“Buaya Besar Keroncong” yang jago silat

Posted: 31 October 2012 in Lintasan Musik, Musik Keroncong

Siapa yang tak kenal komponis legenda indonesia yang satu ini, ya Kusbini seorang maestro yang handal dalam menciptakan nada-nada indah yang tak lekang dimakan zaman. Namun, naga-naganya ada sesuatu yang menarik dari diri seoarang pencipta lagu Bagimu Negeri ini.

Ternyata musisi kelahiran kota gudeg ini jago silat juga ternyata. Pasalnya, dulu untuk menjadi seoarang buaya keroncong, orang harus terlebih dahulu mahir bersilat . Itulah sebabnya Kusbini harus melewatkan waktu yang cukup lama yaitu lima tahun untuk mengasah dirinya sebagai jago silat.

Tak tanggung-tanggung lengan kanan Kusbini pun konon ada “isinya” dan memang keras lengannya, seakan-akan ada benda keras yang tertanam di lengannnya. Adalah sepotong besi yang telah tertanam di dalamnya. Dengan kekuatan tangan kanannya itu, dalam waktu singkat ia msih sanggup mematahkan tangan seseorang. Pun namanya menjadi terkenal luas oleh kalangan pencopet di jogyakarta kala itu,

Lantaran si pencopet selalu gagal merogoh dompet sang buaya besar keroncong ini. Kusbini, sang penggubah lagu athem nasional yang mahir berkeroncong ini adalah musisi tiga zaman, berturut-turut dari zaman Hindia Belanda dengan Nirom (Nederlansch Indische Radio Omroep Maatschappij) dan Cirvo (Chinesch Inheemsche Radio Voor Omstreken) terus ke zamn Jepang dengan Radio Hoso Kanri Kyohu (jugaga Keimin Bunka Shidosho), kemudian di zaman republk dengan RRI-nya.

Karir bermusiknya dimulai manakala dirinya berumur 14 tahun di tahun 1924 di Surabaya dengan menjadi anggota JITSO (Jong Indisch Strijk en Tokkel Orkest) di Pasar Keling yang dipimpin kakak kandungnya yang tertua, Kusbandi. Merasa belum terpuaskan hasrat bermusiknya, ia akhirnya memilih belajar biola dan teori musik umum di pendidikan musik swasta Apollo di Malang tahun 1929 sampai 1933. Di tahun 1935 terus ke NIROM di Surabaya, dengan meninggalkan jabatan di kantor kotapraja dengan gaji puluhan rupiah saat itu, hanya untuk menuruti panggilan jiwanya menjadi buaya besar dengan pendapatan hanya lima rupiah saja ia memantapkan langkahnya di jalur ini.

Segera Kusbini membuat gebrakan dengan memperbaharui formasi alat-alat musik keroncong asli dengan tambahan alat-alat seperti piao, saxophone, klarinet, trombone. Singkat kata, tindakannya ini sekaligus telah merubah status musik keroncong dari sifatnya yang improvisatoris kepada statusnya yang lebih rumiit semacam orkes simphoni yang berdasar teori-teori musik. Bagi Kusbini, keroncong adalah asli milik bangsa Indonesia.

Dengan caranya yang sederhanaa Kusbini mencoba mejelaskan darimana asalnya kata keroncong yang tak ditemukannya dalam ensiklopedia manapun. Ia menunjukkan gelang keroncong biasa dikenakan pada kaki anak Indonesia dan kemudian membandingkan bunyinya dengan ukulele yang kemudian dikenal dengan sebutan keroncong. Ukulele sendiri, tidak berasal dari portugis melainkan dari Hawaii cara Indonesia memainkannya juga berbeda dengan cara orang hawaii. Disinilah kelihatan bagaimana jia musik bangasa Indonesia menunjukkan kepribadiannya.

Menurutnya, awalnya bangsa Portugis datang ke Indonesia, dan beberapa nyanyiannya Portugis ternyata disenangi oleh orang Indonesia tapi dengan caranya sendiri. Orang Indonesia berusaha memainkan dengan caranya sendiri. Bahkan ketika orang portugis meninggalkan Indonesia, maka buaya-buya keroncong begitu sapaan para musisi keroncong saat itu, berusaha menciptakannya sendiri. Tak diingkarinya olehnaya bahwa kerangka lagu-lagu asli Portugis banyak mengilhami lagu-lagu keroncong asli.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s