (Sunda). Musik keroncong pada dasawarsa tahun 1950-an, termasuk jenis musik vokal yang diperlombakan di RRI untuk mencapai suatu predikat penyanyi “Bintang Radio”.

Pada tahun 1951, 1953, dan 1954, peserta lomba diwajibkan membawakan repertoar langgam atau keroncong. Pada tahun 1952, peserta diwajibkan membawakan lagu langgam, seriosa, dan hiburan. Pada tahun 1955 hingga kini lomba dibagi menjadi tiga jenis, yaitu lomba seriosa, hiburan atau pop, dan keroncong.

Musik keroncong pada dasawarsa ini juga semakin menguatkan citra Solo dalam musik keroncong. Beberapa lagu karangan musisi Solo, misalnya Gesang yang membuat orang menyukai musik keroncong yang khas dengan suasana yang baru, yaitu dominannya bunyi cello yang dipetik menyerupai musik kendang.
Pada dasawarsa tahun 1960-an, semakin jelas warna musik keroncong Solo muncul ke permukaan dan menjadi perhatian Nasional dengan masuknya unsur Langgam Jawa secara lebih tajam dalam penyajiannya. Pada sekitar tahun 1968, di daerah Gunung Kidul Yogyakarta, musisi Manthous memperkenalkan apa yang disebut Campur Sari, yaitu keroncong dengan gamelan dan kendang. Selain itu juga dipakai instrumen elektronik seperti bass gitar, elektrik bass, organ, sampai juga dengan sakshophone, dan trompet.

Repertoar Musik Keroncong
Tinjauan terhadap format repertoar musik keroncong yang membentuk ciri khasnya akan tampak jelas apabila dikaji dalam perspektif musikologi, yaitu menjabarkan kaidah atau norma yang ada pada setiap pengelompokan repertoar musik keroncong. Akan tetapi bukan kapasitas penulis untuk menelaahnya lebih jauh dan detail, karena hal ini membutuhkan pengetahuan ekstra tentang Ilmu Musikologi dan di bawah penulis ini hanya akan menjabarkannya secara garis besar.
Menyimak pengelompokan repertoar musik keroncong ada berbagai pendapat, yaitu menurut Kornhauser yang membagi menjadi lima kelompok: (1) keroncong asli, (2) stambul, (3) langgam keroncong, (4) langgam jawa, dan (5) keroncong beat. Yampolsky telah membagi menjadi empat kelompok, yaitu (1) keroncong asli, (2) stambul, (3) langgam, dan (4) langgam Jawa, sedangkan Harmunah membagi menjadi empat kelompok pula, yaitu (1) keroncong asli, (2) stambul, (3) langgam, dan (4) lagu ekstra.

Berdasarkan pengelompokan repertoar musik keroncong tersebut, maka dapat diformulasikan oleh penulis bahwa pengelompokan dapat dibagi menjadi empat kelompok utama, yaitu: (1) keroncong asli, (2) stambul (terdiri dari stambul I dan stambul II), (3) langgam, dan (4) gaya keroncong (“dikeroncongkan”). Meskipun demikian musik keroncong mempunyai “pola baku” yang disebut irama keroncong. Irama inilah yang menjadi ciri khas musik keroncong yang membedakan dari jenis musik lainnya. Untuk mengetahui bentuk-bentuk dari empat jenis gaya musik keroncong tersebut, akan diuraikan tiap jenisnya sebagai berikut:

a. Keroncong Asli
Keroncong asli umumnya memiliki irama 4/4, terdiri dari 14 Bar. Umumnya lirik berupa Pantun, di mana dibuka dengan prelude 4 birama yang dimainkan secara instrumental, kemudian disisipi Interlude standar sebanyak 4 birama yang dimainkan secara instrumental juga. Keroncong asli terkadang juga diawali oleh prospel terlebih dahulu. Prospel adalah seperti intro yang mengarah ke nada/akord awal lagu, yang dilakukan oleh alat musik melodi seperti seruling/flute, biola, atau gitar. Contoh lagu keroncong asli adalah lagu Keroncong Kemayoran.

b. Stambul
Stambul merupakan jenis keroncong yang namanya diambil dari bentuk sandiwara yang dikenal pada akhir abad ke-19 hingga paruh awal abad ke-20 di Indonesia, dikenal dengan nama Komedi stambul. Stambul memiliki dua tipe progresi akord yang masing-masing disebut sebagai Stambul I dan Stambul II.

Stambul I
Stambul I umumnya mempunyai irama 4/4 yang terdiri dari 8 Bar, dan kalimat berupa Pantun bagian A dan B. Bersyair secara improvisasi dengan peralihan akord tonika ke sub dominan. Jenis stambul satu sering berbentuk musik vokal saling bertautan yaitu dua birama instrumental dan dua birama berikutnya berisi vokal. Untuk introduksi adalah berisi akord I dengan peralihan ke akord IV. Stambul I merupakan lagu biasa seperti Si Jampang, dan sebagainya.

Stambul II
Stambul II umumnya memiliki irama 4/4 yang terdiri dari 16 Bar, bentuk kalimatnya berupa Pantun atau Sya’ir sacara improvisatoris. Intro merupakan improvisasi dengan peralihan akord tonika ke sub dominant, sering berupa vokal yang dinyanyikan secara recitative, dengan peralihan dari akord I ke akord IV, tanpa iringan. Contoh lagu dari stambul II adalah Lambang Kehidupan.

c. Langgam
Setelah Perang Dunia I, dengan adanya inflitrasi lagu-lagu populer dari negeri Barat, Infiltrasi musik Barat terjadi akibat dari adanya pembangunan Hotel-hotel di Indonesia pada dasawarsa 1920-an, seperti contoh Hotel Savoy di Bandung, di mana hotel tersebut sering mengadakan pentas musik dansa, membuat musik keroncong saat itu dipengaruhi oleh lagu-lagu pop Barat dengan struktur panjang 32 Bar tanpa intro dan coda dalam empat bagian: A-A-B-A, maka dikenal: Langgam Keroncong, misalnya: Tari Serimpi (M. Sagi), Gambang Semarang (Oey Yok Siang), Bengawan Solo (Gesang), dan lainnya. Lagu biasanya dibawakan dua kali, ulangan kedua bagian kalimat A-A dibawakan secara instrumental, vokal baru masuk pada kalimat B dan dilanjutkan dengan kalimat.

Bentuk lagu langgam ada dua versi, yaitu pertama A-A-B-A dengan pengulangan dari bagian A, kedua seperti lagu standar pop: Verse A-Verse A Bridge B-Verse A, panjang 32 Bar. Beda sedikit pada versi kedua, yakni pengulangannya langsung pada bagian B. Meski sudah memiliki bentuk baku, namun pada perkembangannya irama ini lebih bebas diekspresikan.

Bentuk adaptasi keroncong terhadap tradisi musik gamelan dikenal sebagai Langgam Jawa. Langgam Jawa yang pertama adalah Yen Ing Tawang (Tawang suatu desa di Magetan Jawa Timur) ciptaan almarhum Anjar Any (1935). Langgam Jawa memiliki ciri khusus pada penambahan instrumen antara lain sitar, kendang (bisa diwakili dengan modifikasi permainan cello ala kendang), saron, dan adanya bawa atau suluk berupa introduksi vokal tanpa instrumen untuk membuka sebelum irama dimulai secara utuh.

d. Gaya Keroncong (“dikeroncongkan”).
Gaya yang dikeroncongkan ini merupakan suatu gaya musikal yang tidak lagi dapat dijabarkan melalui format repertoarnya, namun hal ini dapat dijabarkan secara imitatif melalui pembawaan pola permainan dan warna suara alat musik, serta alat musik yang digunakan dalam musik keroncong. Gaya keroncong ini khusus untuk menampung semua jenis irama keroncong yang bentuknya “menyimpang” dari ketiga jenis musik keroncong yang telah ada di atas.

D. Alat Musik Dalam Musik Keroncong
Alat musik keroncong adalah alat musik petik yang bentuknya semacam gitar tetapi lebih kecil dengan panjang keseluruhan kurang lebih 65 cm terdiri dari leher kurang lebih 35 cm dan bagian badannya kurang lebih 30 cm. Alat musik keroncong memang bukan alat musik asli musik Indonesia yang di negeri asalnya dinamakan Ukulele dan oleh lidah kita pada akhirnya disebut cuk, krung atau kencrung. Ukulele ini mempunyai empat utas asli senar yang jika petik secara bersamaan akan menghasilkan bunyi yang kurang lebih sama dengan bunyi gelang keroncong, sehingga alat musik ukulele ini selain disebut cuk juga biasa disebut keroncong.
Dalam bentuknya yang paling awal, yaitu Keroncong Moresco, diiringi oleh musik dawai seperti biola, ukulele, cello, dan perkusi yang terkadang juga dipakai. Setting orkes semacam ini masih dipakai oleh Keroncong Tugu, bentuk keroncong yang masih dimainkan oleh komunitas keturunan budak Portugis yang tinggal di Kampung Tugu. Dalam perkembangannya, alat-alat musik yang digunakan oleh musik keroncong terus mengalami evolusi

Pada dasarnya alat musik yang digunakan dalam memainkan musik keroncong yang dipakai sebagai ukuran adalah tujuh macam alat, yaitu biola, seruling (flute), gitar, ukulele, banjo, bass dan cello. Apabila sudah ada ketujuh alat musik ini maka permainan musik keroncong ini sudah dikatakan lengkap. Fungsi dari setiap alat musik dari alat musik tersebut adalah sebagai berikut:
a. Biola, alat ini termasuk warga instrumen gesek, biola berfungsi sebagai pemegang melodi dan sebagai kontrapung dari vokal dengan imitasi-imitasinya.
b. Flute, alat ini termasuk warga instrumen tiup kayu. Fungsi alat ini sebagai pemegang melodi seperti biola dan mengisi kekosongan selain untuk mengisi intro dan coda.

c. Gitar, alat ini termasuk instrumen petik (keluarga instrumen tali) jadi agak berbeda dengan biola yang menjadi instrumen gesek. Fungsi alat ini sebagai pengiring tapi dapat pula sebagai pembawa melodi.
d. Ukulele, alat ini termasuk instrumen petik, dan berfungsi sebagai pemegang ritmis, bertali nilon tiga buah dengan stem nada G”–B”–E” disebut ukulele stem F, dan bertali empat dengan sistem nada G”-C”-E”-A”, disebut ukulele stem A.
e. Banjo, alat ini dalam keroncong sering disebut dengan cak atau cak tenor. Termasuk instrumen keluarga petik dan dalam keroncong berfungsi sebagai pemegang ritmis.

f. Cello, alat ini sekeluarga dengan biola termasuk instrumen gesek, hanya berbentuk lebih besar. Alat ini berfungsi sebagai pemegang ritmis bertali tiga dengan stem nada C-G-D, ada pula yang menggunakan stem nada D-G-D, dengan maksud mempermudah permainan atau cara bermain. Cello dimainkan dengan dipetik, biasanya dipetik dengan cara pizzicato (dengan jari telunjuk dan ibu jari).
Bass, atau kontra bass juga termasuk keluarga instrumen tali dan mempunyai leher yang lebih pendek daripada biola atau cello sedang pundaknya tajam. Bass berfungsi sebagai pengendali ritmis.(dari berbagai sumber)


Sejarah Musik Keroncong di Indonesia Bag. III

Pada paruh awal abad ke-20, kota-kota besar di Indonesia mulai tumbuh sebagai pusat perkembangan dan kegiatan kebudayaan. Kehidupan jurnalistik media cetak maupun radio tumbuh dan berkembang dengan gairah yang besar, sehingga memungkinkan informasi lebih mudah serta lebih cepat tersebar dibandingkan pada masa sebelumnya. Dalam era keterbukaan inilah keroncong mengalami masa yang sangat dinamis.

Perkembangan musik keroncong dipengaruhi oleh masuknya musik-musik barat yang berirama off-beat dance dan Hawaiian, pengaruh tersebut adalah dalam penggunaan alat musik dan irama. Pada kurun waktu 1915-1937, datang ke Indonesia musisi-musisi dari Uni Soviet, Prancis, Belanda, Polandia, Cekoslovakia, dan Filipina. Para musisi tersebut ada yang datang sendiri atau secara berkelompok dalam kelompok orkestra maupun kelompok ansambel. Melalui musisi-musisi itu, dunia musik keroncong berkenalan dengan alat-alat musik seperti cello, string, flute, dan gitar melodi. Pada waktu itu musik yang ada hanyalah musik keroncong dan Hawaiian. Diilhami oleh populernya permainan musik para musisi Barat, keroncong mulai mengadopsi unsur-unsur musik Barat tersebut.

Pada masa itu banyak perkembangan dan perubahan penting dalam segi alat musik, irama karakter lagu dan apresiasi rerhadap musik keroncong itu sendiri, walaupun pada dasawarsa tahun 1920-an, musik keroncong hanya terbatas dan beraksi di “lorong-lorong” kampung dalam acara khitanan dan perkawinan. Pada dasawarsa tahun 1930-an, ruang gerak musik keroncong lebih leluasa dan meraih kepopularitasan yang cukup besar terutama di kota-kota besar. Musik keroncong mulai diperdengarkan di radio-radio seperti: NIROM (Nederlandsch Indische Radio Omroep Maatschappij), CIRVO (Chincesch Inheemsche Radio Voor Omsterken), dan VORO (Vereeniging voor Oostersche Radio Omroep).

Gema musik keroncong dapat terdengar sampai Jaarmarket (Pasar Malam) di Surabaya, kemudian gaungnya merambah ke Pasar Gambir, Jakarta, yang menyelenggarakan Krontjong Concours (Festival Keroncong). Pasar Gambir memang dikenal sebagai penyelenggara Krontjong Concours, suatu perlombaan atau sekarang lebih dikenal dengan istilah festival yang di setiap tahunnya melahirkan juara keroncong dari pulau Jawa, salah satu peserta dari concours tersebut adalah orkes Lief Java. Karena waktu itu belum ada mikrofon, maka seorang penyanyi harus memiliki suara yang lantang agar bisa terdengar oleh para juri dan penonton. Penyanyi-penyanyi yang setiap tahunnya bertarung di Pasar Gambir meliputi: Van der Mull, Leo Spell, Louis Koch, Bram Atjeh, Paulus Hitam, Pung, Waha, S. Abdullah, Amat, Sulami, Miss Tuminah, Djajadi, Sumarno, Miss Moor, Siti Hapsah, John Isegar dan lain-lain.

Kehadiran Lief Java dalam lingkaran dunia musik keroncong mempunyai arti dalam perkembangan musik keroncong di Indonesia. Orkes ini pada awalnya bernama Rukun Agawe Santosa dan didirikan pada tahun 1918 oleh musisi yang bernama Suwardi dan Abdullah Kusumowijoyo. Nama “Jawa” dipakai karena para anggotanya adalah orang-orang yang berasal dari Jawa. Nama Lief Java yang berbau Belanda baru digunakan pada tahun 1923, ketika kelompok ini dimasuki oleh musisi-musisi dan penyanyi Indo. Lief Java mengadakan latihan di rumah Abdullah Kusumowijoyo yang terletak di daerah Kepu Senen, Jakarta Pusat. Di rumah tersebut berkumpul pula para musisi, antara lain: Hugu Dumas, Dekar Zahirdinj, Memed Soeroso, Poeng Soewarso, Kartolo, Yahya, dan Ismail Marzuki dengan sejumlah penyanyi antara lain: Miss Roekiah, Wolly Soetinah, dan sebagainya. Posisi Abdullah Kusumowijoyo dalam orkes Lief Java adalah sebagai koordinator. Orkes ini dibayar sekitar 40 Gulden untuk sekali tampil. Kelompok musik ini memainkan lagu-lagu keroncong dengan kombinasi instrumen biola, flute, gitar, dan cello dengan digesek, lalu kemudian ditambahkan juga oleh instrumen mandolin dan string bass.

Pada tahun 1925, Lief Java berhasil melakukan siaran langsung di radio VORO dan BRV. Tahun 1927 adalah tahun yang spesial bagi kelompok musik ini karena berhasil melakukan siaran langsung di radio NIROM. Momen itu menjadi suatu prestasi tersendiri bagi kelompok Lief Java, karena dapat melakukan siaran langsung di radio milik pemerintah Belanda itu. NIROM membagi siaran dalam dua kelompok untuk pendengar bangsa Eropa dan pendengar ketimuran. Lief Java berperan sebagai pengisi acara ketimuran di radio tersebut. NIROM berperan penting dalam menyebarluaskan lagu-lagu termasuk mempopulerkan nama-nama penyanyi dan pemusik Lief Java. Kemudian dari tahun 1926 sampai tahun 1942, Lief Java selalu menjadi pemenang dalam lomba keroncong yang diadakan di Pasar Gambir, Jakarta.

Selain dari Lief Java, Orkes Belloni ikut meramaikan kancah pementasan musik keroncong. Orkes Belloni memainkan musik keroncong dengan adaptasi off beat dance. Belloni merupakan seorang pemain biola yang sebelumnya adalah anggota sebuah perkumpulan musik yang bernaung di bawah sebiah perkumpulan orang-orang Belanda yang bernama Concordia Respavae Crescunt (CRC). Pengalaman musik di CRC ini mempengaruhi warna permainan musik Belloni yang mengadaptasi musik keroncong dengan off beat dance. Orkes Belloni cenderung lebih dekat dengan keroncong Tugu atau keroncong sebelum abad ke-20 (keroncong lama). Lagu-lagu yang diciptakan oleh Orkes Belloni adalah percampuran antara keroncong lama dan off beat dance yang kental. Lagu-lagu yang sempat terekam oleh piringan hitam, antara lain: Legende de Borobudur, Oud Indische, dan Serenade Oriental. Selain merekam lagu-lagu ciptaannya tersebut, orkes ini juga merekam lagu-lagu yang sudah ada dan populer ketika itu, seperti: Moresko, Keroncong Dieng, Tjih en de Banana’s, Keroncong Manis, dan Stambul Melati.

Lief Java dan Orkes Belloni adalah kelompok penting dalam wilayah musik keroncong Indonesia pada awal abad ke-20. Kelompok musik ini memiliki kesan Barat, karena disebabkan oleh irama permainan musiknya terdapat unsur-unsur off beat dance dan Hawaiian dan juga alat-alat musik yang dipakainya, selain itu, dasar-dasar permainannya bercirikan Barat. Kesan Barat juga terlihat dari nama kelompok musiknya yang tidak menggunakan nama Indonesia dan anggota pemain musiknya yang berkebangsaan Barat atau berdarah Barat (Indo-Belanda), terlebih pada masa itu banyak lagu keroncong yang tercipta dengan menggunakan bahasa campuran antara bahasa Melayu dan Belanda.

Dalam lingkungan musik keroncong, dikenal dengan istilah “buaya” keroncong. Istilah ini dilekatkan kepada pemain keroncong karena sering melakukan pentas dengan keluar masuk dari satu kampung ke kampung lainnya dalam usaha mencari nafkah dan memikat hati perempuan pada kurun waktu dasawarsa tahun 1920-an sampai 1930-an. Istilah “buaya” keroncong berasal dari nama sebuah kelompok pemain keroncong Indo-Belanda di kampong Kemayoran. De Krododilen (buaya-buaya) yang sangat terkenal pada akhir abad ke-19. Keterampilan mereka memainkan instrumen dan menyanyikan lagu-lagu cinta membuat para gadis-gadis “tergila-gila”

Kedinamisan musik keroncong diperlihatkan dengan semangat baru pada tahun 1935 di Surabaya yang diprakarsai oleh Kusbini, melalui karyanya yang berjudul Keajaiban Manusia. Di sini ia menambah instrumen-instrumen baru dalam orkes keroncong yang selama tiga abad hampir tidak pernah disentuh dalam musik keroncong, seperti trompet, saksofon, klarinet, trombon, piano, dan sebagainya. Sementara itu instrumen-instrumen yang dikenal dan dipakai selama 3 abad di Tugu hanya terdiri atas 7 instrumen, yaitu: biola, suling, gitar, cello, bass, dan ukulele. Tindakan ini sekaligus telah merubah status musik keroncong dari sifatnya yang improvisasi menjadi lebih rumit seperti orkes simponi yang berdasarkan atas teori-teori musik.

Musik keroncong berkembang di pulau Jawa pada awal abad ke-20. Musik keroncong juga berkembang di Solo sejak adanya pemancar radio pada masa sebelum Perang Dunia II. Kota itu telah menjadi kancah bagi perkembangan tradisi musik keroncong di kalangan masyaakat Jawa, hingga keroncong yang semula lahir di Tugu, Jakarta Utara pada abad ke-17 telah bergeser dan diatributkan pada masyarakat Jawa. Jawa Tengah khususnya di Solo dan kota Yogyakarta, musik keroncong dipengaruhi oleh gamelan jawa yang menggunakan tangga nada pentatonic (pelog dan slendro) yang pada akhirnya melahirkan jenis keroncong Langgam Jawa.

Fungsi alat-alat musik keroncong diidentikkan dengan fungsi alat musik dalam gamelan, bass diidentikkan dengan gong, cello dengan kendang, gitar dan biola atau seruling dengan gambang dan rebab, keroncong 3 dan 4 senar dengan ketuk, kenong, dan kempul serta gender. Lagu-lagu yang berasal dari Solo dan juga di kota Yogyakarta lebih tenang dan lembut. Irama dan perpindahan nadanya lebih lambat sehingga memungkinkan banyak cengkok dalam menyanyikan lagunya. Cara menyanyi dengan banyak cengkok juga identik dengan cara menyanyi lagu-lagu Jawa. Keroncong dengan Langgam Jawa dimulai dengan beberapa nama yaitu: Ismanto, Sapari W S Nardi, Anjar Any, dan S. Dharmanto.

Perkembangan musik keroncong di Solo sudah berlangsung sejak tahun 1930-an, ditandai dengan munculnya orkes-orkes keroncong besar dan kecil. Orkes keroncong besar waktu itu antara lain adalah Monte Carlo dan Kembang Kacang, di mana Gesang mengembangkan dirinya sebagai penyanyi dengan suara yang khas, karena dianggap memiliki ciri sendiri di banding penyanyi keroncong lainnya. Meskipun sesungguhnya ada tiga gaya permainan keroncong, gaya permainan dalam orkes keroncong Jakarta, gaya permainan keroncong Surakarta (Solo), dan gaya permainan keroncong Lama.

Pada masa kependudukan militerisme Jepang musik ini mendapatkan “angin segar” dari mereka yang mengemari musik keroncong, karena kebudayaan Barat yang dibawa oleh orang asing terkikis oleh Jepang. Jepang memiliki misi yang mereka sebut dengan “perang suci” melawan imprealime Barat. “Perang suci” itu dilakukan dalam segala sendi kehidupan, termasuk dalam kebudayaan. Melalui lembaga kebudayaannya, Keimin Bunka Shidosho yang berada di bawah badan propaganda Sendenbu, Jepang berusaha menghapus unsur-unsur budaya Barat dalam kesenian asli Indonesia dan secara bersamaan mengembangkan serta memasyarakatkan kesenian asli Indonesia dan Jepang. Semua itu dilakukan dalam semangat sebagai bagian dari bangsa Asia Raya. Keroncong yang sebelumnya telah memiliki “cap Barat” mendapat perhatian khusus. Jepang melakukan ini sekaligus pula dalam rangka menjalankan misi propagandanya.

Berbagai event diselenggarakan oleh Jepang untuk keroncong sebagai langkah nyata dari kebijakannya. Pada bulan Februari di Bandung, dan bulan April di Surabaya, Jepang mengadakan malam keroncong untuk amal yang hasilnya disumbangkan kepada Badan Pembantu Heiho. Di radio Jakarta, setiap hari tetap diperdengarkan lagu keroncong. Pada bulan September, di gedung Tonil Balai Kesenian di jalan Simpang 90, Surabaya, diadakan malam keroncong amal. Tampil dalam acara itu para penyanyi yang sudah terkenal yaitu: Miss Netty, Any Landouw, Miss Rukiah dan Oerip. Pada bulan yang sama di Surabaya, diadakan lomba keroncong. Kusbini, Ismail Marzuki, Tabib Tobroni dan Suma Tjoe Sing bertindak sebagai juri dalam lomba itu.

Para seniman keroncong giat mengarang aneka jenis lagu Indonesia, khususnya musik keroncong dan ini menimbulkan jenis lagu hiburan karena diiringi oleh orkes keroncong atau dengan iringan band. Kusbini beserta dengan musisi keroncong lainnya, seperti: Ismail Marzuki, C Simanjuntak, A Pane, Sudjojo masuk ke radio Hoso Kanri Kyohu dan Keimin milik Jepang, kemudian menciptakan lagu barunya. Lagu-lagu ciptaannya itu meliputi, Rela, Padi Menguning, Lagu ku, Ratapan Ibu, dan kumpulan lagu-lagunya.

Akan tetapi musik keroncong pada masa kependudukan Jepang dari tahun 1942 hingga tahun 1945 tidak memberikan perkembangan baru dalam tradisi musik diatonik di Indonesia, dan hanya meneruskan apa yang sudah ada, misalnya tentang solmisasi dengan beberapa lagu Jepang dan sebuah terjemahan lagu rakyat dari Irlandia yang berjudul Auld Lang Syne ke dalam bahasa Jepang yang kemudian disalin ke dalam bahasa Indonesia sebagai lagu perpisahan. Orang-orang Jepang juga menyukai lagu Bengawan Solo dan mungkin karena orisinalitas puitiknya dari lagu tersebut, walaupun sederhana pengungkapannya yang di padu dengan melodi, namun bagi orang Jepang lagu ini terasa “eksotik”. ( berbagai sumber)


Sejarah Musik Keroncong di Indonesia Bag. II

Pembabakan musik keroncong dibagi menjadi 3 bagian, yaitu: musik keroncong sampai awal abad ke-20, masa perkembangan tahun 1920-1944, dan zaman setelah Indonesia merdeka tahun 1945-1970. Adapun garis besar perkembangan musik keroncong:

Tradisi diatonik dalam khasanah musik di Nusantara kali pertamanya masuk ke daerah Indonesia bagian timur (IBT) melalui orang-orang serta para pelaut Portugis dan Spanyol dalam konteks imperialisme abad ke-16. Tradisi diatonik ini telah memasukan nada solmisasi bagi tradisi vokal di IBT, dengan konsentrasinya di sekitar wilayah perbentengan orang-orang Spanyol dan Portugis di Santiago, Sulawesi Utara. Solmisasi karya seorang rahib Dominikan, Guido d’Areezo di abad ke-11 telah digunakan secara meluas di abad ke-17 dan 18, melalui Filipina masuk ke Sulawesi Utara dan sekitarnya sekitar akhir abad ke-16. Mereka datang ke IBT tanpa mengenalkan musik seni Eropa, tetapi mengenalkan musik Barat dengan iringan cavaqunho, yang di Hawaii disebut ukulele, biola, gitar, dan sebagainya sebagai sarana hiburan para pelaut di sekitar pemukiman benteng Portugis di IBT dan tempat lainnya.

Menurut tulisan Dr. W de Haan, diduga pelaut-pelaut Portugis yang mendarat di Tugu sebagai pembawa alat-alat musik keroncong yang waktu itu belum disebut keroncong, yaitu alat musik gitar kecil (ukulele). De Haan juga menyebut lagu Nina Bobo sebagai salah satu contoh yang dibawa oleh pelaut-pelaut Portugis dan “dioper” (diberi kata-kata Indonesia). Penulis Pedro de la Varda dalam ”Purtuguese Influences in the Nederlands Indies” menulis pengaruh-pengaruh musik Portugis melalui dua buah lagu, yaitu Nina Bobo dan juga Moresco.

Kekalahan tentara Portugis di Malaka oleh pasukan Belanda pada tahun 1641 membuat tradisi diatonik kerakyatan itu diteruskan oleh orang-orang Belanda pada abad ke-17 lewat agama Kristen dan mereka yang berada di sekitar perbentengan Belanda di IBT dan Jawa. Kekalahan orang-orang Portugis itu telah membawa konsekuensi lanjutan bagi para pemandu dan pembantu orang-orang Portugis dalam perdagangan mereka di Nusantara, karena mereka itu terdiri atas orang-orang pribumi dari Malabar, Bengalen (kini Bangladesh), dan sebagainya, yang telah menjadi orang-orang merdeka sebelum tahun 1641. Orang-orang ini yang sejak tahun 1641 telah menjadi tawanan orang-orang Belanda yang diasingkan ke Tugu, sebuah tempat di sebelah timur Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Dalam pengasingan di “Penjara Alam” Tugu, mereka melahirkan suatu genre dalam tradisi musik di Nusantara, keroncong dengan instrumen musik: gitar, biola, bass, cello, seruling, ukulele, yang mampu menghasilkan bunyi: crong…crong…crong…, hingga permainan musik mereka itu disebut keroncong. Rasqueado dalam bahasa Spanyol sebagai sinonim dari istilah arpeggio dalam memainkan alat musik ukulele, merupakan salah satu bukti asal-usul keroncong itu sebelum ia menjadi sesuatu jenis musik di lingkungan musik tradisi dengan solmisasi waditra Barat yang banyak digemari oleh orang-orang di pulau Jawa pada masa sebelum Perang Dunia II. Lagu-lagu yang mereka ciptakan bersifat riang gembira seperti lagu Moresco dan Prounga. Lagu-lagu tersebut mengandung ciri-ciri Moor dan ketimuran, serta alat musik yang digunakan disebut ukulele. Itulah sebabnya rakyat Nusantara segera dapat menerima lagu-lagu irama tersebut, dan musik itu kemudian “dibumbui” oleh kata-kata bahasa Indonesia lalu dimainkan dengan instrument musik buatan sendiri.

Keroncong Tugu mengembangkan jenis musik keroncong sejak tahun 1661 sampai awal abad ke-19. Pada awalnya jenis musik keroncong ini dimainkan oleh 3-4 orang dengan gitar sambil menyanyikan lagu-lagu melankolis. Jenis gitar yang digunakan mula-mula ada 3 macam, yaitu gitar Frounga ukuran besar dengan 4 senar, gitar Monica ukuran sedang dengan 4 senar, dan gitar Jitera yang berukuran kecil dengan 5 senar. Kemudian dikembangkan serta ditambahkan dengan alat-alat musik lainnya seperti: seruling, rebana, mandolin, cello, dan gendang.

Keroncong Tugu mempergunakan 2 buah ukulele, masing-masing dengan kencrungan tunggal dan kencrungan ganda, di samping biola, cello, dan bass. Beberapa orkes keroncong asal kampung Tugu kemudian mengkombinasikannya dengan jenis musik setempat. Sajak-sajak Melayu dan lagu-lagu Belanda pun mulai menggunakan melodi keroncong. Orkes musik kesenian asli kampung Tugu mulai bermunculan. Salah satunya adalah orkes Keroncong Tugu di bawah pimpinan Fernando Quiko yang memiliki anggota sekitar 4-6 orang. Setiap dalam pentas pertunjukannya, para pemainnya selalu menggunakan syal yang dililitkan di leher masing-masing pemain.

Musik Keroncong mulai diminati masyarakat, ketika kelompok Komedi Stambul di bawah pimpinan August Mahier dan Yap Goan Tay pentas di Surabaya dan beberapa kota di seluruh pulau Jawa pada tahun 1891. Salah seorang aktor Stambul yang terkenal yang sering membawakan lagu-lagu keroncong ialah F. Cramer yang kali pertama menyanyikan lagu Keroncong Moresco. Lagu ini berbahasa Portugis dan lagu-lagu lainnya yang tercipta kemudian antara lain: Prounga, Old Song, dan Craddle Song. Orang-orang di kampung Tugu tetap mempertahankan tradisi membuat sendiri alat musik keroncongnya.

Mereka membuatnya dari kayu pohon Waru atau kayu pohon Kenanga yang dicetak di dalam tanah. Kata Moresko atau Moresco berasal dari Moresca, sejenis tari pedang dari abad ke-15 dan 16 yang menggambarkan penyerangan bangsa Moor terhadap kekuasaan bangsa Spanyol di Afrika. Amir Pasaribu dalam bukunya yang berjudul Musik dan Selingkar Wilayahnya, menyebutkan Keroncong Moresco serta umumnya dianggap sebagai contoh standar daripada keroncong yang sesungguhnya.

Keroncong di daerah Tugu menjadi inspirasi lahirnya lagu Keroncong Kemayoran sekitar tahun 1918-1919, lagu ini konon diciptakan seorang keturunan Indo-Belanda, tetapi namanya tidak diketahui sampai sekarang, inisial penciptanya ditulis dengan N.N. Sinyo-sinyo Belanda pada masa itu mencoba memasukkan unsur jazz yang menghasilkan keroncong dengan bunyi crong…crong…crong yang lebih improvitatif dan menambah variasi akord. Di kampung Kemayoran pernah bermukim beberapa musisi keroncong terkenal antara lain: Atingan, J Dumas, Jan Schneider, Kramer, M Sagi, Any Landow, dan Ismail Marzuki. Berawal dari musisi-musisi di kampung Kemayoran itu lahir sebuah lagu yang berjudul Keroncong Kemayoran.

Sulit untuk melusuri siapa sebenarnya pencipta lagu keroncong tersebut, namun bisa dipastikan bahwa lagu tersebut diciptakan oleh salah seorang “buaya” keroncong yang kerap berkumpul dan berlatih musik di kampung Kemayoran, karena di wilayah tersebut banyak musikus keroncong yang tinggal dan mengadakan latihan musik di kawasan tersebut. Walaupun memiliki persamaan dengan lagu-lagu keroncong di kampung Tugu, tetapi syair dalam Keroncong Kemayoran berbeda dengan syair keroncong di kampung Tugu, karena Keroncong Kemayoran menggunakan syair berbahasa Melayu dan bersifat improvisatoris dan syair lagu ini tidak pernah tepat setiap kali dibawakan. Orkes Kemayoran ini sedikit banyak membawakan lagu-lagu khas Betawi karena, pemainnya sendiri berasal dari daerah Betawi.

Lagu keroncong Portugis pertama-tama yang juga cukup populer adalah Prounga, khusus untuk penyanyi solo sesuai dengan artinya yaitu tunggal. Lagu ini sangat disenangi penduduk kampung Bandan, Jakarta, hingga menyebutnya Keroncong Kampung Bandan. Pada akhir abad ke-19, di Batavia ada sekelompok remaja Indo yang sering berkeliling ke luar masuk kampung sambil memainkan musik keroncong. Mereka tidak perduli akan waktu, kadang-kadang sampai larut malam. “Gerombolan liar” itu kemudian terkenal dengan nama de Wandelende Krontjong. Rombongan ini apabila lewat di kampung-kampung, para remaja yang mendengarnya akan tergoda dan segera meninggalkan rumah kemudian mengikuti rombongan tersebut. Bersemai di Kampung Tugu kemudian Kemayoran, musik keroncong terus menyebar ke berbagai daerah di tanah air. (berbagai sumber)


Congrock 17 dari vakum hingga menerima Muri

Rentang waktu antara 1997-2001, Congrock 17 sempat vakum dan hanya 1 atau 2 job pentas yang terlayani. Jadwal manggung congrock 17 dalam sebulan tidak menentu dan tergantung adanya order datang. Hal ini berbeda ketika dasawarsa 1980-1990, Congrock sangat sibuk untuk menghadiri berbagai acara atau hajataan, apalagi ketika malam minggu tiba. Kevakuman congrock itu disebabkan karena para anggota dari congrock banyak kesibukan lain diluar Congrock, seperti menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil).

Selain itu, banyaknya anggota Congrock yang tidak bisa meninggalkan pekerjaan mereka dan mendapatkan izin dari kantor mereka untuk mengikuti pentas Congrock 17 apabila berlangsung di luar kota, “Kami memilih untuk vakum sampai tahun 2001. Dapat dikatakan masa keemasan Congrock itu sekitar dasawarsa pertengahan 1980 sampai sekitar pertengahan dasawarsa 1990” kata Marco Manardi. Walaupun dikatakan sedang vakum dalam bermusik, tetapi mereka tidak benar-benar berhenti untuk terus bermusik. Salah satu buktinya adalah ketika pada akhir dasawarsa 1990-an Congrock 17 sempat manggung di hotel sangrila, Jakarta dan berdekatan dengan musisi Erwin Gutawa. Selanjutnya, atas rekomendasi Erwin maka kelompok ini pun bisa tampil di stasiun swasta RCTI sebagai bintang tamu dalam salah satu episode acara Bumbata (buka mata buka telinga).

Kevakuman bermusik congrock 17 tidak berlaku kepada seluruh personilnya karena masing-masing personilnya juga terkadang bermusik di kelompok-kelompok atau band lain sebagai additional player.
Pada bulan Oktober tahun 2001, kelompok musik ini pentas di Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus Semarang. Kehadiran kelompok musik Congrock 17 cukup mengejutkan para musisi kampus karena mereka masih mempunyai kekuatan dan semakin mapan. Gaya penampilannya yang energik, akrab dan santai bagi para penikmatnya tetap tidak berubah, meski telah lama menghilang atau vakum.

Pada tahun yang sama Congrock 17 juga pentas di kafe MGM kota lama Semarang, bahkan dalam pementasannya tersebut Congrock 17 memastikan akan berkolaborasi dengan musisi jazz Mus Mujiono seperti yang pernah dilakukannya di beberapa event pertunjukannya di Jakarta. Dalam pentas itu, Yanto selaku arranger dan gitaris Congrock mengaku telah mempersiapkan berbagai lagu yang dapat menghibur penonton, baik lagu-lagu Barat maupun lagu Indonesia termasuk lagu yang dipersiapkan secara khusus bersama musisi kondang Mus Mujiono.

Kiprah kelompok musik Congrock 17 mulai kembali menggeliat saat menginjak tahun 2002. Kelompok musik ini mulai “hidup” lagi dengan adanya job dari TVRI Jateng untuk mengisi acara ‘PANCO’ (Panggung Congrock) yang ditampilkan pada hari Rabu malam. Dalam acara yang digelar secara live ini, masyarakat bisa berdialog langsung dengan para personil Congrock 17.

Pada tahun 2003, kelompok ini melanjutkan pentasnya di TVRI dan mereka dipercaya untuk mengisi secara rutin acara paket hiburan di TVRI yang diberi nama ‘PANCO’ dengan 2 kali tayang, yaitu pada setiap hari Jum’at di minggu kedua dan keempat, setelah sebelumnya di tahun 2002 acara ‘PANCO’ ini ditayangkan oleh TVRI Jateng pada hari Rabu di minggu ketiga. Ini merupakan bukti bahwa kelompok musik yang dipimpin oleh Marco Marnadi tersebut masih tetap eksis di blantika musik Tanah Air. Pada tahun 2003, Congrock 17 pentas dalam rangka memeriahkan HUT Ke-456 Kota Semarang yang digelar selama 26 jam di lapangan Pancasila, Simpang Lima. Walikota Sukawi Sutarip dan Muspida menyempatkan diri bernyanyi bersama Congrock 17 pada malam harinya.

Kelompok musik Congrock 17 terus melaju pada tahun berikutnya. Pada tahun 2004, kelompok musik ini mengadakan konser di sebuah acara yang bernama Pentas Seni DKJT. Acara tersebut bertempat di gedung DKJT (Dewan Kesenian Jawa Tengah), kawasan Tawangmas, PRPP, Semarang. Dalam acara itu agenda utamanya ialah ‘Pelantikan Pengurus DKJT’ yang dilakukan oleh Gubernur Jawa Tengah yang pada saat itu dijabat oleh Mardiyanto.

Selain itu, acara-acara lainnya juga digelar seperti pemutaran film Eiffel I’m in Love, pameran Seni Rupa, bursa buku karya penulis-penulis Jawa Tengah, dan sebagainya. Selang beberapa bulan berikutnya, Congrock 17 pentas di depan khalayak umum, kali ini mereka pentas bersama dua musisi asal Spanyol yang masing-masing bernama Carlos Blanco Fadol dan Eva dalam satu panggung, acara tersebut berjudul “Kolaborasi Musikus Dua Bangsa”.

Acara koloborasi musisi dua bangsa ini bertempat di Auditorium RRI Semarang. Koloborasi itu dimulai dengan lagu Burung Kakaktua, dua nomor kolaborasi selanjutnya adalah lagu Soleram dan diakhiri dengan lagu asal Peru yang berjudul El Condor Passa (Burung Kondor Lewat). Saat memainkan lagu terakhir itu, Carlos meniup seruling khas dari daerah pegunungan Andes.

Kolaborasi dua kelompok pemusik dengan latar belakang berbeda itu begitu hidup. Sesi selanjutnya adalah penampilan kelompok Congrock 17, mereka memainkan jenis musik keroncong yang “ditabrakkan” dengan berbagai jenis musik lain. Beberapa lagu yang dimainkan, antara lain: Dewi Murni, Ini Dia Si Jali-jali, dan Sapu Lidi. Gubernur Mardiyanto kemudian berniat untuk membesarkan kelompok ini.

Beberapa kali Congrock 17 diajak tampil di berbagai acara. Bahkan pada jamuan makan malam bersama Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, baik di kota Solo maupun Magelang di sela kunjungan presiden SBY ke daerah gempa, kelompok musik Congrock 17 dijadikan sebagai sajian utama untuk melepas lelah. Pada saat tampil di Losari dan Magelang, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tertarik dan mengajaknya untuk tampil di Istana pada acara peringatan ‘HUT Kemerdekaan RI ke-61’ tahun 2006. Dalam acara tersebut, Marco Manardi dan kawan-kawan akan dijadwalkan untuk tampil bersama dengan Waldjinah, Yuni Shara, dan Titiek Trisandi. Bagi Congrock 17 sendiri, hal tersebut merupakan suatu kehormatan besar karena undangan untuk tampil tersebut datang langsung dari Presiden sendiri, tidak melalui perantara ajudannya atau orang lain.

Setelah acara tersebut selesai, Presiden SBY melalui juru bicara-nya (Andi Malarangeng) mengatakan bahwa Presiden SBY menyatakan kekagumannya dan mengucapkan banyak terima kasih kepada Congrock 17 yang telah tampil di istana Negara. Selain itu, Yuni Shara yang merupakan spesialis pelantun tembang-tembang lawas juga memberikan komentarnya terhadap kelompok musik Congrock, ”Saya sempat beberapa kali tampil bareng Congrock. Diantaranya di Semarang dan Jakarta. Meski memakai dasar musik keroncong, musik Congrock sangat enak dan luwes, serta bisa dibawa ke irama musik apa saja” kata dia.

Pada tahun 2005, di sebuah halaman kantor Gubernur Jawa Tengah, Jl. Pahlawan, Semarang. Congrock 17, Waldjinah, Didi Kempot, dan sembilan orkes keroncong tampil mengiringi seorang pemain cello Djoko Prahmono yang hendak membuat rekor MURI dengan memainkan instrumen cello terlama. Acara ini terselenggara berkat hasil kerjasama antara Kawah (Komunitas Wartawan Hiburan) Semarang dengan pemprov Jateng. Dalam acara tersebut, sebelum Waldjinah menyanyikan lagu-lagu yang akan dibawakannya, beliau berpekik dengan ucapannya “Salam Keroncong!..Salam Keroncong!”, hal itu dilakukannya dalam upaya demi menegaskan bahwa musik keroncong belum punah.

Pada tahun 2005 ini tidak ketinggalan sebuah acara yang mengikutsertakan Congrock 17, yaitu pada acara ‘Halal-bihalal Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) Jateng’ yang bertempat di PT Paphros, Simongan, Semarang. Tawaran demi tawaran kerap menghampiri Congrock 17 untuk mengadakan pentas dan sebagai pengisi dari sebuah acara. Dalam pameran pendidikan Olimpiade Sains Nasional ke-5 tahun 2006 di halaman Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Jl. Pemuda 134, Semarang, mereka membawakan tembang-tembang populer yang dikeroncongkan, misalnya lagu Naluri Lelaki, Demi Waktu, Karena Wanita, Ticket to Ride, dan To Love Some Body. Selain melantunkan nomor-nomor populer, mereka juga membawakan lagu-lagu keroncong klasik seperti lagu yang berjudul Sapu Lidi dan Keroncong Kemayoran.

Aksi panggung dari kelompok musik yang lahir dari kampus Untag ina mampu menyedot perhatian dari pengunjung pameran. Congrock 17 selain berkolaborasi dengan musisi-musisi, kelompok ini pun pernah tampil dalam satu panggung dengan seorang dalang wayang suket bernama Ki Slamet Gundono. Dalam pergelaran wayang yang di kolaborasikan dengan kelompok musik Congrock 17, menggarap sebuah pementasan wayang kolaboratif yang bertajuk “Risang Arjuna” dalam rangka memberi penghargaan khusus kepada mereka yang berjasa bagi kota Semarang.

Congrock 17 pentas dalam rangka memeriahkan acara dialog Menyongsong Era Baru Jawa Tengah: Menyambut Operasionalisasi Blok Cepu, Pembangunan Jalan Tol Semarang-Solo, dan Internasionalisasi Bandara Ahmad Yani’ di Amartapura Ball Room Grand Candi Hotel Semarang yang ditayangkan secara langsung oleh stasiun TVRI Jawa Tengah, Gubernur Mardiyanto yang hadir dalam acara tersebut memamerkan kemerduan suaranya dengan iringan kelompok musik Congrock 17 pimpinan Marco Marnadi. Mantan “Orang pertama” di Jawa Tengah ini menyanyikan dua buah tembang lagu lawas yang berjudul Kiss Me Quick dari penyanyi Elvis Presley dan satu karya Ismail Marzuki berjudul Juwita Malam.

Atas penampilan yang mempesona itu, tidak ayal penonton menghadiahkan tepuk tangan meriah. Pada bulan Maret tahun 2007, Congrock 17 kembali pentas pada (MJF) Mega Jateng Fair. Tampil sebagai performer pertama yang naik ke atas panggung, mereka langsung tampil menggebrak. Ciri khas dari kelompok ini yang selalu memainkan musik lintas genre tetap menjadi andalan. Tidak bisa dipungkiri, musik pop, rock, jazz, dangdut maupun campursari sekalipun mereka tampilkan, kelompok ini antara lain membawakan lagu-lagu: Celebrate, What About You, Lintas Melawai, Taka-taka, Hello, Kampuang Nan Jau di Mato dan Darah Muda.

Telah banyak berbagai macam acara yang telah dilakoni Congrock 17, kali ini Congrock menggelar acara dalam rangka merayakan hari jadi-nya yang ke-24. Acara yang digelar di gedung Dispenda Jawa Tengah itu turut hadir antara lain: H. Mardiyanto (Gubernur Jawa Tengah), Ali Mufidz (Wakil Gubernur Jateng), H. Budi Santoso (Pimpinan Suara Merdeka Grup), dan Drs. Kusdiyanto Bambang Wihardjo M.M (Kepala Dispenda). Di acara ini, Congrock tampil dengan gaya khas mereka, yaitu memadukan beberapa aliran musik seperti keroncong, rock, pop, blues dan jazz. Sentuhan unik yang mereka hadirkan antara lain lewat lagu Rumah Kita, Lintas Melawai dan Jalan Raya. Dalam pentas berjudul ‘Congrock 17 Salam Silaturahmi’ itu, mereka mengundang beberapa artis ternama. Misalnya: Mus Mujiono, Arie Kusmiran, Waljdinah, Tuti Trisedia, Titiek Puspa, dan grup musik Team Lo.

Congrock 17 akan menampilkan lagu-lagu yang pernah dibawakan dari masa ke masa, antara lain Gadis yang Mana dan Penari Jalang. Dalam sebuah perhelatan musik keroncong di Kota Lama tahun 2007, Congrock 17 yang hadir dalam acara tersebut mengawali penampilannya dengan mengiringi penyanyi keroncong asal Solo Waldjinah yang melantunkan lagu Walang Kekek. Setelah itu, membawakan tembang Ayo Ngguyu dengan mengajak sejumlah pengunjung untuk ikut bernyanyi bersama, termasuk para pengurus baru Himpunan Artis Musik Keroncong Indonesia (HAMKRI) cabang kota Semarang yang baru saja melantik Ketua Dekase (Dewan Kesenian Semarang) Marco Manardi. Waldjinah mengakhiri penampilannya dengan menyanyikan lagu berjudul Suwe Ora Jamu saat juri sedang bersidang dan seluruh finalis peserta sudah tampil. Congrock 17 berkesempatan untuk “unjuk gigi” sebagai bintang tamu dengan membawakan lagu Ticket to Ride dan Darah Muda.

Tahun 2008 menjadi tahun yang istimewa bagi Congrock 17 karena kelompok musik ini mendapatkan anugerah dari MURI (Museum Rekor Dunia Indonesia) di sela-sela perhelatan lomba keroncong di kota lama. Penghargaan itu diberikan oleh MURI melalui salah seorang perwakilannya yang bernama Paulus Pangka. Penghargaan tersebut diberikan atas dasar peran kelompok musik Congrock sebagai ‘Penggagas dan Pejuang Keroncong Inovatif Yang Konsisten’ selama 24 tahun. Dalam penjelasannya, Paulus Pangka mengatakan bahwa pemberian apresiasi dari MURI ini bukan tanpa dasar, namun berpijak pada kegigihan Congrock yang saat kelahirannya 17 Maret 1983 mendapat cercaan dari berbagai pihak.

Kemudian tahun 1986, Jaya Suprana sempat menjadi narasumber dalam acara diskusi tentang kelahiran musik keroncong inovasi ini dengan para pakar dan musisi Semarang. Jaya Suprana yang juga pengusaha jamu tersebut tidak menyangka dan takjub bahwa Congrock 17 masih tetap eksis selama 20 tahun lebih, dan tidak merubah konsep dari musik yang selalu dibawakan Congrock 17. Musik garapan Congrock 17 ini mampu merasuki permainan para musisi keroncong, bahkan kelompok musik yang mempopulerkannya juga masih mampu berdiri tegak dan nyaris ajeg.

Akan tetapi menurut Marco Manardi Congrock belum pantas untuk menerima anugerah tersebut apabila melihat sepak terjang congrock sendiri dalam arti belum berbuat banyak untuk bisa diberi anugerah MURI. Namun banyak masukan yang menyuruh congrock untuk menerima anugerah MURI tersebut dan congrock pun akhirnya menerimanya. Congrock 17 sebenarnya menerima piagam dari MURI tersebut pada tahun 2007, tetapi mereka (Congrock) baru bisa menerima piagam dari MURI ini di tahun 2008. Alasan ini untuk memperkuat bahwa sebenarnya Congrock 17 bermain musik untuk menghibur dan menyenangkan hati orang banyak, dan bersyukur jika Congrock 17 telah “mengilhami” para musisi keroncong saat ini untuk berbuat yang kurang lebih sama seperti Congrock.

Kelompok musik ini bukan hanaya ingin bermain musik untuk mendapatkan suatu penghargaan atau piagam, apalagi telah diketahui bahwa sebelumnya Congrock 17 telah mendapat banyak cercaan dan tudingan negatif dari para musisi keroncong itu sendiri karena mereka tidak mendukung keberadaan musik yang ditampilkan kelompok musik ini saat dasawarsa 1980-an. Congrock 17 akhirnya mau menerima piagam MURI setelah mereka menimbang-nimbang bahwa apa salahnya jika (Congrock) diminta untuk menerima penghargaan yang diberikan oleh MURI. (berbagai sumber)


Congrock 17 Go Internasional

Kelompok musik keroncong asal kota Lumpia ini tanpa dinyana juga pernah menjajal panggung di luar negeri di tahun 90-an. Adalah negeri Belanda, Jerman dan Suriname, ketiga negara itu pernah mereka singgahi.

Tapi sebelum kelompok musik Congrock 17 melakukan perhelatan ke benua Eropa, mereka terlebih dahulu pentas di sebuah acara yang diberi tema ‘Reuni Musik’ di TBRS, Jl. Sriwijaya, Semarang. Congrock 17 pun sempat disewa oleh pihak penyelenggara dari Bali untuk tur keliling berbagai kota di Indonesia selama sebulan penuh dari pertengahan bulan Desember hingga Januari 1994.

Awalnya Congrock 17 melakukan pementasan di negeri Belanda bermuara dari penyanyi Titiek Puspa yang begitu terkesan pada kelompok musik ini, sehingga Titiek Puspa dan Vony Sumlang berencana mengajak Congrock 17 untuk keliling Eropa dan Amerika Latin selama satu bulan penuh pada April tahun 1995. “Saya tertarik Congrock 17 itu karena unik. Warna musiknya juga baru, tetapi gampang melekat. Ketika saya bawa dan kenalkan di Eropa dan Amerika Latin, ternyata penggemarnya luar biasa” kata Titiek Puspa. Congrock pun menganggapi positif ide lawatan ke berbagai negara di Eropa, seperti yang dikatakan oleh Marco, vokalis kelompok musik tersebut merasa sangat berterima kasih kepada Titiek Puspa karena telah mengajak Congrock 17 keliling Eropa.

Dalam organisasi seni, tidak terkecuali dalam suatu pertunjukan seni sering dibutuhkan adanya penyokong dana atau sponsor seperti misalnya dari instansi pemerintah yang menjadi sumber dana potensial. Instansi tersebut misalnya Dinas Pariwisata Seni dan Kebudayaan yang merupakan bagian dari pemerintah provinsi maupun pemerintah kota yang mempunyai fasilitas fisik maupun anggaran untuk mendukung bahkan mendorong kesenian. Hal yang sama berlaku bagi perwakilan pemerintah negara asing.

Dalam acara keliling mancanegara Congrock 17 yang mengusung tema misi kebudayaan Indonesia tersebut tidak terlepas dari peran suatu instansi yang memberi kucuran dana. Dalam penyelenggaraan misi kebudayaan ini peran dari kedutaan besar negara-negara yang akan disinggahi Congrock-lah yang memberikan sponsor demi jalannya perhelatan tersebut. Kelompok musik Congrock 17 dipercaya Departemen Luar Negeri RI untuk menjadi Duta Seni ke Suriname pada tanggal 16 hingga 23 Januari 1995.

Mereka diminta untuk membawakan lagu-lagu Jawa, misalnya tembang Dolanan, Ronce-ronce dan Cublak-cublak Suweng, atau lagu Walang Kekek-nya Waldjinah, mengingat bahwa sebagian penduduk negara yang terletak di Amerika Selatan itu adalah keturunan Jawa yang banyak menyukai musik-musik keroncong dan tembang Jawa.

Rombongan ini sedianya akan ditemui oleh Walikota Sutrisno S untuk berpamitan sekaligus meminta izin bagi ketiga pemainnya yang kebetulan adalah pegawai Pemerintah Daerah Kotamadya Semarang, tetapi karena kesibukan Pak Walikota, maka mereka diterima oleh Sekretaris Wilayah Daerah (Sekwilda) untuk kemudian diberi izin melakukan perhelatan sebagai duta seni Indonesia.

Setelah melalui berbagai macam prosedural menjelang keberangkatan, Congrock 17 pun akhirnya pentas di Belanda, Suriname, dan Jerman bersama Titiek Puspa, di kedua negara yaitu Belanda dan Suriname mereka mendapat jatah waktu pentas selama 3 jam. Gedung Stars (Suriname) yang mampu menampung 1.500 penonton merupakan saksi di mana musik Congrock 17 mampu menghidangkan sajian spesial bagi para pecinta musik negeri tersebut. Tetapi pada awalnya, waktu 3 jam merupakan waktu lama untuk pergelaran sebuah kelompok musik baru yang dan belum pernah dipentaskan sebelumnya, lalu yang terbayang kemudian pergelaran ini akan diwarnai pada rasa kejemuan yang diselimuti oleh kebosanan.

Namun berkat pengalaman seorang Titiek Puspa yang mempunyai kematangan dalam meramu paket duta budaya dapat membuktikannya di atas pentas mereka masih memukau dan penonton pun terpesona sehingga tidak merasakan panjangnya pergelaran, hingga akhir pertunjukan selalu muncul permintaan tambahan lagu dari penonton. Congrock 17 dalam perhelatan kali ini membawakan lagu Jawa yang berjudul Suwe Ora Jamu dalam kemasan aransemen musik baru yang mereka garap, kemudian disusul dengan sederet lagu-lagu Barat Here I Am, Ticket To Ride, I Feel Good, dan lagu Indonesia yang berjudul Sapu Lidi. Titiek Puspa ikut memanaskan suasana dengan nyanyian-nyanyian lagu yang diiringi musik garapan Congrock 17.

Pada saat Congrock 17 tampil di Gedung Olahraga Ness (Belanda), keadaan tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di Gedung Stars, Gedung Olahraga Ness ini mampu menghadirkan kurang lebih 8.000 jumlah penonton yang dipenuhi oleh berbagai macam golongan masyarakat. Hal ini dapat dijadikan sebagai suatu indikasi yang menunjukkan bahwa musik yang disuguhkan Congrock 17 dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat. Penonton tidak ingin beranjak keluar dan kerap meminta encore.

Kelompok musik ini pun menyanyikan kembali 1 atau 2 buah lagu sebelum menyelesaikan konsernya. Selain dihadiri oleh masyarakat dari berbagai macam ras di Suriname, dalam pertunjukannya kali ini turut hadir pula presiden Suriname. Marco mengatakan banyak dari keturunan Hindustan yang hadir, keturunan kreol, di samping orang-orang keturunan jawa itu sendiri. Sehingga Congrock 17 merasa bisa menyatukan penduduk suriname tersebut dalam satu gedung.

Sang presiden seperti yang dikatakan Marco, ingin sekali melihat pertunjukan Congrock dan ingin mengetahui seperti apa “kehebohan” musik Congrock yang berbeda dengan keroncong lainnya. Congrock 17 tampil di Jerman dalam serangkaian tur manca negara tersebut. Di sana Congrock menunjukan kebolehannya guna bermain musik dan menghibur seluruh anggota kedutaan besar RI untuk Jerman.

Acara yang bertempat di Kedubes RI tersebut dihadiri oleh para keluarga besar Kedubes RI dan para tamu undangan lainnya.”Saat kami tampil di Jerman (Kedubes RI), tanggapan yang diberikan oleh para audience tersebut, terutama yang diperlihatkan orang-orang Jerman terhadap Congrock sangat baik serta lebih bisa menerima kehadiran Congrock 17. “Hal itu sangat membanggakan bagi Congrock”. ungkap Marco. Congrock 17 menganggap bahwa lagu-lagu yang Congrock tampilkan berkenan di hati para penonton di Jerman tersebut. Audience yang hadir di kedubes tersebut mencapai sekitar 300-500 orang dan itu menjadi bukti musik congrock dapat disukai oleh para penonton. (bersambung)


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.