Rentang waktu antara 1997-2001, Congrock 17 sempat vakum dan hanya 1 atau 2 job pentas yang terlayani. Jadwal manggung congrock 17 dalam sebulan tidak menentu dan tergantung adanya order datang. Hal ini berbeda ketika dasawarsa 1980-1990, Congrock sangat sibuk untuk menghadiri berbagai acara atau hajataan, apalagi ketika malam minggu tiba. Kevakuman congrock itu disebabkan karena para anggota dari congrock banyak kesibukan lain diluar Congrock, seperti menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil).

Selain itu, banyaknya anggota Congrock yang tidak bisa meninggalkan pekerjaan mereka dan mendapatkan izin dari kantor mereka untuk mengikuti pentas Congrock 17 apabila berlangsung di luar kota, “Kami memilih untuk vakum sampai tahun 2001. Dapat dikatakan masa keemasan Congrock itu sekitar dasawarsa pertengahan 1980 sampai sekitar pertengahan dasawarsa 1990” kata Marco Manardi. Walaupun dikatakan sedang vakum dalam bermusik, tetapi mereka tidak benar-benar berhenti untuk terus bermusik. Salah satu buktinya adalah ketika pada akhir dasawarsa 1990-an Congrock 17 sempat manggung di hotel sangrila, Jakarta dan berdekatan dengan musisi Erwin Gutawa. Selanjutnya, atas rekomendasi Erwin maka kelompok ini pun bisa tampil di stasiun swasta RCTI sebagai bintang tamu dalam salah satu episode acara Bumbata (buka mata buka telinga).

Kevakuman bermusik congrock 17 tidak berlaku kepada seluruh personilnya karena masing-masing personilnya juga terkadang bermusik di kelompok-kelompok atau band lain sebagai additional player.
Pada bulan Oktober tahun 2001, kelompok musik ini pentas di Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus Semarang. Kehadiran kelompok musik Congrock 17 cukup mengejutkan para musisi kampus karena mereka masih mempunyai kekuatan dan semakin mapan. Gaya penampilannya yang energik, akrab dan santai bagi para penikmatnya tetap tidak berubah, meski telah lama menghilang atau vakum.

Pada tahun yang sama Congrock 17 juga pentas di kafe MGM kota lama Semarang, bahkan dalam pementasannya tersebut Congrock 17 memastikan akan berkolaborasi dengan musisi jazz Mus Mujiono seperti yang pernah dilakukannya di beberapa event pertunjukannya di Jakarta. Dalam pentas itu, Yanto selaku arranger dan gitaris Congrock mengaku telah mempersiapkan berbagai lagu yang dapat menghibur penonton, baik lagu-lagu Barat maupun lagu Indonesia termasuk lagu yang dipersiapkan secara khusus bersama musisi kondang Mus Mujiono.

Kiprah kelompok musik Congrock 17 mulai kembali menggeliat saat menginjak tahun 2002. Kelompok musik ini mulai “hidup” lagi dengan adanya job dari TVRI Jateng untuk mengisi acara ‘PANCO’ (Panggung Congrock) yang ditampilkan pada hari Rabu malam. Dalam acara yang digelar secara live ini, masyarakat bisa berdialog langsung dengan para personil Congrock 17.

Pada tahun 2003, kelompok ini melanjutkan pentasnya di TVRI dan mereka dipercaya untuk mengisi secara rutin acara paket hiburan di TVRI yang diberi nama ‘PANCO’ dengan 2 kali tayang, yaitu pada setiap hari Jum’at di minggu kedua dan keempat, setelah sebelumnya di tahun 2002 acara ‘PANCO’ ini ditayangkan oleh TVRI Jateng pada hari Rabu di minggu ketiga. Ini merupakan bukti bahwa kelompok musik yang dipimpin oleh Marco Marnadi tersebut masih tetap eksis di blantika musik Tanah Air. Pada tahun 2003, Congrock 17 pentas dalam rangka memeriahkan HUT Ke-456 Kota Semarang yang digelar selama 26 jam di lapangan Pancasila, Simpang Lima. Walikota Sukawi Sutarip dan Muspida menyempatkan diri bernyanyi bersama Congrock 17 pada malam harinya.

Kelompok musik Congrock 17 terus melaju pada tahun berikutnya. Pada tahun 2004, kelompok musik ini mengadakan konser di sebuah acara yang bernama Pentas Seni DKJT. Acara tersebut bertempat di gedung DKJT (Dewan Kesenian Jawa Tengah), kawasan Tawangmas, PRPP, Semarang. Dalam acara itu agenda utamanya ialah ‘Pelantikan Pengurus DKJT’ yang dilakukan oleh Gubernur Jawa Tengah yang pada saat itu dijabat oleh Mardiyanto.

Selain itu, acara-acara lainnya juga digelar seperti pemutaran film Eiffel I’m in Love, pameran Seni Rupa, bursa buku karya penulis-penulis Jawa Tengah, dan sebagainya. Selang beberapa bulan berikutnya, Congrock 17 pentas di depan khalayak umum, kali ini mereka pentas bersama dua musisi asal Spanyol yang masing-masing bernama Carlos Blanco Fadol dan Eva dalam satu panggung, acara tersebut berjudul “Kolaborasi Musikus Dua Bangsa”.

Acara koloborasi musisi dua bangsa ini bertempat di Auditorium RRI Semarang. Koloborasi itu dimulai dengan lagu Burung Kakaktua, dua nomor kolaborasi selanjutnya adalah lagu Soleram dan diakhiri dengan lagu asal Peru yang berjudul El Condor Passa (Burung Kondor Lewat). Saat memainkan lagu terakhir itu, Carlos meniup seruling khas dari daerah pegunungan Andes.

Kolaborasi dua kelompok pemusik dengan latar belakang berbeda itu begitu hidup. Sesi selanjutnya adalah penampilan kelompok Congrock 17, mereka memainkan jenis musik keroncong yang “ditabrakkan” dengan berbagai jenis musik lain. Beberapa lagu yang dimainkan, antara lain: Dewi Murni, Ini Dia Si Jali-jali, dan Sapu Lidi. Gubernur Mardiyanto kemudian berniat untuk membesarkan kelompok ini.

Beberapa kali Congrock 17 diajak tampil di berbagai acara. Bahkan pada jamuan makan malam bersama Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, baik di kota Solo maupun Magelang di sela kunjungan presiden SBY ke daerah gempa, kelompok musik Congrock 17 dijadikan sebagai sajian utama untuk melepas lelah. Pada saat tampil di Losari dan Magelang, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tertarik dan mengajaknya untuk tampil di Istana pada acara peringatan ‘HUT Kemerdekaan RI ke-61’ tahun 2006. Dalam acara tersebut, Marco Manardi dan kawan-kawan akan dijadwalkan untuk tampil bersama dengan Waldjinah, Yuni Shara, dan Titiek Trisandi. Bagi Congrock 17 sendiri, hal tersebut merupakan suatu kehormatan besar karena undangan untuk tampil tersebut datang langsung dari Presiden sendiri, tidak melalui perantara ajudannya atau orang lain.

Setelah acara tersebut selesai, Presiden SBY melalui juru bicara-nya (Andi Malarangeng) mengatakan bahwa Presiden SBY menyatakan kekagumannya dan mengucapkan banyak terima kasih kepada Congrock 17 yang telah tampil di istana Negara. Selain itu, Yuni Shara yang merupakan spesialis pelantun tembang-tembang lawas juga memberikan komentarnya terhadap kelompok musik Congrock, ”Saya sempat beberapa kali tampil bareng Congrock. Diantaranya di Semarang dan Jakarta. Meski memakai dasar musik keroncong, musik Congrock sangat enak dan luwes, serta bisa dibawa ke irama musik apa saja” kata dia.

Pada tahun 2005, di sebuah halaman kantor Gubernur Jawa Tengah, Jl. Pahlawan, Semarang. Congrock 17, Waldjinah, Didi Kempot, dan sembilan orkes keroncong tampil mengiringi seorang pemain cello Djoko Prahmono yang hendak membuat rekor MURI dengan memainkan instrumen cello terlama. Acara ini terselenggara berkat hasil kerjasama antara Kawah (Komunitas Wartawan Hiburan) Semarang dengan pemprov Jateng. Dalam acara tersebut, sebelum Waldjinah menyanyikan lagu-lagu yang akan dibawakannya, beliau berpekik dengan ucapannya “Salam Keroncong!..Salam Keroncong!”, hal itu dilakukannya dalam upaya demi menegaskan bahwa musik keroncong belum punah.

Pada tahun 2005 ini tidak ketinggalan sebuah acara yang mengikutsertakan Congrock 17, yaitu pada acara ‘Halal-bihalal Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) Jateng’ yang bertempat di PT Paphros, Simongan, Semarang. Tawaran demi tawaran kerap menghampiri Congrock 17 untuk mengadakan pentas dan sebagai pengisi dari sebuah acara. Dalam pameran pendidikan Olimpiade Sains Nasional ke-5 tahun 2006 di halaman Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Jl. Pemuda 134, Semarang, mereka membawakan tembang-tembang populer yang dikeroncongkan, misalnya lagu Naluri Lelaki, Demi Waktu, Karena Wanita, Ticket to Ride, dan To Love Some Body. Selain melantunkan nomor-nomor populer, mereka juga membawakan lagu-lagu keroncong klasik seperti lagu yang berjudul Sapu Lidi dan Keroncong Kemayoran.

Aksi panggung dari kelompok musik yang lahir dari kampus Untag ina mampu menyedot perhatian dari pengunjung pameran. Congrock 17 selain berkolaborasi dengan musisi-musisi, kelompok ini pun pernah tampil dalam satu panggung dengan seorang dalang wayang suket bernama Ki Slamet Gundono. Dalam pergelaran wayang yang di kolaborasikan dengan kelompok musik Congrock 17, menggarap sebuah pementasan wayang kolaboratif yang bertajuk “Risang Arjuna” dalam rangka memberi penghargaan khusus kepada mereka yang berjasa bagi kota Semarang.

Congrock 17 pentas dalam rangka memeriahkan acara dialog Menyongsong Era Baru Jawa Tengah: Menyambut Operasionalisasi Blok Cepu, Pembangunan Jalan Tol Semarang-Solo, dan Internasionalisasi Bandara Ahmad Yani’ di Amartapura Ball Room Grand Candi Hotel Semarang yang ditayangkan secara langsung oleh stasiun TVRI Jawa Tengah, Gubernur Mardiyanto yang hadir dalam acara tersebut memamerkan kemerduan suaranya dengan iringan kelompok musik Congrock 17 pimpinan Marco Marnadi. Mantan “Orang pertama” di Jawa Tengah ini menyanyikan dua buah tembang lagu lawas yang berjudul Kiss Me Quick dari penyanyi Elvis Presley dan satu karya Ismail Marzuki berjudul Juwita Malam.

Atas penampilan yang mempesona itu, tidak ayal penonton menghadiahkan tepuk tangan meriah. Pada bulan Maret tahun 2007, Congrock 17 kembali pentas pada (MJF) Mega Jateng Fair. Tampil sebagai performer pertama yang naik ke atas panggung, mereka langsung tampil menggebrak. Ciri khas dari kelompok ini yang selalu memainkan musik lintas genre tetap menjadi andalan. Tidak bisa dipungkiri, musik pop, rock, jazz, dangdut maupun campursari sekalipun mereka tampilkan, kelompok ini antara lain membawakan lagu-lagu: Celebrate, What About You, Lintas Melawai, Taka-taka, Hello, Kampuang Nan Jau di Mato dan Darah Muda.

Telah banyak berbagai macam acara yang telah dilakoni Congrock 17, kali ini Congrock menggelar acara dalam rangka merayakan hari jadi-nya yang ke-24. Acara yang digelar di gedung Dispenda Jawa Tengah itu turut hadir antara lain: H. Mardiyanto (Gubernur Jawa Tengah), Ali Mufidz (Wakil Gubernur Jateng), H. Budi Santoso (Pimpinan Suara Merdeka Grup), dan Drs. Kusdiyanto Bambang Wihardjo M.M (Kepala Dispenda). Di acara ini, Congrock tampil dengan gaya khas mereka, yaitu memadukan beberapa aliran musik seperti keroncong, rock, pop, blues dan jazz. Sentuhan unik yang mereka hadirkan antara lain lewat lagu Rumah Kita, Lintas Melawai dan Jalan Raya. Dalam pentas berjudul ‘Congrock 17 Salam Silaturahmi’ itu, mereka mengundang beberapa artis ternama. Misalnya: Mus Mujiono, Arie Kusmiran, Waljdinah, Tuti Trisedia, Titiek Puspa, dan grup musik Team Lo.

Congrock 17 akan menampilkan lagu-lagu yang pernah dibawakan dari masa ke masa, antara lain Gadis yang Mana dan Penari Jalang. Dalam sebuah perhelatan musik keroncong di Kota Lama tahun 2007, Congrock 17 yang hadir dalam acara tersebut mengawali penampilannya dengan mengiringi penyanyi keroncong asal Solo Waldjinah yang melantunkan lagu Walang Kekek. Setelah itu, membawakan tembang Ayo Ngguyu dengan mengajak sejumlah pengunjung untuk ikut bernyanyi bersama, termasuk para pengurus baru Himpunan Artis Musik Keroncong Indonesia (HAMKRI) cabang kota Semarang yang baru saja melantik Ketua Dekase (Dewan Kesenian Semarang) Marco Manardi. Waldjinah mengakhiri penampilannya dengan menyanyikan lagu berjudul Suwe Ora Jamu saat juri sedang bersidang dan seluruh finalis peserta sudah tampil. Congrock 17 berkesempatan untuk “unjuk gigi” sebagai bintang tamu dengan membawakan lagu Ticket to Ride dan Darah Muda.

Tahun 2008 menjadi tahun yang istimewa bagi Congrock 17 karena kelompok musik ini mendapatkan anugerah dari MURI (Museum Rekor Dunia Indonesia) di sela-sela perhelatan lomba keroncong di kota lama. Penghargaan itu diberikan oleh MURI melalui salah seorang perwakilannya yang bernama Paulus Pangka. Penghargaan tersebut diberikan atas dasar peran kelompok musik Congrock sebagai ‘Penggagas dan Pejuang Keroncong Inovatif Yang Konsisten’ selama 24 tahun. Dalam penjelasannya, Paulus Pangka mengatakan bahwa pemberian apresiasi dari MURI ini bukan tanpa dasar, namun berpijak pada kegigihan Congrock yang saat kelahirannya 17 Maret 1983 mendapat cercaan dari berbagai pihak.

Kemudian tahun 1986, Jaya Suprana sempat menjadi narasumber dalam acara diskusi tentang kelahiran musik keroncong inovasi ini dengan para pakar dan musisi Semarang. Jaya Suprana yang juga pengusaha jamu tersebut tidak menyangka dan takjub bahwa Congrock 17 masih tetap eksis selama 20 tahun lebih, dan tidak merubah konsep dari musik yang selalu dibawakan Congrock 17. Musik garapan Congrock 17 ini mampu merasuki permainan para musisi keroncong, bahkan kelompok musik yang mempopulerkannya juga masih mampu berdiri tegak dan nyaris ajeg.

Akan tetapi menurut Marco Manardi Congrock belum pantas untuk menerima anugerah tersebut apabila melihat sepak terjang congrock sendiri dalam arti belum berbuat banyak untuk bisa diberi anugerah MURI. Namun banyak masukan yang menyuruh congrock untuk menerima anugerah MURI tersebut dan congrock pun akhirnya menerimanya. Congrock 17 sebenarnya menerima piagam dari MURI tersebut pada tahun 2007, tetapi mereka (Congrock) baru bisa menerima piagam dari MURI ini di tahun 2008. Alasan ini untuk memperkuat bahwa sebenarnya Congrock 17 bermain musik untuk menghibur dan menyenangkan hati orang banyak, dan bersyukur jika Congrock 17 telah “mengilhami” para musisi keroncong saat ini untuk berbuat yang kurang lebih sama seperti Congrock.

Kelompok musik ini bukan hanaya ingin bermain musik untuk mendapatkan suatu penghargaan atau piagam, apalagi telah diketahui bahwa sebelumnya Congrock 17 telah mendapat banyak cercaan dan tudingan negatif dari para musisi keroncong itu sendiri karena mereka tidak mendukung keberadaan musik yang ditampilkan kelompok musik ini saat dasawarsa 1980-an. Congrock 17 akhirnya mau menerima piagam MURI setelah mereka menimbang-nimbang bahwa apa salahnya jika (Congrock) diminta untuk menerima penghargaan yang diberikan oleh MURI. (berbagai sumber)

About these ads